TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Story Dr. Afandi


__ADS_3

Belum sempat Mbak, saya baru habis mandi keburu di telfhon. "


" Oh ya, sepertinya dia lagi nangis guling guling Hhaaa. " Dr. Elvira terbahak.


" Hahhh...!! " Aku sedikit kaget. seperti anak kecil saja nangis guling guling.


" Oh ya, maaf Dokter, saya tidak enak jadinya. "


" Makanya jangan di cuekin terus lah, saya yang kena marah. "..


" Kalau boleh tahu, Dr. Elvira itu keluarganya Dr. Afandi ya? " Dengan takutnya aku bertanya. Hanya penasaran sih, karena lucu juga merwka berdua ini, membuat jiwa kepo ku meronta ronta.


" Iya oke, saya akan kasih tahu kamu, kalau saya sama dia itu adalah,


Plashback...


Pov Dr. Elvira


Dua puluh tahun lalu, aku dipertemukan dengan keluarga Bunda aku, yaitu keluarga Momy Metha. Tepatnya adik sepupu dari Bunda aku. Dia seorang Dokter muda yang berprestasi. Di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, beliau sudah bergelar Doktor.


Aku merasa kagum dengan keluarga ini. Aku yang kala itu masih umur delapan tahun merasa terinspirasi dengan Momy Metha. Saat itu, aku baru saja pindah dari Luar Negri harus langsung ikut menghadiri acara wisuda sahabat juga kerabat Bunda ku.


Kala itu, aku sedang menikmati hidangan yang di suguhkan keluarganya Momy metha. Tiba tiba saja aku tertabrak oleh anak kecil. Ya aku bilang dia anak kecil, karena postur tubuhnya memang kecil.


" Maaf. " Dia mengatupkan tangannya.


" Iya tidak apa apa. " Jawabku.


" Oh ya, boleh kenalan tidak? Nama kamu siapa? " Aku mengajaknya berkenalan. Aku yang baru saja kehilangan adik laki lakiku, langsung merasakan ikatan batin.


" Boleh. " Jawabnya pendek. Tidak ada senyum di bibirnya. Ada apa dengan anak ini, dia sangat cuek. Ucapku dalam hati.


" Fandi.."


" Aku Elvira, oh ya kamu mau tidak, menjadi adik aku? " Tanyaku polos.


" Tidak." Ucapnya ketus. Kok seperti itu sih, aku merasa jengkel saat itu.


" Bundaaa..! " Aku memanggil Bundaku.


" Ada apa sayang " Aku berlari menghambur ke pelukannya.


" Bunda, adik kecil itu tidak mau jadi adik aku Bunda. " Rengekku.


" Ya pantas sayang, dia juga sudah besar, hanya beda beberapa bulan saja sama kamu, Nak. "


" Apa..?! " Aku terkejut. " Tapi...??. "


" Ssstt.." Ibu menempelkan jari telunjuknya di bibirku.


" Anggap saja, dia sahabat kamu ya, nanti kamu juga sekolah bareng dengannya, kamu mau tidak.?! "


" Oh ya, horeee..!!, aku punya teman..!! " Aku merasa gembira sekali kala itu.


Acara selesai, kami pun pulang, ternyata rumahku dengan dia sangat dekat, hanya terhalang dua ruamah saja. Aku sangat senang, dan setiap hari pasti main kerumahnya.


Tapi, aku sangat bingung, kenapa di rumahnya sangat sepi, tidak ada Om Kevin juga Tante Metha. Kalau Om Kevin pasti dia kerja, karena itu tugas seorang ayah, tapi, kalau tante Metha, oh iya dia seorang Dokter, dia pasti sangat sibuk. Yang ku tahu, seorang Dokter itu sangat sibuk mengobati orang yang sakit. Jadi mungkin Dady juga Momynya Fandi sibuk bekerja.


Tidak seperti Bundaku yang setiap aku di rumah dia pasti ada, padahal yang kutahu Bunda punya sebuah Butik. Tapi dia akan ada di rumah ketika aku pulang sekolah.


