
Sepertinya banyak pesan yang masuk ke ponselku. Kemudian aku melihat ke tempat Pak Nana duduk. Ia, dia sedang menunduk sepertinya dia sedang memainkan ponselnya yang dia simpan di kolong meja.
" Hhuuuuffttt... " Aku merasa kesal sekali.
Sebentar, tapi kok ada pesan dari nomor baru lagi, nomor siapa ini? Apa jangan jangan?..
Aku segera mengecek siapa yang mengirim pesan itu.
" [ Hana, apa kabarnya? ] "..
" [ Hana, sekarang kamu di mana? ] "..
" [ Hana, katanya kamu di Rumah Sakit, apa benar? , di Rumah Sakit mana? ] "...
Aku merasa bingung dengan pengirim pesan ini, siapa dia?..
" [ Kamu siapa ya? ] " Akhirnya aku membalasnya.
" [ Tuh kan benar, kamu itu sudah lupa sama aku ] "..
Aku mengkerutkan keningku, siapa sih membuat aku penasaran saja.
" [ Maaf, iya mungkin aku sudah lupa, karena nomornya juga nomor baru tanpa nama jadi aku tidak tahu kamu siapa ] " Jelasku.
" [ Aku, Arkan ] "...
" Hahhh.. " Aku terbelalak, siapa? Arkan? Apa tidak salah. Dia yang sudah membuat aku pergi dari rumah waktu itu. Lebih tepatnya, aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan bekerja supaya aku tidak ingat orang satu ini lagi. Dia sudah membuat aku sakit.
Flashback
Kak Arkan, dia adalah Kakak kelas aku waktu SMP beda dua tingkat denganku, dia dekat dengan aku karena rumahku juga dekat, masih satu wilayah. Dulu, sebelum dia menghilang, aku sangat dekat, dia Kakak kelasku yang romantis, perhatian, bahkan dia selalu mensuport aku, dia selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dan itu terjadi bertahun tahun.
Sampai akhirnya, aku mengetahui kalau dia ternyata bertunangan dengan Dania, teman dan sahabat aku. Oh, sungguh di luar dugaanku memang. Aku memang yang terlalu berharap lebih sama dia, karena dia juga tidak pernah bilang tuh kalau kita ini berpacaran, tapi itu membuat aku sakit.
Aku yang waktu itu baru pulang merantau, tepatnya satu hari sebelum lebaran, ibuku bilang..
" Dek, Arkan emm ini.. Emm.. Arkan.. Itu..
Ku lihat wajah ibuku yang terlihat ragu untuk bercerita kepadaku. Karena, ibuku tahu kalau aku menyukai Kak Arkan. Iya aku memanggilnya Kak Arkan, karena ketika kegiatan Pramuka di Sekolah kalau memanggil Kakak seniornya selalu memanggil Kakak, jadi melekat sampai sekarang.
" Ada apa Mak dengan Kak Arkan? Apa dia ada ke sini? "..
" Deekk, sudahlah, kan Emak bilang, jangan selalu berharap lebih, takutnya nanti sakit Dek..
" Mak, apa maksud Emak? Dia memangnya kenapa? " Tanyaku. Aku yang baru datang dari perantauan malah di buat penasaran.
" Kita ini orang susah Dek, tidak punya harta seperti mereka, " ..
" Maksudnya bagaimana Mak, jangan berbelit belit Mak, Jangan membuat Adek penasaran, "
Aku memandang wajah Ibuku dengan lekat, di wajah keriputnya terlihat banyak kesedihan, air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ada apa ini? Apa ada yang membuat Ibuku sakit? Atau Kak Arkan sudah membuat Ibu sakit?.
" Dek, Kak Arkan mu itu sudah bertunangan kemarin sama Dania, "..
__ADS_1
Jeedeerrrrr.......
Aku terbelalak, benar saja, Ibuku ragu untuk memberitahu aku, karena ini membuat aku sakit.
