TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Kedatangan Teman Temanku


__ADS_3

Dokter tidak berhak kerja untuk aku, aku kan bukan siapa siapa Dokter." Ucapku. Entah darimana aku dapat kata kata itu. Kok aku jadi takut menyinggung perasaannya, tapi aku memang bukan siapa siapanya. " Dokterrr..!! " Sebuah panggilan dengan suara lembut dari arah Nurse Station, aku dan Dr. Afandi menoleh...


 


" Dokter benarkan Dr. Afandi.? " Tanyanya menghampiri. Dr. Afandi tersenyum ramah begitupun Dr. Jaga tersebut. Ya, yang memanggil tadi adalah Dr. Elvira, Dr. Jaga di sini.


" Ya, Dr. Elvira " Dr. Afandi berdiri dari duduknya. Aku mengikutinya berdiri kemudian diam mematung.


" Lagi apa Dok, lagi ada lemburan..? " Tanyanya.


" Oh, enggak, saya lagi main." Dr. Afandi melirikku.


" Ini siapa..? Tanya Dr. Elvira lagi. 'Ya ampun kenapa pakai nanyain aku segala sih ' Aku meringis.


"Oh, ini adiknya pasien Ranti.. " Ucapnya.


" Ada perlu apa, kok sepertinya akrab banget..? " Tanya Dr. Elvira lagi.


" Dr. Elvira..!!" Tiba tiba seorang Suster memanggil dari Ruangan 220.


" Ya Suster.." Jawabnya.


" Pasien Ruangan 220 bed 3 mengalami sesak napas " Ucap Susternya. Dr. Elvirapun pamit kemudian berlari ke Nurse Station, dan tidak lama kemudian keluar lagi dengan membawa peralatan Dokternya menuju Kamar 220.


" Sayang, aku pulang dulu ya " Di tengah kepanikan, ya aku juga ikutan panik mendengarnya. Dr. Afandi pamit pulang.


" Ya, silahkan, hati hati di jalan." Jawabku.


" Siap " Dia mengacungkan jempolnya. Aku berjalan menuju Ruangan Kak Ranti, tapi aku penasaran Dr. Afandi pulangnya lewat mana. Lah, kok dia malah masuk ke Kamar 220.


Aku mencoba positif thingking, siapa tahu dia ingin melihat saja. Sesampainya di Ruangan, aku melihat Kak Ranti sedang memainkan ponselnya.


" Dari mana.." Tanyanya. Aku menaruh godibag tadi diatas lemari. " Aku dari luar, dan ini dari Dr. Afandi " Aku menunjukan godibagnya.


" Kok bisa.? " Tanya Kak Ranti heran. Kak Ranti pasti bertanya tanya, kenapa aku bisa di beri godibag itu.


" Tadi dia kesini, bilangnya mau minta maaf " Ucapku. Upss !!! Aku keceplosan, aku menutup mulutku. Mukaku terasa panas, pasti ini memerah.


" Maksudnya minta maaf bagaimana..? " Tanyanya lagi. Aku benar benar bingung harus bilang bagaimana.


" Mmmm, itu mmm, anu Kak.., Mmm. Dr. Afandi suka "


" Suka sama kamu " Kak Ranti memotong pembicaraanku. Aku garuk garuk kepala yang tidak gatal.


" Maksud aku suka berkirim pesan."


" Ya iya, suka berkirim pesan berarti dia suka sama kamu, apalagi itu tanda permintaan maaf segala..? Kamu udah pacaran..? " Kak Ranti bertanya lagi.


" Enggak tau." Aku mengedigkan bahuku.


" Coba di buka apa isinya." Ucap Kak Ranti. Penasaran juga dia hhee..

__ADS_1


Akupun membukanya perlahan, pertama terlihat ' apa itu bulu bulu ' Aku sedikit was was. Setelah di buka lebar, terlihat sebuah boneka kucing ukuran kecil dan sangat lembut. ' Ihh ada coklatnya ' Gumamku. ' Dokter tau aja kesukaanku ' .


Akupun mengirim pesan, " [ Dokter, terimakasih banyak ya ] " .. Tidak ada balasan, lima menit, sepuluh menit tetap sama ,tidak ada balasan.


