TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Perjuangan Belum Usai


__ADS_3

Aku masuk Lift yang berada persis di depan ruangan Kak Ranti. Tapi, ketika aku menekan tombol delapan, Lift nya tidak bergerak. Aku panik bukan main, mana hanya aku sendirian yang berada di dalam Lift ini.


****************


Aku kebingungan dan takut, bagaimana caranya harus keluar dari dalam Lift ini. Mata ini terus berputar mencari cara agar bisa keluar, dan ya aku menemukan tombol bantuan diantara tombol yang berjejer dengan tombol lainnya.


Kemudian aku menekannya, benar saja ada suara dari dalamnya..


" Ada yang bisa di bantu?" Tanyanya.


" Ya, ko Liftnya tidak berjalan," Jawabku..


" Iya itu harus menggunakan ID Card,"..


" Lalu harus bagaimana?"


" Langsung saja tekan tombol untuk membuka pintunya, Jawabnya. Kurang lebih seperti itu percakapan kami.


Aku langsung menekan tombol buka, dan benar saja pintunya terbuka dengan cepat. Jantungku berdetak tidak karuan. Antara takut, bingung dan malu, pengen ketawa juga. "B*d*hnya aku," aku merutuki diri sendiri.


Aku keluar dengan cepat, takutnya kembali terjebak. Kemudian aku berjalan untuk kembali ke Lantai delapan. Tapi, baru saja sampai di depan Nurse station. Tiba tiba Dr. Ali mengagetkanku.


"Sudah Mbak daftar Flasmaferesisnya?" Tanyanya


"Be.. Belum Dok, tadi salah masuk Lift," Jawabku gagap wajahku sepertinya sudah bersemu merah karena malu.


"Lewat mana emangnya?" Aku menunjuk Lift tadi..


" Itu namanya Lift khusus mbak,"..


" Hehee, iya dok, saya permisi dulu, "..


Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung jalan setengah berlari menuju Lift yang biasa di pakai untuk umum.


Setelah mendaftar, aku kembali ke ruangan dan sorenya Kak Ranti di bawa ke Lantai delapan untk melakukan Flasmaferesis terakhirnya. Waktunya hanya sebentar saja kemudian kita kembali lagi ke ruangan.


Sesampainya di ruangan, menu makan malam sudah terhidang, karena memang sudah lewat adzan magrib. Aku memberikan dulu obat mestinonnya, kemudian shalat.


Selesai shalat kita makan bareng, kata Kak Ranti agar aku makannya habis. Karena memang selera makanku seperti menurun beberapa hari ini. Kak Ranti takut aku sakit.


Keesokan harinya, aktifitas pagi seperti biasa. Dari mulai bangun tidur, mandi, dan shlat. Kemudian selesai shalat petugas ruangan akan membawakan air hangat untuk mandi pasien. Kak Ranti biasanya di lap, tapi sejak bisa ke kamar mandi aku bawa ke kamar mandi untuk mandi.


Karena lagi flu dan batuk, jadwal paginya, Kak Ranti harus di uap, aku pun belajar cara masukin obatnya, dan aku membantu uap sendiri. Selang Oksigen juga di pasang lagi, karena benar benar kesulitan untuk bernapas efek flu dan batuknya.


****************


Waktu berlalu, matahari mulai tenggelam. Kegiatanpun berganti, seperti biasa, sebelum shalat magrib aku akan memberikan Obat mestinonnya terlebih dahulu agar kerja obatnya lebih optimal.


Tapi, kejadian yang tak terduga terjadi ketika Kak Ranti mau makan. Ketika mau menyuapkan nasi, mulutnya terasa kaku lagi, Kak Ranti memaksanya dan ketika mau menelan makanannya, lidahnya tidak bisa mendorong makanan. Ketika di paksakan untuk menelan, malah menyembur lagi.


Akhirnya aku memanggil Suster.


"Mestinonnya sudah di minumkan belum Mbak?" Tanya Susternya.


"Sudah Sus, sekitar lima belas menit sebelum makan,"Jawabku.


"Dahaknya banyak, sepertinya harus rontgen lagi untuk memastikan Paru paru nya baik baik saja," Ucap Dokter jaganya, beliau datang setelah Suster memberitahukan keadaan Kak Ranti.

