TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Hari Raya Idul Adha


__ADS_3

Kemudian Ummi Aminah dan Dr. Arvi berlalu dari hadapanku. Aku menatap mereka sampai tidak terlihat lagi.


Alhamdulillah, aku bertemu dengan orang orang baik di sini, Dan aku harus banyak bersyukur...


...****************...


Entah karena merasa tenang, aku sampai tidak menyadari kalau hari ini sudah menjelang malam. Aku melakukan aktifitas hari ini seperti tidak ada beban. Jam besuk tiba, aku ke ruangan kaca seperti biasa setelah shalat magrib.


Dua hari berlalu aku merasakan ketenangan, aku kembali ceria dan bisa berbaur dengan orang lain. Semangatku semakin besar dan yakin Kak Ranti akan menemukan kesembuhan.


Tapi kesedihan kembali menyelinap ketika habis shalat magrib suara takbir berkumandang. Terdengar dari berbagai Mesjid di sekitar Rumah Sakit. Aku kembali menitikan air mata, karena Idul Adha saat ini aku berada di tempat yang tidak seharusnya.


Biasanya aku akan merasa senang ketika tahu bulan Haji tiba. Ya, karena, biasanya kita akan mendapatkan bagian daging dari Mesjid di sekitar rumahku. Wajar saja, aku merasakan makan daging itu bisa di hitung. Setahun sekali kalau bulan Haji tiba, atau ketika ada yang hajatan, itupun kalau di undang.


" Allahhu Akbar, Allahhu Akbar, Allahhu Akbar, Laailahaillallahhu Allahhu Akbar. Allahhu Akbar walillahilham"...


Gema Takbir terus berkumandang sampai pagi, aku juga tidak ikut melaksanakan shalat Ied karena aku takut ada panggilan untukku dari Ruang ICU.


Aku benar benar merasa sendiri kembali, karena melihat orang lain yang saudaranya berdatangan menjenguk. Aku duduk sendirian menonton mereka yang bersuka cita ketika ada keluarganya datang.


Jam besuk siang di buka, aku juga berniat untuk masuk ke dalam. Kak Ranti masih terlihat sama, tetap tidak bergerak dan matapun tetap tertutup.


" Pak, saya ijin mau ke dalam, " Ucapku. Aku menghampiri Pak Toni, Security yang berjaga di siang hari.


" Saya bilang dulu ke dalam ya Mbak, " Jawabnya. Aku mengangguk dan Pak Toni juga beranjak masuk ke Ruang ICU.


" Keluarga Bu Ranti, " Tidak lama kemudian terdengar Petugas ICU nya memanggilku. Alhamdulillah di permudah.


Aku langsung berlari menghampiri Pintu masuk, dan Pak Toni membukakan pintu.


" Silahkan Mbak, " Ucap Pak Toni.


" Terimakasih Pak, " Ucapku. Aku masuk dan seperti biasa, aku mencuci tangan terlebih dahulu dan mengganti sandalku.


Aku berjalan pelan menghampiri Bed di mana Kak Ranti tertidur.


" Kakk..." Panggilku. Aku mengguncang guncang lengannya. Mata Kak Ranti terbuka perlahan, dia Kembali meraih tanganku.


" Kak, ayo sembuh, sekarang kan hari Lebaran Idul Adha. Kemarin katanya kita mau membuat sate, " Ucapku terbata. Aku tidak bisa menahan kesedihan ini. Seharusnya aku tidak boleh melihatkan kesedihanku, tapi apa daya air mata ini malah meluncur dengan bebas. Aku menguaap kasar air mataku dan berusaha untuk menahannya agar tidak kembali meluncur.


" Emang sekarang hari raya? " Tanya Kak Ranti.


" Iya Kak, ayo yang kuat ya, Kakak pasti bisa, " Aku memberinya semangat.


" Iya, " Ucapnya. " Handphone mana? " Tanyanya lagi.


" Ada di sini, " Aku menunjukan tas slempangku. " Untuk apa? "..


" Enggak, waktu kemarin itu, Kakak minta handphone untuk nulis, kan kemarin enggak bisa berbicara, "..


" Ohh, kirain untuk apa, soalnya takut di marahi Suster, " Ucapku.

__ADS_1


Tidak lama aku mengobrol dengan Kak Ranti karena Kak Ranti harus istirahat lagi. Akhirnya aku kembali ke ruang tunggu dengan perasaan sedikit lega.


