
Kita berpamitan dan berterimakasih untuk yang terakhir kalinya.
"Terimakasih semuanya,"
"Hati hati di jalan Mbak Ranti juga Mbak Hana," Ucap Suster Irma.
...****************...
Aku melambaikan tangan kerika mobil Taksi yang kami tumpangi mulai bergerak mundur. Begitu pun dengan Suster Irma dan yang lainnya mereka membalas lambaian tanganku.
Sampai akhirnya, Mobil Taksi yang kami tumpangin pun mulai beranjak meninggalkan halaman parkir nan luas itu. Mobil berbelok, Suster Irma pun sudah tak terlihat lagi.
Sedih.. Benar benar sedih hatiku merasakannya, entahlah.. Harusnya aku merasa senang, keinginan pulang dari dulu akhirnya pulang juga. Tapi perasaan sedih itu terus bergelayut sampai tidak terasa air mata ini jatuh membasahi pipiku.
Aku memalingkan wajahku, melihat ke samping jendela. Yang ternyata kami sudah keluar dari area Rumah Sakit yang luas itu.
Bayangan bayangan selama di rumah sakit itu, terus berkelebatan di ingatanku. Hmmm membuat aku tambah sedih..
Mobil terus berjalan menjauh, sampai akhirnya kami terjebak macet karena di jam itu bertepatan dengan jam pulang Kantor.
Sekitar tiga jam kita baru sampai ke tempat tujuan, tempat yang sangat asing untukku. Kami pun turun dan di sambut dengan hangat oleh pemilik rumahnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah, dan kita langsung di arahkan menuju Kamar yang berada di lantai dua. Bersyukurnya ada kamar mandi di dalam walaupun kalau untuk ke WC harus ke Kamar Mandi bawah karena , kamar mandi yang di atas tidak ada WC nya.
"Di sini dulu ya, Abang mau ke Warung soalnya besok hari bagian belanja," Ucap Bang Ilham.
"Oh iya Bang," Jawabku berbarengan dengan Kak Ranti. Bang Ilham memang tinggal di Warung yang sekaligus menjadi mata pencahariannya.
Bang ilham pun sudah tidak terlihat lagi, aku dan Kak Ranti makan malam. Kak Ranti makan dengan memblender bahan makanannya karena masih menggunakan selang NGT.
"Ya sudah pakai aja blendernya Bi, dari pada beli ini juga jarang sekali di pakai" Ucap saudara Bang Ilham waktu sore hari.
Akhirnya aku menggunakan blender itu untuk membuat makanan Kak Ranti.
Hari hari aku lalui dengan kejenuhan, di tambah aku yang pemalu susah untuk berbaur dengan yang lain. Aku hanya fokus kepada kegiatanku sendiri. Bahkan ketika mau makan saja aku sangat kesusahan.
"Mau makan tinggal ambil saja di bawah Bi," Ucapnya.
"Iya Bu," Aku hanya mengiyakan, untuk melangkahpun sepertinya berat sampai aku menahan lapar.
Untuk waktu tiga hari bukanlah waktu yang singkat untukku. Karena nyatanya sangat berat untuk aku jalani, aku selalu merasa tidak bebas untuk beraktifitas.
Hari minggu pagi, Bang Bags menelfonku. " Hallo Dek," Ucapnya dari seberang.
"Iya Hallo Bang," Jawabku.
"Abang sudah mendapatkan kontrakannya, bisa berangkat hari ini. Abang juga sudah memberitahu Bang Ilham,"
Seperti angin segar untukku, manakala aku sudah tidak betah di sini,"
"Alhamdulillah, ya sudah nanti bagaimana Bang Ilham saja," Jawabku.
Panggilan berakhir, tidak lama kemudian Bang Ilham menelfonku.
"Hallo Bang,"..
"Kata Bagas sudah dapat kontrakannya, berarti berangkat nanti sore ya Dek,sekarang siap siap aja dulu,"..
