TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Di Lamar Dadakan


__ADS_3

Tapi, baru kali ini aku bisa melupakannya setelah kehadiran Dr. Afandi, ada benarnya juga yang di bilang Kak Ranti, kalau Dr. Afandi adalah Dr. Cintaku. Dia yang sudah merubah segalanya dan dia yang memberikan aku kasih sayang yang tulus, walaupun pada akhirnya Dr. Afandi juga tidak ada kepastiannya.


 


Dan dia malah kembali hadir ke kehidupanku. Lalu, aku harus bagaimana?


" Permisi, Assalamu'alaikum, " Ucapnya ketika sudah di hadapanku. Kenapa dia memakai bahasa formal, sepertinya dia canggung ketika bertemu kembali denganku setelah setahun lebih tidak bertemu.


Aku mengangkat wajahku. " Wa'alaikum salam, " Ucapku pendek.


" Boleh Kakak duduk? " Tanyanya lembut.


" Oh, silahkan, " Jawabku. Kemudian dia duduk di sampingku dan sedikit menjaga jarak. Aku memperhatikan pak Nana dari ekor mataku yang sepertinya dia sedang memperhatikanku.


" Apa kabarnya Cimot ku? " Tanyanya sedikit bergetar, mungkin dia merasakan bersalah dan juga terdapat rindu yang mendalam dari sorot matanya.


" Alhamdulillah baik, " Jawabku. Walaupun memang sebenarnya aku sedang tidak baik baik saja.


" Selama ini kemana saja, Kakak mencari kamu, " Ucapnya.


" Aku? Aku ada, tidak kemana mana, " Ucapku.


" Mmmm, oh ini, Kakak bawain hadiah, tapi jangan di lihat dari besar atau kecilnya, " Ucapnya. Dia memberikan sebuah godibag. Aku menerimanya dan aku biarkan di pangkuanku. Aku tidak tahu di dalamnya apa.


" Oh ya, kamu dah makan belum? " Tanyanya lagi.


" Sudah, Kak, "..


" Beneran? " Dia memperhatikan wajahku. " Kok kamu pucat deh, " Ucapnya khawatir.


" Kamu tidak apa apa kan? " ..


" Iya, tidak apa apa Kak, aku baik baik saja, "..


" Bohong, kamu sakit Cimot, "..


" Sudah, aku tidak apa apa Kak? " Ucapku lemah.


" Ya sudah, tunggu dulu di sini sebentar, " Ucapnya. Kemudian dia berlari menuruni tangga.


Kepalaku benar benar terasa pusing, ini pasti efek tadi berpanas panasan. ' Dokteerrr, di mana kamu, ' Gumamku. Aku menyenderkan kepalaku di bangku. Kak Arkan belum ada kembali ke sini.


Karena sudah tidak kuat lagi menahan sakit di kepalaku.


Aku memaksa bangun dan berjalan cepat kebelakang, setelah itu aku langsung menjatuhkan tubuhku ke lantai.


" Bu maaf, kalau nanti ada yang mencari aku, bilang saja aku di sini ya, " Ucapku ke Mama Elsa.


" Kakak kenapa? " Tanyanya khawatir.


" Kepala aku sakit Bu, "..


" Sudah makan belum? "..


" Belum, nanti saja mau aku tidurkan dulu, siapa tahu hilang sakitnya, " Ucapku. Kemudian aku tidak ingat apa apa lagi.


****************


Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku melihat suasana di luar sudah sedikit gelap. Kemudian, aku melirik kesampingku, hanya ada dua orang yang sedang duduk mengobrol.


Setelah beberapa menit terdiam, aku bangun dan duduk, kepalaku masih terasa pusing dan nyut nyutan. Iya, aku masih punya obat yang dari Dr. Afandi. Di mana ya aku menyimpannya?


Oh iya, di godibag yang berisikan coklat itu. Apa kabarnya coklat itu? Apa tidak di makan semut? Aku segera mencarinya, ternyata godibag itu tercampur dengan baju bajunya Kak Ranti.


' Hmmm, akhirnya ketemu juga, ' Ucapku dalam hati. Tapi, aku belum makan, '..


Baru saja aku mau mengambil bungkusan makanku. Tiba tiba, Kak Arkan datang.


