
Jam besuk berakhir dan keadaan Kak Ranti masih seperti seminggu yang lalu, tidak ada perubahan. Dia masih menggunakan ventilator dan alat medis lainnya.
Aku keluar ruangan kaca dengan lesu. Langkahku terasa berat, dan aku kembali duduk di ruang tunggu.
...----------------...
POV Arkan
Flash Back..
" Kak Arkaaann, tunggu..!! " Teriakannya memekakan telinga untuk siapapun yang mendengarnya. Iya siapa lagi yang suka teriak teriak kalau melihatku. Di sekolah ataupun di lingkungan rumah kami, dia pasti akan berteriak kalau melihatku. Dia adalah Hana, adik kelasku yang cerewetnya cuma di dekatku saja. Tapi ketika di rumahnya ataupun di sekolah dia akan berubah menjadi pendiam. Entah kenapa dia seperti itu, kalau di tanya pun dia tidak akan menjawabnya.
" Jangan lari Cimooot, " Ya, aku memanggil dia Cimot. Awalnya dia sendiri yang memanggil aku Cimol. Karena aku sangat suka Cimol, jajanan favoritku.
" Apa si Cimol, " Ucapnya ketus. Dia akan ketus kalau aku memanggilnya Cimot. Padahal dia sendiri yang memanggil aku Cimol duluan, dan Cimot ini menjadi panggilan kesayanganku.
Sayang? Kalau di bilang sayang? Aku memang menyayanginya. Sebagai adik, sebagai???? Sebagai apa lagi ya, ah pokoknya aku menyayanginya dengan tulus. Dia akan menjadi temanku, teman berantemku dan teman suka dukaku.
Hhmmm.. Sungguh memang masa masa remaja itu sungguh menyenangkan. Aku bersamanya di SMP hanya satu tahun. Karena, waktu dia masuk aku sudah kelas tiga. Tapi persahabatan kami tidak putus. Aku melanjutkan kembali pendidikanku ke Sekolah Menengah Atas. Aku selalu mengantarnya setiap pagi, karena sekolahnya aku lewati dan kalau lagi pulang cepat aku akan menunggunya dengan sabar sampai waktunya dia pulang.
Tapi, dia berubah ketika sudah Lulus dari SMP. Aku kehilangannya, kehilangan keceriaannya kehilangan sosok yang selalu membuat aku tersenyum lebar. Tidak ada lagi yang memanggilku Cimol, tidak ada lagi yan berteriak, teriak.
" Cimot, semoga kamu di sana baik baik saja ya, " Ucapku waktu itu. Aku sedang duduk di balkon rumahku, menatap langit malam yang cerah. Dan ada satu bintang yang terus berkelip kelip.
" Aku merindukanmu Cimot, kapan kamu pulang? Aku rindu suaramu, rindu senyumanmu. Kita main bareng lagi yuk, kita lomba naik pohon lagi yuk, pasti aku kalah, " Aku benar benar merindukannya saat itu sampai aku meneteskan air mata.
Dia pergi, iya Cimotku pergi merantau ke Kota, demi mendapatkan biaya hidup. Bukan berarti kedua orang tuanya tidak membiayai hidupnya, tapi aku tahu untuk makan sehari hari pun dia kesusahan. Bahkan, ketika sedang sekolah juga dia sangat jarang membawa uang jajan.
Sangat sedih memang kehidupannya. Tapi ketika aku tawari untuk melanjutkan sekolah lagi bersamaku dan aku yang membiayainya, dia menolak dengan tegas.
" Apaan sih Kak, kakak bukan orng tua aku yang harus membiayai sekolahku. Aku akan pergi ke Kota saja mencari pengalaman. Aku tidak ingin terus merepotkan siapa pun, " Ucapnya kala itu.
" Tapi, aku ingin kita dekat terus seperti ini, " Ucapku. Entah perasaan apa kala itu, aku yang mau di tinggalnya merasa berat sekali.
