TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Parkiran


__ADS_3

" Iya memang, makanya di sini tuh kita harus banyak bersyukur Kak, jangan mengeluh terus. Masih banyak orang yang tidak seberuntung kita, kita jangan serakah, sudah di kasih sehat juga ya bersyukur gitu Kak, "..


" Iya Bu, " Ucapku pendek. Aku jadi merenung, benar juga kata Mama Elsa, kita harus banyak bersyukur.


 


Triingg.. Triinnggg...


Ponselku berbunyi, tanda panggilan masuk. Aku segera melihat siapa yang memanggil.


" Bu Fatma " Ucapku.


Aku segera memencet icon berwarna hijau untuk mengangkat panggilannya.


" Hallo, Assalamu'alaikum, " Ucapku.


" Wa'alaikum salam, bagaimana kabarnya Mbak Ranti, Mbak? " Tanyanya. Kak Ranti lagi, ya sudah memang yang sakit kan Kak Ranti.


" Masih belum bangun Bu, masih di ICU, " Jawabku.


" Mbak sudah menjenguknya? "..


" Sudah Bu, semalam, kata Susternya masih dalam pengaruh mesin, tapi baik baik saja, " ..


" Oh ya sudah, mungkin besok saya menjenguk ke sana Mbak, "..


" Siap Bu, "..


" Uang masih ada tidak? "..


" Masih Bu, kan cuma untuk beli makan aku saja, "..


" Ohh, ya sudah kalau begitu, saya tutup dulu ya, Assalamu'alaikum "..


" Iya Bu, Wa'alaikum salam, " Ucapku. Sungguh mulianya Bu Fatma ini, aku merasa bangga dengan sifatnya. Jarang sekali orang seperti dirinya, Kak Ranti sangat beruntung bisa mengenalnya. Mungkin ini juga sudah jalan takdirnya, dipertemukan dengan orang baik di saat dirinya sedang tidak baik baik saja.


Pagi berlalu, dan siang menjelang. Aku kali ini di ajak makan siang oleh Bu Lina, karena Mama Elsa lagi tidak ada di tempat, akhirnya aku mengikutinya.


Di perjalanan dia terus bercerita, tentang sakit suaminya dan tentang keluarganya. Bahkan dia juga bercerita tentang anak dari suaminya yang tidak mau tahu kalau Ayahnya dalam keadaan keritis. Padahal, dari pernikahannya sekarang belum mempunyai keturunan.


Bu Lina bilang, kalau Anak sambungnya tidak merestui hubungannya. Dan saat ini juga Anak sambungnya menyalahkan Bu Lina atas sakit Ayahnya.


" Suka sedih Na, saya di Kampung juga Orang Tua saya lepas tangan, karena mereka juga orang tidak punya, " Ucapnya. Terlihat dia mengusap airmatanya yang jatuh tanpa permisi.


" Yang sabar ya Bu, semoga saja Anak Ibu bisa mengerti dengan keadaan Ayahnya, " Ucapku.


" Iya Na, dari kemarin sudah saya telfhonin terus agar menjenguk Ayahnya. Karena walau bagaimana pun tidak ada yang namanya bekas Ayah, " Ucapnya lagi.


Di sepanjang jalan menuju warung nasi kita terus bercerita, sampai akhirnya kita berhenti ketika sudah sampai di Warung Nasi.


Aku segera memilih beberapa sayur dan aku membeli ikan asin tipis. Sudah lama aku tidak memakan ikan asin. Dulu waktu masih kecil ikan asin adalah lauk untuk makan sehari hari, karena keadaan ekonomi, orang tuaku sangat jarang makan daging. Harum baunya sangat menggoda lidahku, aku juga membeli sayur asem, hmmm ini sangat cocok di makan dengan ikan asin.


Setelah membayar, kita kembali ke ruangan tunggu dan aku segera membuka makanan aku.

__ADS_1


" Beli di mana Kak sayur asem? " Tanya Mama Elsa. Dia tiba tiba saja datang dan membuat aku kaget.


