
Dokter..!! Apa kabarnya Dokter? Kenapa kamu menghilang..' Aku memeluk boneka itu, walaupun bentuknya kecil. ' Dokter, tau tidak? Seharian ini seperti orang linglung. Kenapa kamu menghilang menyisakan rindu? .' Aku menangis dalam diam. Tubuhku sampai terguncang dan akupun tidak ingat lagi.
*****************
Entah jam berapa aku terbangun, aku ingin buang air kecil. Aku bangun dan menuju kamar mandi. Suasana sangat sunyi, tidak ada yang terjaga satu orang pun, semuanya tidur dan lampu juga di matikan. Hanya lampu yang menuju kamar mandi saja yang menyala.
Bulu kudukku berdiri ketika aku keluar kamar mandi melihat seperti ada bayangan hitam yang lewat. Aku sedikit berlari dan secepatnya masuk ke Bed Kak Ranti.
Pikiran ini menjadi gelisah, mata susah untuk terpejam lagi, tapi aku berusaha terus memejamkan mataku dan akhirnya aku tertidur kembali.
Adzan subuh berkumandang, aku terbangun kemudian duduk. Terlihat ponselku tergeletak begitu saja di atas lemari. Melihatnya saja aku sudah malas, aku terlalu berharap ada pesan atau panggilan dari Dr. Afandi, tapi itu semua hanya khayalanku.
" Kak, bangun. Sudah adzan." Aku mengguncang guncang bahu Kak Ranti.
" Jam berapa Dek? " Tanya Kak Ranti. Dia bangun dan bersender di kepala ranjang.
" Baru adzan. " Jawabku.
" Kamu belum shalat? "
" Belum Kak." ..
Setelah berwudhu, Kak Ranti shalat dan di teruskan membaca Al Qur'an. Sedangkan aku terus memikirkan Dr. Afandi.
Aku mengambil ponselku dari atas lemari. Memeriksa apakah ada pesan masuk atau tidak. Tapi nihil, tidak ada satupun pesan masuk dari siapapun. Bahkan Dr. Elvira saja tidak ada membalas pesanku. Aku tertunduk lesu, hampir saja aku membanting ponselku. Tapi, aku masih sadar, kalau ponsel ini mati, nangi tidak bisa lagi berkomunikasi dwngan siapapun.
Tubuhku terasa lemas, perutku sudah keroncongan dari. Tapi ini masih pagi, malas aku beranjak dari sini. Semangatku seperti hilang tanpa ada Dr. Afandi.
Kak Ranti masih membaca Al Qur'an dan aku memutuskan untuk mandi. Di kamar mandi aku kembali menangis dan terus bertanya, kemana Dr. Afandi, atau dia keterusan sakit?.
Aku mempercepat mandiku, aku takut ada orang yang ingin ke kamar mandi. Segar rasanya, setelah tubuh ini terkena air.
" Kak, ku mau beli sarapan dulu." Ucapku. Aku menaruh handuk juga sabun mandi di tempatnya.
" Ya sudah, sekalian beli untuk sore..! "..
" Iya Kak, Kakak mau pesan apa? " Tanya ku.
" Sudah, Kakak tidak perlu apa apa.! "..
Seperti biasa, aku beli makan lebih nyaman di Stand Stand yang ada di dekat Parkiran dari pada di Kantin.
Apalagi sekarang, Kantin hanya akan membuat aku menangis, yang ada aku bukannya makan kalau beli di Kantin.
Aku turun lewat tangga, siapa tahu aku bertemu dengan Dr. Afandi yang sedang turun juga. Genggaman tangannya masih teringat jelas. Dia menuntunku dengan penuh sayang, bahkan dia rela menggendongku ketika aku sakit.
" Dokter..!! " Aku memanggil Dr. Afandi dengan tatapan kosong, sedangkan kakiku terus melangkah, air mata terus memaksa untuk jatuh tanpa henti. Aku mengusapnya dengan kasar dan berusaha untuk tenang agar aku tidak keterusan sedih.