Tringg tringgg...


Ponselku berdering kencang, kemudian aku melihat siapa yang menelpon. Dan ternyata Kak Fitri. Aku segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.


" Hallo, Assalamu'alaikum Kak, " Ucapku.


" Wa'alaikumsalam Dek, " Ucap Kak Fitri di seberang.


" Bagaimana keadaan Kak Ranti? " Tanyanya. Aku sedikit kecewa ketika mendengar pertanyaan Kak Fitri. Kenapa tidak ada yang menanyakan kabarku? Setiap orang yang bertanya, pasti menanyakan kabarnya Kak Ranti. Aku tahu, Kak Ranti memang lagi sakit, tapi apa mereka juga tidak tahu kalau aku juga sangat butuh dukungan keluargaku.


" Masih seperti kemarin, " Ucapku terbata.


" Ohh, belum ada penjelasan lagi dari Dokternya bagaimana? "


" Belum Kak, cuma tadi aku masuk sudah bisa ngobrol dan masih dalam pengaruh obat, "..


" Mungkin iya, obat juga pengaruh, "..


" Sudah makan belum kamu Dek, " Tiba tiba saja suara Ibuku memotong pembicaraan Kak Fitri. Aku tak kuasa menahan tangisku ketika mendengar suaranya.


" Sudah, " Ucapku tercekat.


Karena tidak kuasa menahan tangisku, aku mengakhiri perbincanganku. Kadang aku merasa kesal dan marah, kenapa aku ada di sini? Di mana aku sekarang? Ini tempat paling asing yang aku singgahi. Mungkin aku ini terlihat seperti tidak ikhlas menemani Kak Ranti. Tapi sebenarnya, aku juga merasa prihatin dengan keadaannya. Mungkin karena aku merasa sendiri saja.


Sore harinya, Bang Bagas datang menjengukku. Seperti biasa dia membawakan makanan kesukaanku. Benar mungkin, aku hanya merasa kesepian, karena ketika ada Bang Bagas menjenguk hatiku sedikit tenang.


" Dek, kenapa cincin dari Arkan di kembaliin, " Tanya Bang Bagas serius.


" Dia datang ke Bengkel Abang, dan dia bilang mau langsung ketemu Bapak aja untuk meminta restu dan mengucap ijab qobul langsung walaupun kamu tidak ada, " Jelasnya.


" Lah, memangnya bisa, kan sama aja memaksa itu, " Aku benar benar tidak habis pikir dengan Kak Arkan. Bisa bisanya dia ngomong seperti itu, bukannya menikah itu tidak bisa ya kalau dengan paksaan? Apalagi aku nya juga tidak ada di rumah. Sungguh konyol memang dia..


" Ya gak tahu juga, " Bang Bagas menggedigkan bahunya.


" Lagian kenapa sih Dek, kamu tolak dia. Bukannya dulu kalian itu lengket seperti prangko? Kok sekarang jelas jelas dia mau melamar kamu, mau menjadikan kamu istrinya, kenapa tidak mau? "


" Banyak alasannya Bang, " Ucapku lirih..


" Abang aja dulu, atau Kak Ranti. Aku masih ingin sendiri, " Lanjutku.


" Abang gampang lah Dek, tidak apa apa Dek kasihan dia, "..


" Kan tidak boleh Bang kalau karena kasian, harus ada rasa dong agar kedepannya bisa baik, "..


" Emangnya sudah tidak ada rsa cinta? " Aku menggeleng. " Rasa sayang? " Aku kembali menggeleng.


" Jangan seperti itu Dek, kasihan anak orang, "..


" Biarin aja lah, " Ucapku enteng. Memang benar, aku sudah tidak mempunyai rasa apapun kepadanya. Atau karena rasa itu tergantikan dengan kehadirannya Dr. Afandi. Aku tidak paham juga. Karena sebelumnya juga, ketika menjalin hubungan dengan Mas Ali, aku tidak merasakan itu. Aku hanya merasa kasihan. Sungguh buruk nya aku ini.

__ADS_1


Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaan seorang lelaki, tapi semuanya terjadi begitu saja.


" Terus sekarang masih suka menelpon? "..


" Tidak ada Bang, semenjak dia kemarin marah juga dia tidak pernah hubungin aku lagi, "..