" Tapi ini demi kebaikan aku Kak, "..
" Aku bisa Kok biayain kamu, "..
" Sudahlah Kak, aku tetap akan pergi, " Ucapnya tegas.
" Tapi, aku benar benar tidak ingin kehilanganmu Cimott, "..
" Maafkan aku Kak, "..
" Sebenarnya, selama ini ak...!! "..
" Arkan, kamu di sini ya, " Belum sempat aku meneruskan kalimatku Mamaku lewat di depanku.
" Mama dari mana? "..
" Mama habis dari warung, sekalian mencari kamu, " Ucap Mama ketus. Mama pasti sengaja ketus seperti itu. Karena Mama tidak terlalu suka kalau aku terlalu dekat dengan Hana. Padahal apa salahnya?
Kulihat Hana menunduk dan terus memilin milin ujung jilbabnya. Pasti Hana merasa sedih, karena Mamaku dari dulu tidak pernah menyukainya. Dulu, Hana sering banget bertanya bahkan sering mendekati Mamaku. Tapi, entah kenapa semenjak aku sekolah di SMA Hana berubah. Dia tidak pernah ingin bermain lagi ke rumahku atau hanya sekedar di dekat rumah. Padahal dulu sering banget main di samping rumahku. Karena di situ ada sebuah kebun kecil yang bisa kita pakai untuk bermain.
Setahun berlalu dia pergi merantau, banyak yang berubah dalam sikapnya. Dia menjadi orang yang pendiam sekali bahkan aku tidak mengenalnya lagi. Ada apa dengan Hana ku?
Sampai akhirnya aku merasa jenuh, karena kita tidak pernah komunikasi lagi. Ketika pulang kampung juga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah.
...****************...
" Hai, Kak Arkan.! " tiba saja ada suara yang memanggilku. Kemudian aku melihat siapa yang memanggil, ternyata Dania. Dania adalah adik kelasku juga bahkan dia juga teman sebangkunya Hana di waktu SMP.
" Iya, ada apa ya Dania? " Tanyaku.
" Kak Arkan, bagaimana kabarnya Hana, " Tanyanya. Aku hanya menggedigkan bahuku, karena memang aku tidak mengetahui kabarnya sekarang.
" Oh ya, bagaimana persiapannya untuk malam besok? " Tanya nya. Aku terhenyak, iya aku sebenarnya tidak mau melakukan ini karena aku masih berharap Hana. Tapi semua berkata lain, diam diam Mamaku menjodohkan aku dengan Dania.
" Arkan, Mama tadi habis bertemu Dania, dia ternyata adiknya Suci teman sekolah kamu. Mama dulu sering ngobrol sama Bu Fatimah kalau sedang ada rapat dari guru. Nah kebetulan, waktu kemarin ke Pasar Mama bertemu dengannya, dan Mama berbincang banyak hal, " Ucap Mama antusias sekali. Hari ini Mama habis membeli sayuran dari pasar. Aku diam dan menyimak.
" Dan, Bu Fatimah bilang kalau Dania itu suka sama kamu dari dulu, hanya saja kamu hanya berteman dengan Hana. Dan Mama sama Papa sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Dania, "..
Jdeeerrrr...
Aku benar benar tidak menyangka dengar pikiran kedua orang tuaku. Jaman apa sekarang masih saja ada perjodohan. Lagian umurku juga masih kecil waktu itu.
" Ma, aku ini masih kecil, ngapain harus di jodohin segala. Aku juga masih mau melanjutkan sekolahku, aku ingin kuliah Mama, "
" Tidak apa apa kamu kuliah aja dulu, ini kan kamu cuma tunangan saja, tidak harus langsung menikah, "..
Entahlah, aku paling tidak bisa menolak dengan ucapan Mama. Aku paling tidak tega kalau membuatnya bersedih. Dan akhirnya aku menyetujuinya.
" Kak Arkan, kenapa tidak menjawab, "..