" Hana, kamu harus bisa nempatin diri, ingat kita siapa? Jangan terlalu diambil hati, kita tidak kenal dia, ingat kita kesini untuk berobat dan tidak tau kita sampai kapan, kalau kamu terlalu diambil hati takutnya nanti kamu sakit.." Kak Ranti memberiku pengertian panjang lebar. Benar juga yang diucapkan Kak Ranti, tapi kenapa hatiku tidak bisa, hatiku sudah menjadi miliknya jadi susah untuk merubah lagi.


Aku kembali melihat ponselku, masih sama, belum ada balasan. Akhirnya aku bersiap tidur, mata ini sudah lengket, tapi pikiran terus tertunu ke Dr. Afandi. ' Kok tumben tidak di balas ' Gumamku.


Aku kembali susah tidur, hati ini terus kepikiran Dr. Afandi. Entah jam berapa aku tertidur, karena, ketika kumandang adzan subuh terdengar, kepalaku sedikit pusing dan sepertinya tidurku baru sebentar. Aku bangun kemudian mandi agar rasa pusingku hilang. Tapi kenapa mataku seperti habis nangis..?! Ya ampun, ini gimana..?! Kuolesi bedak tipis tipis tapi masih sama.


Sekitar setengah enam, Dr. Afandi sudah sampai ke Ruangan, dengan pertanyaan yang sama seperti hari sebelumnya. Menanyakan kabar Kak Ranti kemudian keluar ruangan lagi.


Setelah dia pergi, aku keluar untuk membeli sarapan. Aku melihat dia ada di pintu Lift, tapi aku memilih lewat tangga. Kulihat dia melirikku sekilas kemudian masuk Lift. Aku menuruni tangga pelan pelan karena takut bertemu dengan dia. Tapi, ketika sampai di Lobi, dia ada di pintu masuk sebelah kiri sedang memainkan ponselnya. Aku mengabaikannya dan keluar lewat pintu sebelah kanan.


Entahlah, aku bukan karena dicuekin atau karena dia tidak membalas pesan yang aku kirim, tapi ketika bertemu itu, suka ada rasa malu, deg degan tidak karuan dan malah takut bertemu karena bingung mau nanya apa..


Aku terus berjalan mencari sarapan. Terlihat gerobak bubur ayam di pinggir jalan, akupun menghampirinya.


" Permisi Bu..!! Buburnya bungkus satu." Ucapku.


" Baik neng.., pake semuanya..?? "


" Pake Bu, tapi bumbunya dipisah ya.."


" Sambel pake.? " Tanyanya lagi.


" Pake Bu dipisah. " Kemudian Ibu itu memulai meraciknya. Tempatnya memakai steropom dan dialasi dengan plastik putih.


" Tenang aja ya Neng, Ibu bikin sambelnya higinis, dicuci dulu, kemudian di rebus habis itu diblender baru di masak lagi." Terangnya.


******


Setelah membeli bubur, aku langsung pulang, air minum masih ada jadi tidak membeli lagi.


Sarapan kali ini, rasanya tidak berselera, aku hanya memakan setengahnya saja. Ting.... Bunyi pesan masuk. Kubuka ponsel ku dan tertera pesan dari Bang Andi, seorang mandor yang sudah aku anggap seorang Abang, karena beliau suka berbaur dengan kami, bahkan seperti keluarga, orangnya sangat baik.


"[ Hana, Abang nanti sore mau kesana sama Mpok Reni, ya Majikanku bernama Mpok Reni]."


"[ Iya Bang, kesini saja, nanti kalau sudah sampai bilang] " Balasku.


" [ Teman temanku ikut tidak Bang.? ] " Balasku lagi


"[ Iya ikut..] "..


" [ Oke, ditunggu ] "..


Ku tutup ponsel ku, bosen juga mainin ponsel mulu. Tapi bingung juga mau ngapain oh iya kan ada coklat dari Dr. Afandi. Kuambil godibagnya dan membukanya. Tapi kok sayang ya untuk dimakan.


Tiba tiba, di luar ruangan terdengar kegaduhan. Aku beranjak dari dudukku dan mengintip dari gorden pembatas. Terlihat seorang Ibu bertubuh gempal tergolek lemas di blankar yang sedang di dorong keruangan, dibelakangnya Ibu paruh baya mengikutinya sambil berbicara sendiri, eh ternyata dia sedang menelfhon, suaranya sangat kencang sekali membuat ruangan jadi ramai.


