
Waktu begitu cepat, malam sudah tiba kembali. Hingga akhirnya pagi datang.
Selesai sarapan, aku mengemasi pakaian yang sudah aku cuci. Masih ada sebagian yang masih basah dan aku titipkan kepada Bang Bagas, agar nati kalau sesekali menjenguk untuk membawanya.
Jam sebelas siang aku berangkat lagi ke Rumah Sakit. Karena Bang Bagas punya janji sama orang yang mau ganti ACU mobilnya.
" Sekarang Kak Ranti ada di Lantai lima, kamar 519. " Ucap Bang Bagas ketika sebelum berangkat.
" Kok pindah? " Tanyaku.
" Iya, sekarang bilangnya bagian Neurology atau Saraf " Jawab Bang Bagas.
Setelah dua jam di perjalanan, kita sampai di Rumah Sakit. Aku langsung menuju Gedung A, Bang Robby sudah menungguku di Lobby. Kita bertiga langsung naik ke Lantai lima.
Sekitar jam satu siang, Bang Bagas dan Bang Robby pamit pulang, akhirnya aku yang menunggu lagi. Sepi menyergap hatiku dan aku merasa sedih.
Keesokan harinya, Dokter Afandi datang jam delapan pagi. Dan hari ini jadwalnya Kak Ranti untuk CT Scan untuk mengetahui letak tumornya.
CT Scan merupakan prosedur pemeriksaan medis, yang menggunakan kombinasi teknologi sinar x dan sistem komputer khusus untuk menghasilkan organ, tulang, dan jaringan lunak dalam tubuh. Yaitu memberikan informasi yang lebih rinci dan akurat daripada foto Rontgen biasa.
Setelah menanya kabar, Dr. Afandi menyuruhku untuk Acc surat pengantar CT Scannya ke Pak Mufti.
" Mbak, Acc dulu surat pengantarnya ke Pak Mufti." Ucapnya.
" Tempatnya dimana Dokter..? " Tanyaku.
" Ya sudah ikutin saya..! " Ucapnya lagi. Aku menganga, Haahh..!!. Sepertinya ini memakan waktu lama aku berada di sampingnya. " Tenang ya wahai diriku " Aku menenangkan diriku sendiri agar tidak meleleh.
Dr. Afandi menyerahkan pengantarnya kepadaku. ' Seperti lagi serah terima mas kawin aja hhee " . Aku mengikutinya dari belakang. Dia memilih jalan melewati tangga dari pada menggunakan Lift. Mungkin untuk menghemat waktunya. Jujur Dokter ini sangat baik, dia mau belusukan membantu pasiennya.
Jalan yang cepat membuatku sedikit ketinggalan, dia berjalan tapi aku berlari. Yang pertama ke baseman, ke tempatnya Pak Mufti.
" Permisi Pak, Pak muktinya dimana ya..? " Tanyanya. Di situ seperti tempat Resepsionis, aku tidak tahu kalau Pak Mufti itu menjabat apa di Rumah Sakit ini, yang pasti kalau ada tindakan medis harus minta acc dulu kepadanya.
" Oh Pak Muftinya di UPPJ " Jawab petugasnya. " UPPJ apa itu.? " Tanyaku dalam hati.
Setelah mengucapkan terimakasih, " Ya udah, ke UPPJ " Katanya. Aku mengikuti langkahnya yang begitu ringan dan cepat, seperti tidak ada beban dia terus melangkah, padahal aku yang dibelakangnya kerepotan untuk meraihnya, Huffttt, salah mengejarnya.
Nafasku sangat berat dan tak beraturan. Untuk sekedar menarik nafas saja tidak ada waktuny, karena pasti ketinggalan. Sekitar lima menit sampailah di UPPJ. Dan terpampang jelas di pintu masuk, kalau UPPJ itu, Unit Pelayanan Pasien Jaminan.
" Permisi Pak, Pak Muftinya ada..? " Tanyanya kepada Security yang bertugas disitu.
__ADS_1
" Silahkan mengantri dulu " Titah Securitynya.
" Oh ya, Adek ngantri dulu ya di situ " Dia menunjuk kearah orang orang yang sedang mengantri ke Pak Mufti. Antrian ini sangat panjang apalagi sekarang hari senin. Disinilah perjuangan Pasien Jaminan yang ingin berobat gratis, harus rela mengantri lama untuk mendapatkan acc.
'Sebentar, apa gak salah dengar , tadi Dr. Afandi manggil aku Adek..? ' Aku bertanya dalam hati. Sedang pokus mengantri, aku terlonjak ketika pundakku di tepuk.
Puukkk...
Aku menoleh, ternyata Dokter itu masih menunggu, dikira tadi dia langsung pergi.
" Ehhh.. " Ucapku spontan.
" Dek langsung aja ke Pak Mufti accnya.." Ucapnya. Tuh kan, tidak salah dengar berarti, kalau dia memang manggil aku Adek. ' Heii melek, dia manggil Adek mungkin karena kamu masih kecil ' Ucap batinku.
" Siap Dok." Jawabku. Akupun keluar barisan dan menuju Pak Mufti.
" Sini aku aja " Ucapnya lagi. Kemudian Dr. Afandi membawa surat pengantarnya ke Pak Mufti.