__ADS_1
" Kasihan banget kamu, kamu nangis karena di tinggal lagi cinta cintanya ya.." Suara itu..!! Aku menengok siapa yang berbicara.
Suster itu?! Itu kan Suater yang waktu itu memberi peringatan kepadaku. Dan ini? Iya, ini di Lantai empat. Di Lantai ini juga dia melihatku dengan tatapan sinis ketika aku sedang turun dan bergandengan tangan dengan Dr. Afandi. Siapa dia? Apa dia kenal dekat dengan Dr. Afandi? Atau dekat dengan Dr. Carisa
" Makanya jadi orang jangan murahan Mbak, tau orang sudah mau menikah, mau saja di dekatin. Kan waktu itu sudah saya kasih tahu, tapi Mbak tidak mau di kasih tahu.. " Ucapnya lagi. Dia memandangku begitu sinis.
" Mohon maaf Suster, apa Suster itu berbicara sama saya? " Tanyaku.
" Ya terus sama siapa lagi..! Kamu kan yang pacarnya Dr. Afandi itu? "..
Aku diam mematung, apa benar Dr. Afandi mau menikah? Tapi, kalau emang benar, kenapa dia sampai menyakiti dirinya ketika waktu itu? Aahhh...!! Tambah pusing kepalaku memikirkannya.
" Mohon maaf ya Sus, saya duluan.." Ucapku. Aku sudah tidak ingin berlama lama lagi di dekatnya. Rasanya aku akan tambah pusing.
" Heeiii...., Tunggu..! " Teriak Suster itu. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku berjalan setengah berlari meninggalkannya.
Aku berjalan lebih cepat lagi agar segera sampai ketempat yang aku tuju. Mentari pagi menyambutku ketika keluar dari Gedung ini, mataku menyipit karena ketika sinarnya menerpa wajahku. ' Pagi yang cerah ' Gumamku.
Aku membeli bubur untuk sarapan, juga membeli nasi dan lauknya untuk nanti siang. Aku juga membeli beberapa cemilan dan air mineral.
Setelah semuanya terbeli, aku kembali ke Gedung A. Sesampainya di lantai lima. Aku melihat ada beberapa orang Dokter yyang masuk keruangan dimana Kak Ranti di rawat. Aku mengikutinya masuk dari belakang. Dan Dokter itu ternyata menuju Bed Kak Ranti.
" Permisi Dokter..! " Ucapku. Aku membungkukan badanku untuk melewatinya. Kemudian aku menaruh belanjaanku ke atas lemari dan duduk di samping Kak Ranti.
" Oh ya, maaf sebelumnya perkenalkan nama saya Radit . Kami dari Tim Bedah Torax. Maksud kami ke sini untuk menjelaskan bagaimana tentang pembiusan untuk nanti ketika Operasi. " Ucapnya.
" Emangnya belum di kasih tahu ya? " Tanya Dr. Radit.
" Belum Dokter."..
" Permisi...! " Tiba tiba Dr. Dafa menyembul dari balik tirei.
" Hei Daf, bagaimana? Emangnya belum di kasih tahu ya jadwal Operasinya? " Yanya Dr. Radit.
" Iya, saya baru mau menyampaikannya hari ini. " Jawab Dr. Dafa.
" Ya sudah sekalian saja. Oh ya maaf sebelumnya ya Mbak Ranti, saya terlambat memberitahu kalau Operasinya akan di laksanakan besok jam delapan pagi. " Dr. Dafa menjelaskan.
" Alhamdulillah.." Ucap Kak Ranti.
" Bagaimana? Apa Mbak Ranti sudah siap? " Tanya Dr. Dafa lagi.
" InsyaAllah siap Dokter.." Kak Ranti begitu semangat menjawab pertanyaan Dr. Dafa. Aku hanya menyimak pembicaraannya.
