TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Dania


__ADS_3

Assalamu'alaikum, Hana apa kabarnya? ] " Siapa ini? Ketika sedang menimang nimang, mau di balas atau tidak, tiba tiba suara petir mengagetkanku.


Duuaarrr....


Kilatan cahayanya membuatku takut. Aku langsung mematikan ponselku begitupun Kak Ranti.


" Astagfirullah, ya Allah, " Ucapku.


...****************...


aku menjauhkan ponselku, karena benar benar takut. Petir masih bersahutan hujanpun semakin lebat. Aku memutuskan untuk tidur, karena keadaan ruanganpun sangat sepi. Padahal baru pukul dua siang, mungkin yang lainnya juga tidur.


" Serem banget Kak, " Ucapku. Aku menutup gorden dan menyalakan lampu karena keadaan ruangan terlihat gelap.


" Tidur aja Kak, bingung mau ngapain, " ucapku lagi.


" Ya sudah tidur saja, " Ucap Kak Ranti.


Baru saja menelungkupkan wajahku ke ranjang, terdengar ada orang yang masuk. Ternyata dua orang Suster yang salah satunya Suster Irma.


" Permisi Mbak, saya cek tensinya dulu ya, " Ucapnya.


" Silahkan Sus, " Jawab Kak Ranti. Aku pun kembali duduk tegak.


" Maaf mengganggu ya Mbak Hana? " Ucap Suster Irma.


" Oh tidak Sus, baru juga mau tiduran, " Ucapku.


" Mbak Ranti kaget ya sama petir tadi, "..


" Iya, tadi yang pertama kaget banget, " Jawab Kak Ranti dengan suara sengau. terlihat kelopak matanya juga menurun.


" Tarik nafas dari hidung keluarkan dari mulut Mbak, kalau kaget seperti itu, "..


" Iya baik Sus, "..


" Tensinya sedikit rendah ya, " Ucap Suster.


" Iya Sus, " Jawab Kak Ranti.


Setelah memeriksa Kak Ranti, di lanjutkan ke pasien yang sebelahnya Kak Ranti.


" Tidur aja Kak, harus istirahat, " Ucapku. Karena sepertinya wajahnya sudah terlihat berat untuk di gerakan. Akhirnya Kak Ranti mulai merebahkan tubuhnya, dan terus berusaha untuk rileks.


Pukul empat sore aku terbangun, sepertinya hujan sudah reda, dan suasana ruangan pun sudah menghangat. Pendamping pasien di samping Kak Ranti terdengar sedang menelfon dan ada juga yang sedang mengobrol. Kak Ranti terlihat masih tidur, syukurlah semoga tidak berkepanjangan.


Aku mengambil baju ganti, tidak lupa juga aku mengambil sabun untuk mandi. Segar rasanya, ketika air mengguyur tubuhku, walaupun tidak bisa lama lama mandi, setidaknya aku bisa membersihkan tubuhku dengan tenang. Bersyukurnya di ruangan ini tidak pernah ada yang kebelet ketika aku lagi mandi, tidak seperti di ruangan sebelumnya yang membuat aku tidak nyaman.

__ADS_1


Tadi pagi Kak Ranti sudah di copot selang kateternya, dan mulai hari ini juga belajar jalan ketika ke kamar mandi. Sudah kuat berjalan, tapi masih tetap dalam pengawasan.


Selesai mandi, Kak Ranti sudah bangun. Tapi masih tetap tiduran.


" Sudah enakan Kak? " tanyaku.


" Sudah Dek, sudah jam berapa? "..


" Mau setengah lima, " Jawabku. Kakak mau ke Kamar Mandi? " Ucapku.


" Iya Dek, " Kemudian Kak Ranti bangun, dan berusaha turun dari ranjang. Aku memapahnya denga satu tangan, satu tangannya lagi aku gunakan untuk memegang selang infus. Harus hati hati sekali karena takut darahnya naik ke selang infus karena kalau tergeser sedikit pasti darahnya naik, dan itu akan menghambat cairan infusnya untuk masuk.


" Kok suara Kaka Seperti bindeng sih, efek dari wajah Kakak atau pilek? "


" Sepertinya pilek Dek, kepala Kaka juga sedikit berat, " Ucapnya. Aku menghela nafas kasar, sudah menahan sakit yang benar benar urgent, harus ada lagi sakit lain.


