TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Plasmapheresis..


__ADS_3

" Bagaimana ya, aku bingung mau ngomongnya..!! " Ucapnya.


 


" Dek, masih di situ kan.? " Tanyanya lagi.


" Mmmm " Aku hanya menjawab dengan deheman.


" Mmm, adek asli orang mana..? "


" Aku Orang CiA*** " Jawabku.


" Dek, aku ingin lebih dekat lagi boleh tidak..? " Tanyanya. Aku tidak menjawabnya karena bingung. " Tapi kalau pun dilarang aku akan terus ngedeketin " Lanjutnya.


" Kalau aku tidak mau bagaimana..? " Tanyaku spontan.


" Aku tetap deketin, mulai malam ini kamu milik aku " Ucapnya. " Tuutt...! " panggilan terputus. Aku hanya menganga saja, ah salah denger kali aku.


Malam ini, aku tidak bisa tidur, kenapa aku jadi kepikiran ucapan Dokter itu..? Bagaiman kalau besok bertemu lagi.? Ahh, mau ngumpet dimana aku.


******


Pagi harinya, Dr. Husein datang. Dokter yang selalu tersenyum penuh keceriaan dan semangat di pagi hari.


" Bagaimana kabarnya hari ini..?" Sapanya ketika sampai masuk Ruangan Kak Ranti.


" Baik Dokter " Sahutku.


" Oh ya, hari ini tolong minta acc ke Pak Mufti untuk pemasangan Mahokar alat untuk Plasmaphersis." Katanya. Apalagi, banyak banget tahapannya. Semoga Kak Ranti kuat.


Tapi aku tidak di kasih pengantarnya oleh Dokter Husein, aku malah disuruh ke Lantai delapan untuk mendaftar Plasmapheresis. Sesampainya di Lantai delapan, aku bilang mau daftar untuk Plasmapheresis.


" Maaf Mbak, apa Pasien sudah di pasang mahokar..? " Tanya petugas ruangannya.


" Belum Bu." Jawabku.


" Acc ke Pak Mufti sudah atau belum..? " Tanyanya lagi. " Belum Bu, tadi tidak di kasih surat pengantarnya " Jawabku.


" Ya sudah, ini tolong berikan ke Dr. Husein ya, nanti kalau sudah acc ke Pak Mufti baru bisa di pasang Mahokar dulu baru Plasmapheresisnya " Jelasnya panjang lebar.


" Baik bu, terimakasih." Ucapku. Aku kembali ke lantai lima, berharap bertemu Dr. Husein. Benar saja Dr. Husein ada melintas.


" Dokter." Panggilku. Dr. Husein menoleh dan berhenti. " Sudah daftarnya Mbak.? " Tanyanya.


" Harus acc dulu ke Pak Mufti Dok, ini surat pengantarnya dari Lantai delapan " Ucapku. Aku menyerahkan suratnya ke Dr. Husein


" Ya sudah, ikut saya." Ucapnya.

__ADS_1


Aku mengikutinya dari belakang, Dr. Husein juga sama, lebih memilih turun tangga dari pada lewat Lift. Aku mengikutinya dari belakang persis kemarin waktu sama Dr. Afandi. Tapi langkahnya Dr . Husein tidak seperti Dr. Afandi, dia melangkah cepat tapi masih bisa aku imbangi.


Sesampainya di Baseman. Pak Muftinya tidak ada sedang rapat, akhirnya aku di suruh ke UPPJ. Dan disitu Dr Husein pamit dan tidak bisa mengantarku ke UPPJ.


Aku terus berjalan tak tau arah, aku mengikuti langkah kakiku. " Mbak, Mbak, " Teriaknya. Aku menengok kebelakang dan melihat ada ibu ibu sedang melambai lambaikan tangannya.


" Mbak jangan lewat kesitu " Teriaknya lagi. " Haah, kenapa..? " Tanyaku dalam hati. Akhirnya aku mengambil jalan lain dan bertanya sama orang yang aku lewati.


