
Akhirnya, setelah beberapa menit duduk, waktu itu sekitar jam sebelas lewat tiga puluh menit, Dr. Dafa kembali memanggil.
" Keluarga Nona Ranti..! " Panggilnya.
Aku segera beranjak menghampiri Dr. Dafa di depan pintu masuk IBP.
" Iya Dokter.." Ucapku tegang.
" Mbak, Operasinya sudah selesai, tapi harus fhoto Rontgen lagi. Mbak daftar dulu ke Departemen Radiologi. " Ucapnya.
Aku bersyukur, Kak Ranti sudah selesai di Operasi, tapi aku kebingungan, dimana tempatnya? Karena pikiranku benar benar menjadi lambat.
" Tempatnya di sebelah mana ya Dokter? " Tanyaku. Dr. Dafa melihat raut wajahku, yang sedang kebingungan. Kemudian, dia menjelaskan di mana tempatnya, tapi aku benar benar tidak paham apa yang di jelaskan.
" Oh ya sudah, apa ada keluarga yang lain? " Tanyanya lagi.
" Ada Dok! ".
" Ya sudah, tolong di panggilkan dulu. "
Kemudian aku memanggil Bang Bagas mungkin dia tidak setegang aku dan bisa mengerti apa yang di sampaikan Dr. Dafa.
Setelah Dr. Dafa menjelaskan di mana Departemen Radiologi, akhirnya aku dan Bang Bagas pergi mencari tempat itu.
Aku dan Bang Bagas berjalan sambil tengok kanan dan kiri. Dan di situ aku masih bingung saja. Hingga sampailah di sebuah bangunan dan di situ ada Plangnya ' Departeman Radiologi '. Setelah itu, aku masuk ke pintu pertama, letaknya di jalanan yang biasa aku lewati kalau mau ke URJT atau UPPJ.
Ruangan ini.., ini kan Ruangan di mana waktu awal aku kenal Dr Afandi, masih ingat di benakku. Kalau dia yang mengantar aku untuk daftar di ruangan ini.
' Kalau sudah selesai, tolong kasih tahu saya ya.. " Ucapnya.
" Dokterrrr...!! " Aku kembali memanggil namanya di dalam hati.
" Permisi, Mbak.! Saya mau daftar Rontgen.. " Ucapku. Aku menyerahkan selembar kertas, mungkin itu surat pengantar yang tadi di berikan Dr. Dafa.
Kemudian, petugasnya mengambil kertas itu. " Ini daftarnya di belakang Mbak, " Ucap petugas Resepsionisnya.
" Oh ya sudah, terimakasih, " Ucapku. Aku keluar dari tempat itu, Bang Bagas hanya mengikuti dari belakang.
Aku terus mencari pintu masuk menuju ruang Rontgen. Dan benar saja, di belakang ada sebuah pintu masuk dan di sana juga banyak orang yang berlalu lalang, ada juga yang duduk menunggu antrian.
" Permisi, Mbak, saya mau daftar Rontgen. " Ucapku. Setelah sampai di loket. Aku menyerahkan kertas pengantarnya dan diapun mengambilnya.
" Mbak mau bayar? " Tanyanya.
" Pakai jaminan Mbak.. " Jawabku.
" Kalau pakai jaminan bukan disini, di belakang. " Ucapnya sedikit ketus atau emang aku saja yang sedang sensitif. Tapi emang iya dia ketus sekali.
Kemudian aku keluar dan mencari lagi dimana tempat untuk Rontgen. Benar saja di belakang ruangan tadi banyak orang yang menunggu di ruang tunggu.
Dan di situ terlihat juga ada Security, akhirnya aku bertanya..
" Permisi Pak, saya mau daftar Rontgen. " Ucapku. Aku menyerahkan kertas pengantarnya.
" Oh silahkan, daftar di loket, " Jawab Security itu.
Aku menuju loket dan menyerahkan kertas pengantarnya. Tapi, karena sudah jam istirahat, aku di suruh menunggu sampai jam istirahat selesai.
Aku dan Bang Bagas duduk di ruang tunggu. Tapi tidak lama kemudian, petugas loketnya kembali memanggil.