Pasien Ibu itu ditempatkan persis disamping Kak Ranti. Yang terdengar dari penjelasan Ibu paruhbaya itu, kalau Pasien tadinya sakit kepala dan dibawa ke Rumah Sakit di Kota B, tapi ketika dirawat disana, pasien jatuh di kamar mandi kemudian tidak bisa bangun lagi dan berbicaranya juga sudah ngelantur.

__ADS_1


Dari Rumah Sakit disana, pasien di Rujuk ke Rumah Sakit sekarang karena alasan alat alat lebih lengkap.


Pemeriksaan terus berlanjut Dokter terus berdatangan ke pasien sebelah Kak Ranti. Tapi, kenapa sangat bising sekali. Dari cara berbicara Ibu Paruh baya yang tidak bisa pelan sampai si pasien yang terus mengeluh sakit. Terganggu pasti, tapi resiko pasien kelas tiga yang tidurnya berdempetan.


Sore hari, Bang Andi menelfhonku. " Hallo Bang..!"


" Iya, Hallo, Abang berangkat ya.."


" Siap Bang, hati hati..


Tidak lama kemudian, intan mengirim pesan..


"[ Kak Hana, mau nitip apa..? Sekarang kita mau menjenguk Kakaknya Kak Hana, bareng sama Bang Andi juga Mpok Reni ]"..


" [ Iya Tan, Kakak titip bawain baju Kakak yang biru sama celana jeans nya ya.] "..


" [ Siap Kak..]..


Waktu terus berputar, sore berganti malam, matahari memancarkan semburat jingganya menembus kaca jendela ruangan ini. Aku sampai lupa, dari pagi, tidak ada Dr. Afandi memberi kabar ataupun keruangan. Kok aku merasa kehilangan ya, tumben aja, tadi pulang juga tidak ada mengirim pesan.


Aku mengambil mukenaku dari plastik Loundry yang baru aku ambil. Ya, sekarang aku mencuci bajunya di Loundry, karena repot juga kalau harus bulak balik ke Bang Bagas.


Aku sedikit berlari ke Mushala ketika suara adzan berkumandang. Karena, aku tidak mau berdesak desakan, lagian pula aku bergantian memakai mukenanya sama Kak Ranti, punya Kak Ranti sedang di Loundry.


Selesai shalat, aku kembali keruangan, kuambil ponselku dan ternyata ada dua panggilan. Kubuka panggilan itu, ternyata dari Bang Andi. Kak Ranti tidak tau kalau ponselku berbunyi, karena poselnya aku silent.


Ponselku berdering, ternyata Bang Andi kembali memanggilku.


" Hallo Bang, sudah sampai..? " Aku langsung bertanya.


" Iya ini abang sudah sampai, tapi abang tersesat." Ucapnya.


" Kenapa bisa tersesat Bang, aku di Gedung A, emangnya abang kemana?.."


" Abang tadi ke ruang perawatan kelas satu." Ucapnya membuatku tergelak. Hhaa, mana ada aku bisa di Ruangan VIP.


" Ya udah, abang tanya saja dimana Gedung A, nanti aku kebawah.." Panggilan di tutup. Akupun ke bawah, aku mau menunggu di Lobi.


" Kak, aku kebawah dulu, teman temanku sudah sampai.." Ucapku. Kak Ranti mengangguk dan tersenyum, ada pancaran kebahagiaan dari wajahnya.


Sesampainya di Lobi, aku melihat Bang Andi masuk dari pintu sebelah kiri, di belakangnya, Mpok Reni juga ketiga temanku mengikutinya.


" Bang..!" Panggilku.


" Heeii Hana, apa kabarnya." Ucapnya.


" Alhamdulillah baik Bang.." Jawabku. Aku menghampiri mereka kemudian menyalaminya satu persatu.


" Bagaimana Kondisi Kakaknya, Na..? " Tanya Mpok Reni.


" Ya sekarang begitu aja, tidak lepas infus " Jawabku. Kak Ranti memang terlihat seperti orang biasanya masih segar, ke kamar mandi juga masih bisa jalan sendiri aku hanya mendampinginya. Yang penting imunnya jangan turun, karena kalau turun, maka kelopak matanya suka ikutan turun, dan pipinya juga tidak simetris.

__ADS_1


Kami menunggu Lift terbuka, kebetulan Liftnya sedang turun. Dan apa yang kulihat ketika Lift itu terbuka, aku mematung sampai sampai Bang Andi menepuk pundakku, dan aku terkesiap..


Bersambung....


__ADS_2