" Wahh, semangat sekali Mbak Ranti, bagus itu..! " Ucap Dr. Dafa Tersenyum.
" Iya Dok."..
__ADS_1
" Ya sudah, kalau dari saya seperti itu saja, sekarang Dr. Radit yang akan menjelaskan tentang pembiusan. " Ucap Dr. Dafa.
" Silahkan Dr. Radit.." Dr. Dafa menggeser badannya ke belakang dan Dr. Radit maju ke depan.
" Kita mulai saja ya Mbak Ranti, jadi begini...
" Kerena Operasinya termasuk Operasi besar, jadi untuk pembiusan Mbak Ranti nanti akan dibius total seluruh tubuh. Dan Operasinya juga memakan waktu beberapa jam. Dan Nanti Sebelum pembiusan, Mbak Ranti juga harus puasa sekitar lima sampai enam jam. "..
Dan banyak lagi penjelasan yang aku pun tidak terlalu paham, akulah orang awam yang baru kali ini aku mendampingi orang yang akan di Operasi.
Sampai akhirnya, tim Dokter itu selesai menjelaskan dan aku menghubungi Bang Bagas.
" Hallo, Assalamu'alaikum Bang, "
" Iya, Wa'alaikum salam, ada apa Dek? "..
" Ini Bang, Kak Ranti di Operasinya besok."
" Haahh, besok? Kok mendadak banget? "..
" Aku tidak tahu, besok Abang kesini ya, aku tidak terlalu paham. "
" Ya sudah, beaok Abang kesitu sama Bang Ilham. "..
" Iya Bang, ya sudah aku mau memberitahu Kak Fitri dulu. " Ucapku. Aku menyudahi panggilan ke Bang Bagas. Seterusnya aku memberitahu Kak Fitri, juga Bu Fatma. Tidak lupa, aku juga memberitahu teman temanku juga Majikanku meminta do'a agar Operasinya di permudahkan dan di lancarkan tanpa kendala apapun.
*****************
" Dek, Kakak mau mandi dulu, " Ucapnya. Aku pun membantunya ke kamar mandi.
Setelah mandi Kak Ranti juga meminta aku untuk membantu mencuci rambutnya. Karena rambutnya lagi panjang, Kak Ranti begitu kesusahan untuk mencucinya, apalagi dengan kondisi sekarang. Aku mencucinya di washtapel agar mudah , selain panjang, rambut Kak Ranti juga sangat tebal. Pantas saja dia sangat kesusahan.
Setelah itu, aku terus berbincang dengan Kak Ranti, membicarakan tentang apa saja. Kak Ranti juga bercerita tentang aku ketika masih Balita. Memang, ketika aku kecil dulu, menurut cerita Kak Ranti. Kak Rantilah yang menjagaku ketika Ibu dan Bapakku ke Sawah. Dulu, usia Kak Ranti masih kecil, masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sedangkan Kak Fitri, dia sudah bekerja di Kota.
" AllahhuAkbar, AllahhuAkbar...! " Kumandang adzan magrib terdengar sayup sayup. Tidak terasa waktu sudah menuju malam, Kak Ranti beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Kak Ranti bersujud di atas sajadah, berdo'a memanjatkan mohon ampunan dan mohon di berikan kelancaran juga kemudahan untuk Operasinya besok. Ia berserah diri, apapun yang terjadi nantinya. Karena semua ini atas kehendakNya.
Tidak lupa, Kak Ranti juga membaca Al Qur'an, walaupun dengan suara bergumam. Karena lidahnya kelu, jadi terkadang Kak Ranti juga hanya membacanya di dalam hati.
Tasbih berwarna hijau juga tidak pernah lepas dari tangannya, jarinya terus berjalan memisah misahkan biji tasbihnya. ' Sungguh mulianya dirimu Kak..! ' Ucapku dalam hati. Aku menatapnya sendu..!
**Bersambungg....
Jangan lupa dukungannya ya teman teman..!!
Like, dan Voteny✅
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏**..