***********

__ADS_1


Akhirnya, setelah beberapa hari aku kerumahnya, dia mau bermain denganku. Karena awalnya dia hanya mengurung diri di dalam kamar. Dia hanya di temani Bibi pengasuh yang setia di rumahnya.


Tapi, setelah ada aku dia terlihat ceria. Setiap hari kita bermain bersama sampai akhirnya kita dewasa. Setelah lulus SMA, kita berdua memilih fakultas yang sama dengan jurusan yang sama juga. Tapi ketika setelah lulus wisuda kedokterannya, dia melanjutkan untuk mengambil Spesialis Bedah Torak, dan aku juga melanjutkan lagi studyku dengan memilih spesialis Neuro atau saraf.


Kegiatan kami berbeda saat itu, apalagi dia memilih melanjutkan studynya ke Luar Negri, aku juga sibuk dengan kegiatanku sendiri.


Sampai akhirnya setelah dua tahun menghilang, aku dapat kabar dari Bunda aku, kalau dia sakit keras. Aku tidak bisa pulang waktu itu, karena aku harus menyelesaikan skripsiku. Aku hanya menitipkan salam lewat Bundaku.


Selain disibukan Kuliah, Aku juga sudah magang dari beberapa bulan terakhir di Rumah Sakit terbesar di Ibu Kota.


Awalnya aku tidak tahu kalau dia ternyata sudah lulus lebih dulu di banding aku. Sampai akhirnya aku lulus. Dan Bundaku mengundang semua kerabat juga sahabatnya, tapi dia tidak datang. Padahal rumahnya sangat dekat. Aku merindukannya, sebagai seorang Kakak, karena dari awal bertemu aku sudah menganggap dia sebagai adik aku.


" Tante, kemana Fandi? " Tanyaku waktu itu. Tante Metha menghampiriku.


" Fandi masih menjalani rawat jalan, dan dia masih belum ingin bertemu dengan siapapun. Sepertinya ada Trauma. " Jawabnya sendu.


" Memangnya, sakit apa Tante? Aku benar benar kangen sama Fandi. "


" Dia kena Gerd, Tante tidak tahu apa yang terjadi di sana, Tante jarang sekali memperhatikannya El. " Tante Metha tidak kuasa menahan tangisnya. Tante meta tergugu di pelukanku, akupun ikut menangis.


" Tante egois El, Tante hanya memikirkan diri sendiri. Dengan perpisahan Tante dengan Om Kevin, Fandi menjadi seperti itu. Tapi sekarang kami sadar, ternyata Fandi itu membutuhkan kami orang tuanya. "


Memang yang ku tahu, karena asik bekerja keduanya terlibat percekcokan yang hebat sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk berpisah, kala itu Fandi masih sekolah SMA. Fandi sangat terpuruk saat itu, sampai akhirnya dia mempunyai seorang kekasih yang bernama Vanesa.


Kisahnya sangat romantis di masanya. Dia sering dikatakan pasangan paling romantis . Hubungan Fandi dengan Vanesa berlanjut sampai ke Universitas. Tapi, penghianatan terjadi, ketika Vanesa lebih memilih seorang Dosen yang populer, yang selalu di gandrungi perempuan. Fandi frustasi berat sampai dia tidak ingin melanjutkan hidupnya.


" Lo, apa apaan Fan, di kira dengan cara seperti ini , akan menyelesaikan masalah Lo. " Aku memakinya terus terusan, bahkan aku menamparnya berkali kali, agar dia sadar bahwa masih ada banyak wanita lain yang lebih baik di luaran sana.


Berkali kali dia menyilet tangannya, tapi aku selalu menggagalkannya. Selalu saja ada alasan aku untuk selalu kerumahnya.


Dari situ Om Kevin juga Tante Metha melunakan hatinya, menyesali kesalahannya. Dan mereka kembali rujuk.


Fandi kembali ke rutinitasnya setelah beberapa minggu aku rawat di rumah. Dan aku juga yang merawatnya. Dia tidak ingin di bawa ke rumah sakit.


