
Karena pembayarannya umum, Dr. Feni pun menyuruh berhenti dulu untuk Fisioterapi nya, karena sekali Fisioterapi harus membayar seratus lima puluh ribu. Dr. Feni menyuruh untuk mengurus dulu jaminan kesehatannya.
...****************...
Hari hariku sedikit terhibur dengan adanya vanes di kontrakan, kadang dia main ke Kamarku dan kita bermain juga bercanda. Kalau sabtu minggu pasti dia main, karena kalau hari hari biasa aku habiskan waktuku di Rumah sakit.
Seperti hari ini, tujuanku ke URM untuk terapi makan. Dari rumah Kak Ranti di suruh membawa makanan sendiri yang berstekstur lembut. Selesai terapi makan, Dokternya menyarankan untuk Fees ulang besok ke Poli THT.
Karena hari ini hanya ke URM saja, kita pulang lebih awal, sekitar jam dua sore kita sudah keluar dari URM.
Ketika sedang di perjalanan pulang, dan masih di Area Rumah Sakit tiba tiba ponselku berdering. Aku melihat kalau Bu Lina yang menelfon. Dia teman seperjuangan ketika di ICU tapi, suaminya meninggal dunia waktu Kak Ranti sudah pindah ke Ruang Rawat Inap.
"Hallo, Assalamu'alaikum," Ucapku.
"Wa'alaikum salam, Hana ada sekarang bagaimana kabarnya?"..
"Alhamdulillah baik, Bu"..
"Sekarang sudah pulang ke Kampung apa masih berobat?"..
"Aku masih di sini, masih terapi Kakak aku nya,"..
"Kebetulan nih, aku mau kerja, boleh ya aku mampir sebentar kesitu,"
"Oh, boleh Bu," Jawabku. Aku tidak berpikiran aneh aneh, lagian susah nolaknya ketika ada orang yang ingin main ke rumah.
"Ya sudah, sekarang di mana?"..
"Aku masih di Rumah Sakit,lagi perjalanan untuk pulang,"..
"Ya udah, aku kesitu ya," Ucapnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya kita bertemu di lorong Rumah Sakit. Ternyata dia tidak sendiri, dia bersama seorang laki laki.
"Oh iya, kenalin ini saudara saya," Ucap Bu Lina. Aku pun bersalaman dengannya.
Tanpa aku sadari, laki laki itu sudah jauh bertanya tanya tentangku bahkan kita sudah bertukar nomor ponsel.
Sesampainya di Kontarakan, laki laki itu seperti mengobati Bu Lina. Karena, Bu Lina terlihat muntah muntah. Aku mengira, kalau Bu Lina masuk angin, akhirnya aku menyuruhnya untuk di kerokin.
Aku juga sebelumnya seperti di ramal ramal, dan orang itu seperti mengetahui apapun tentangku. Dan tiba tiba dia mengirim pesan kepadaku.
"Sekarang, kamu keluar, pura pura saja kamu mau ke tempat Fhotocopian," Ucapnya.
Karena memang Kak Fitri menyuruh aku memfhotocopy Kartu Jaminan Kesehatan Kak Ranti. Entahlah, swpertinya aku sudah kena hipnotisnya karena tadipun urat nadiku sudah dia pegang.
Aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, aku ikutin apa kata dia.
"Kak, aku mau fhotocopy dulu ya," Aku tetap minta izin dulu kalau aku mau keluar.
"Emangnya gak bisa nanti, kan ada ibu itu," Jawab Kak Ranti.
"Iya gak apa apa, ini udah sore," Jawabku. Akhirnya aku keluar dan orang itu masih ngerokin Bu Lina.
__ADS_1
Aku keluar dari Area kontrakan menuju pasar, dan aku juga mencari Tukang Fhotocopy. Di situ aku fhotocopy dulu kartu Jamkesmas Kak Ranti. Setelah itu dia ada mengirim pesan lagi.
"Tunggu di dekat mesjid ya, aku lagi shalat dulu," Ucapnya. Kebetulan waktu itu sudah masuk waktu ashar.