Selesai acc, Dr. Afandi mengajakku ke Radiologi untuk daftar CT Scan. Dia memberitahu cara mendaftarnya dan tinggal menunggu surat pengantarnya.
" Dek..! " Ucapnya. Aku menoleh dengan kikuk.
Dr. Afandi berlalu meninggalkan aku. " Mbak, nanti jadwalnya jam lima sore ya.." Ucap resepsionisnya.
" Baik, terimakasih.." Ucapku.
Aku kembali keruangan dan membawa pengantar yang sudah di kasih nomor antrian. Sesampainya di Kamar aku langsung memberitahu Dr. Afandi.
"[ Dokter, pendaftarannya sudah selesai ]" Tulisku. Jantungku sudah bernyanyi saja.
" [Ohh, siap Dek..] " Balasnya. Aku yang dipanggil Adek begitu bener bener meleleh. Entah perasaan apa yang ada dalam hati ini, jangan sampai aku kegeeran karena akan membuatku sakit nantinya. Tapi, kenapa juga aku merasa seolah ada yang menyayangi aku dengan tulus.
" [ Dek..!! ] " Dr. Afandi kembali mengirimku sebuah pesan.
" [Iya Dokter] " Balasku. Jantungku semakin dag dig dug.
" [ Lagi apa.? ] ". Tanyanya lagi.
" [ Lagi duduk Dokter ] " Jawabku.
"[ Mau di temenin tidak..? ]" Tanyanya yang membuat aku, entahlah..!! Aku tidak membalas lagi. Aku takut kegeeran hahaha..!!
__ADS_1
" [ Dek, boleh tidak aku mengenal lebih dekat lagi..? ] " Demi apa ya Allah..!! Rasanya aku ingin pingsan saja. Tapi pesan itu tidak aku balas lagi dan diapun tidak ada mengirim pesan lagi.
" [ Dek, aku pulang dulu ya..!! ] " Hahh, aku bengong ketika Dr. Afandi lagi lagi mengirim pesan aneh. Ya aneh, memang aneh, baru kenal berapa hari, kok sudah seperti itu, apa perasaan yang selama ini aku rasa juga sama sepertinya..?? " Ahh entahlah aku tidak ingin terlalu jauh memikirkannya.
Aku kembali tidak membalasnya karena tidak lama kemudian Bu Tini dan temannya datang untuk mengantar Kak Ranti CT Scan, Jam lima sore. Waktu berasa begitu cepat, setiap hari senin sampai jum'at adalah jadwalnya Kak Ranti pemeriksaan dan hari sabtu dan minggu waktunya istirahat.
Selesai CT Scan, aku kembali keruangan. Hari hariku di Rumah Sakit, sebenarnya membosankan, karena ya satu hari hanya satu jadwal mungkin biar pasien tidak merasa kelelahan. Selebihnya aku hanya duduk sambil dengerin musik favoritku dan ngobrol sama Kak Ranti.
" Kak, bagaimana, nanti di oprasi siap tidak..? " Tanyaku dalam obrolan malam ini.
" Ya harus siap biar sembuh.." Jawabnya. Entahlah, Kak Ranti ini memang orangnya tegar banget tidak seperti denganku yang dikit dikit ngeluh, cape atau apalah.
" Semangat ya, biar pas nanti Idul Adha kita sudah pulang, kita masak daging rame rame." Kataku. Aku sedikit menghiburnya, agar tidak tegang. Oh iya kebetulan sebulan lagi Idul Adha tiba dimana, banyak orang berkurban dan membagikan daging kurbannya.
" Iya, entar kita masak bareng bareng.." Jawabnya.
Tinggg...
Satu pesan masuk di ponselku. Dari siapa lagi kalau bukan dari Dokter ganteng Hahaha..!!. Ya, kenapa juga aku menamai nomornya Dokter Ganteng.
" [ Malam De.?! ] " Tulisnya. Aku enggan untuk membalasnya. Bagaimanapun aku tidak ingin lebih jauh lagi, apalagi aku sadar dengan status sosialku. Ahh mimpi aja sepertinya jangan, apalah aku ini, hanya seorang pekerja Warung Makan, masa bisa bersanding dengan Seorang Dokter ahli bedah. Itu tdk mungkin terjadi.
** I will always love you kekasihku.** Ponselku kembali berdering dengan tanda telefon masuk. Masih Nama yang sama ^ Dokter Ganteng ^.
' Kenapa harus telefon juga sih ' Aku ngedumel sendiri. Kemudian aku mengangkatnya..
" Hallo..! " Ucapku.
" Hallo juga Cantik " Ucapnya. Haahhh..!! Apa tidak salah dia..? Aku benar benar tidak habis pikir sama Dokter itu. Aku diam tidak menjawab, bingung harus jawab apa.
" Hallo, Dek..!! Bicaralah.." Ucapnya melas.
" Emm, I Iya, ada apa..? " Tanyaku gugup.
" Lagi apa, sudah makan belum.? " Tanyanya sok perhatian.
" Sudah tadi." Jawabku. " Ada apa ya..? " Aku balik bertanya.
" Bagaimana ya, aku bingung mau ngomongnya..!! " Ucapnya.
Bersambung...
__ADS_1