
" Yaaang, aku tidak bisa bernapas." Ucapnya sengau. Aku melepaskan tanganku dari hidungnya.
" Dr. Afandi...! " Tiba tiba saja ada yang mamanggilnya..
Aku menoleh, siapa itu? Parasnya sangat cantik, kulit putih, tinggi semampai. Sungguh penampilan yang sempurna. Jantungku berdenyut, otakku sudah berfikiran yang tidak tidak.
Kulihat Dr. Afandi seperti gugup dan salting ketika perempuan itu mendekatinya.
Aku hanya menatap edua orang ini dengan perasaan entahlah. Aku bingung, dan tegang.
" Hai.! " Dr. Afandi membuka suara. ' Apa..? Cara menyapanya.? ' Sangat berbeda.Ucapku dalam hati.
" Lagi apa di sini? Katanya tadi mau ke atas?! " Dia menghampiri kita, kemudian dia duduk tepat di kursi depan Dr. Afandi. Aku hampir saja terbelalak, tapi aku segera menetralkan ekspresiku.
Dr. Afandi merangkul pundakku. Aku heran, kenapa dia seperti itu?.
" Di atas hujan Mey, ngapain harus hujan hujanan. " Intonasi bicaranya seprti sudah sangat akrab. Aku hanya diam mematung.
" Oh ya Dek, ini Meyra Manager Caffe di Rooptof. " Ucapnya.
" Ayok kenalan Dek..! "..
" Hana. " Ucapku. Aku tersenyum sedikit terpaksa. Kemudian aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Dia menyambut uluran tanganku, dengan senyum ramah ia memperkenalkan dirinya. " Meyra.." Ucapnya lembut. " Salam kenal ya, jangan canggung canggung." Lanjutnya lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum balik. Ada sedikit perasaan lega, tapi aku masih penasaran apa hubungan mereka.
" Oh ya Mey, kok tumben kamu ke bawah? Biasanya kamu asyik di atas..! "
" Kan di atas hujan Fan, gimana kamu ini. " Meyra menepuk lengan Dr. Afandi.
Drrrttt.. Drrrttt... Suara pesan masuk di ponselku.
Aku mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. ' Intan ' Gumamku. Ku lihat Dr. Afandi masih asyik berbincang, Nyuut, hatiku berdenyut. Apa aku cemburu? Entahlah..
" [ Kak, di tempat tidur Kakak banyak tikusnya. ] "..
" Hahhh..! " Aku tetjengkit.
" Kenapa Dek? " Tanya Dr. Afandi. Tangannya masih diatas pundakku. Tapi dia lebih fokus berbincang dengan Meyra.
" Oh, tidak kenapa napa. " Jawabku. Kemudian aku membalas pesan yang di kirim Intan.
"[ Tolong di kardusin Tan, dan pindahin di kamar kamu. ] " Balasku. Kamar kami memang terpisah, dulu aku dikamarku berdua dengan Kak Asti, tapi dia sudah lama resign.
Triing triing triinngg... Suara panggilan masuk ke ponselku. Kulihat Dr. Afandi masih berbincang dengan Meyra. Aku menggeserkan tangan Dr. Afandi, kemudian aku izin mengangkat telfon.
" Maaf, aku mau angkat telefhon dulu. " Ucapku.
" Oh, iya Dek..! " Jawabnya.
Aku bangun dari dudukku, kemudian menjauh dan duduk di kursi yang kosong. Tatapanku masih tak teralihkan dari Dr. Afandi. Dia begitu akrab dan terus berbincang, ada rasa nyeri di hatiku.
" Halo, Assalamu'alaikum Tan." Ucapku mengawali panggilan. Aku mencoba meredam emosiku. Iya mungkin aku ini cemburu dwngan kedekatannya.
" Wa'alaikumsalam, Kak Hana apa kabarnya? Bagaimana keadaan Kakaknya Kak Hana? "..
" Alhamdulillah semua baik baik saja Tan, Kak Ranti tinggal menunggu Operasi. Bagaimana kabar di sana semuanya? " ...
" Alhamdulillah baik juga Kak."..
" Oh iya, itu kenapa bisa ada tikus? " Tanyaku.
__ADS_1
" Tidak tahu Kak, kemarin Marni mau ngambil sandal, eh tikusnya keluar dari lemari. " Jelasnya.
" Terus bagaimana? Mmm, minta tolong dong Tan, baju ku nanti dimakan tikus. "..
" Tapi aku takut Kak, geli. "..
Hmm, kalau sudah begini bagaimana? Siapa yang mau di salahkan. Tapi, bagaimana dengan baju bajuku?. Huuufftt.... Aku membuang nafas kasar. Ekor mataku melihat, kalau Dr. Afandi terus memperhatikanku. Jarak kami hanya terhalang satu meja bundar dan aku duduk menayamping ketika panggilan aku terima.