" Sudah bangun Dek? " Tanyanya. Aku mengangkat wajahku karena kaget. Kenapa dia jadi memanggil aku Adek.


" Makan dulu yuk, sebentar lagi adzan magrib, " Ucapnya. Dia terus menatapku, dan aku menjadi salting.


" Kak Arkan sudah makan? " Tanyaku.


" Aku sudah, " Jawabnya.

__ADS_1


" Pasti bohong, " Aku tahu dia berbohong karena terlihat dari wajahnya yang lesu.


" Sudah tadi, "..


" Ya sudah, makan bareng saja, aku juga ada nasi tadi siang beli, " Dia terlihat tidak suka dengan tawaranku. Tapi, dia segera merubah ekspresi wajahnya.


" Mmm, ya sudah, " Jawabnya.


Kemudian, aku mengambil nasi yang tadi sudah aku buka plastiknya. Aku juga mengambil bungkusan nasi yang Kak Arkan simpan di depanku.


Satu bungkus sop daging lengkap dengan kerupuknya. Kemudian aku membuka bungkusan nasi yang aku beli tadi.


" Maaf Kak, bukan aku nolak, tapi sayang nasiku nanti basi kalau di pagikan, " Ucapku sebelum aku menyuapkan nasiku ke mulutku.


" Ohh, ya sudah, " Ucapnya. Tidak ada lagi perbincangan di antara kita, aku segera menghabiskan makanku, aku juga memakan sop yang di beli Kak Arkan. Sebenarnya aku benar benar merasa tidak enak hati dengan Kak Arkan.


Setelah selesai makan aku segera membereskannya dan mencuci tangan. dan ketika aku berbalik, terlihat Kak Arkan masih duduk di tempat yang tadi. Aku bingung harung ngapain lagi.


" Minum obat dulu Dek, " Ucapnya.


" Beli di mana Kak? "


" Tadi beli di Apotek, "..


" Kamu tadi habis dari mana emangnya? "..


" Tadi, aku ketiduran Kak, maaf, "


" Bukan, tadi sore waktu aku datang kamu lagi tidak ada di sini, "..


" Oh itu, tadi, mmm iya tadi habis ada keperluan aja sih, " Aku gelagapan di tanya seperti itu.


" Kak., makan Kak, " Ucap Mama Elsa.


" Iya, terima kasih Bu, saya sudah barusan, " Jawabku. Terlihat, sekarang hanya berdua. Mungkin tidak ada saudaranya menjenguk.


" Bagai mana sudah enakan tidak kepalanya ? "..


" Sudah, sedikit, "..


" Oh iya, baru mau minum Bu, " Perbincanganku dengan Mama Elsa berhenti setelah ada orang yang menghampiri mama elsa.


" Kok bengong? " Tanyaku.


" Oh iya ini, " dia menyerahkan dua obat yang sudah di buka. Aku hanya melihatnya saja,


" Kenapa? "


" Kok kmu sekarang seperti itu Dek, apa kamu sudah tidak percaya lagi? "..


* AllahhuAkbar, AllahhuAkbar... * Suara adzan magrib terdengar sangat jelas dari Mesjid.


" Sudah adzan Kak, " Aku segera mengambil obat itu dari tangannya. Dan aku meminumnya dengan dorongan air. Kak Arkan menghela napas kasar.


Terserah, dia mau marah atau bagaimana pun, sekarang aku hanya ingin menyelesaikan masalahku satu persatu. Terutama kesembuhan Kak Ranti, aku tidak boleh lalai lagi.


" Aku shalat dulu Kak, " Ucapku. Kemudian aku berlalu dari hadapannya. Setelah berwudhu, terlihat Kak Arkan sudah tidak ada di tempat. Aku segera shalat magrib.


Selesai shalat, aku berjalan menuju ruangan kaca untuk melihat Kak Ranti. Waktu besuk adalah waktu yang di tunggu tunggu keluarga pasien agar bisa melihat perkembangan keluarganya di ICU, sehingga setiap jam besuk ruangan kaca yang hanya mungkin berukuran tiga kali tiga ini akan penuh, apa lagi ketika satu keluarga ada yang membesuk juga.


