
Tidak lama kemudian, kak Arkan kembali lagi dengan sebuah paper bag di tangannya.
"Dek, aku kesini sebenarnya di suruh Mama untuk meminta maaf," Ucapnya ketika dia sudah duduk di depanku.
...****************...
Aku hanya diam mendengar ucapannya.' Sudah, makanya jangan terlalu banyak berharap' Ucapku dalam hati.
"Maaf untuk apa?" Tanyaku heran.
"Enggak tahu, emang dulu Mama punya salah apa Dek?" Aku hanya menggedigkan bahuku.
"Sebentar aku telfon dulu Mama nya," Ucapnya. Kemudian dia menekan tombol panggil di salah satu kontaknya.
Tuuutt.... Tuuuuuttt....
"Hallo, Assalamu'alaikum," Terdengar suara lemah dari seberang telepon.
"Wa'alaikum salam, Mah. Aku sudah bersama Hana,"..
"Oh kamu sudah kesana?"..
"Iya, ini Hana ada di depanku. Mama mau berbicara apa?"..
"Hallo, Assalamu'alaikum Hana," Kak Arkan memberikan ponselnya kepadaku.
"Wa'alaikum salam," Jawabku.
"Apa kabarnya Neng?" .
"Alhamdulillah baik,"..
"Oh iya, Mama mau minta maaf sama kamu. Mama mohon maafkan perkataan Mama yang dulu dulu, Mama terlalu sombong,"..
"Iya Ma, sudah aku maafin kok,"..
"Iya Neng, terimakasih. Tapi Mama mohon untuk menerima apa yang Arkan bawa. Arkan sangat mencintai kamu Neng, "..
"Mama, emangnya bicara apa sama Hana dulu?" Kak Arkan tiba tiba merebut ponselnya dariku.
"Sudah, tidak perlu di bahas lagi yang penting Hana mau memaafkan Mama,"..
Panggilan berakhir ketika Kak Arkan mendesak Mamanya berbicara apa kepadaku. Kak Arkan terlihat kesal karena Mamanya tidak mau memberitahu, akhirnya dia mengakhiri panggilannya.
"Dek, apa yang Mama katakan?"..
"Kan Mama juga bilang tidak usah di bahas lagi, yang penting aku sudah memaafkannya kan..!"
"Aku hanya takut, kamu menghindar dan lost contac gara gara perkataan Mama itu,"..
"Itu tidak penting," Jawabku lagi.
"Udah ya, aku mau masuk," Aku beranjak tapi Kak Arkan menarik tanganku.
"Mau kemana? Aku belum selesai," Ucapnya.
"Kan katanya Mama mau minta maaf, aku sudah memaafkannya kan?!"..
"Iya tapi aku belum selesai bicara sama kamu Dek,"..
" Mau bicara apa lagi sih Kak?"..
"Duduk dulu makanya," Aku terpaksa duduk lagi.
__ADS_1
"Oh iya, ini dari Mama. Dan Mama menyuruh aku memakaikan cincin ini," Kak Arkan mengambil kotak bludru berwarna merah. Setelah di buka, ternyata bukan cincin saja, sepertinya itu satu set perhiasan.
"Untuk apa Kak?"..
"Mama tidak mau kalau kamu berpaling dari aku Dek, Mama cuma ingin kamu ingat kalau kamu itu punya aku," Seperti tidak ada beban apa yang dia ucapkan itu.
Sedikit merasa lucu juga, kalau mengingat flashback itu membuat ingin tertawa saja. Hmmm dulu di caci maki sekarang seperti ini.
"Mohon maaf aku gak bisa pakai, lagian di sini sangat rawan," Ucapku.
"Kalau tidak cincinnya saja Dek, yang lainnya di simpan aja,"..
"Tapi tetap aku tidak bisa,"..
"Alasannya apa?"..
"Kan sudah aku bilang tadi,"
"Tapi kata Mama harus di pakai Dek,"..
"Kenapa harus kata Mama?"..
"Ya kan maksudnya, kalau aku sih gak mau memaksa, tapi Mama menginginkan kamu memakainya?"..
"Terus aja kata Mama," Aku sedikit kesal. Kalau memang dia kesini hanya memberikan yang Mamanya titipkan. Sebenarnya aku juga merasa tersinggung dengan semua ini, meminta maaf dengan embel embel seperti itu. Aku masih tidak percaya kalau meminta maafnya beneran.
"Dek plis, pakai ya, kamu bisa kan menghargai pemberian dari Mama,"..
"Kak, aku kan sudah bilang, di sini tuh rawan dengan jambret. Sudah mening kalau yang di jambret perhiasannya, terus kalau yang celaka itu aku bagaimana?"..
"Ini kan cuma di jari, itu kamu juga pakai kalaung juga kan?!"..
Degg..
"Sudah ya Kak, masih banyak yang harus aku selesaikan," Aku kembali beranjak, tapi Kak Arkan kembali menarik tanganku.
"Kamu sudah makan belum Dek,"..
"Sudah,"
"Oh ya, aku mau tanya, kenapa Kak Arkan melamar aku langsung lepada orang tuaku tanpa memberitahu aku dulu?"..
"Ya itu idenya Mama," Jawabnya ragu.
"Astagfirullah," Aku mengelus dadaku. Apa maksud semua ini.
"Mau aku balikin lagi ya Kak, lagian aku juga belum siap untuk menikah. Aku masih mau kerja, ini memang tidak sopan, tapi aku juga tidak mau terkekang seperti ini,"..
"Dekk, kenapa seperti itu lagi sih,"..