Biarkanlah, dia jadi penasaran, lagian aku di cuekin, sudah mening ada Intan yang telfhon, jadi aku bisa menghindar darinya.
" Ya nanti deh, aku coba keluarin bajunya sama Marni. " Ucap Intan.
" Iya Tan aku titip dulu, mungkin nanti kalau pengobatan Kak Ranti sudah selesai, aku ambil bajunya sebelum pulang ke Kampung." Jelasku.
" Emangnya Kakak, tidak kerja disini lagi? " Tanya Intan.
" Tidak tahu Tan, sepertinya Kakak pulang kekampung dulu deh." Ucapku.
Panggilan berakhir, setelah aku sekali lagi menitipkan barang barangku yang tertinggal di tempat kerja. Masih banyak sekali, karena aku kesini juga hanya membawa beberapa pasang baju.
Aku memeriksa pesan masuk, takutnya Kak Ranti mengirim pesan. Tapi setelah di buka tidak ada satupun pesan yang masuk..
Hufft... Aku kembali menarik nafas kasar. Tapi tiba tiba tubuhku ada yang merengkuh dari belakang. Aku terlonjak dan segera mengibaskan tangannya. Tapi dia tetap merengkuhku. Kulihat meja yang di duduki Dr. Afandi juga Meyra tadi, tapi disana sudah kosong.
Kemudian aku melihat siapa yang merengkuhku. Ternyata Dr. Afandi, dia menatapku dengan tatapan sendu. Kenapa lagi dia?..
" Eh, Dokter.! " Ucapku. Aku terpaksa tersenyum kecil.
" Siapa yang menelfhon Dek, kok asyik sekali? " Tanyanya. Dia memutar badannya kemudian duduk di samping aku.
" Dokter, aku mau ke atas, Kak Ranti manggil. " Ucapku berbohong. Aku mengalihkan pertanyaannya.
" Tidak usah berbohong Dek, siapa tadi yang menelfhon? " Dia kembali bertanya, tapi aku tetap diam.
" Sudahlah Dokter, aku mau keatas. " Ucapku lagi.
" Tunggu aku bayar dulu. " Ucapnya. Dia bergegas menuju meja kasir.
Setelah membayar, Dr. Afandi menarik lenganku. Kulihat mukanya memerah dan rahangnya mengeras. Pasti dia marah.
Kenapa? Kenapa harus dia yang selalu marah? Padahal siapa yang salah sekarang?.
Dia terus menarik lenganku dan berjalan dengan cepat. Sesampainya di Lobi, dia tidak berbelok kearah tangga juga Lift. Tapi dia menuju pintu keluar yang sebelah kanan.
" Mau kemana Dokter, Kak Ranti memanggil aku..!! "..
" Tidak usah berbohong..! " Jawabnya tegas.
Dia terus berjalan dan menambah kecepatannya, langkahku yang pendek membuat aku seperti terseret seret.
" Cukup Dokter...! " Emosiku sudah tidak tertahankan. Aku mengibaskan tanganku dan akhirnya terlepas. Dia tersentak kaget, tapi dia berusaha untuk meraih tanganku lagi.
" Tenang, Mbak Ranti sudah ada yang menunggu.."
" Tapi, Kak Ranti itu Kakak saya, dan kesinipun dia bersama saya. Berarti dia adalah tanggung jawab saya bukan orang lain..!! " Suaraku meninggi. Beberapa orang yang berlalu lalang melihat kearah kami. Dr. Afandi terlihat panik dan dia meraih tanganku dengan cepat, kemudian dia berjalan kearah Parkiran. Dan sekarang aku yang panik.
" Mau kemana Dokter..!! " Aku berteriak.
" Please jangangan berteriak, orang orang pada melihat kita..!! " Ucapnya.
" Tidak apa apa, Toll....! " Baru saja aku mau minta tolong, telapak tangan Dr. Afandi sudah menutup mulutku. Aku berontak. " Please Dek...!! Sabar dulu, dan jangan teriak disini.."
__ADS_1
Air mataku luruh, kenapa hati aku merasa sakit ketika harus berantem seperti ini. Masalahnya apa? Dan siapa yang salah?
Sesampainya di Parkiran, Dr. Afandi memencet tombol remot mobilnya. Terdengar suaranya masih jauh. Aku merasa takut dan aku menarik tanganku dengan cepat.
" Dokter...!! Please, jangan paksa aku..!! " Tapi dia tidak mendengarkan aku. Sesampainya di mobil, dia membuka pintu mobilnya dan membantu aku masuk, kemudian dia menutupnya lagi.
Dia masuk lewat pintu kemudi, aku menepi kedekat pintu. Aku benar benar khawatir. Dia melakukan hal yang sama ketika masuk kedalam mobil, memukul mukul setir mobil juga membentur benturkan kepalanya.