Dari malam itu, aku mengurung diri di kamar, sampai hari Lebaran tiba, aku tidak kemana mana, setelah mengikuti shalat Id, aku langsung mengurung diri lagi. Dan itu membuat Bang Bagas marah, karena Ibuku jatuh sakit memikirkan aku.
Tiga hari setelah lebaran, aku kembali pamit untuk merantau ke Kota, dan sudah setahun lebih Kak Arkan tidak ada kabarnya karena aku blokir, dan tidak ada juga kabar dia menikah, akhirnya sekarang hadir kembali di saat aku sedang galau.
Flashback Off
Tanganku gemetar mengetahui kalau Kak Arkan yang menghubungi aku. Tidak, tidak usah kamu balas lagi pesannya Hana, hatiku berkata seperti itu.
" [ Hana ] ".. Pesan itu kembali masuk.
" [ Hana, maaf ] "...
" [ Hana, aku sudah ke rumah Emak, aku sudah meminta maaf, sekarang di Rumah Sakit mana? Nanti aku kesana ] "..
Untuk apa dia, benar benar membuat aku tambah pusing saja. Tapi nanti setelah jam besuk aku akan menelfon Kak Fitri untuk menanyakannya. Tapi ini bagaimana, apa aku blokir lagi ya nomornya?..
Akhirnya jam besuk tiba, aku berjalan lunglai menuju ruang kaca, terlihat Security Nana itu mengikuti aku dari belakang. Cobaan apa lagi ini Maaakkk..!!
Aku kembali memperhatikan Kak Ranti yang masih tetap sama seperti hari sebelumnya. Hatiku semakin teriris, kenapa Kak ranti belum bangun saja?, padahal ini sudah lima hari? Ya Allah...!! Aku terus merapalkan do'a untuk kesembuhan Kak Ranti.
Air mataku menetes perlahan, teringat kembali kenangan manis bersama Kak Arkan, dan dia membuat aku sakit dengan begitu saja.
Ponselku terus bergetar, mungkin Kak Arkan terus mengirim pesan, dan juga memanggil. Aku tidak tahu, karena nada untuk panggilan aku ganti hanya dengan getar.
" Dokteerr, kemana kamu, apa kamu juga sama dengan Kak Arkan, setelah membuatku jatuh ke hatimu kamu tinggal begitu saja, "... Air mataku luruh tidak bisa di bendung lagi, sampai aku terisak dengan mata terus tertuju kepada Kak Ranti.
" Kenapa Kak? " Tanyanya lembut.
" Itu.." Aku menunjuk Kak Ranti, semua orang yang berada di ruangan itu terus tertuju kepada Kak Ranti. Aku gelagapan, apa semua orang juga dari tadi memperhatikanku.
" Kenapa? , "..
Aku benar benar tidak bisa berbicara apa apa. Lidahku kelu, air mataku terus berjatuhan tanpa permisi, dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kemudian Mamanya Elsa memelukku, mungkin ini yang aku inginkan saat ini, aku menumpahkan tangisku di pelukannya. Sampai akhirnya hatiku menjadi sedikit tenang.
" Maaf, " Ucapku.
" Tidak apa apa Kak, kita di sini sedang berjuang bersama, kita saling suport ya, " Aku mengangguk.
" Oh ya, memangnya Kakak di sini sendirian? "..
" Iya Bu, kemarin waktu Operasi sampai tiga hari ada Abangku, cuma mereka kan kerja dan kemarin juga tidak bawa pakaian untuk ganti, "..
" Ohh, jadi sekarang sendirina saja? "..
" Iya, "..
" Kamu hebat Kakak, kamu kuat, sudah ya jangan bersedih lagi, di sini ada Aku, dan masih banyak orang yang berjuang untuk kesembuhan keluarganya, di sini kita sama sama berjuang,"..
" Oke, terima kasih Bu, "..