__ADS_1
" Pasien Ranti Septiani. " Panggilnya. Kemudian aku berdiri dan menghampirinya.
" Oh ya Mbak, pasiennya habis Operasi ya? " Tanyanya.
" Iya Mbak. " Jawabku.
" Karena pasien ini Cito, Mbak kembali lagi saja. Nanti dari sini yang kesana.! " Ucapnya.
" Maksudnya apa ya Mbak? "..
" Cito itu adalah tindakan yang harus segera dilakukan karena dalam keadaan gawat darurat. Seperti keluarga Mbak ini, kan baru saja melakukan Operasi, jadi harus segera di lakukan Rontgen kembali untuk mengetahui bagaimana keadaan di bekas Operasi tadi. " Jelasnya. Aku mengangguk tanda mengerti.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali lagi ke ruang Bedah. Dan sesampainya di sana,
" Keluarga Ibu Ranti. " Baru saja aku mau duduk, Security itu memanggilku.
" Iya.." Jawabku. Kemudian aku menghampirinya.
" Pasiennya sudah ke atas. " Ucapnya.
" Baik, terimakasih. " Ucapku. Kemudian aku memanggil Bang Bagas dan Bang Ilham.
" Bang, Kak Ranti sudah ke atas. " Ucapku. Aku membereskan jajanan yang di bawa Bang Ilham tadi kemudian kita keatas lewat tangga.
Sesampainya di atas, aku kebingungan. Aku melihat banyak orang orang yang sedang duduk menunggu di bangku. Kemudian ada seorang ibu yang memanggilku.
" Mbak, pasiennya kesana. " Ucapnya. Aku mengikuti arah telunjuk seorang Ibu itu. Kemudian terlihat di pintu masuk ada tulisan. ICU ( Intensif Care Unit ). " Terimakasih. " Aku mengatupkan tanganku. Karena jarak aku dan si Ibu itu sekitar tiga meteran.
Aku mengikuti arah itu, dan aku mencari cari Kak Ranti, tapi tidak ada. Aku terus melangkah dan melihat ada satu ruangan yang di penuhi banyak orang di dalamnya. Aku mencoba masuk, dan benar saja. Di samping kaca tersebut, terlihat Kak Ranti yang mau di pindahkan ke brankar. Tubuhnya terlihat sangat kecil, badannya terus bergerak gerak seperti kejang. Dokter bekerja lebih cepat lagi untuk memindahkan Kak Ranti, kemudian di dorong menuju Bed yang berjejer rapi. Ada juga beberapa orang yang terlihat dari kaca, mereka sedang berjuang dengan menggunakan alat alat medis.
Aku masih tidak paham dengan semua ini. Tidak lama kemudian, gorden dari dalam di tutup oleh petugas medisnya, dan akupun keluar.
" Tidak tahu, ya sudah kita tunggu saja dulu. " Ucap Bang Ilham. Akhirnya aku menunggu di luar sambil berdiri. Tapi karena pegal aku memutuskan untuk duduk di ruang tunggu.
Kita terus kebingungan, menunggu tanpa beranjak dari tempat duduk. Beberapa jam menunggu sampai akhirnya malam tiba, Kak Ranti belum juga keluar dari ICU sampai sampai kita lupa untuk makan.
Entah bagaimana orang yang melihat kita kebingungan. Sampai akhirnya ada yang bertanya, seorang Bapak Bapak bertanya kepada Bang Ilham.
" Keluarganya sakit apa? " Tanyanya.
" Baru habis di Operasi. " Jawab Bang Ilham. " Bapak menunggu siapa? " Bang Ilham balik bertanya.
" Saya menunggu Ibu saya, sudah satu minggu. " Jawabnya.
" Haahh..!! " Aku terbelalak. ' Lama juga ' Pikirku.
" Oh, sudah lama ya. "
" Iya, Ibu saya sakit Kanker. Ini dari kapan masuk ICU nya? " Tanyanya lagi.
" Tadi habis dzuhur, "..
" Oh, jangan pada tegang, kalau mau makan, makan saja dulu. Nanti kalau ada apa apa suka di panggil. "..
" Iya, Allah. Iya Pak kita sampai lupa makan, "..
