
Dan masih ada beberapa pesan lagi yang malas aku buka. Aku beralih melihat ke panggilan tak terjawab, terlihat ada dua puluh tiga kali panggilan yang tidak terjawab, dan ponselku kembali bergetar lagi, aku melihatnya ternyata Kak Arkan yang memanggil.
Aku memutuskan untuk mematikan ponselku dan mengisi dayanya. Aku akan mengistirahatkan tubuhku sebentar agar nanti sore sedikit lebih segar.
Adzan Ashar membangunkanku, sakit di kepalaku sudah hilang. Ternyata aku tertidur sangat pulas hampir dua jam, dan itu membuat tubuhku menjadi segar kembali.
Kemudian aku beranjak ke Kamar Mandi untuk mandi dan berwudhu, setelahnya aku shalat Ashar.
Oh iya, aku lupa kalau ponselku tadi di charger, aku melihatnya baru sembilan puluh lima persen. Aku melanjutkan shalat Ashar dulu agar dayanya penuh sempurna.
" Kak mau tidak, suamiku bawa roti ini, " Ucap Mama nya Elsa ketika aku sedang melipat mukena.
" Boleh, satu saja Bu, nanti aku terlalu kenyang, " Ucapku.
" Ini, tidak boleh menolak, " Ucapnya. Mama nya Elsa memberikan lima potong roti itu ke hadapanku.
" Ini kebanyakan Bu, " Ucapku lagi.
" Sudah, nanti untuk malam, tidak apa apa, " Akhirnya aku menyerah, tidak baik juga aku menolaknya, ini rezeki untukku.
Kemudian aku memakannya satu, dan aku menaruhnya untuk nanti malam.
Karena suaminya sudah datang, Mama nya Elsa banyak berbincang dengan suaminya juga ada keluarganya. Jadi aku memutuskan untuk ke ruang tunggu depan, di bangku.
Aku memeriksa ponselku yang baru saja aku hidupkan.
" [ Sudah ya, besok aku akan kesana untuk menemui kamu, aku sudah dapat alamat Rumah Sakitnya, ] " Deggg, jantungku langsung berdebar tidak karuan. Itu pesan yang baru dan hanya ada satu pesan yang masuk karena pesan yang tadi sudah aku hapus semua.
Tidak, tidak boleh terjadi, aku harus bagaimana ini? Aku merasa kelimpungan sendiri.
Setelah menimang nimang, aku memutuskan untuk menelfon Bang Bagas.
Ttuuuuttttt....
Panggilan pertama, tidak ada jawaban.
Tuuutttttt.....
Dan akhirnya di panggilan yang ke dua, Bang Bagas mengangkatnya.
" Hallo, Assalamu'alaikum Bang, " Ucapku dengan bibir bergetar menahan tangis.
" Iya Hallo, Wa'alaikum salam, Dek, " Jawabnya.
" Bagaimana keadaan Kak Ranti Dek ? "..
" Bang, aku ingin pulang, " Ucapku. Aku tidak menghiraukan lagi pertanyaannya.
" Pulang kemana?, ngawur kamu, "
" Kak Ranti tidak bangun bangun Bang, "..
" Iya, makanya tungguin dulu Dek, di sini Abang lagi cari uang untuk pengobatan kedepannya nanti, "..
" Baaangg, aku cape, aku ..
" Deeek, apa kamu tidak sayang sama Kak Ranti? Kamu tahu tidak, dia itu sedang berjuang untuk kembali bangun dengan keadaan sehat, dia butuh kita sebagai keluarganya, untuk menjadi semangatnya untuk sembuh. Kak Ranti itu dalam keadaan koma, harusnya kita itu terus mensuportnya juga mendo'akannya, " Bang Bagas menjelaskan. Di situ aku sudah tidak berkata kata lagi, air mataku sudah luruh membasahi pipimu, isak ku semakin kencang ketika Bang Bagas kembali berbicara.
" Dek, sudah makan belum? " Tanyanya.
" Sudah jangan menangis Dek, jangan banyak pikiran, kalau kamu sakit siapa yang jagain Kak Ranti, "..