Setelah beberapa lama, emosi kita luruh, tapi aku tetap waspada, aku semakin menggeser tubuhku, tapi sudah tidak bisa lagi karena sudah di ujung, kalau saja pintunya tidak terkunci aku bisa saja langsung terjatuh.
Dr, Afandi terus menatapku, kulihat dadanya masih bergemuruh. Perlahan dia menggeser tubuhnya mendekatiku.
" Stop Dokter, diam di situ, kalau tida aku teriak..!! " Ucapku lantang. Tapi dia tidak menghiraukan ucapanku. Dia semakin mendekat dan aku semakit ketakutan.
Dia meraih tubuhku kemudian membawanya ke dalam pelukannya. Aku berontak, tapi dia semakin erat memelukku.
" Maafin aku Dek, maafin aku. Aku salah, sudah membuat kamu takut.." Ucapnya. Spot jantungnya sangat terasa begitu tak beraturan. Aku diam dan tak membalas.
Setalah beberapa saat, dia melonggarkan pelukannya. Aku menatapnya, matanya memerah mungkin dia menangis.
" Dek, kenapa? Kamu cemburu?. " Aku tetap diam.
" Dek, maaf, kalau kamu tidak suka, bilang saja jangan menghindar seperti tadi. Terus, di tanya juga bohongkan jawabnya. Maaf aku emosi, aku tidak suka di bohongi. "
Aku melepaskan pelukannya, hatiku kenapa sakit ketika dia bertanya kalau aku cemburu. Aku tidak tahu, tapi aku juga merasa di cuekin.
" Terus, kalau Dokter sudah mau menikah, kenapa Dokter memberi harapan kepada saya? " Celetukku. Ini tidak nyambung, tapi kenapa aku malah bertanya seperti itu, bisa bisa dia tambah emosi.
" Apa maksudnya..! " Benar saja, dia terbelalak mendengar penuturanku.
" Masa tidak paham." Ucapku berani. Kulihat wajahnya memerah juga rahangnya mengeras. Dia manarik nspas dalam dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.
Dia menyalakan mobilnya, aku panik. " Mau kemana? Tolong jangan bawa aku jauh jauh. Aku mau pulang huhuhu...!" Aku menangis, padahal mobil dari tadi tidak jalan masih tetap di parkiran.
" Aku mau pulang, aku mau pulaaangg..! " Aku berteriak.
" Heeii, sudah sudah, emosinya dihilangkan. " Ucapnya. Dia mencubit pipiku gemas. Aneh orang ini, tadi emosi sekarang bercanda Huuh.. Aku mencebikan bibirku.
Dia terus menatapku dalam, kemudian dia mengusap air mataku yang menggenang di pelupik mata. " Aku minta maaf sayang, maaf banget. Emosiku tidak bisa tertahan kalau kamu mau ninggalin aku Dek.! Maaf ya, maafin aku sayang, sudah jangan nangis. " Cup, dia mengecup keningku. Ada desiran aneh yang aku rasakan. Tapi, aku juga terbelalak, kok dia berani mengecup sembarangan Huhh dasar..!!
Wajahku memerah tapi dia mengulanginya lagi, kali ini dia mengecup lebih lama." Maafin aku sayang, maaf ya aku cinta sama kamu, jangan pernah mencoba berfikir untuk pergi meninggalkan aku." Ucapnya lembut. Aku menatap matanya, ada luka yang tersembunyi, yang ia sembunyikan dalam sorot matanya.
" I Love You sayang, I Love You. " Ucapnya. Aku hanya diam mematung.
" Dimaafin tidak sayang? "
" Iya aku maafkan, tapi aku mohon tidak terulang lagi. " Ucapku tegas." Terimakasih sayang. " Dia memelukku dengan erat.
Aku memang lemah, kenapa ketika dia memohon seperti itu, aku bisa mengalahkan ketakutanku tadi.
" Oh ya, dari siapa kamu tau kalau aku mau menikah? " Tanyanya.
" Ada loh, orang yang bilang. "
" siap Dek? Kamu jangan pernah mendengarkan kata orang lain sebelum tahu kebenarannya Dek. "
" Ya makanya kan aku nanya? "
" Iya, aku mau menikah sama siapa? Aku maunya sama kamu, tidak ada orang lain lagi. " Ucapnya. Dia tersenyum lebar ketika mengucapkan ingin menikah sama aku.
" Bukannya sama Dr. Carisa. " Ucapku. Dia terbelalak. " Apa? Siapa yang bilang? "...!!!
__ADS_1
**Bersambung.....
Jangan lupa, Like, Juga Votenya ya..!! Terimalasih yang sudah mau mampir🙏🙏**