" Ya tinggal jalanin aja, " Ucapku. Aku sebenarnya lagi tidak ingin di ganggu. Karena aku sekarang lagi di tempat spesialku bersama Hana. Sebenarnya aku benar benar merasa tidak menyangka dengan kejadian ini..
Acara tunangan berlangsung sederhana, karena aku yang meminta untuk sederhana saja dan hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga. Setelah acara selesai aku langsung mengurung diri di kamar.
" Arkan, makan dulu, " Suara Mama membuyarkan lamunanku.
" Arkan tidak lapar Ma, " Jawabku.
__ADS_1
" Kamu dari pagi belum makan Arkan, "..
" Tapi aku belum pengen, "..
" Nanti bagaimana kalau sakit, "..
Aku tidak menghiraukan lagi panggilan Mama. Yang aku inginkan sekarang adalah kesendirian.
Hari berlalu, aku tetap merasa jenuh. Dania selalu meminta tolong apapun tentang kuliahnya, bahkan dia selalu mengajak aku untuk jalan ketika waktu libur tiba.
Tapi, semakin kesini, aku semakin curiga dengan tingkah Dania. Dia akan menghubungiku ketika ada perlunya saja. Bahkan kalau tidak ada perlu, sampai seminggu juga dia tidak mengabariku. Aku sudah mencoba untuk menempatkan hatiku untuk Dania, tapi itu tidak berhasil. Karena Dania juga tidak memberikan respon yang positif.
Kecurigaanku semakin kuat, ketika aku menelfonnya. Dia mengangkat panggilanku, tapi ketika baru diangkat ada yang memanggil dia sayang.
" Sayang, jadi gak kita jalan jalan? " Tanya seorang lelaki di seberang sana.
" Hallo Dania, kamu sedang bersama siapa? " Tanyaku. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dan tidak lama kemudian panggilan terputus.
Huufftt.. Aku membuang napas kasar. Aku harus mencari tahu tentang Dania. Ya aku akan mengunjunginya, tapi dimana kos kosannya? Karena aku belum pernah mengantarnya sampai kos kosan, kalau di antar pulang juga dia selalu menuju rumah orang tuanya, itu pun baru tiga kali. Dan menurut Ibunya, Dania itu nekos. Kenapa dia tidak pernah bercerita kepadaku?..
...****************...
Tiga bulan sudah aku bertunangan dengan Dania, tapi semuanya masih seperti mimpi. Aku berencana mau mengunjungi Dania, dan aku sudah mengetahui tempat Kos nya dari Ibunya.
Perjalanan dari Kosanku kurang lebih satu jam, lumayan juga. Padahal Kampus itu berada dekat dengan Kos kosanku, apa dia tidak pernah merasa cape.
Sesampainya di alamat yang di tuju, aku langsung mendatangi pos Securitynya. Sangat mewah, kos kosan ini di bandingkan dengan Kos kosan ku.
" Permisi Pak, saya mau bertanya. Kalau di sini ada yang bernama Dania tidak? " Tanyaku.
" Dania, Oh Dania Lestari ya? "..
" Iya betul Pak, " ..
" Oh sepertinya dia barusan pergi deh Mas, "..
" Kemana ya Pak? "..
" Ya biasa ketempat tongkrongannya, Emangnya Mas ini siapanya Dania ya? "..
" Emm, itu Pak, emmm. Oh ya Pak kalau tempat tongkrongannya di mana ya? " Aku sangat grogi ketika mau menyebutkan kalau aku adalah tunangannya..
" Ya Masnya siapanya Dania, saya tidak bisa memberitahu keberadaan siapapun disini kepada orang asing, " Jelasnya.
" Ohh, saya tunangannya..!" Akhirnya aku memberanikan diri.
" Lah, bukannya Pacarnya Dania itu Fatih ya, dia itu yang selalu mengantar jemput Dania ke Kampus dan kemanapun, "..
