
Hehee, ampun Bang, Adek tidak sadar " Ucapku. Aku mengatupkan kedua tanganku kemudian menenggelamkan wajahku ke dada bidangnya. Terdengar jelas detak jantungnya yang seperti sedang lomba maraton, tapi kok aku nyaman sih..
" Dek, jangan tidur disini " Setelah beberapa menit aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Dia buka suara. " Tapi, aku nyaman Dokter "..
" Ya sudah lanjutkan sampai pagi " Ucapnya enteng. " Puukkk " aku menepuk dadanya.
" Sakit sayaang " Aku mencebikan bibirku kemudian duduk ke posisi awal.
" Dr. Pulang yuk, takut macet lagi pulangnya " Ajakku.
" Sebentarlah, aku masih ingin bersamamu " Ucapnya.
" Terus ngapain lagi? " Tanyaku.
" Tidak tahu " Dia menggedigkan bahunya.
Drrrtttt, drrrrreettttt.., Ponsel Dr. Afandi bergetar. Dia memeriksa ponselnya dan klik..
" Hallo , Iya Mom "...
" ..............
" Kan tadi aku sudah bilang, kalau aku main dulu Momy "...
"...............
" Kata siapa? "...
".............
" Ya sudah, biarkan saja, aku tidak ingin diatur atur tidak jelas Mom, ini hidup aku, kenapa pada ngatur semua. Apa aku harus pergi lagi dari rumah? " Suaranya meninggi. Aku mengelus lengannya, dan dia menggenggam tanganku erat, seperti meminta kekuatan.
"................
" Ya, terus kenapa Momy selalu belain dia, anak Momy itu aku atau dia? " Ya Allah, ada permasalahan apalagi dia, kok seperti sangat kesal banget. Aku mencoba menenangkannya.
" Ya sudah, aku tidak mau pulang kalau dia ada di rumah. " Klikkk, Dr. Afandi mengakhiri panggilannya dan menyimpan ponselnya sembarang. Ada rasa putus asa dalam raut wajahnya. Dia memejamkan matanya beberapa menit, kemudian duduk kembali. Aku diam menunggu dia bicara.
" Aku tidak pulang kerumah Dek..! " Ucapnya. Setelah beberapa menit hening. Mungkin dia lagi mengatur emosinya.
" Aku tidak bisa kalau diatur atur seperti ini Dek " Dia menyenderkan kepalanya di pundakku. " Momy kenapa berubah lagi ya Dek, dia bilang tadi ada Carisa ke rumah nangis nangis anaknya sakit dan Baby Sisternya pulang kampung. Terus dia juga ngaduin aku yang enggak enggak. Carisa meminta aku pulang dan nemenin anaknya ke Dokter. Momy malah suruh pulang buat antar dia "..
' Berarti dia emang dekat dong, kalau seperti ini ' Gumamku.
" Dek..!! " Dia menepuk pundakku. Aku sedikit kaget. " Ohh iya.." Ucapku gelagapan.
" Kamu tidak dengarin aku cerita ya Dekk..!! "
" Oh dengar kok, iya dengar " Aku masih aja gelagapan. Aku emang bingung mau ngasih pendapat bagaimana.
" Terus bagaimana? "
" Aku bingung Dokter, bagaimana ya..?? "..
" Oh ya, Mbak Carisa ngaduin apa emang? "..
" Ya begitulah, tipe orang iri sama orang Dek, dari dulu juga sudah tau watak dia, tapi tidak tahu kenapa sekarang Momy percaya sama dia " Terdengar gemeletuk giginya dan rahangnya mengeras. Aku tidak tahu apa yang mereka perbincangkan karena volumenya kecil.
__ADS_1
" Sabarlah Dokter, jangan seperti itu, tolong, apapun jangan di bawa emosi. Jangan sampai Dokter juga terkena hasut dan Dokter malah membenci orang tua sendiri gara gara satu orang. Coba abaikanlah, diamkan dulu untuk sementara"..
" Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu Dekk "..
" Berarti ada hubungannya denganku dong? "..
" Iya" Ucapnya lemah. Degg, ngomongin apa mereka? Pikiranku menjadi sedikit kalut. Tapi aku harus bisa mengendalikan diri.
" Ya sudah, jangan telalu dipikirkan Dokter. Aku tidak ingin gara gara Dokter takut kehilanganku, tapi Dokter malah menentang orang tuamu"..
" Apa maksudnya Dek.."..
" Ya sudah tidak apa apa, intinya aja jangan pernah membenci orang tuamu "..
" Oh ya, pulang aja yukk, sudah malam " Ucapku.
" Dekkk, kamu marah?..
" Untuk apa marah Dokter, aku berusaha untuk bijak aja menanggapinya " Aku tersenyum yang memang aku paksakan. Aku malah berpikir macam macam akan hubunganku ini. Aku sadar diri, aku orang tak punya yang tidak boleh bermimpi tinggi tinggi.
" Ya sudah, kalau sudah mau pulang, yukk " Ajaknya. Ini mungkin yang akan aku rindukan, ketika kita nanti tak ada jodoh, baru beberapa hari bersamamu kesannya membuat aku tidak akan bisa melupakan. Kamu begitu romantis, perhatian daannn....
" astagfirullahal'adzim " Aku hampir saja terjatuh, kalau saja tangan kekarnya tidak siap menopang tubuhku. Aku terpeleset karena menginjak air. Entah air darimana asalnya, tiba tiba saja membuat aku terhuyung.
