
Ya sudah kita ke Tempat kemarin lagi," Ucapnya.
"Enggak ah takut kelamaan, aoalnya Kakakku sudah menunggu," Aku bisa bicara dengan santai.
"Ya sudah kita ke Kontrakan kamu aja," Dia kembali mengajak aku ke kontrakan. Akhirnya aku menurutinya.
...****************...
Sesampainya di kontrakan, dia menyuruh aku berbaring, jantungku sudah deg degan tidak karuan, tapi alam bawah sadarku mengikuti apa yang dia suruh.
Setelah berbaring, dia membuka baju bagian perutku. Kemudian dia seperti membaca mantra mantra, karena mulutnya komat kamit. Sampai akhirnya..
"Tuh benar kan, dari dalam perut kamu keluar paku sudah bengkok sama karatan lagi," Ucapnya. Tapi aku tidak bereaksi apapun hanya sedikit heran saja, karena waktu paku itu keluar sudah ada di tangannya.
Sebenarnya pikiranku ada sedikit merasa konyol dengan tingkahnya walaupun rasa was was lebih dominan.
Terdengar, Bu yati dari kamar sebelah sedang mengobrol sama saudaranya dan terdengar ramai. Akhirnya dia meminta uang yang sudah aku siapkan.
"Ya sudah kamu tutup lagi bajunya, sini uang dan perhiasannya, saya bawa dulu," Ucapnya. Aku merasa sangat lega. Aku memberikan uang yang sudah di siapkan sebanyak dua juta beserta perhiasan Kak Ranti, berupa kalung juga anting.
Aku keluar dari kamar, ternyata Bu Yati lagi pada di dalam. Aku melewati kamarnya yang terbuka, begitupun dia mengikutiku dari belakang.
"Aku mau ke Mesjid sekarang, mau aku tausiahin cepat cepat ya," Ucapnya setelah keluar gerbang. Aku mengangguk, kemudian aku berpisah. Tapi yang bikin aku heran, kenapa arah dia ke Mesjid arahnya ke Jalan Raya, sedangkan Arah ke Mesjid adalah arah yang aku tuju. Entahlah..
Aku jalan terburu buru, takutnya Kak Ranti sudah di panggil. sesampainya di URM, ternyata belum di panggil.
"Sudah daftarnya?" Tanya Kak Ranti.
"Sudah Kak,"Jawabku.
Sekitar jam sepuluh, orang itu mengirim pesan kepadaku.
"[ Hana, nanti kira kira jam setengah dua belas, uang sama kalungnya selesai aku tausiahin. Karena di kalungnya ada ilmu hitamnya, sampai sampai kalungnya mengeluarkan asap hitam, dan orang yang berada di Mesjid sampai bertanya tanya sama aku. Nanti ambil ya uangnya aku balikin dua juta utuh dan aku tambahin lagi dua juta, sama kalungnya juga saya bailikin lagi,"]..
Aku hanya membalas iya, dan merasa tenang tenang saja, tapi ada juga rasa khawatir akan penipuan itu.
Sepulang kontrol, sekitar jam setengah satu aku menghubungi orang itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan,"..
Degg... Hatiku seperti membeku, seolah tidak percaya, aku kembali menghubunginya beberapa kali. Tapi hasilnya nihil, tetap orang operatornya yang menjawab.
Di situ aku merasa jantungku berhenti berdetak, bingung setengah mati. Harus bagaimana, harus bilang apa ke Kak Ranti jika nanti Kak Ranti bertanya akan uang juga perhiasannya.
Aku berjalan seperti melayang tanpa tau arah tujuan. Tapi, aku tetap berjalan membersamai Kak Ranti sampai ke Kontrakan.
Masih ingat, bagaimana tadi aku dengan mudahnya memberikan uang dan perhiasan itu kepada orang itu. Entahlah, rasanya menangispun aku tidak bisa. Sampai akhirnya aku menghubungi Bu Lina.
__ADS_1
"Kak, aku mau ke atas dulu," Ucapku ketika selesai shalat.
"Mau kemana?" Tanya Kak Ranti penuh selidik.
"Di atas, di bangku," Jawabku. Akhirnya aku ke atas, kemudian mencari nomornya Bu Lina. Dan tidak lama Bu Lina mengangkat panggilanku.
"Hallo, Assalamu'alaikum,"..
"Wa'alaikumsalam Bu,"..
"Kenapa?" Tanyanya.
"Bu, orang yang kemarin bareng ibu, itu benar saudara ibu?"..
"Maaf sekali Hana, dia bukan saudara aku, aku juga bertemu di Bus waktu mau kesini. Emangnya ada apa? Dia ganggu kamu?"..
"Ini Bu," Aku pun menceritakan semuanya yang terjadi sama Bu Lina.
"Ya Allah, kenapa bisa seperti itu, tenang dulu ya, aku juga seperti di hipnotis, makanya waktu kemarin di kontrakan kamu dia pergi aku cepat cepat pergi," ternyata benar, Bu Lina menghindarinya dan malah aku yang kena.
"Bagaimana aku bisa tenang Bu, bagaimana bilang sama Kak Ranti nanti?" Aku benar benar panik, rasanya ingin menjerit jerit.
