
Baru saja aku berdiri, tiba tiba ada teriakan dari sebelah kananku.
" Heeyy,, lagi apa kamu..! " Teriaknya.
--------------------------------
Kemudian aku melihat siapa yang meneriaki aku, ternyata seorang Security. Dia sedang mendekat ke arahku.
" Lagi apa Mbak disini? " Tanyanya garang.
" Maaf Pak, Bapak tahu dengan pemilik mobil yang suka parkir di sini? " Tanyaku balik. Dia mengkerutkan keningnya. Kemudian melihat ke sekeliling di sini.
" Tidak tahu, " Ucapnya ketus. " Memang ada keperluan apa dengan pemilik mobil ini? "..
" Ya makanya itu Pak, saya kesini cuma mencari tahu, karena sudah tidak ada kabarnya dari si pemilik mobil yang suka parkir di sini, " Jelasku.
" Ya sudah terserah kamu, " Ucapnya. Kemudian dia berlalu begitu saja.
" Huuft, dia kira aku maling kali, " Ucapku.
Setelah itu, aku pergi dari Parkiran dan mencari dulu orang yang berjualan di depan IGD.
" Pak, air mineralnya satu, " Ucapku.
" Silahkan Neng, mau yang dingin atau yang biasa? " Tanyanya.
" Yang biasa saja Pak, "..
Kemudian si Bapak penjual itu menyerahkan satu botol air mineral dan aku pun menerimanya. Setelah meminumnya, kemudian aku membayar dan pulang.
Suasana di jalan menuju ruang tunggu ICU sangat sepi, padahal baru waktu ashar. Atau hanya kesepian ini yang mengikuti langkahku , biasanya sampai menjelang malam pun di sini akan ramai oleh orang yang berlalu lalang.
" Sepi kurasa hati ini, kini aku harus sendiriannn.. " Aku bergumam.
Dengan rasa malas, aku menginjakan kakiku ke anak tangga. Aku sengaja lewat belakang, karena aku berniat untuk mandi dan shalat terlebih dahulu.
Kalau lewat tangga depan, pasti langsung tertuju ke ruang tunggu yang di depan.
Aku mengatur napasku setelah sampai di atas, terlihat seperti biasa ruangan ini. Tidak ada Mama Elsa di ruangan itu, dan Ibu Lina juga tidak ada.
Aku segera menaruh ponselku dan mengambil baju ganti. Dan aku berlari menuju kamar mandi, terlihat memang, seperti Kak Arkan yang sedang duduk di ruang tunggu dwpan, tapi itu hanya sekilas.
Beruntung, dari jumlah kamar mandi empat, ada satu yang kosong dan aku segera masuk kemudian menguncinya.
Baru saja selesai mandi, aku mendengar teriakan dari luar, aku kaget dan langsung mengambil air wudhu.
" Tolooongg.. Bukainn.. " Teriaknya sambil menggedor gedor pintu luar.
Dorrrrr, dorrrr... Dooorrr..
" Toloonngg, pintunya terkunci, " Ucapnya lagi. Kenapa aku tidak merasa panik, hanya sedikit kaget saja tadi.
" Tolong, yang di luar bukain pintunya..!! "..
" Kenapa Mbak? " Tanyanya. Sepertinya orang yang habis memakai kamar mandi senbelah. Tapi aku masih tetap santai memakai baju.
Ceklek, ceklek dooorr.. Doorrr...
__ADS_1
" Ada apa? " Terdengar suara Pak Nana dari luar.
" Ini Pak, tolong buka pintunya, " Ucap si Mbak tadi.
" Iya Pak, tolong kita terkunci, " Sahut si Mbak yang di sampingnya.
" Iya tunggu sebentar, " Jawabnya.
Ceklek ceklek, suara handle pintu berbunyi. Sepertinya dia mencoba untuk membukanya.
" Mbak Hana ada di dalam loh, pak Nana, " Ucap Bu Lina. Aku sangat mengenal suaranya.
" Di dalam sana? "..
" Iya, sepertinya dia lagi mandi, " perbincangan di luar terdengar jelas.
" Ya sudah, permisi dulu yang di dalam, mau saya dobrak pintunya, " Ucapnya terdengar panik.
Setelah aktivitas ku di dalam selesai, aku segera membuka pintu bertepatan dengan suara.
Buukkk...
Buukkkk...
Braakkk....
" Alhamdulillah... !! " Ucap semua yang berada di situ. Kemudian aku melangkahkan kaki dengan santainya melihat keadaan di pintu.
" Mbak Hana tidak apa apa? " Tanya Pak Nana. Aku menggruk kepalaku yang tidak gatal.
" Hehe, aku tidak apa apa, " Jawabku.
" Jangan jangan, Pak Nana ini ada hubungan ya sama Mbak nya, "
" Ssttt., nanti yang di rumah marah, jangan berisik ya. Saya tidak ada hubungan apa apa, " Ucapku.
Terlihat Pak Nana itu salah tingkah. Memang iya, sebenarnya dia sering banget mengirim pesan kepadaku. Hampir setiap hari selalu menanyakan kabarku dan selalu memperhatikanku. Tapi, jujur saja aku merasa risih dan aku jarang membalasnya.
Setelah semuanya bubar, kamar mandi itu menjadi sepi. Orang orang pada ketakutan terkunci lagi di dalam.
" Keluarganya Mbak Ranti, " Baru saja aku menyisir rambutku, panggilan itu kepadaku.