Sampai akhirnya, setelah lulus dari kuliah kedokterannya, Fandi memutuskan untuk melanjutkan Studynya ke Luar Negri.


Dari situ aku terpisah, karena aku memilih untuk melanjutkan kuliah di dalam negri saja.Dan aku juga tidak tau kabar dia selama di LN seperti apa, sampai akhirnya Fandi pulang dalam kondisi sakit keras.


*********************


Setelah aku menyelesaikan Studyku. Aku mengabdi di sebuah Rumah Sakit terbesar di Ibu Kota. Aku memilih untuk menjadi Dokter jaga di sana, karena dulu aku pernah insomnia, yang membuat aku susah untuk tidur malam, bahkan aku baru akan bisa memejamkan mataku setelah jam lima pagi.


Jadi sampai saat ini, aku lebih memilih waktu malam untuk beraktifitas. Mungkin ini tidak sehat, tapi ini sudah menjadi pilihanku. Malam ini, tidak seperti biasa. Aku selalu terbayang wajah Fandi yang frustasi dulu. Ada apa?


Aku sengaja keluar ruanganku, aku memperhatikan sekitar ruangan rawat yang berjejer rapi. Disini ruang perawatan dengan jaminan kelas tiga. Mataku terus menyapu sekelilingnya, hingga aku tertuju pada dua orang yang sedang berbincang dengan duduk di lantai.


Aku seperti mengenalinya, kedua orang itu? Oh iya, yang perempuan itu kan pendamping pasien tuangan lima sembilan belas, terus yang laki laki? What..?? Aku menutup mulutku, sepertinya aku sangat kenal dengan dia. Karena penasaran, aku menghampirinya perlahan.


" Dr. Afandi..?! " Panggilku. Aku terus menghampirinya sampai keduanya menoleh. Benar saja, orang yang sedang ada di fikiranku ternyata berada di dekatku. Lagi ngapain dia? Kok bisa bisanya duduk lesehan seperti itu?! Apa dia ada hubungan? Kok Fandi terlihat bahagia berada di dekatnya?!


" Iya, Dokter Elvira. " Benar saja, dia juga mengenaliku. Oh, pantas saja aku baru melihatnya, karena selama seminggu kemarin aku mengambil cuti karena Bundaku mengalami kecelakaan.


" Lagi apa disini? " Tanyaku. Fandi berdiri dan si Mbak itu juga ikut berdiri. Belum sempat menjawab, tiba tiba Suster memanggilku.


" Dr. Elvira..! " Teriaknya. Dia panik luar biasa.


" Pasien di Ruangan dua ratus dua puluh mengalami sesak nafas..! " Lanjutnya.Aku langsung berlari enuju ke ruanganku untuk mengambil perlengkapanku. Setelah itu, aku langsung menuju ruangan. Benar saja, Pasien di Bed nomor tiga sedang di pasang Oksigen oleh Suster. Aku segera memeriksanya.


Baru saja selesai memeriksa, aku dikagetkan dwngan Fandi yang sudah berada di belakangu. Hampir saja aku menabraknya ketika membalikan badanku.


" Fandi..! Ngagetin aja lo..! " Ucapku. Aku benar benar tersentak. Tapi dia hanya nyengir kuda. Nyebelin banget memang.

__ADS_1


****************


Setelah malam itu aku mulai di kerjainnya. Dia terus meminta aku untuk memantau kekasih hatinya itu. dia bilang kalau dia belum memastikan hubungannya karena dia masih sibuk dengan penelitian penyakit Kakaknya. Makanya dia akan menggunakan waktunya nanti setelah Selesai menelitinya.


Fandi juga memberi tahu aku kalau dia merasakan hidupnya berwarna lagi. Aku tidak tau masalah apa yang di hadapinya setelah beberapa tahun lalu tidak dalam pantauanku. Sampai sampai dia bilang, kalau Hana adalah hidupnya.


" Jangan ulangi lagi kesalahan yang telah kau buat Fan." Ucapku tegas. Aku hanya tidak ingin dirinya terluka lagi karena perempuan.