"Ya kalau aku belum siap mai bagaimana?"..
Sebenarnya aku masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi, apa lagi semua karena Mamanya.
"Tidak bisa Dek, apa kamu tidak akan malu?"..
"Malu apanya?"..
"Semua orang sudah tahu,"
"Itu bukan masalah, lagian juga yang memaksa siapa?"..
Kak Arkan memijat pelipisnya, seperti prustasi menghadapi aku.
__ADS_1
"Oke, Kalau belum mau menikah, kita jalani aja dulu, aku tidak akan memaksa lagi. Tapi aku mohon, jangan swperti ini terus, aku sayang sama kamu Dek," Kak Arkan menggenggam tanganku erat.
"Apa yang harus aku perbaiki? Atau kamu pengen seperti apa? Aku ingin membuatbkamu nyaman dan tidak terkekang,"..
"Untuk saat ini aku hanya ingin fokus sama pengobatan Kak Ranti dulu, karena masih banyak hal yang harus aku urus dan juga tidak selamanya lancar pengobatannya dan itu kadang menguras emosi dan tenagaku Kak,"..
"Tolong mengertilah," Ucapku lagi.
"Tapi kamu susah di hubungin Dek,"..
"Ya makanya itu, karena kadang aku juga merasa cape, berangkat pagi, pulang sore, bahkan bisa malem kali, di sana kadang hanya menunggu antrian saja lama banget karena pasiennya juga bukan satu atau dua, ini puluhan. Jadi tolong mengertilah dulu, aku juga ingin segera cepat selesai tidak ingin di sini terus,"..
Setelah sedikit berdebat lagi, akhirnya Kak Arkan mau mengalah. Kemudian dia berpamitan untuk pulang, tapi dia mengantarkan aku dulu sampai ke Kamar. Sekalian mau berpamitan dengan Kak Ranti, tapi pas buka pintu ternyata Kak Ranti sudah tidur.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, hati hati di sininya, kalau ada apa apa telfon aja," Ucapnya. Dia masih menggenggam tanganku yang sesekali di ci*m, seolah tidak ingin berpisah. Aku menganggukan kepala.
"Hati hati," Ucapku sebelum dia melepaskan tanganku.
Entah kenapa, ada sedikit rasa nyaman ketika dia sedang menggenggam tanganku, apa rasa itu masih ada? Tapi, aku juga harus terus menjaga jarak agar tidak ada lagi kekecewaan.
Setelah Kak Arkan tidak terlihat lagi, aku ke Kamar mandi terlebih dahulu kemudian aku tidur.
...****************...
Aktifitas pagi hari masih seperti biasa, shalat, sarapan, membantu Kak Ranti makan kemudian mandi dan bersiap untuk ke Rumah Sakit lagi. Hari ini tujuannya adalah Pulmo Paru.
Setelah sampai di Rumah Sakit, aku langsung menuju URM, kemudian mendaftar dan membayar uang pendaftaran seperti kemarin.
Setelah mendapatkan nomor antrian, aku di arahkan lagi untuk ke Lantai tiga, masih satu Lantai dengan poli Neuro.
Seperti biasa, menunggu beberapa jam baru di panggil.
"Mbak Ranti," Tiba tiba Dr. Irene memanggil Kak Ranti. Sebelumnya beliau pernah ke ruangan rawat inap.
"Iya Dok," Jawab Kak Ranti.
"Sini masuk," Ucapnya. Aku dan Kak Ranti langsung masuk ke Ruangan Dr. Irene tersebut.
"Dr. Feni, ini pasienku yang di rawat inap kemarin, silahkan Dr. Feni yang pegang," Ucapnya.
"Siap Kak," Jawab Dr. Feni.
Kemudian Dr. Feni bertanya tentang sakitnya Kak Ranti, dari awal sakit sampai bisa Operasi. Selain itu, Dr. Feni juga menanyakan tentang Kak Ranti dan juga aku.
"Mbak Ranti ini tadinya kerja apa?"..
"Aku kerja menjadi ART Dok," Jawab Kak Ranti.
"Oh, kerja jadi ART, terus pas sakit, lagi kerja juga?"
"Iya,"..
Disitu Kak Ranti menceritakan perjalannan awal di ajak berobat oleh majikannya. Dr. Feni tertegun sampai bilang, luar biasa sekali sebagai majikannya.
"Terus kalau Mbak Hana kerja juga tadinya?"..
"Iya Dok, aku kerja di Warung Nasi," Jawabku.
Dr. Feni manggut manggut mendengar ceritaku juga cerita Kak Ranti. Beliau merasa iba, apalagi sekarang tidak ada yang bekerja.
Aku juga menceritakan kalau jaminan kesehatannya tidak bisa di pakai karena kurang rujukan dari RSUD. Setelah tahu semua tentang perjalanan Kak Ranti, Dr. Feni membantu aku, memberikan uang tambahan untuk bekal di sini. Aku sangat terharu bertemu orang baik seperri Dr. Feni.
Latihan demi latihan Kak Ranti ikutin sesuai arahan Dokternya, setiap hari kita ke URM. Dari mulai latihan meniup, latihan berjalan di Lantai, dan latihan berjalan di tread meal. Dan yang terakhir harus Fisioterapi di Terapi Wicara.
__ADS_1
Karena pembayarannya umum, Dr. Feni pun menyuruh berhenti dulu untuk Fisioterapi nya, karena sekali Fisioterapi harus membayar seratus lima puluh ribu. Dr. Feni menyuruh untuk mengurus dulu jaminan kesehatannya.
Bersambung..