Kulihat Pak Nana ada di pintu ruang tunggu belakang.
" Iya, " Jawabku.
" Ada keluarganya datang membesuk, " Ucapnya.
Degg.., jantungku berdebar kencang, aku benar benar merasa takut, padahal Kak Arkan bukanlah orang jahat, kenapa aku takut.
" I.. Iya sebentar, " Ucapku. Pak Nana berlalu dan aku meneruskan menyisir rambutku. Setelah itu, aku segera menghampiri Pak Nana ke mejanya.
" Permisi Pak, mana ya keluarga aku nya, ? " Tanyaku.
" Oh, iya nanti sebentar lagi dia lagi shalat tadi, tunggu saja dulu di situ, " Dia mempersilahkan aku untuk duduk.
Apa maksudnya ini, dia memanggilku tapi bohonngg..! Jengkel benar sepertinya, padahal tadi aku terburu buru menyisir rambutku. Akhirnya aku kembali kebalakang untuk mengambil ponsel dan kembali ke depan lagi untuk duduk menunggu.
__ADS_1
Sambil duduk aku memainkan ponselku, ada beberapa fhoto kenangan bersama Dr. Afandi, ketika di Danau, ketika sedang sarapan bareng, dan ini apa? Aku mengerutkan keningku. Kok ada fhoto waktu di atas itu, ada tiga fhoto, ketika dia memberiku pilihan, ketika dia memasangkan kalung dan ketika dia merangkulku, Sungguh sangat indah.
Siapa yang memfhotonya, kok bisa ada di galeri ponselku?.
Kemudian, aku mencari nomor Dokter Elvira, aku berniat untuk menanyakan kepadanya.
Tuuuuttttt....
Tuuuuutttt......
" Mohon maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk, "..
Aku tidak patah semangat, siapa tahu dengan aku terus memanggilnya akan ada jawaban nantinya.
Tuuuuuuttttt.....
Tuuuuuuuutttt..
" Mohon maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, "..
Benar benar membuat aku jengkel, ingin aku banting ponsel ini. Tapi, kalau aku banting dari mana lagi aku punya ponsel.
" Kamu dimana sih Dokter, nanti kalau Kak Ranti bangun, dan menanyakan kamu, aku harus jawab apa? Kak Ranti yang tahu semuanya Dokter...!!!
Drrrttt... Drrrtttt...
Ponselku bergetar, aku membuka ponselku dan ada pesan masuk dari Pak Nana.
" [ Mbak Hana, jangan melamun terus, kalau ada masalah bisa kok cerita sama saya, ] "
seperti itulah kiranya isi pesan dari Pak Nana.
" [ Tadi kenapa sampai bisa terkunci di dalam? ] " Pesan kembali masuk. Kemudian aku melihat, ke arah dia duduk, terlihat dia sedang menunduk melihat ke bawah meja. Tapi sebentar, siapa yang sedang menghampirinya, dari postur tubuhnya aku sedikit kenal.
Dan, apa lagi jantung ini, kok berdebar tak karuan. Ya Allah, siapa dia. Setelah melihat Pak Nana mengangkat wajahnya aku segera menunduk dan berpura pura memainkan ponselku.
Dan, tidak lama kemudian. " Keluarganya Ibu Ranti Septiani " Pak Nana memanggilku.
" Iya Pak, " Ucapku. Aku melihat kearahnya, kebetulan jaraknya lumayan dekat.
" Itu Mas, keluarganya yang sedang duduk, " Ucap Pak Nana. Padahal, aku baru saja mau berdiri. Dan tidak lama kemudian, si Mas itu berbalik arah melihatku.
" Itu Mas yang memakai baju biru, " Ucap Pak Nana lagi, padahal pandangan kita sudah bertemu, bertatap mata dan aku langsung memalingkan wajahku.
" Oh iya, terima kasih Pak, " Ucap si Mas tadi. Kemudian dia berjalan menghampiriku..
Dag dig dug.. Dag dig dug..
Irama jantungku mengikuti langkahnya, aku terus menunduk dan tidak berani menatapnya lagi. Ada sebuah kekecewaan, kesedihan, dan juga sedikit merindukannya. Merindukan kenangan yang telah lama aku kubur dalam dalam. Aku mencoba melupakannya walaupun hati ku terasa sakit sekali. Aku mencoba tidak menghubunginya, walaupun beberapa kali aku mengetikan sebuah pesan dan tidak lama kemudian aku hapus lagi.
Aku mencoba tidak melakukan panggilan kepadanya, walaupun aku sedang merasa kesepian. Banyak sudah kenangan yang aku terus mencoba melupakannya, walaupun masih terus teringat. Kala itu, aku mencoba untuk menjalin suatu hubungan dengan Mas Ali, tapi, tidak bertahan lama, karena aku tidak bisa mencintai orang lain selain dia.
Tapi, baru kali ini aku bisa melupakannya setelah kehadiran Dr. Afandi, ada benarnya juga yang di bilang Kak Ranti, kalau Dr. Afandi adalah Dr. Cintaku. Dia yang sudah merubah segalanya dan dia yang memberikan aku kasih sayang yang tulus, walaupun pada akhirnya Dr. Afandi juga tidak ada kepastiannya.
**Bersambung...
Tetap dukung aku ya, terimakasih yang sudah setia membaca..
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen dan juga Vote aku ya**..