" Aku beli di Warung yang kemarin Bu, sini makan bareng sama aku, "


" Iya, terimakasih. Nanti aku mau ada saudara yang datang biar makan bareng saja sama mereka, "..


" Ohh, sudah mau sampai ya? "..


" Iya sebentar lagi, baru sampai di Parkiran, " Ucapnya. Parkiran, aku jadi teringat sesuatu, ia, kenapa aku tidak mencari mobil Dr. Afandi di Parkiran itu. Aku masih ingat betul tempat Parkirannya, karena sudah beberapa kali aku kesana. Kenapa baru ingat, ya sudah nanti kapan kapan aku akan kesana untuk mencari tahu atau nanti kalau habis makan. Iya nanti saja kalau selesai makan aku sudah tidak sabar.


" Kak, Kakak.." Suara Mama Elsa mengagetkanku.


" Kenapa melamun Kak,? "..


" Hehe, tidak Bu, "..


" Ya sudah, Kakak makan saja dulu ya, aku mau ke bawah dulu menjemput saudaraku, "..


" Sudah sampai bawah emangnya Bu? "..


" Iya, mereka sedang berjalan kemari, " Ucapnya. Mama Elsa langsung berlalu dari hadapanku.


" Hana, belum di makan nasinya? " Tiba tiba saja Bu Lina menghampiriku. Dia juga masih menjinjing plastik berisi makanannya tadi.


" Ibu dari mana? Kok menghilang, " Tanyaku. Benar memang, aku tidak melihat dia pergi kemana, karena dia tidak kelihatan begitu saja.


" Ibu habis melihat suami ibu, tapi belum ada perubahan. Malah kata Dokternya kondisinya teus menurun, " Ucapnya sendih. Dia menjatuhkan badannya ke lantai.


" Ya Allah, semoga saja ada keajaiban, " Ucapku.


" Maksudnya Stadium akhir bagaimana Bu? "..


" Ya kita sudah pasrah Na, sakitnya sudah parah, "..


" Oh, ya sudah makan saja dulu Bu, " Ucapku. Aku mengalihkan pembicaraan, agar dia tidak terus bersedih.


Kemudian Bu Lina juga membuka makanannya begitu pun aku langsung melahap makananku. Baru kali ini aku makan dengan lahap dan tenang, semoga saja Kak Ranti juga cepat sembuh dan bisa secepatnya pulang.


Kita makan dalam diam, dan tidak terasa makananku sudah habis. " Alhamdulillah, " Aku bergumam. Selesai makan, aku segera mencuci tangan. Dan, aku berencana akan ke Parkiran untuk mencari tahu Dr. Afandi.


Aku keluar ruangan tanpa pamit, dan aku segera berjalan meninggalkan ruang tunggu. Jarak dari sini lumayan jauh, lima sampai sepuluh menit baru bisa sampai. Karena letaknya berada di depan dekat IGD.


Di perjalanan, aku selalu mencari cari Dr. Afandi, siapa tahu saja aku bisa melihatnya.


" Dokter, kamu di mana? Kenapa kamu tega membiarkan hati ini menanggung rindu, aku merindukanmu Dokter, "


" Andai saja malam itu aku membalas pesanmu Dokter, waktu itu aku marah Dokter, tapi aku tidak tahu akan seperti ini, ". Aku terus meracau di dalam hati. Sampai akhirnya aku hampir saja menabrak seorang OB yang sedang membawa nampan berisikan minuman panas.


" Maaf Mbak, " Ucapku gelagapan. Terlihat dia sedikit oleng dan hampir saja minumannya terjatuh, tapi masih bisa di atasinya.


" Maka nya kalau jalan jangan sambil melamun Mbak, hampir saja ini tumpah, " Ucapnya marah.


" Iya, maaf Mbak, " Ucapku. Tapi, dia berlalu begitu saja.