' Apa..! ' Aku kaget bukan main.
" Ya setahu saya sih semenjak dia ngekos di sini, dia selalu memakai mobil, "..
" Ya sudah, kalau seperti itu tolong Pak dimana tempat tongkrongan dia, " Ucapku. Aku benar benar tidak percaya, pantas saja selama ini dia seperti tidak serius dengan pertunangan ini. Dia juga sering mengabaikan aku dan sangat jarang mengabariku.
" Tapi benar Mas Tunangannya? "..
" Iya Pak, saya baru bertunangan tiga bulan yang lalu. Dan Dania juga memang jarang sekali mengabari saya, "...
" Oh ya sudah, jalan lurus saja dari sini nanti sebelum jalan raya ada Cafe Bintang, di situ biasa mereka nonton, "..
" Baik Pak, terimakasih banyak ya Pak, " ...
Setelah berpamitan, aku segera menyela motorku. Dan berjalan meninggalkan Kos Kosan itu.
Mataku melirik ke kanan dan kiri, mencari di mana letak Caffe Bintang itu. Setelah kurang lebih lima belas menit. Akhirnya aku menemukannya, bangunannya megah dan sangat luas. Terlihat kerlip kerlip lampu warna warni yang di pasang mengelilingi bangunan itu.
Aku memarkirkan dulu motorku kemudian memasuki bangunan itu. Terlihat banya pasangan muda mudi dan beberapa orang yang berkumpul dalam satu meja.
" Permisi Mas, Cofee Late nya satu mas, " Ucapku. Aku sengaja memesan minuman untuk mencari tahu di mana Dania berada.
" Siap Mas, " ..
Aku segera mencari tempat duduk dan terlihat satu bangku kosong. Aku menghampirinya kemudian duduk. Dan di sampingku ada dua pasang remaja. Dan di sebelahku lagi ada satu pasangan, tapi sepertinya keduanya sudah dewasa, dan dia duduk membelakangiku.
" Yang, aku mau ke Mall yang dekat dengan rumah kamu itu loh. Kata Desti lagi ada promo I Pone keluaran terbaru, " Ucapnya. Tapi aku seperti kenal dengan suara nya.
" Kamu mau I Pone? " Tanya laki lakinya.
" Iya dong Yang, I Pone ini sudah lama lah, aku sudah bosan, "..
" Kok gitu sih, aku sekarang lagi tidak ada uang. Orang tuaku belum ngirim, "..
" tapi kan, kamu bisa memintanya, "..
" Gak bisa Sayang, dalam sebulan ini aku udah minta lima kali, orang tuaku tidak bakal ngasih lagi, ini udah yerlalu banyak, "..
" Ya kan Orang tua kamu katanya pengusaha sukses, "..
" Iya, tapi kan aku sudah minya lebih dari sepyluh juta bulan ini, semuanya ada batadnya, " ucap laki lakinya mulai kesal.
" Oh ya, bagaimana kalau kamu minta sama tunangan kamu itu? "..
__ADS_1
" gak bisa lah Yang, aku jaim sama dia, ..
" Ngapain jaim, kan dia tunangan kamu, "..
" Enggak, aku mau sama kamu aja, "
" Laaahh, keenakan Arkan lah. Yang jadi tunangannya Arkan, tapi kamu minta apa apa sama aku, "..
Arkan, Arkan siapa? Apa orang itu Dania? Kok kisahnya seperti kisahku dengan Dania. Aku ingin membuktikan, dan aku akan merekamnya.
" Kamu kan sudah aku kasih apa yang kamu inginkan, itu lebih berharga dari hal apapun, " Ucap Dania. Apa maksudnya? Hal berharga?
" Ya tapi gak apa apalah sesekali minta sama dia, "..
" Iya kapan kapan lah, aku lagi ingin sama kamu aja. Lagian tujuanku kan cuma ingin membuat Hana sakit hati, dan sekarang Hana sudah benar benar sakit hati sama Kak Arkan. Aku sudah puas..! "..