Akhirnya aku menunggu dia di samping Mesjid masih Area Rumah Sakit.
Setelah sepuluh menitan aku menunggu akhirnya aku meliat orang itu menghampiriku. Dan di tangannya dia membawa satu botol air mineral.
"Ini di minum dulu, ini air do'a. Tadi saya do'ain sehabis shalat," Ucapnya. Akupun menuruti perintahnya, aku meminum airnya tapi hanya sedikit.
"Nanti jangan lupa di pakai untuk mandi juga," Lanjutnya. Aku hanya mengangguk.
Setelah itu, kami berjalan menuju Pasar, dan terus melangkah menjauhi Pasar itu. Walau aku tidak tahu mau di bawa kemana, tapi aku terus mengikuti langkahnya.
Sampai aku bingung kalau aku berada dimana dan ternyata aku di bawa ke Stasiun Kereta Api. Di situ aku di bawa naik kereta dan tidak tahu tujuannya kemana.
Sebelumnya, dia juga menyuruh aku mematikan ponselku, dan aku tetap menurutinya.
Ketika di dalam kereta, dia terus bertanya tentang kehidupan aku dan dia juga bilang, kalau aku ini kena guna guna. Karena memang sebelumnya aku sering sakit kepala yang luar biasa, dan itu aku ceritain kedia. Bahkan dia juga bertanya kalau di rumah ada uang berapa? Dan dia juga tahu kalau Kak Ranti mempunyai perhiasan.
Aku menjawabnya dengan ragu ragu, karena di sisi lain aku merasakan kejanggalan dengan apa yang dia katakan, tapi di sisi lain aku juga tidak bisa berbohong dengan dia.
Sesampainya di tempat yang di tuju. Dia turun dan keluar dari Stasiun, aku terus mengikutinya dari belakang. Dia mengajak aku ke tempat kumuh dan tempatnya seperti rumah tapi isinya kamar semua. Kemudian dia meminta uang lima belas ribu sama aku.
"Ada yang kosong tidak?" Tanyanya kepada petugas yang duduk di depan tempat itu.
"Yang bawah tinggal satu,"..
"Berapa?"..
Petugasnya mengantar sampai ke pintu. Terlihat di dalamnya ada sebuah kasur sekitar ukuran nomor dua, tapi terlihat basah kuyup karena atapnya bocor, terlihat juga air berceceran di dinding juga lantainya. Hatiku sedikit merasa takut. Takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
Aku bersyukur Allah masih menjaga dan menolongku dari niat jahat orang ini. Kamar yang murah tinggal satu, tapi di dalamnya bocor, kasurnya basah bahkan tidak layak walau hanya untuk duduk saja.
"Kita pulang saja dulu, kamu ambil uang dulu untuk di tausiahin agar bermanfaat untuk membeli obatnya," Ucapnya.
Walaupun ada keraguan, tapi aku kembali menuruti perintahnya. Sesampainya di Pasar, aku mengaktifkan ponselku. Dan ternyata banyak panggilan tidak terjawab, juga pesan masuk dari Kak ranti.
"Hallo Kak," Ucapku ketika ponselku aku aktifkan, Kak Ranti kembali menelfonku.
"Kamu di mana Dek, kok lama banget,"..
"Iya Kak ini juga mau pulang," Jawabku. Kak Ranti terdengar sangat khawatir.
Sesampainya di rumah, Bu Lina sudah tidak ada.
"Kamu dari mana saja Dek, lama banget?"..
"Iya tadi cari tempat Fhotocopyan, ini juga belum beli makan uangnya kurang," Tanpa sadar aku berbohong sama Kak Ranti.
"Emangnya cari tempat Fhotocopy di mana Dek, lama banget?" Sepertinya Kak Ranti kurang puas dengan jawabanku.
"Bu Lina kemana Kak?" Alu malah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Oh dia bilang, mau pulang. Dan katanya kalau ada laki laki yang tadi nyariin dia jangan di kasih tahu kemana?" Aku sedikit merasa aneh dengan tingkah Bu Lina ini.