Selesai dari kamar mandi aku membantu Kak Ranti untuk naik dan duduk di ranjang. sambil menunggu waktu magrib, aku mendengarkan murotal Al Qur'an dari ponselku. Banyak sekali pesan masuk ketika ponselnya baru aku nyalakan, tapi yang aku inginkan sekarang adalah ketenangan dulu, jadi aku mengabaikannya.


Ketika adzan magrib berkumandang, aku bergegas ke Mushola untuk shalat berjamaah. Entah kenapa, aku selalu nyaman untuk shalat berjamah, berasa lebih khusu melakukannya.


Aku kadang selalu ingin berlama" di dalam Mushola ini, tapi aku juga menyadari kalau Mushola ini berukuran kecil, jadi harus bergantian dengan mereka juga yang mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.


Jatah makan malam sudah berada di atas lemari, asap dalam sayur sopnya masih mengepul. Ditambah opor ayam dan ada juga satu buah jeruk.


Aku duduk setelah menaruh mukena, mataku tertuju pada Kak Ranti yang sedang asyik memainkan ponselnya. Akupun ingat dengan pesan masuk 5adi siang sebelum ada petir itu.


Gegas aku mengambil ponselku, ada beberapa pesan dari nomor baru itu, juga ada pesan dari Kak Fitri, oh ada lagi pesan dari Mama Elsa.


" [ Kak, Puji Tuhan, Elsa sudah pindah ke ruang rawat, ] Aku segera membalasnya.


" [ Syukurlah, di Lantai berapa Bu? ] " Ku kirim pesan yang sudah terlambat aku balas itu. " [ Maaf Bu, tadi aku matikan ponselnya karena ada petir, ] " Aku kembali mengirim pesan untuk meminta maaf. Aku merasa tidak enak karena Mamanya Elsa mengirim pesannya sekitar jam setengah empat, berarti ketika ponsel ini sedang aku matikan.


" Kak, minum obat dulu, " Ucapku. Kak Ranti menoleh kepadaku, " Oh iya, " Jawabnya. Kak Ranti beralih duduk dan menaruh ponselnya, begitupun aku.


Aku memberikan satu buah obat dan memberikannya air putih. Terkadang, ketika mau meminum obat, sangat kesulitan ketika efek obat yang sebelumnya sudah habis. Matanya kembali turun, suara sengau dan wajahnya terlihat tidak simetris. Inipun dosis obatnya 4×1 dalam sehari.


Setelah minum obat, menunggu dulu sekitar lima belas menit untuk mengoptimalkan kerja obatnya.


Selanjutnya, Kak Ranti mulai makan sendiri. Lebih tepatnya, Kak Ranti yang tidak mau terus di suapi. " Kamu juga makan Dek, biar enak makan bareng, " Ucapnya.


Akhirnya, aku juga mengambil makananku, dan makan bareng dalam diam.


...****************...


" [ Elsa di Lantai lima Kak, ruangan 225, ] " Ku buka kembali pesan dari Mama Elsa.


" [ Sama dong, kita di Lantai lima Bu, aku di ruangan 219, ] " Aku kembali membalasnya.

__ADS_1


" [ Dekat dong, besok kalau mau keluar kita bareng ya, ] "..


" [ Siap Bu, bagaimana keadaan Elsa? ] "..


" [ Sudah bisa merespon, dan tetap harus dengan pengawasan ketat sama harus terapi juga, ] "..


" [ Cepat pulih ya Elsa, sama Kakakku juga harus Sinar nantinya sama terapi, ] "..


" [ Elsa juga harus sinar sama kemo, ] "..


" [ Semoga cepat pulih ya Bu, ] " ..


" [ Aamiin ] "..


Setelah berbalas pesan dengan Mamanya Elsa, teman seperjuanganku ketika di ICU yang mau dekat denganku dan akupun nyaman ketika bersamanya. Beliau tidak membedakan dan malah beliau banyak mensuportku. Aku langsung beralih ke pesan yang pengirimnya nomor tidak di lenal.


" [ Hana, kamu sudah lupa sama aku ya? Aku Dania Hana, sahabat kamu, ] " Haah, Dania? Untuk apa dia menghubungiku? Tumben sekali, dari semenjak tunangan dulu sama Kak Arkan dia berubah menjadi sombong bahkan dia seperti merasa berhasil telah merebutnya dariku. Dia sahabat baikku sudah dari aku kecil. Tapi, ketika dia tahu kalau aku dekat dengan Kak Arkan dia berubah menjadi tidak mau kalah, diapun sering kali mengganggu kami yang sedang bersama.