" Permisi Bu, aku mau tanya kalau jalan mau ke UPPJ lewat mana ya.? " Tanyaku. Ibu itu meunjukan jalan k UPPJ. Setelah berterimakasih aku pamit. Dan setelah mendapatkan acc, aku kembali ke Ruangan Kak Ranti.


Ting.. Pesan masuk


" [ Dek, jangan lupa sarapan ] " . Ada rasa hangat dalam hatiku, hati yang dulu membeku seperti mencair. Aku kembali tidak membalas pesannya.


Tidak pernah terbayangkan untuk bersanding dengan seorang Dokter. Aku yang dari kecil hidup dalam kesusahan, tidak ada pikiran jauh jauh untuk melangkah, bahkan punya cita citapun aku tidak pernah. Orang tuaku sibuk di Sawah, dan aku sendirian di Rumah, bebas tapi tegas. Ya, orangtuaku membebaskan waktu untukku. Tapi tegas dengan tugas aku di rumah, bahkan dari umur tujuh tahun pun aku sudah bisa memasak, padahal memasaknys memakai tungku. Dididik keras dari kecil, dan sejak keluar SD aku sudah berpisah dengan orangtua karena aku ingin melanjutkan Sekolah jadi aku diam di Yayasan.


Aku tidak pernah memikirkan ingin jadi apa kalau besar, atau tujuanku kedepan apa?. Semuanya terhalang dengan biaya. Makanya aku takut, untuk melangkah. Apalagi ini, seorang Dokter Spesialis Bedah, aku takut jatuh nantinya.


Tapi tidak dengan hatiku, jujur dari awal bertemu sudah ada sebuah rasa yang entahlah, tidak bisa diucapkan.


*********


Siang berganti sore, waktunya Kak Ranti di pasang Mahokar. Bu Tini, petugas ruangan yang setiap hari bertugas mengantar atau lebih tepatnya mendorong pasien yang mau menjalani tindakan datang ke ruangan.


" Mbak Ranti, waktunya pasang Mahokar kelantai delapan. " Ucapnya.


Aku berjalan mengikuti Kak Ranti dari belakang. Bu Tini membawa kita lewat Lift khusus, membukanya harus pakai kartu.


Sesampainya di Lantai delapan, Kak Ranti berbaring di Bed. Tindakan di mulai dengan oprasi kecil, oprasi untuk memasukan Mahokar, bentuknya seperti kabel. Tindakan ini tidak memakan waktu lama, sejam pun tidak ada. Setelah itu kita kembali lagi keruangan.


Malam pun tiba, aku makan malam dengan membelinya di luar tadi. Aku juga membeli sedikit cemilan untuk menemani waktu luangku.


Setelah shalat isya, aku bersiap untuk tidur, karena memang aku tidak biasa tidur terlalu larut dan aku juga tidak ada kerjaan jadi ngantuk.


*** Dengarkanlaahhh, Wanita pujaanku..***


Dering ponselku berbunyi, aku kembali bangun dan Dr. Ganteng yang menelphon. Untung saja volumenya aku kecilin. Aku tidak mengangkatnya, dan aku mendiamkannya sampai berhenti sendiri.


Ting.., Pesan masuk..


" [ Dek, sudah tidur? ] " Isi pesannya. Lagi lagi aku bingung harus bagaimana.


" [ Dek, ko tidak di balas, masa jam segini sudah tidur sih ]" Isi pesannya dengan emot sedih.


Dia kembali menelphonku tapi aku rijek. " [ Dek, please..!! Jangan cuma di baca doang, aku tau kalau kamu belum tidur ] " Makin kemana mana aja.


" [ Jangan ganggu aku, aku mau bobo ] " Tulisku. Ku pencet tombol send dan Tring.. Pesan terkirim.

__ADS_1


" [ Mau di nina boboin tidak ] " . Aku bengong, dan ku baca lagi pesan yang aku kirim tadi. Aku terbelalak dan menepuk jidatku. Ya ampuunn..!! Kenapa aku tidak sadar dengan apa yang aku tulis. Huhuhu, mau ditaro dimana mukaku.