"Ya udah Kak, aku mau beli makan dulu," Ucapku. Aku mengambil uang di dompet itu sepertinya ada tiga ratus ribu, aku menyisakan lima puluh ribu dan membawa yang dua ratus lima puluh ribu nya.
Aku kembali keluar dengan memberi alasan ingin membeli makam. Mau tidak mau, Kak Ranti tidak menahan aku lagi.
Setelah ketemu laki laki itu lagi, aku memberikan uangnya yang dua ratus lima puluh ribu.Dia kembali membawa aku ke Stasiun. Tapi Allah masih menjagaku, setelah sekian lama menunggu, dan hari juga mulai senja, kereta jurusan tempat tadi tidak juga datang, akhirnya dia memutuskan untuk mengajak aku pulang.
"Pulang aja dulu ya, takut Kakak kamu nyariin. Jangan lupa besok siapkan uang yang masih ada di rumah sama perhiasannya, mau aku tausiahin," Ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan menjawab iya saja, sebenarnya ada keraguan di dalam hatiku, tapi entah kenapa selalu bilang iya.
Kita berpisah di dekat Pasar, dan aku langsung membeli makan. Kemudian aku langsung pulang ke Kontrakan.
Lebih parahnya aku juga menuruti apa kata dia, ketika tadi memberikan botol itu aku di suruh mandi menggunakan air botol itu, mungkin saja sudah di beri mantra olehnya yang membuat aku selalu tunduk.
Aktifitas biasa setelah makan, aku hanya memainkan ponselku. Dan orang itu terus menelfonku, meyakinkan kalau uang itu harus di tausiahin. Akhirnya aku menuruti kemaunnya walaupun tetap merasa ragu.
Kemudian aku mengambil uang Kak Ranti yang di dompet lain, karena itu memang tabungannya hasil kerjanya. Jadi aku memakai uang sehari hari masih dari uang donasi, dan bekal dari Bang Bagas, ada juga beberapa orang baik yang memberi uang itu untuk bekal kami.
Kalau perhiasan, memang sudah di buka dari awal rawat inap, karena mau Fhoto rontgen dan yang lainnya.
Aku mengambil uang Kak Ranti dua juta dan aku mengambil uang yang lima puluh ribuan. Dan sekitar 1,5 juta lagi aku sisain yang pecahannya seratus ribuan.
Setelah memisahkan uang dan perhiasan itu, aku terus merasa gelisah, ada keraguan yang terus hinggap tapi aku juga seperti harus memberikan uang itu.
Pagi harinya, setelah aktifitas pagi seperti biasa, aku dan Kak Ranti langsung daftar ke URM, setelah selesai daftar, aku meninggalkan Kak Ranti untuk memdaftar lagi ke THT.
"Kak, aku mau daftar untuk ke THT dulu ya," Ucapku.
"Iya Dek," Jawab Kak Ranti tanpa ada rasa curiga.
Aku langsung keluar URM dan menuju PRJT untuk mendaftar ke Poli THT. Setelah mendaftar ke Poli THT, orang itu telfon lagi.
"Iya Hallo," Ucapku ketika panggilan terhubung.
"Aku mau mengambil uang itu, lebih cepat lebih baik agar keadaan Kakak kamu cepat sembuh"..
"Ya sudah, sekarang dimana?" Tanyaku.
"Aku tunggu di Gerbang IGD," Ucapnya.
"Ya sudah, aku kesana," Aku langsung menemuinnya.
"Uangnya nanti aja, kita ke kontrakan kamu dulu," Ucapnya.
Degg.. Aku merasa was was, takutnya terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Kenapa tidak di sini aja," Ucapku dengan rasa takut.
"Ya sudah kita ke Tempat kemarin lagi," Ucapnya.
"Enggak ah takut kelamaan, soalnya Kakakku sudah menunggu," Aku bisa bicara dengan santai.
__ADS_1
"Ya sudah kita ke Kontrakan kamu aja dulu," Dia kembali mengajak aku ke kontrakan. Akhirnya aku menurutinya.
Bersambung...