__ADS_1


" Ya Allah, " Ucapku. Aku merasa kaget dengan kejadian ini, dan aku sedikit menepi untuk menenangkan jantungku yang sedang berdebar kencang.


Setelah merasa tenang, aku kembali melanjutkan perjalananku. Aku keluar lewat URJT dan kemudian menuju Parkiran yang sangat luas. Masih ingat , ketika Dr. Afandi menarik tanganku terakhir kali, dia menariku dengan kencang dan berjalan dengan cepat menuju parkiran, kemudian dia langsung mendorongku masuk ke dalam mobil.


Iya, ini tempat mobilnya, tempat mobilnya terparkir yang semua temannya sudah mengetahuinya. Tapi, kemana mobilnya? Di sini tidak ada. Hanya tempat parkir mobil Afandi yang kosong.


Aku terduduk lemas di antara kerumunan mobil itu. " Kemana kamu Dokter? Apa kamu tidak bekerja lagi di sini, atau terjadi sesuatu sama kamu? Huuhuuu.. ! " Aku menangis, banyak pertanyaan pertanyaan yang terus bergulir di benakku.


Aku menumpahkan tangisku disitu, tidak peduli nantinya kalau ada orang yang melihatku. Aku sudah terlalu merindukannya dan sudah terlalu bertanya tanya, kemana perginya Dr. Afandi.


Sekian lama aku duduk di sini, siapa tahu Dr.Afandi tiba tiba datang. Panas terik aku hiraukan sampai tidak terasa bajuku basah dengan keringat.


Entah sudah berapa jam aku duduk di sini, sampai kepalaku terasa pusing. Aku mencoba untuk bangun, tapi badanku terasa lemas dan aku duduk kembali.


" Bagaimana ini? " Aku harus membeli minum. Tidak mungkin kalau aku pingsan di sini.


Tring... Tringg....


Ponselku berbunyi, ku lihat ada panggilan dari Mama Elsa dan aku segera menjawabnya.


" Hallo Bu, " Ucapku.


" Iya Kak, Kakak di mana? " Dari sebarang sana Mama Elsa terlihat khawatir.


" Aku lagi di depan Bu, "..


" Di depan di mana? Ini ada keluarganya datang, " Ucapnya. Keluarga? Aku mengkerutkan keningku, siapa ? Bukannya Bang Bagas dan Bang Ilham, tapi tidak mungkin mereka.


" Hallo Kak? , ".


" Oh iya Bu, dia laki laki atau perempuan Bu? "..


" Laki laki masih muda, "..


Deg... Laki laki, masih muda? Kak Arkan, aku langsung menepuk keningku. Benar, Kak Arkan yang akan kesini hari ini.


* AllahhuAkbar, AllahhuAkbar, * Terdengar jelas suara adzan, ' adzan apa ini ' Ucapku dalam hati.


' Hahhh..! ' Aku terbelalak ketika melihat jam di ponselku. Ternyata sudah jam tiga lewat, berarti ini adzan ashar.


" Hallo, Kak.. "..


" Iya Bu, ya sudah aku ke situ, sebentar lagi, "..


Setelah menutup telfhon, aku kembali menangis. " Dokteeerrr..! " Aku hampir berteriak tapi aku segera menutup mulutku. Takutnya nanti ada orang yang melihatku menangis di sini.


Aku berusaha untuk bangun, tapi kepalaku pusing sekali. Bagaimana ini, aku harus bisa bangun. Tidak boleh lemah seperti ini, aku harus kuat, bagaimanapun akhirnya nanti, semoga ada yang bisa menjelaskan kepadaku, terutama Dr. Elvira yang nanti bisa aku tanyain.


Baru saja aku berdiri, tiba tiba ada teriakan dari sebelah kananku.


" Heeyy,, lagi apa kamu..! " Teriaknya.


 

__ADS_1


**Bersambung...


Tetap dukungannya ya, Like, Komen, dan juga Votenya, terimakasih yang sudah setia membaca ceritaku**.


__ADS_2