" Ya terus pertunangannya bagaimana? Masih berlanjut kan? "..
" Masih sih, tapi aku sudah tidak peduli lagi, lagian orang tuaku juga sebenarnya tidak mau, cuma Mamanya Kak Arkan memaksa karena dia tidak ingin hubungan Kak Arkan berlanjut sama Hana. Hana kan cuma anak petani, rumahnya aja masih gubuk, jadi Mamanya Kak Arkan tidak menyukainya. Nah itu kesempatan aku dong untuk membalas dendam, "..
Mendengar penjelasan Dania, aku tercengang bukan main, jadi selama ini dia hanya mau balas dendam. Terus, apa benar apa yang Mama lakukan?
" Si Hana nya bagaimana sekarang? "..
" Gak tau sekarang gak pernah komunikasi lagi, semenjak dia kerja, "..
Aku sudah benar benar tidak sabar ingin mengetahui siapa orang yang di sampingku ini. " Mas..! " Paggilku. Dia sedang mengatarkan pesanan ke meja yang berada di depanku.
" Iya ada apa Mas? " Tanyanya. Kemudian dia menghampiriku.
" Mas boleh minta tolong fhotoin orang di samping saya, "..
" Tapi Mas siapanya? " Lagi lagi aku harus meyakinkan orang.
" Saya tunangannya Mas, " Ucapku. Aku menunjukan cincin yang melingkar di jariku.
" Semua orang juga punya Mas cincin begituanmah, " Celetuknya.
" Oh ini, saya ada fhotonya, " Aku baru ingat kalau di galeriku ada fhoto aku dan Dania lagi memamerkan cincin tunangan.
" Terus, laki laki itu siapanya? "..
" Ya makanya saya minta tolong fhotoin dulu, biar nanti saya bisa tahu siapa dia, "..
Setelah berdebat alot, akhirnya Pramusaji itu mau membantuku. Dan benar saja, tanpa di zoomvpun kalau itu Dania.
Badanku terada lemas, benar benar aku tidak menyangka dengan semua yang terjadi. Aku langsug pulang ke rumah orang tuaku. Aku ingin menanyakan kebenarannya.
Dan benar saja, setelah aku mengaja orang tuaku bercbicara, Mama mengakuinya. Setelah itu aku pergi dari rumah dan selama lima bulan aku tidak menghubungi orang tuaku. Dan pertunangan pun langsung aku batalkan hari itu juga aku pergi ke rumah orang tuanya Dania dan memberikan rekaman itu. Dan aku sendiri yang membatalkan pertunangan itu, aku tidak peduli.
...****************...
Susah payah aku meminta maaf kepada keluarga Hana, tapi keluarga Hana tidak jngin ikut campur urusan Hana. " Emak tidak ingin membuat Hana sedih terus Kan, dia selalu sebentar di rumah. Padahal Emak juga kangen sama Hana. Tapi Hana berubah setelah tau kalau Arkan tunangan, " Ucap Ibunya Hana waktu itu. Wajah keriputnya menandakan kesedihan yang mendalam.
" Tapi Mak, di mana sekarang Hana bekerja? "..
" Maaf, Emak gak bisa kasih tau. Karena itu pesan Hana, " Jawabnya.
Berbulan bulang aku berusaha mendapatkan maaf dari keluarganya Hana. Dari orang tuanya sudah aku dapatkan. Tapi, saudaranya tetap tidak peduli. Apalagi Bang Bagas dia sangat kecewa terhadapku.
Sampai akhirnya, Mama jatuh sakit dan Mama meminta aku mengantarkanya ke rumah Hana. Di rumah Hana, Mama meminta maaf dengan berlinang air mata. Dan Mama juga meminta Hana untuk menjadi menantunya.
Awalnya, Ibunya Hana tidak menerima, tapi Bapaknya Hana datang membawa kelegaan untukku.