" Mbak, Mbak Hana.! Siapanya yang tadi nungguin Mbak Hana? " Ucap Pak Nana. Aku tidak tahu kalau dia mengikuti aku dari belakang. Tapi tidak aku hiraukan, aku segera masuk kedalam ruangan kaca.


Ketika baru saja duduk, ponselku bergetar.


Drrrttt... Drrrttttt...


" [ Dek, kamu kemana lagi? Kok tidak ada lagi di tempat tadi? ] "..


" [ Aku di tempat besuk ] " Aku segera membalasnya. Tidak lama kemudian, terlihat dia masuk ke ruangan kaca.


" Mana Kak Ranti Dek? "..


" Itu bed ke tiga dari sini, " Jawabku.


" Innalillahi wainna ilaihi raaji'un, " Ucapnya. Dia menutup mulutnya, mungkin tidak percaya dengan keadaan Kak Ranti seperti ini.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berada d ruangan Kaca.


" Dek, ada yang ingin aku jelaskan, tapi tidak di sini, " Ucapnya.


" Apa? Nanti dulu ya, aku mau lihat Kak Ranti dulu, " Ucapku.


" Hmmm, " Kak Arkan hanya berdehem.


Mataku terus tertuju pada Kak Ranti, dan Kak Arkan duduk di sampingku setelah beberapa pengunjung meninggalkan ruangan.


" Kak, bagaimana perkembangan Kakaknya? " Tanya Mama Elsa.


" Masih seperti itu Bu, " Ucapku sendu. " Elsa bagaimana? " Aku balik bertanya.


" Masih sama. Oh ya, Kakak tadi siang habis dari mana? Ini si Om nya nungguin lama banget loh Kak, iya kan Om? "..


" Iya Bu, " Jawab Kak Arkan tersenyum.


" Aku habis mencari sesuatu yang hilang, " Ucapku.


" Apa? Kenapa pulangnya langsung sakit kepala Kak? "..


" Iya Bu, kan aku panas panasan, "..


" Tapi, yang di carinya ketemu? "..


" Tidak, hehe.."..


" Permisi, Ibu, Bapak, mohon maaf jam besuk habis, " Ucap petugasnya. Akhirnya kita keluar ruangan.


***************


Selesai shalat isya, Kak Arkan masih duduk di ruang tunggu depan.


" Kak, si Om itu pacarnya atau siapa? " Tanya Mama Elsa, ketika aku lagi memainkan ponselku. Aku baru selesai shalat isya.


" Oh, teman aja Bu, "..


" Tapi itu masih menunggu loh Kak, apa mau menginap? "..


" Emangnya masih ada? "..


" Iya, itu di depan lagi duduk, "..


Drrrtt, drrrrt, pesan masuk ke ponselku.


" [ Dek, ke depan, ada yang ingin aku jelaskan, ] "..


" Ya sudah Bu, aku ke depan dulu ya, "..


" Iya Kak, "..


************


" Ada apa Kak? " Tanyaku setelah aku di depannya.


" Duduk dulu, " Aku pun duduk di sampingnya.


" Dek, kemarin Kakak sudah melamar Adek ke rumah Emak dan semua keluarga Adek sudah tahu semuanya, "..


" Lantas, " Aku langsung memotong pembicaraannya.


" Aku ingin memakaikan cincin ini, " Dia menunjukan sebuah kotak berwarna merah dan berbentuk hati. Wajahku memucat mungkin. Bagaimana bisa, kata keluargaku kemarin dia hanya meminta maaf, kenapa tiba tiba dia bilang sudah melamar. Oh iya, aku belum menanyakan langsung sama Emak.


Aku menggeleng gelengkan kepalaku. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Bagaimana nanti denangan Dr. Afandi.


" Kenapa geleng geleng Dek, aku sudah meminta sama Emak dan Bapak, dan mereka mengijinkan, "..


" Bohong..! Kenapa tiba tiba, kenapa tidak langsung bilang sama aku, " Suaraku meninggi.


" Sstttt....!! Orang orang pada melihat kita Dek, "..


" Terserah...! Aku bangun dari dudukku. Tapi Kak Arkan menarik tanganku dan aku kembali duduk.


" Apa lagi, " Ucapku dengan linangan air mata di pipiku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2