"Ya sudah, tenang dulu ya. Nanti kita kesana sekalian sama si Babeh, aku juga lagi di obatin sama si Babeh," Ucapnya. Akhirnya aku pasrah, dan nungguin mereka datang.
Sekitar habis ashar, Bu Lina dan si Babeh datang ke rumah. Dia memberikan air do'a kepadaku. Sedangkan Kak Ranti hanya diam menyimak apa yang aku bicarakan dengan si Babeh juga Bu Lina.
Di perjalanan, kita terus membahas orang itu. "Si teteh lagian, ada orang asing di bawa bawa, jadi kasihankan Hana jadi korbannya," ucap si Babeh. Oh iya, si Babeh ini juga teman seperjuangan ketika di ICU dulu, dia menunggui Ibunya yang sakit Kanker.
"Ya di kirainmah orang itu enggak ngejebak Hana, aku juga gak tahu, gak sadar ketika ngobrol sama dia," Jawab Bu Lina.
Obrolan berlangsung sampai kita sampai di warung Nasi. Si Babeh menyuruh aku dan Bu Lina makan, dan memilih lauknya sendiri.
Kita makan sambil terus mengobrol dan akhirnya ponselku berdering. Di layar ponselnya tertera nama Kak Ranti. Kemudian aku mengangkatnya.
"Hallo, Kak,"..
"Kamu di mana sekarang?" Tanya Kak Ranti dengan nada khawatir dan seperti mau menangis.
"Aku lagi makan di Warung Nasi dekat Pasar," Jawabku.
"Cepetan pulang," Ucapnya lagi.
"Iya sebentar," Sambungan berakhir dan aku langsung bilang ke Bu Lina, kalau aku harus pulang.
"Sebentar dulu, habisin dulu makanannya," Jawab si Babeh. Kareana kebetulan nasiku belum habis, begitu juga dengan nasi Bu Lina dan Si Babeh.
Setelah selesai makan, aku langsung mau membayar, tapi si Babeh tidak membolehkannya, semuanya dia yang bayar, termasuk Bu Lina.
__ADS_1
Setelah itu, Bu Lina dan si Babeh berpamitan untuk pulang, kita berpisah di Gerbang Kontrakan aku, dan mereka berjalan ke depan mencari angkutan umum untuk pulang ke rumah si Babeh.
Aku sedikit enggan untuk masuk, tapi mau ke mana lagi, aku harus menghadapi semuanya.
Aku membuka pintu dengan perlahan, terlihat wajah Kak Ranti yang seperti sedih banget.
"Kak, mamafin aku," Ucapku dengan terbata.
"Uang ini kemana?" Tanya Kak Ranti menunjukan dompet tempat uangnya kemarin. Dompet itu, oleh oleh dari majikannya waktu pulang dari Bali katanya.
"Uang itu di kasihkan ke laki laki yang kemarin," Jawabku penuh ketakutan. Takut kalau Kak Ranti akan memarahiku.
"Berarti benar dugaan Kakak dari tadi," Ucapnya lesu.
"Maafin aku Kak," ...
"Ya sudah tidak apa apa, yang penting kamu selamat," Ucapnya.
Sedikit merasa lega, kenapa Kak Ranti tidak memarahiku? Aku mendongak, mengangkat kepalaku.
"Ya sudah, tidak usah di pikirkan lagi, yang penting kamu tidak kenapa napa,"..
"Kakak tidak marah?"..
"Mau marah juga percuma, uang itu tidak akan kembali, bersyukur kamu masih selamat tidak di apa apain juga," Ucap Kak Ranti dengan tenang.
Jleebbb...
Aku merasa tertampar dengan kata kata Kak Ranti. "Ikhlasin aja, mungkin bukan rezeki Kakak, udah tidak usah di pikirin lagi, kamu masih utuh juga bersyukur,"..
" Oh ya, kamu tidak usah bilang ke siapapun, nanti takutnya malah tambah merepotkan, biar kita aja yang tahu," Lanjutnya. Aku mengangguk lemah.
Entahlah rasanya aku ingin menangis menjerit, tapi semuanya tertahan. Aku tidak bisa menangis, bahkan air mata juga tidak bisa keluar. Mungkin hanya ada kepanikan yang tergambar dari wajahku.
Kak Ranti mengikhlaskan uang dan juga perhiasannya, padahal untuk mendapatkannya butuh tenaga ekstra. Kadang begadang pun dia lakukan demi uang itu, tapi hasilnya malah hilang seketika.
...****************...
Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Tapi Kak Ranti terlihat pulas, terdengar dengkuran halusnya. Padahal yang aku takutkan adalah menjadi pikiran untuk Kak Ranti dan itu bisa membuatnya drop.
Entah siapa yang menggerakan, jari ini tiba tiba menulisa pesan, "[Ternyata hipnotis itu nyata adanya]" dan klik, aku mengklik tulisan kirim. Dan terkirim langsung ke Kak Arkan.
Tidak berharap balasannya, aku langsung memejamkan mata mencoba untuk tidur. Tapi, baru saja terpejam, dering ponselku menggema. Aku langsung menolaknya karena takut mengganggu Kak Ranti.
"[Jangan telfon, Kak Ranti sudah tidur]," Aku mengirimkan pesan lagi.
Bersambung..
__ADS_1