" Tidak baik kita menolaknya Mak, " Ucap Bapak Hana.
" Tapi bagaimana dwngan Hana Pak, atau kalau begitu telfon dulu Hana. Kasih tahu dia, "..
" Tidak usah, Hana pasti tidak akan mau, " Ucap Bapak.
" Ya apalagi kalau seperti ini, bagaimana nantinya kalau Hana tetap menolak, " Perdebatan alot membuat aku tidak nyama. Hati seorang ibu pasti lebih mengetahuinya, apalagi sesama perempuan.
Akhirnya dengan terpaksa Ibunya Hana menyetujuinya. Dan acarapun di laksanakan dengan sederhana. Dan aku akan bertemu Hana untuk memberikan tanda pertunangan kami. Dan aku akan ke Rumah Sakit, setelah tahu kalau Hana sedang di Rumah Sakit menemani Kak Ranti yang sedang berobat.
Aku mengirim pesan kepada Hana setelah Kak Fitri memberikan nomor handphonnya. Tanggapan yang sangat tidak aku inginkan benar benar terjadi. Dan ketika aku bilang ingin menemuinya juga dia tidak memberikan respon. Akhirnya aku meminta alamatnya ke Bang Bagas.
Flash Back Off..
Ketika sampai di Rumah Sakit, aku melihat Hana tidak seperti Hana yang dulu, yang selelu ceria di depanku, selalu cerewet dan mudah tersenyum. Dan Han juga menjadi acuh terhadapku. Bahkan, ketika malam tiba dia pergi mengejar seorang Dokter dan tidak tahu siapa dia. Paginya wajah Hana terlihat bengkak seperti habis menangis. Entah apa yang sedang terjadi dengannya, di tanyapun dia tidak menjawab.
Pagi menjelang, aku membelikan sarapan untuk Hana, ternyata Hana sedang duduk termenung. Dan setelah sarapan, Hana mengajak aku untuk ke Taman yang berada di lingkungan Rumah Sakit.
Ini kesempatan aku untuk memasangkan cincin tunangan kami. Karena waktu kemarin Hana menolak keras, dan dia bilang kalau dia sudah mempunyai kekasih. Aku tidak peduli, karena aku sudah mendaptkan restu dari orang tuanya lebih dulu.
Tidak ku duga, Hana lebih berontak lagi, dia mencoba melepaskan cicin pertunangan itu yang sudah aku pasang ketika dia sedang lengah. Aku memang salah, tapi kalau tidak seperti ini tidak akan bisa. Dia tambah marah kepadaku. Sampai akhirnya dia menunjuk nunjuk wajahku, aku tidak suka di perlakukan seperti itu. Aku tersjlut emosi dan hampir saja menamparnya. Tapi ketika tanganku sudah mengayun, tiba tiba ada seorang Dokter yang berjalan kearahku. Kemudian dia memelototi aku, akhirnya aku tersadar dan menurunkan tanganku.
Kemudian aku meminta maaf atas kekhilafanku. Tapi Hana mengibaskan tangannya. Ya sudah, mungkin untuk saat ini aku akan memberi ruang untuk Hana, untuk memikirkan kedepannya nanti.
Aku pergi meninggalkan Hana yang sedang bercucuran air mata. Dan ketika aku akan berbelok, aku melihat Dokter tadi sedang membantu Hana untuk duduk. ' Siapa dia? ' kemudian aku berbalik dan mengamatinya. Tapi lagi lagi aku mendapatkan pelototan dari Dokter itu. Dengan perasaan kacau, aku memaksakan langkahku untuk meninggalkan Rumah Sakit ini. Memberi ruang untuk Hana berfikir.
**Bersambung...
__ADS_1
Mohon maaf teman teman, baru Up lagi.
Dan tetap beri aku dukungan, dengan Like, Komen, jadikan bacaan pavorit dan terimakasih sudah setia membaca🙏🙏**