__ADS_1


Padahal waktu siang juga sudah di cek dahaknya, dan hasilnya bagus.


Akhirnya sekitar habis isya, Kak Ranti di bawa ke Gedung Radiologi untuk di Rontgen ulang. Tidak harus menunggu antrian, kak Ranti langsung di fhoto Rontgen dan hasilnya bisa di ambil sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.


Baru saja sampai di ruangan, kak Ranti kembali batuk batuk dan dahaknya seperti banyak sekali nyangkut di tenggorokan. Tapi karena keadaan pipinya kaku, kak ranti tidak bisa mengeluarkan dahaknya itu. Batuk terus menerus dan seperti kesulitan untuk bernafas. Melihat seperti itu aku lari keluar untuk memanggil Susternya lagi.


" Permisi Sus, tolong Kakak saya, batuknya gak bisa berhenti, terus wajahnya kaku lagi gak bisa ngeluarin dahaknya," Ucapku dengan nada khawatir.


"Iya Mbak sebentar," Jawab Susternya santai. Akupun kembali keruangan dengan mendapatkan Kak Ranti seperti kebhabisan napasnya, wajahnya terlihat memerah dan benar benar mengkhawatirkan. Karena Susternya tidak datang juga, kemudian aku kembali lagi, dan bilang kalau wajah kak Ranti benar benar kaku.


"Ini harus pasang NGT lagi ya Mbak, karena Mbak Ranti Harus minum obat,"Ucap Susternya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Suster memasang NGT langsung lewat hidung, badan Kak Ranti mengambul keatas seperti sangat kesakitan. Airmatanya meleleh hanya tidak bersuara.


Selesai di pasang NGT, Kak Ranti di sedot dahaknya menggunakan selang , aku melihatnya gak tega. Sampai akhirnya nafas Kak Ranti terlihat teratur kembali setelah beberapa lama di sedot dahaknya.


Aku bernapas lega ketika melihat Kak Ranti sudah bisa bernafas dengan baik, dengan bantuan Oksigen juga. Akhirnya aku minta izin ke susternya untuk mengambil hasil rontgennya..


"Sus, aku tinggal dulu ya, mau mengambil hasil rontgennya," Ucapku.


"Emang harus di ambil sekarang?"..


"Iya Sus,"..


"Oh ya sudah,".


Kemudian aku berlalu dari ruangan itu, dengan perasaan was was meninggalkan Kak Ranti dan juga sedikit takut karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aku tidak berani masuk Lift, dan terpaksa lewat tangga.


"Mau kemana Mbak?," Tanya Security di pintu keluar.


" Mau ngambil Hasil rontgen Pak," Jawabku.


"Tidak Pak, terimakasih,"..


"Hati hati di depan ada belokan Mbak," Ucapnya. Terdengar seperti sedang menakut nakuti. Aku hanya mengangguk dan meninggalkannya.


Sesampainya di Gedung Radiologi, aku mengetuk kaca yang ada bolongnya sedikit, karena sudah di beritahu sama petugas ruangan tadi, kalau ngambilnya lewat situ.


Tok, tok, tok...


"Permisi..!" Ucapku. Tidak lama kemudian, tutup kaca itu bergeser. "Iya, ada yang bisa saya bantu?"..


"Mau ngambil hasil rontgen," Jawabku. Aku menyerahkan kertas pengantarnya. Kemudian petugas itu mengambilnya.


Setelah menunggu sekitar lima menit ,petugasnya menyerahkan hasil rontgennya. Akupun kembali ke ruangan dengan menaiki tangga walaupun terasa capek, karena dari loby sampai lantai lima.


Hosh..


Hosh..


Hoshh..


Aku berhenti sebentar ketika sampai di lantai lima, suasana sangat sepi karena mungkin yang lainnya sudah tertidur.


Dan sesampainya di ruangan, Kak Ranti sudah terlihat diam.


"Oksigen tidak boleh putus ya mbak, kalau airnya habis tambahin lagi pakai air mineral,"

__ADS_1


"Bagaimana caranya Sus? Tanyaku.


"ini tinggal di putar aja tabungnya, terus isi sampai batas ini,"..


"Baik Sus,"..