Obrolan kami selesai, orang orang pada berhamburan menuju Ruang ICU. ' Ada apa lagi. ' Ucapku dalam hati. Kemudian, aku juga mengikuti mereka yang masuk menuju Ruang ICU.
Terlihat, Ruangan yang tadi aku masuki penuh dengan orang orang yang melihat ke arah pasien yang terbaring. Alat alat medis memenuhi tubuh mereka suara monitor terus berdenting bersahutan dari semua Pasien yang terbaring lemah. Semua pasien menutup matanya, tidak ada satupun yang membuka matanya.
__ADS_1
Lumayan lama aku menunggu, hanya melihatnya saja. Ada orang yang membacakan Al Qur'an ada juga yang mulutnya berkomat kamit. Mungkin membacakan do'a untuk keluarganya yang berada di dalam.
Sedangkan aku, hanya kebingungan terus menerus. Sampai akhirnya, setelah kaki ini terasa pegal ada orang yang masuk BWhite NASA
Pakai sehabis mandi πππ Sebelum tidur juga
Baunya wangi Banget.
Bukan hnya utk badan ya beb,,oles2 di muka juga bisa,, MUKA PUN LEMBAB n BENING
ππ Kulit lebih terasa Semakin Kenyal dan Cerahππ...
Manfaat Moreskin Body Butter Whitening Gold:
1.Mengelupaskan kulit mati
2.Mencerahkan kulit
3.Merilekskan otot yang kaku
4.Membuat nyaman dan tenang
5.Mengencangkan kulit
6.Memutihkan kulit
7.Mengangkat kulit yg sifatnya kasar
8.Membuat kulit lebih lembab
Bwhite dalam Ruang ICU itu.
" Mohon maaf semuanya, Ibu, Bapak!. Waktu besuk habis. " Ucapnya.
Kulihat semua orang yang ada di ruangan ini keluar, termasuk aku yang mengikuti mereka dati belakang.
Aku kembali ke tempat duduk di Ruanga Tunggu. Terlihat banyak orang, dn hmpir penuh ruangan itu. Sampai mau duduk juga susah.
" Hana, sini makan dulu Dek. " Ucap Bang Ilham. Kemudian aku menghampirinya. " Nih makan bakpau aja dulu untuk mengganjalbperut. " Ucapnya
Aku mengambil plastik bakpau itu, isinya ada empat buah, aku mengambilnya satu. Masih hangat. Tapi waktu aku gigit, ternyata isi di dalamnya ayam. Aku tidak terlalu suka, akhirnya bakpau itu tidak habis.
Malam semakin larut, kantuk juga datang. Aku tidur di lantai beralasan koran. Sedangkan Abang Abangku tidur di kursi.
Aku melihat Ponselku, tidak ada pesan masuk dari siapapun. ' Dr. Afandi. ! " Gumamku.
Aku membuka pesan masuk dari Dr. Afandi dari awal. Dan pesan terakhir yang dia kirimkan, membuat aku kembali menyesalinya, karena kenapa waktu itu tidak aku balas? Kenapa aku egois, kenapa aku hanya memikirkan hatiku yang sakit ini.!
Aku memukul mukul dadaku yang sesak. Kemudian aku melihat kebelakang, semua orang sudah tertidur pulas. Kebanyakan mereka tidur hanya beralaskan koran saja, kecuali yang sudah lama menunggu di sini. Bahkan mereka ada yang membawa kasur yang biasa di bawa ke tempat Champing. Mungkin mereka sudah terbiasa. Tidak seperti aku yang masih selalu kebingungan.
Aku terlelap sampai suara berisik mengganggu tidurku.
Gedubrag.. Gedubarag..
Suara itu sangat mengganggu tidurku. kemudian aku membuka mataku, dan terlihat orang yang berseragam putih putih mendorong keranda menuju ICU. Bulu kudukku meremang, apa mungkin ada yang meninggal? Pikirku.
" Kenapa Na? " Tanya Bang Bagas ketika aku celingukan.
" Kenapa itu? " Tanyaku.
__ADS_1
" Mungkin ada yang meninggal di dalam sana. " Jawabnya.