" [ Hana, kenapa di baca doang? ] "..


" [ Hana, apa kamu marah ketika mendengar aku bertunangan dengan Kak Arkan? Sampai kamu tidak pernah membalas pesan dari aku lagi, ] " Persetan dari mana kalau aku tidak pernah membalas pesannya lagi, dia aja yang memblokir ketika aku skak mat, hahaha...


" [ Oh iya, aku lupa. Klo sekarang kamu sudah berhasil mengambil Kak Arkan lagi, kenapa kamu jahat Hana? Kita udah merencanakan untuk menikah Lebaran nanti. Tapi kenapa kamu malah mengambilnya dariku? Kamu bagaimana sih, katanya sahabat tapi menikung terus. Ingat ya, kamu itu tidak pantas dengan Kak Arkan, sadar diri dong.! ] " Entah terbuat dari apa hatinya Dania? Apa iya dia udah berencana menikah dengan Kak Arkan lebaran nanti? Tapi, kenapa Kak Arkan malah melamarku dengan memaksa? Aku menjadi bingung di buatnya. Kasian juga kalau sampai orangtuaku menjadi korban kedzoliman mereka.


" [ Woy, Hana..! Kenapa gak di balas? ! ] " Dania kembali mengirim pesan. Aku mengabaikannya, kemudian aku blokir nomornya. Sangat tidak ingin di ganggu untuk saat ini, memikirkan Kak Arkan saja aku sudah pusing. Aku ingin fokus dulu untuk kesembuhan Kak Ranti, tapi tidak tahu berapa lama lagi Kak Ranti berada disini. Aku harus sabar menunggu, karena setelah Kak Ranti sembuh dan pulang ke Kampung, aku akan kembali bekerja, karena barang barangku masih tertinggal di tempat kerjaan.


Mungkin, itu salah satu cara untuk menghindari Kak Arkan. Karena, aku benar benar belum siap untuk bertemu lagi, apalagi harus menikah.


Ke esokan harinya, seperti biasa Dokter spesialis bergantian berdatangan, sepertinya mereka baru saja sampai karena sekitar setengah tujuh sudah ada di ruangan. Begitupun dengan Suster, yang setiap hari bolak balik untuk memeriksa Kak Ranti dan juga sejak habis operasi setiap pagi Kak Ranti di ambil darah, entah untuk apa karena bilangnya untuk pemeriksaan saja.


Berpuluh puluh tusukan jarum telah menusuk tubuh Kak Ranti selama ini, sangat hebat dirimu Kak..!


Begitu juga dengan Dr. Dafa, dia datang hanya mengucapkan selamat pagi dan menanyakan keadaan Kak Ranti saja, belum sempat aku menanyakan hasil Thimoma nya beliau sudah keluar dari ruangan hufftt.. Padahal, Bu Fatma sudah menyuruhku dari kemarin kemarin untuk menanyakan hasilnya agar beliau tahu sakitnya Kak Ranti.


Siang harinya, Dr. Ali masuk, " Selamat siang Mbak Ranti! "..


" Siang juga Dokter, " Jawab Kak Ranti dengan suara bindengnya.


" Mbak Ranti lagi pilek ya? " Tanyanya ..


" Iya Dok, sama batuk juga, " Jawabku. Terlihat Dr. Ali menghembuskan nafasnya pelan.


" Oh iya, Mbak Ranti hari ini Flasmaparesis lagi ya, untuk yang ke 5, " ..


" Yang ke 5 Dok? " Tanyaku bingung. Perasaan baru melakukan Flasmaferesisnya dua kali saja.


" Iya Mbak, yang dua kalinya kemarin waktu di ICU, " Jawabnya. Aku manggut manggut tanda mengerti. Setelah memberitahu itu, Dr. Ali keluar. Aku juga ke Lantai delapan untuk daftar.

__ADS_1


Aku masuk Lift yang berada persis di depan ruangan Kak Ranti. Tapi, ketika aku menekan tombol delapan, Lift nya tidak bergerak. Aku panik bukan main, mana hanya aku sensirian yang berada di dalam Lift ini.


Bersambung...


__ADS_2