" Kenapa sayang, hati hati ?! " Dia menarik tanganku untuk membantuku berdiri.
" Tidak tahu Dokter, aku menginjak air sepertinya " Jawabku. Padahal aku dari tadi berjalan dengan pikiran yang kacau.
" Ya sudah, sini." Dia merangkul pundakku dan aku merangkul pinggangnya. Sungguh sangat indah seperti ini.
Sesampainya di parkiran, seperti biasa dia membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk dan duduk. Begitupun Dr. Afandi dia duduk dibalik kemudi. Dan mobilpun melaju meninggalkan tempat yang sepertinya tidak akan aku datangin lagi.
" Dokter..! Mau kemana kita? " Tanyaku.
" Kan mau pulang sayang! " Jawabnya.
" Tapi kok, jalannya beda ya? "..
" Iya dong sayang, emangnya mau nanti kita ditilang Polisi..!!
" Hahh, maksudnya bagaimana?..
" Iya, kan Jalanan tadi itu satu arah, Masa tidak ingat " Ucapnya.
" Oh yaahh.." Aku pura pura polos. Hheee..
***************
Jalanan begitu ramai sampailah kita di Parkiran Rumah Sakit. Dr. Afandi, tidak mau langsung keluar, dia terus aja menggenggam tanganku dengan erat.
" Sepuluh menit lagi ya Dek.! " Ucapnya. Dia memutar sebuah film romantis di Tabletnya. " Ya elah Dokter, kapan sudahannya? " Aku cemberut.
" Nantilah, sebentar lagi sayang " Ucapnya. Dia menge*** tanganku. Tapi yang membuat ku kaget, dia bernyanyi mengikuti lagu dalam film ²tersebut.
' Hatiku meleleh Makk..!! Suaranya bagus banget ' Batinku.
" Spesial untukmu sayang " Ucapnya.
" Terimakasih Dokter kesayanganku " Ucapku terharu. Aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, kenyaman yang kurasakan, rasanya memang sama, tak ingin jauh darinya.
__ADS_1
Dia terus bernyanyi, sampai akhirnya film tersebut selesai. " Sayang, ayo takut Kak Ranti menunggu lama " Ucapnya.
Aku mengangkat wajahku dan menatap dalam matanya. Entahlah, tiba tiba air mataku menetes.
" Kenapa sayang, Kok nangis " Dia mengusap air mataku dengan lembut. " Aku terlalu nyaman Dokter, aku takut Dokter meninggalkan aku " Ucapku.
" Tidak akan sayang, janji yah " Dia menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.
" Terimakasih Dokter, I Love You "
" Love You Too Sayang " ..
" Ya sudah yuk keluar "..
" Sebentar Dokter " Ucapku. Aku membuka Jas putih kebanggaannya, kemudian aku melipatnya. " Apa aku yang nyuci? " Tanyaku. Aku lupa, masa sudah aku pakai malah dia yang nyuci.
" Tidak usah sayang, besok mau akau pakai lagi "..
" Tapi, apa tidak kotor ini? "..
" Gak akan aku cuci sampai nanti hari libur " Jawabnya..
" Sudahlah, taruh saja dulu di jok " Akupun menaruhnya setelah aku melipatnya dengan rapi.
Aku keluar mobil. Suasana lumayan ramai, apalagi ketika melihat ke ģan sebelah.
" Saya duluan ya Dokter " Ucapku. Aku cepat cepat membuka pintu dan masuk ke bangsal Kak Ranti. Ku lihat, Kak Ranti sedang memegang poselnya.
" Kak..! " Panggil ku.
" Dekk, kamu sudah pulang..!! "
" Hhehe, iya Kak " Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
" Kok lama sekali? "..
" Iya, maaf Kak tadi diperjalanan pulang perginya macet "..
" Kakak sudah makan? " ..
" Sudah, dari tadi sore "..
" Malam Mbak Ranti " Tiba tiba suara itu mengagetkank ku.
" Malam Dokter " Jawa Kak Ranti. Aku menoleh dan ' Hahh, kok belim pulang sih ' Batinku. Dr. Afandi ikut ke ruangan.
" Mohon maaf ya Mbak Ranti, tadi Hananya saya culik dulu " Dia terkekeh.
" Oh iya tidak apa apa, yang penting janagan jauh jauh, karena dia tidak tau Daerah sini, dan harus diantar pulang lagi takutnya dia tersesat " Ucap Kak Ranti.
" Sudah pasti dong " Jawabnya.
" Ya sudah, sekarang waktunya istirahat, saya pulang dulu ya, terimakasih untuk waktunya..!! " Dr. Afandi tersenyum ke arah Kak Ranti, kemudian ke arah ku. Aku membalas senyumya yang membuat hati ku meleleh dan wajahku memerah.
Setelah Dr. Afandi pergi, aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian aku berwudhu dan aku memilih shalat du ruangan.
Malam semakin larut, aku tidak bisa memejamkan mataku. Masih terbayang apa yang terjadi tadi sore sampai malam sebelum pulang. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang membuat mataku sulit untuk terpejam.
Aku teringat bagaimana tadi Dokter Afandi tidak mau kehilanganku sampai seperti itu. Akupun sama tidak mau kehilangannya, tapi apa daya ku jika nanti memang benar aku harus kehilangannya.
__ADS_1
Bersambung...