" Hati hati lah Dek, jangan seperti itu, " Aku menggedigkan bahuku.


Tidak terasa, hari sudah menjelang malam, dan Bang Bagas berpamitan pulang setelah jam besuk di tutup.


Aku tidak langsung ke tempat tidurku. Tapi aku duduk dulu di ruang tunggu depan. aku jadi teringat pesan Bang Bagas tadi. " Kamu harusnya minta maaf Dek, takutnya Arkan sakit hati. Setidaknya kamu bisa menjelaskan lagi kalau kamu belum siap atau bagaimana. Karena cara kamu mengembalikan cincinnya kurang benar, "..


Aku hanya terbengong ketika Bang Bagas berbicara seperti itu, karena? Kenapa semua menyalahkan aku? Kan dianya sendiri yang tidak mau mendengar penjelasanku.


Aku lelah banget, awalnya aku merasa senag ketika Bang Bagas datang. Tapi, ketika dia membahas tentang Kak Arkan, hatiku kembali bergemuruh. Apalagi apa? Aku harus meminta maaf? Apa benar aku yang salah?...


Setelah beberapa menit hatiku berkecamuk. Aku mengambil ponselku, kemudian melihat pesan yang masuk ke ponselku. Terlihat masih banyak pesan yang belum aku baca dari Kak Arkan. Kok aku jadi takut sih dengan adanya banyak pesan masuk itu.


Akhirnya, tanpa melihat apa pesan masuknya, aku membalas dengan meminta maaf dan menjelaskan sekali lagi, kalau aku belum siap menikah dan aku juga sudah punya pacar. Tanpa membaca lagi apa yang aku ketik, aku langsung mengirimnya dan mengembalikan ponselku ke dalam tas selempang yang setia aku bawa kemana mana.


Drrttt.. Dreeett...


Getaran ponselku mengagetkan ku, aku benar benar takut kalau Kak Arkan langsung membalasnya. Tapi kenapa aku melihat Pak Nana seperti ketawa sendiri ya? Jangan jangan dia yang mengirim pesan tadi.


Drrrtttt... Deerrrrrttrr...


Ponselku lembali bergetar dan aku juga kaget lagi.


Trriiinngg...


Triiiinnggg....


Suara panggilan di ponselku, aku segera mengambilnya takutnya urgent, tapi siapa malam malam seperti ini menelponku. Benar saja ketika ponselku sudah berada di tangan, panggilannya berhenti.


Aku penasaran dengan siapa yang mengerjàiku dari tadi. Dan ketika aku lihat, benar saja! Security itu sudah mengerjaiku.


"[ Mbak Hana, kenapa belum tidur? ]" Pesan pertama yang dia kirim


" [ Mbak Hana, lagi mikirin apa sih, kok kagetan seperti itu, ] "..


Karena kesal aku beranjak ke belakang, dan aku heran kenapa semua orang yang berada di belakang sudah tertidur pulas. Aku melihat jam di ponselku dan terkejut karena sudah jam dua belas malam.


Aku mencarger ponselku dan meninggalkannya. Aku segera pergi ke Toilet dengan perasaan takut, apalagi sekarang benar benar tengah malam.


Tok, tok, tok,..


Baru saja mengancingkan celanaku, pintu Toiletku ada yang mengetuk. Aku segera cuci tangan dan membukanya, tapi tidak ada siapapun di depan Toilet. Mataku melirik ke kanan dan ke kiri, tetap tidak ada orang satupun. Dan ketika keluar pun, semua orang sudah tertidur kecuali Security nya. Tapi tidak mungkin kalau dia yang mengetuk pintu, karena hanya sebentar dari aku mengancingkan celanaku kemudian buka pintu. Tiba tiba bulu kuduk ku meremang dan perasaan tidak enak muncul. Aku langsung tidur menutupi wajahku dengan kain.


Keesokan harinya, aku bangun terlambat. Jam lima lewat lima belas menit aku baru terbangun. Aku gelagapan karena belum shalat subuh. Aku langsung lari ke kamar mandi tanpa menghiraukan kejadian semalam. Setelah berwudhu, aku langsung shalat. Dan setelah itu aku baru mandi pagi.


Ruangan kembali terdengar riuh dengan orang yang berbincang.

__ADS_1


**Bersambung..


Terimakasih yang sudah membaca, jangan Lupa Likenya dan jadikan pavorit kalian**.


__ADS_2