__ADS_1
" Dekk..!! "..
" Bang, kenapa Abang kasih tahu Kak Arkan alamat Rumah Sakit ini,? " Akhirnya setelah beberapa saat aku mengatur napasku. Aku bisa kembali berbicara.
" Arkan? Oh iya, anak itu sudah lama juga sih dia memohon sama Abang untuk meminta nomor ponsel kamu, tapi baru beberapa hari lalu Abang izinin, "
" Jadi Abang yang memberikan nomornya? "..
" Bukan, itu Kak Fitri yang beri, Abang cuma beri izin saja, "..
" Bang, tahu kan dia...
" Iya, Abang sudah tahu semuanya Dek, " Lagi lagi, Bang Bagas memotong pembicaraanku.
" Tapi, kamu suka kan?..
" Tidak..! "..
" Tidak usah jaim Dek, "..
" Bang, benar.! Aku sudah punya pacar, " Ucapku spontan.
" Siapa Dek, kok kamu tidak pernah bilang sama Abang? "..
" Untuk apa? "..
" Kita baru dekatnya juga sekarang, " Ucapku. Aku tahu pasti Bang Bagas merasa kesal karena ucapanku.
" Dek, iya tahu Abang tidak pernah memperhatikan kamu setiap hari, tapi Abang mau masa depanmu bagus Dek. Abang diam bukan berarti Abang tidak sayang, "..
" Terserah Abang, " Ucapku. Aku memang merasa kesepian selama ini. Apalagi ketika kami sudah berpisah , aku selalu merasa sendiri.
" Dek..! "..
" Dia benar benar mau kesana besok loh Dek, tapi Abang tidak bisa nemenin, "..
" Terserahlah Bang, aku tidak akan menemuinya, "..
" Dek...
" Aku tutup dulu, Assalamu'alaikum, "..
Klik, aku mematikan panggilan. Terserah Bang Bagas mau marah juga. Selanjutnya, aku mencari nomor Kak Fitri dan memanggilnya..
" Hallo, Assalamu'alaikum Dek," Dari seberang terdengar suara Kak Fitri.
" Bagaimana kabarnya Kak Ranti? " Tanyanya. Tuh kan semua orang pada nanya kabarnya Kak Ranti semua, tidak ada yang nanya kabar aku bagaimana..
" Ya masih belum bangun Kak, " Ucapku pelan. Aku kembali merasa sedih.
" Mungkin karena efek obatnya itu Dek, sabar saja dan terus berdo'a supaya Kak Ranti cepat sembuh, "..
" Kak, ke rumah Emak tidak? " Aku mengalihkan pembicaraan.
" Kemarin Dek, hari ini tidak, kenapa emangnya? "..
" Ka Arkan..
" Oh iya, Arkan, dari sehabis Lebaran kemarin dia terus ke rumah Emak, tapi waktu kamu sudah berangkat lagi, "..
" Tapi, kenapa Emak sampai bilang kalau aku menyukainya Kak? "..
" Laah, kalau itu Kakak tidak tahu Dek, emang sih dia selama ada di Kampung itu dia setiap hari ke rumah, itu juga kata Emak, Kakak juga tidak tahu dia ngapain, "..
__ADS_1
" Dia juga ada ke rumah Kakak, minta maaf dan dia juga cerita kalau pertunangannya selesai setelah tiga bulan. Tapi penyebabnya dia tidak bilang, "..
" Terus, yang memberi nomor aku siapa? "..
" Kakak Dek, dia mohon mohon terus, seminggu yang lalu kan dia habis pulang, ada ke rumah minta nomor ponsel kamu, ya Kakak izin dulu sama Bagas, baru Kakak kasih, "..
" Kenapa Kakak kasih? Aku sudah bisa move on dan aku juga sudah punya pacar Kak, "..
" Dia mau melamar kamu katanya Dek, siapa pacar kamu, "..
" Omong kosong, lagian aku juga sudah punya pacar Kak, besok dia mau ke sini katanya kenapa sih di kasih alamatnya, "..