Setelah Suster keluar, wajah Kak Ranti tiba tiba mendung,..


"Kenapa Kak? Masih sakit,"..


"Kenapa jadi seperti ini lagi?" tanyanya dengan terbata, air matanya meleleh..


"Sabar ya Kak, kita ikutin saja sampai mana. Apa yang kata Dokter itu yang terbaik. Kita kan tidak tau apa apa" Jawabku.


"Tapi Kakak sudah tidak sabar untuk pulang,"..


" Sama Kak, tapi mau bagai mana lagi. Kakak harus sembuh dulu,"..


Kak Ranti, benar benar murung malam ini. Kemudian aku menyuruhnya untuk tidur agar obatnya bekerja dengan baik.


Pagi harinya, badan Kak Ranti panas sepertinya demam, setelah makan kak ranti langsung minum paracetamol dan semuanya pemberian makan, minum, dan pemberian obat lewat selang NGT.


Setelah minum obat, demamnya mulai turun. Tidak lama kemudian datang Dokter THT keruangan, beliau langsung kaget melihat Kak Ranti sudah di pasang NGT lagi.


"Kenapa di pasang NGT lagi?" Tanyanya.


"Semalam Kakak saya tidak bisa menelan makanan lagi Dok," Jawabku.


"Kenapa tidak di konsulin dulu ke kita?" Tanyanya.


"Karena semalam darurat Dok,"..


"Kalau seperti ini, Mbak Ranti harus Fees lagi atau latihan menelan,"..


"Baik Dok," Jawabku.


Setelah memberikan beberapa pertanyaan Dr. Kristin mengkonsulin untuk melakukan Fees..


Keesokan harinya, Kak Ranti di bawa ke bagian Poli Rawat Jalan di Lantai empat bagian THT.


Setelah persiapan untuk Fees sudah siap, kak Ranti pun di suruh duduk di kursi husus menghadap monitor, aku juga bisa melihat langsung dari monitor yang di sebelah kanan Dokternya.


Dokter mulai memasukan alatnya yag sudah ada kameranya, setelah memasukan alatnya. Dokter mulai memberikan makanan yang sudah di bagi menjadi beberapa tekstur, mulai dari yang lembut sampai yang keras. Ternyata benar, masih ada makanan yang masuk ke jalan nafas.


Setelah selesai Dokter Kristin menjelaskan, kalau Kak Ranti tidak bisa makan lewat mulut. Untuk sementara harus pakai selang NGT, karena kalau di paksakan makan lewat mulut bisa infeksi paru paru.


Aku menghela nafas lwbih dalam lagi, merasa kasihan dengan kondisi Kak Ranti seperti itu.


"Oh ya Mbak, Mbak Ranti nanti konsul ke Rehabilitasi Medik untuk terapi makan ya, ini surat pengantarnya," Ucap Dr. Kristin, ia memberikan selembar kertas untuk pengantarnya.


"Baik Dok, terimakasih Banyak," Ucapku.


Waktu bergulir dengan cepat, tidak terasa sudah sore aja. Dr. Ali mampir ke ruangan memberitahukan kalau besok sudah bisa pulang.


Dengan artian masih harus menjalankan kontrol sebulan sekali, harus ke Rehabilitasi Medik untuk menjalani terapi. Dan yang lebih penting harus Radiasi.


Ada sedikit kebahagian yang terpancar dari wajah Kak Ranti, begitupun aku. Akhirnya kita bisa pulang juga walaupun masih tetap harus kontrol rutin.

__ADS_1


Aku bingung harus pulang kemana, dan akhirnya akupun memberitahukan berita bahagian ini lepada Kakak iparku juga Bang Bagas. Mereka akan menjemputku besok dan mendiskusikan bagaimana nantinya mencari tempat tinggal sementara untuk melakukan kontrol rutin itu. Karena sepertinya, akan ada tiap hari harus pulang pergi ke rumah sakit, terutama untuk radiasi, hanya libur di hari sabtu dan minggu saja.


Aku juga tidak lupa memberi kabar kepada Kak Fitri. Dan Kak fitri juga merasa senang. Dalam pikiran kami, karena sudah bisa pulang berarti sudah sembuh. Padahal perjalanannya masih panjang.


__ADS_2