__ADS_1
"Iya Bang, barusan juga Bang Bagas nelfon," Jawabku.
Aku segera memberitahu Kak Ranti yang sedang tiduran.
"Kak, Bang Bagas sudah dapat kontrakannya, tadi juga Bang Ilham ngasih tahu kalau berangkatnya nanti sore,"
"Alhamdulillah, ya sudah kita siap siap dulu, beresin barang barang kita," Ucap Kak Ranti.
Akupun segera mengemas semua barang yang akan di bawa, kecuali ada jemuran yang aku biarkan agar kering dulu.
Sore harinya, sekitar jam empat, Bang Ilham sudah sampai di rumah.
"Bagaimana sudah siap semuanya?" Tanya nya ketika menengok ke kamar yang kita tempati, kebetulan kalau siang pintunya aku biarkan terbuka.
"Suadah Bang," Aku juga memeriksa kembali takutnya ada yang ketinggalan.
"Ya sudah nanti sebentar lagi, tunggu aja dulu," Ucapnya.
Akupun menunggu sampai akhirnya sekitar jam setengah lima, kita berangkat menggunakan mobilnya saudara abang iparku.
Perjalanan hampir sama seperti kemarin kesini. Jam pulang kerja pasti ada kemacetan walaupun sekarang lebih cepat perjalanannya.
Ketika sampai di tempat tujuan, Bang Bagas sedang menunggu di pintu gerbang.
"Kalau mobil bisa masuk gak?" Tanya Bang Ilham..
"Bisa, masuk aja," Jawab bang Bagas. Bang Bagas lebih dulu masuk memakai Motor antiknya, kami pun menyusul. Ternyata halamannya sangat luas dan di sana juga ada beberapa mobil yang sudah terparkir.
Kami turun dari mobil, dan mengeluarkan barang barang yang di bawa di bantu sama Bang Bagas juga.
Terlihat, bangunan ini seperti sudah berdiri lama, dan bangunannya mirip seperti bekas hotel. Pemiliknya keturunan Ind*a. Dan penjaganya seorang kakek kakek.
"Kok turun," Gumamku ketika kami menuruni tangga, di situ terlihat remang remang, dan ternyata itu di Baseman. Kekek itu berhenti di salah satu pintu kamar bagian ujung. Kamarnya ada sekitar empat pintu.
Ketika pintu di buka, kami masuk ke dalam dan itu sangat sesak sekali. Tingginya paling hanya dua meter setengah, juga tidak ada pentilasi udara di dalamnya.
Kamar ini sudah di lengkapi satu kasur ukuran nomor dua dan juga kipas angin. Sedangkan untuk dapur dan kamar mandi, kita bareng bareng.
"Di sini aja dulu ya, soalnya nyari kemana mana susah, gak ada yang kosong, di tambah lumayan per bulannya. Ini juga lumayan walaupun posisinya dibawah seperti ini," Ucap Bang bagas.
"Ya udah tidak apa apa yang penting sudah ada," Jawab Kak Ranti.
"Nyari kesininya kapan?" Tanya Banga Ilham.
"Tadi pagi, untunglah langsung dapat," Jawab Bang Bagas.
Setelah berbincang bincang, saudara Bang Ilham pamit pulang di susul dengan Bang Bagas setelah jam sepuluh malam. Hanya Bang Ilham yang menginap.
...****************...
Aku mengerjapkan mata ketika mendengar suara ibu ibu sedang mengobrol, beliau menggunakan bahasa jawa bagitupun lawan bicaranya.
Aku bangun dan melihat jam di ponselku dan ternyata sudah jam lima pagi. Bang Ilham sudah tidak terlihat di kamar. Akupun memutuskan untuk ke kamar mandi karena kebelet ingin buang air kecil.
Ku buka pintu kamar, benar saja tetangga sebelah sedang mengobrol sambil sarapan pagi, aku hanya tersenyum ketika mereka fokus ke arahku dan aku melanjutkan ke kamar mandi.