" Kalau alamat bukan Kakak yang ngasih Dek, mungkin Bang Bagas, "..
" Tau ah, membuat aku tambah pusing aja, lebih baik aku pulang saja lagi ke tempat kerja, "..
" Dek, jangan begitulaah..
" Sudah lah Kak, aku bingung nanti kalau pacar aku datang bagaimana? Aku harus bilang apa? "..
" Ya bilang saja terus terang Dek,..
" Udah dulu Kak pusing aku, Assalamu'alaikum, " Aku mengakhiri panggilan ini, lama lama kepalaku sakit.
Kalau nasi sudah menjadi bubur mau bagaimana lagi, aku bisa apa?..
Setelah menutup telfhon aku kembali ke belakang untuk makan sore, karena aku lihat jam di dinding sudah menunjukan jam lima sore.
" Dari mana Kak? " Tanya Mama nya Elsa. Dia sedang makan bareng bersama keluarganya, aku yang mau lewat merasa sungkan.
" Habis di depan Bu, duduk. Permisi ya, aku lewat, " Ucapku. Aku membungkukan tubuhku melewati mereka yang sedang makan.
" Iya silahkan Dek, " Ucap salah satu keluarganya Elsa.
" Sini makan bareng Kak, "..
" Iya terima kasih Bu, ini juga mau makan, "..
Kemudian, aku mengambil nasi bungkus yang tadi aku beli dan makan bareng keluarganya Elsa.
" Alhamdulillah, " Ucapku dalam hati. Alhamdulillah aku bisa bertemu dengan orang orang baik, harusnya aku banyak bersyukur bukan terus mengeluh dengan keadaan ini.
Sambil menunggu adzan magrib tiba, aku membuka ponselku setelah tadi aku tutup. Tapi tidak ada notifikasi apapun.
Ya sudahlah, aku memutuskan untuk mengambil wudhu ke kamar mandi. Jam enam sore, adzan magrib bertepatan dengan jam besuk di buka. Tapi, sekarang aku mulai santai, aku lebih baik membaca Al Qur'an dulu setelah shalat.
Dan aku juga berniat malam ini mau izin masuk untuk bertemu Kak Ranti setelah jam besuk usai. Membaca tiga lembar Al Qur'an membuat hati lebih tenang, aku memang sudah terbiasa membaca Al Qur'an, dan setiap malam jum'at juga aku sudah terbiasa untuk membaca surah Yaasiin.
Kebiasaan ini dari kecil sudah aku lakukan dan Alhamdulillah, sampai sekarang juga aku masih melakukannya.
Selesai membaca Al Qur'an, aku segera membereskannya dan melipat mukenaku. Aku beranjak ke ruang kaca, karena waktu jam besuk tinggal sebentar lagi.
Ruangan kaca terlihat begitu padat, aku menghela nafas kasar, bagaimana bisa masuk kalau seperti ini. Tapi, aku mencoba memaksa masuk. " Permisi, permisi.. " Ucapku. Ternyata, banyak orang yang menepi dan ada juga yang keluar, mungkin mereka juga sudah paham, kalau masuk ruangan kaca itu harus bergantian.
Kemudian aku duduk di bangku yang sangat dekat dengan kaca. Terlihat Kak Ranti masih seperti tadi siang, tidak ada perubahan sama sekali, Kak Ranti masih tertidur.
Tidak lama kemudian, jam besuk di tutup, dan aku langsung menghampiri Pak Nana ke mejanya untuk meminta izin untuk masuk ke dalam.
" Permisi Pak, saya mau masuk dong, " Ucapku.
**Bersambung...
Oh ya teman teman, tepat hari ini, tanggal 17 Oktober 2022, tepat sepuluh tahun Kak Ranti setelah Operasi. Do'akan selalu ya, agar Kak Ranti selalu di berikan kesehatan dan panjang umur Aamiin yaa Rabbal'alamiin..
__ADS_1
Baik teman teman, terima kasih untuk yang sudah mampir, dan tetap dukung saya Like, Komen dan juga Votenya jangan lupa**.