TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Setelah pemeriksaan dan lain lain, Kak Ranti di suruh beristirahat terlebih dahulu dan beberapa Suster itu kembali meninggalkan kami. Sekarang hanya tinggal aku, Kak Ranti dan juga Bang Ilham.


...****************...


Terlihat Kak Ranti masih sangat lemas, selang infus dan oksigen masih terpasang dan tidak boleh lepas atau habis isinya. Akupun belajar bagaiman mengisi tabungnya. Karena Kak Ranti menggunakan oksigen yang menempel di dinding, bukan yang dari tabung besar.


Karena masih bingung, aku tidak mempersiapkan apapun untuk keperluan Kak Ranti. Kateter urin, atau selang yang di gunakan untuk buang air kecil pun masih terpasang, tapi Kak Ranti bilang itu tidak nyaman.


Sekitar jam Lima sore, Bang Bagas sampai di ruangan.


" Bang, mana popoknya? " Tanyaku.


" Beli aja sendiri, Abang gak tau, "..


Aku sedikit kesal, padahal tadi aku sudah memesannya lewat pesan dan dia juga bilang iya, tapi Bang Bagas tidak membelikannya.


" Biasanya beli di Agen biar harganya lumayan, " Bang Ilham menimpali.


" Iya, tapi sekarang sudah sore banget, " Jawabku memelas. Rasanya air mataku mau jatuh, kenapa aku jadi sedih sepeti ini. Aku membutuhkan popok itu, karena Kak Ranti belum bisa ke kamar mandi. Bangun saja belum bisa apalagi harus berjalan.


Kalau dari tadi Bang Bagas tidak mengiyakan, mungkin aku sudah membelinya. Tapi, kalau sekarang harus ke pasar, walaupun dekat. Aku merasa takut, kalau harus sendirian.


" Selamat sore, " Aku mendongak. Suara yang tidak asing bagiku, suara yang selalu memberikan keceriaan dan suara yang selalu mensuport dan memeberi semangat untuk Pasien pasiennya. Siapa lagi kalau bukan Dr. Husen datang melihat keadaan Kak Ranti.


" Bagaimana kabarnya Mbak Ranti, berapa lama di ICU? " Tanyanya.


" Seperti ini aja Dok, " Jawab Kak Ranti lemas.


" Semangat dong, " Dr. Husen tidak lepas tersenyum agar Kak Ranti semangat kembali.


" Sekarang apa yang di rasakan? " Tanyanya lagi.


" Ini aja sih Dok, tidak nyaman, " Keluh Kak Ranti. Kak Ranti menunjuk ke selang kateternya.


" Apa bisa di lepas Dok? " ..


" Oh, ini ya. Eemm, nanti bisa di lepas kok. Mbak nya latihan dulu untuk bangun, setelah itu latihan juga untuk berjalan, baru bisa di lepas, " Ucap Dr. Husen.


" Oh iya, sekarang Dokternya di ganti ya sama Dr. Yanuar, saya masih ada tugas lain soalnya, " Ucapnya. Dokter yang berada di samping Dr. Husen tadi tersenyum ramah dan juga memperkenalkan diri. Setelah itu, keduanya berpamitan.


" Mau makan apa Dek? " Tanya Bang Bagas.


" Iya Abang mau keluar, sekalian shalat. Mau nitip apa? " Timpal Bang Ilham. Karena memang waktu sudah menunjukan jam enam sore.


" Apa saja Bang, " Ucapku.


Setelah terdengar suara adzan maghrib, Bang Ilham dan Bang Bagas bergegas keluar.


" Jangan lama lama Bang, " Ucapku.

__ADS_1


" Iya, " iya sahut Bang Bagas.


Setengah jam berlalu, kedua Abangku belum pulang. Akhirnya aku shalat di ruangan karena Kak Ranti tidak ada yang jaga.


Tidak lama kemudian, makan sore atau malam untuk Kak Ranti datang. Akupun mendinginkannya terlebih dahulu dan menyuapinya pelan. Sampai adzan isya, kedua Abangku belum terlihat batang hidungnya, apa dia langsung pulang?


" Kak, kemana Bang Ilham sama Bang Bagas sih, kok lama sekali? Apa mereka sudah pulang? " Tanyaku.


" Iya ya, apa sekalian shalat Isya?! " Jawab Kak Ranti.


" Oh iya juga sih, tidak mungkin pulang tidak mengabari dulu, "..


Selesai shalat Isya, Bang Ilham dan Bang Bagas datang dengan membawa kantong kresek di tangannya masing masing.


" Ini Dek makan malamnya, " Ucap Bang Bangas. Dia menyerahkan kantong kereseknya di susul oleh Bang Ilham.


" Ini untuk cemilan Dek, sama ada tisu di dalamny, "..


" Oke, terimakasih, " Ucapku.


" Abang pamit pulang dulu ya, takut kemalaman sampai ke sananya, " ..


" Iya, " Jawabku pendek. Entah kenapa aku selalu bersedih ketika mereka yang menjenguk berpamitan untuk pulang. Seperti ada yang hilang, padahal aku harus sadar, karena akulah satu satunya yang di sini.


Setelah kedua Abangku pulang, aku langsung memberikan obat untuk Kak Ranti. Dan sebelum makan tadi, Kak Ranti juga sudah minum dulu Obat satu satunya untuk penyitas Myasthania Garavis, yaitu Mestinon.