******************
__ADS_1
Jam besuk kembali di tutup, aku dan semua yang berada di ruangan kaca kembali ke ruang tunggu. " Kak, makan siang yuk, " Ajak Mamanya Elsa.
Aku merasa bingung, untuk makan juga aku tidak selera.
" Sudah ayok jangan sedih terus, kasihan Kakaknya, "..
Akhirnya aku ikut untuk makan siang, dan aku juga sekalian membeli makan untuk sore. " Bu, aku mau beli juga untuk sore, aku malas kalau harus bolak balik, " Ucapku.
" Ya sudah, iya sekalian saja, soalnya aku kalau sore suamiku nanti bawa dari rumah, "..
" Oh iya, memangnya Rumahnya dekat? "..
" Rumahku jauh, di Kota B, hanya saja kalau malam suamiku suka ikut menemani di sini, kalau siang berangkat kerja, "..
" Oh, jauh juga ya, oh ya, Kota B nya di mananya? Aku juga kerja di Kota B, di daerah JA, "..
" Oh, dekat itu Kak, aku di daerah JB, "..
" Iya itu dekat sekali, "..
" Ini Neng nasinya, tambah apa lagi, " Obrolanku terhenti ketika Ibu Warung memberikan pesananku.
" Sudah Bu, tambah air mineral saja yang besar satu, " Ucapku.
" Semuanya jadi tiga puluh lima ribu Neng, " Ucap Ibu Warung.
" Punya saya jadi berapa? " Tanya Mamanya Elsa.
" Punya Ibu, jadi dua belas ribu, "..
Aku memberikan uang lima puluh ribu dan juga Mamanya Elsa membayar makannya.
Ponselku dari tadi terus bergetar, tapi aku tidak ingin membukanya. Aku takut Kak Arkan menelfhonku, tapi mungkin ia dia pasti menelfhon aku.
Setelah selesai, aku dan Mamanya Elsa pulang sambil mengobrol ringan. Dan sesampainya di ruang tunggu, aku menaruh nasiku di atas tas tempat bajuku.
Aku membuka ponselku yang terasa panas dari balik celana. Banyak banget panggilan yang tak terjawab dan pesan masuk. Dan benar saja, semuanya dari Kak Arkan.
" [ Hana, kamu di Rumah Sakit mana? ] "...
" [ Hana maafin aku, Emak bilang kalau selama ini kamu suka sama aku, aku juga sama merasakan itu Cimot kesayanganku ] " Panggilan itu lagi? Cimot adalah panggilan kesayangannya untukku. Dan aku memanggil dia Cimol, gara gara Kak Arkan suka jajan cimol setiap hari. ' Please deh Kak Arkan jangan mengingatkan lagi semua kenangan itu, itu membuat aku tambah sakit ' Batinku.
' Emak, kenapa Emak bilang ke dia Mak ' Batinku terus meracau. Karena tidak sanggup menahan air mata, akhirnya aku tiduran sambil miring ke sebelah kiri yang tidak ada orang, karena emang aku tidur hampir di pojokan.
" [ Cimot, Emak tidak tahu kamu di Rumah Sakit mana, Kak Fitri juga Bang Bagas tidak mau ngasih tahu aku, please.. Kasih tahu aku ] "
" [ Aku akan menjelaskan semuanya, apa yang telah terjadi selama ini, ] "..
" [ Tapi, aku mohon, beri aku alamat Rumah sakitnya ] "
Dan masih ada beberapa pesan lagi yang malas aku buka. Aku beralih melihat ke panggilan tak terjawab, terlihat ada dua puluh tiga kali panggilan yang tidak terjawab, dan ponselku kembali bergetar lagi, aku melihatnya ternyata Kak Arkan yang memanggil.
**Bersambung...
Tetap ikutin ya ceritanya, dukung aku dengan Like, Komen dan Vote aku, Terimaasih**..
__ADS_1
"