" Gak tau gua El, gua gak mau kehilangannya.! "


" Lo itu terlalu bucin sama perempuan tau gak. Bagaimana kabar Momy? " Tanyaku. Aku ingin tahu bagaimana Tanggapannya tentang Tante Metha.


" Momy baik baik saja El, Momy itu perlakuin gua seperti anak kecil, tapi gua hanya mengikutinya saja, karena hati gua sebenarnya sudah beku. " Jawabnya dengan sendu.


" Ya itu Momy lu sayang sama lo.! "


" Gua sekarang sudah dewasa El, tapi tetap sih gua selalu mengedepankan Momy juga menghormatinya. Hanya saja, tetap hati gua hampa. Makanya ketika melihat Hana, gua langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. ! " Nah loh, kenapa dia mesem mesem, baru saja dia murung. Berarti benar, kalau dia itu jatuh cinta pada perempuan itu.


**************


Setelah pertemuan itu, Fandi selalu menghubungiku, Dia selalu menitipkan Hana kepadaku. Dia tidak ingin Hananya terluka. Sampai akhirnya dia cerita semua tentang Hana.


Aku hanya selalu mengingatkan untuk tidak terlalu dalam mencintai perempuan, apalagi orang yang baru di kenal.


Hari itu, dia meminta tolong untuk mendekor kafe yang berada di Rooftup, dia ingin mengatakan cintanya langsung hari itu, karena menurutnya, dia sudah terlalu lama mengabaikannya. Padahal, tiga hari saja dia bilang sudah lama. Huufft..!!


Setelah malam romantis itu, Fandi semakin usil dan terlihat seperti bukan Fandi yang dulu. Setiap hari selalu tersenyum lebar ke siapapun. Hana benar benar sudah membuatnya meleleh sampai tingkat akhir. Ternyata sifat aslinya, dia selalu usil setiap hari, aku ikut bahagia.


" Drrrtttt... Drrrrtttt. " Ponsel ditanganku bergetar. Aku baru saja sampai di Parkiran dan aku baru saja turun dari mobilku. " Fandi. " Gumamku. Aku segera menerima paggilannya.


" Iya, hallo Fan. " Ucapku.


" Biasa ya. " Suaranya di sebrang telfon sangat panik.


" Biasa apa maksudnya? " Tanyaku. Aku merasa khawatir.


" Sudahlah, pokoknya biasa sampai ruangan. "


" Sampai ruangan?. " Aku bertanya tanya.


" Hallo Fan, Hallo.." Aku melihat ponselku tetnyata sudah mati. Aku mengingat ngingat, apa itu biasa, sampai ruangan?..


Aku menepuk jidatku." Hana..! " Ucapku. Aku langsung meninggalkan Parkiran kemudian menuju ruanganku.


Setelah menaruh tas juga perlengkapanku. Aku segera ke ruangan dimana Kakak dari Hana terbaring. Aku melihatnya, Mbak Ranti, Kakaknya Hana sedang berbaring sambil memainkan ponselnya. Dia hanya sendirian, oh iya aku lupa. Kalau buman Adiknya berarti Kakaknya yang harus aku jaga. Hufft ada ada saja si Fandi ini.


Tapi, kenapa Fandi panik tadi? Ahh sudahlah, aku lebih baik minum cofee dulu daripada mumet..


Flashback Off..


****************


Aku tergugu mendengar penuturan Dr. Elvira. Begitu sulitnya kamu Dokter. Tapi kamu bisa melewatinya. Sekarang, berbahagiah..! Aku akan selalu di sampingmu.


Dr. Elvira mengakhiri panggilannya. Aku kembali menerawang jauh, mengingat lagi apa yang dibicarakan Dr. Elvira. Akir mataku tak terasa menetes dan membasahi ponsel ini.


**Bersambung....


Teman teman, mohon maaf sebelumnya mungkin ada sedikit cerita yang berbelit di , tapi kalau membacanya dengan perlahan InsyaAllah paham..


Jangan lupa Like, komen dan Follow aku ya, Terimakasih❤❤❤**

__ADS_1


__ADS_2