Selesai buang air kecil, aku mengambil wudhu kemudian kembali ka kamar. Ku lihat Kak Ranti Sudah duduk.
__ADS_1
"Mau ke Kamar mandi Kak?" Tanyaku.
"iya dek,"..
"Ya sudah, aku bantu?"..
"Gak usah dek, Kakak udah bis kok,"..
"Beneran?" Tanyaku meyakinkan.
"Benerlah,"
"Ya sudah, hati hati. Aku shalat dulu,"..
"Oh ya Kak, kalau arah kiblatnya kemana?: Tanyaku. Aku memang gak tahu arah hhee..
"Ke situ," Ucap Kak Ranti.
"Begini," Aku menunjukan sajadah yang aku bentangkan di lantai.
"Iya," Jawabnya.
Selesai shalat, terlihat Bang Ilham masuk dengan membawa tentengan plastik di tangannya.
"Sarapan dulu Dek,"Ucapnya. Dia memberikan tentengannya yang ternyata nasi uduk di dalamnya lengkap dengan teh tawar panas untuk minumnya.
"Masih pagi Bang," Ucapku.
"Ya gak apa apa mumpung pagi, kan katanya nanti harus langsung ke rumah Sakit.
"Hee, iya Bang, Abang sudah sarapan?" tanyaku
"Sudah tadi. Oh ya, Ranti masih ada bahan makanannya?"
"Kayaknya masih ada Bang, gampang nanti beli ke Pasar," Jawabku lagi.
Aku melanjutkan makan dan Bang Ilham pergi keluar. Sedangkan Kak Ranti baru selesai shalat.
"Kak sarapan dulu,"Ucapku.
"Iya,"..
Kemudian aku menyiapkan blendernya dan juga bahan bahannya, seperti roti tawar dan juga telur rebus yang di bawa dari rumah saudaranya Bang Ilham.
Aku menghabiskan sarapanku terlebih dahulu, kemudian membantu Kak Ranti untuk mendorong makanannya.
Sebenarnya, pernah di ingatkan oleh Suster, kalau tidak boleh di dorong dan harus di biarkan jalan sendiri di selangnya. Tapi itu akan menghabiskan waktu yang lama karena teksturnya lumayan padat tidak seperti air.
Selesai membantu Kak Ranti makan, aku berniat mau mandi. Tapi ternyata pintu Kamar mandinya tertutup dan terdengar orang yang sedang mandi. Aku urungkan niatku, aku menyiapkan terlebih dahulu apa saja yang harus aku bawa nanti. Ada beberapa berkas yang setia selalu aku bawa di dalam Map dan juga ada semua hasil Rontgen juga CT Scan yang selalu tidak boleh ketinggalan.
Bang Ilham sudah kwmbali masuk dan terlihat pintu kamar mandinya terbuka. Aku segera keluar dan mandi. Aku mandi bergantian dengan Kak Ranti, begitu juga Bang Ilham.
"Mau jam berapa berangkatnya?" Tanya Bang Ilham.
"Nanti jam setengah delapanan," Jawabku.
Setelah semuanya siap, kami pun berangkat dengan jalan kaki. Tidak lupa, aku juga membawa makanan Kak Ranti yang sudah di blender dan di masukan ke botol bekas air mineral untuk makan siangnya. Karena, takut nanti lama di Rumah sakitnya, dan Kak Ranti harus meminum obatnya.
__ADS_1
Perjalanan, agak lambat karena Kak Ranti belum bisa berjalan dengan benar, dia masih lemas dan belum ada tenaganya. Kami menaiki Bajaj setelah sampai di jalan besar yang menuju Rumah Sakit tersebut, sekitar lima menit juga sampai, karena kontrakan ini sebenarnya ada di belakang Rumah Sakit dan masih berada di Areanya.
Terpampang di depan mata, ketika kami turun dari Bajaj. Tulisan besarnya "RSUP DR ***** ************"