" [ Dek, kenapa kamu mambuat aku tidak bisa melupakanmu, aku mungkin sudah jatuh cinta Dek sama kamu. I Love You..] "


" [ Tolong jangan abaikan aku Dek, aku ingin kenal kamu lebih dekat lagi ] " Lanjutnya.


Hati perempuan mana yang tidak meleleh di kirimin pesan seperti itu, tapi aku tidak boleh terkena rayuan gombal laki laki, apalagi tidak tau dia itu siapa, kenal juga baru.


Lagi lagi aku mengabaikannya. Akhirnya aku tertidur setelah memakai hedset.


***********


Kumandang adzan subuh membangunkanku. Aku segera ke Kamar Mandi untuk mandi dan wudhu. Aku harus cepat cepat mandinya karena, pernah lagi asik mandi ada satu pasien yang kebelet, akhirnya aku di marahin sama petugas ruangannya.


" Mbak, kalau ke kamar mandi jangan lama lama, di sini kita mendahulukan pasien dan bla bla bla.." Karena waktu itu Si Pasien sampai teriak teriak karena kebelet. Aku meminta maaf dan sekarang kalau mau ke Kamar Mandi aku selalu cepat cepat dan sebelum pasien pada bangun.


Selesai shalat, aku duduk manis sambil mainin ponselku. Tiba tiba aku kaget ketika Dokter Ganteng itu sudah ada di Ruangan.


" Dokter..! "


" Sudah sarapan belum.? " Tanyanya. Haahh.. Lagi lagi aku hanya melongo.


" Terimakasih Dokter, nanti saja, masih pagi " Ucapku.


" Kak Rantinya belum bangun Dok." Ucapku lagi.


" Sssttt., Dokter itu mengisyaratkan jangan berisik dengan menaruh jari telunjuknya di mulut.


" Aku ke Ruanganku dulu ya," Ucapnya. Aku mengangguk dan Dr. Afandi juga berlalu dari ruangan ini.


" Kak bangun " Aku mengguncangkan bahunya. " Bangun, sudah setengah enam " Ucapku lagi.


Kegiatan pagiku adalah membantu Kak Ranti untuk ke Kamar Mandi, memapahnya dan membantu membawa air infusnya. Selesai dari kamar mandi, aku membantunya makan, walaupun lewat selang NGT, tetap harus di bantu karena memerlukan waktu yang lama.


Jam delapan tiba, Dr. Husein datang menyuruhku ke Lantai delapan untuk administrasi Plasmapheresis yang pertama. Akhirnya aku ke Lantai delapan dengan membawa pengantarnya dan langsung daftar. Aku tercengang ketika setelah administrasi melihat biaya yang digunakan. Satu kali saja sudah lima juta lebih. Ya Allah, Alhamdulillah, Kak Ranti ada Jaminan Kesehatannya. Bersyukur, uang dari mana kalau harus bayar Umum.


" Mbak, setelah ini, ke UPPJ ya untuk acc " Kata petugas ruangannya.


" Baik Bu.." Setelah itu, aku kembali lagi ke lantai lima untuk mengambil berkas lain.


" Mbak, Mbak.." Panggilnya. Suara itu..? Aku menengok kebelakang, dan Dr. Afandi menghampiriku.


" Mbak harus ke PJT untuk daftar Ecocardio " Ucapnya. " Tapi sekarang ke UPPJ dulu untuk acc " Lanjutnya.


" Ya sudah, nanti aku juga mau ke UPPJ " Jawabku. Ada yang beda, kenapa kalau di jam kerja dia selalu memanggil aku Mbak dan di luar kerja dia selalu memanggil aku Adik. Huuhh sungguh aneh Dokter ini.


Setelah mengambil berkas, aku menunggu Lift terbuka dan aku tidak sadar kalau Lift itu ternyata sedang naik. Pintu Lift terbuka dan aku masuk kedalam Lift itu, ada beberapa orang juga di dalamnya. Tapi, kenapa Liftnya naik..?? Aku baru tersadar.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2