" Iya Kak, " Aku langsung mengambil bungkusan yang di bawa Bang Bagas tadi. Perut sudah berbunyi tidak sabar dan aku segera membukanya.


" Waaaww, " Ucapku. Aku tersenyum ketika menu makanan kesukaanku ada di depan mataku. Semur jengkol dan tongkol cabe, sungguh membuat air di lidahku menetes hhahh..


" Kak, mau tidak? " Tanya ku. Aku melihatkan isi menu makanku ke Kak Ranti.


" Heemm, kalau sudah boleh makan makanan seperti itu, sepertinya kakak lebih baik makan itu, " Ucapnya terkekeh.


" Hehe, maaf ya Kak, "..


" Iya tidak apa apa, ya udah habisin kasian kalau gak di habisin, "


" Tapi ini banyak banget tau Kak, "..


" Ya tidak apa apa Dek, biar nanti pas kita pulang kamu tidak kelihatan kurus, "..


" Lah, ini aja udah segede begini Kak, " Aku merengek. Mau di besarin seperti apa lagi badanku ini. Walaupun timbanganku empat puluh kilo, tapi kalau nambah lagi akan tidak sesuai dengan tinggi badanku. Karena sekarang aja kelihatannya sudah bulat.


" Hahahah, " Kak Ranti tertawa sambil memegang bekas Operasinya. Mungkin terasa ngilu ketika tertawa lebar dengan spontan.


Aku ikut tertawa melihat Kak Ranti tertawa. Aku merasa senang agar Kak Ranti tidak terlalu memikirkan sakitnya. Matanya terlihat sayu tapi senyumannya masih terukir di bibirnya yang sedikit pucat.


" Kak, istirahat aja dulu, " Ucapku. Kemudian aku membantunya untuk tidur. Alhamdulillah, tadi Kak Ranti sudah berusaha untuk bangun sendiri tanpa bersender lagi di ranjangnya.

__ADS_1


" Tidur di sini saja Dek, " Ucap Kak Ranti.


Iya juga, bad cover dan bantal yang tadi aku bawa dari ICU tidak lolos di pintu masuk. Aku sampai berdebat, karena memang barang dua itu sangat di perlukan untuk perlengkapan aku tidur.


" Maaf Mbak, bantal ini untuk siapa ya? " Tanya Security yang berada di Loby.


" Ini punya aku, " Ucapku. Dan itu adalah jawaban yang salah, kenapa aku tidak bilang punya Kak Ranti aja. Karena memang yang menjaga di larang membawa barang bawaan yang banyak, hanya cukup untuk pasien saja. Lah iya kalau rumahku dekat dari sini, mungkin aku tidak harus membawa barang bawaan yang banyak.


" Mbak, tidak harus membawa bantal lagi, di sini sudah tersedia semua untuk pasien, "..


" Tapi Pak, ini untuk aku tidur, " Ucapku kekeh.


" Iya tidak bisa Mbak, apalagi untuk Mbaknya, untuk pasien aja sudah di sediakan dari sini, " Ucap security itu.


" Silahkan di titipkan di tempat peniyimpanan, "..


" Tapi Pak, " ucapku lesu.


" Sudah Mbak titipkan saja, di basman sana, " Securitynya memberitahu arah tempat penitipan barang. Dengan terpaksa, aku melangkah meninggalkan Security itu dan mencari dimana tempat penitipan barang.


*


Akhirnya aku tidur seranjang berdua dengan Kak Ranti, Kaki di kepala, kepala di kaki bentuknya. Itupun aku selalu was was takut ada Suster yang melihat dan kena marah lagi. Mau tidur di mana lagi kalau bukan seperti ini karena tidak mungkin tidur di lantai langsung.


Baru sebentar rasanya aku terlelap, Kak Ranti sudah membangunkan.


" Dek, Dek, bangun..! " Ucapnya pelan. Aku segera bangun.


" Kenapa Kak? " Tanyaku.


" Kakak BAB Dek, " Ucapnya. Huffttt...


Benar saja, Kak Ranti BAB dan tidak memakai popok, pasti kemana mana.


Aku mengambil air di ember yang ada di kamar mandi dan mengelapnya memakai washlap untuk membersihkannya. Akupun mengganti celananya dan setelah itu aku kembali tidur.


Baru beberapa menit aku tertidur, Kak Ranti kembali membangunkanku. Sampai pagi aku tidak merasakan tidur dengan benar. Lebih dari lima kali Kak Ranti BAB, dan aku harus bolak balik ke kamar mandi juga harus mengganti celananya. Sungguh membuat aku kesal, tapi itu hanya sesaat saja. Mungkin karena terlelap baru sebentar dan sudah di bangunkan membuat kepala aku jadi pusing.


Aku harus segera konsultasikan dengan Dokter, takutnya berakibat fatal untuk Kak Ranti. Wajahnya pun pucat dan sayu.


Karena sampai pagi belum berhenti, aku langsung mengkonsulin ke Suster yang datang untuk memeriksa air infus dan mengecek tensi darah Kak Ranti.


" Mungkin nanti saja di Konsulin langsung ke Dokter nya Mbak, " Ucap Susternya.


Sekitar jam tujuh, seorang Dokter datang dan menyapa Kak Ranti..


**Bersambung..


Terimakasih yang sudah baca, dan jangan lupa di Like dan di vote ya**..

__ADS_1


__ADS_2