TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Dokter Elvira


__ADS_3

Sedang asyik berjalan menuju gerobak bubur ayam, tiba tiba ada yang mengagetkan aku..!!


Pukkk.. Dr. Elvira menepuk pundak ku.


" Astagfirullah " Aku terlonjak kaget. " Dokter...!! " Ucapku.


 " Hai Mbak.! " Dr. Elvira menyapaku.


" Hai Dokter, baru mau pulang? " Tanyaku. Kebetulan Dr. Elvira kebagian jadi Dokter Jaga atau Dokter yang bekerja di malam hari.


" Iya nih. Oh ya Mbak, Dr. Afandi ngambek tuhh, aku di suruh ngejar kamu kesini."..


" Hahhh.! " Aku melongo.


" Itu, katanya dari semalam Mbak nya tidak membalas pesan yang dia kirim, dan pagi juga Mbak tidak menyapanya, malah asyik sendiri. Terus waktu tadi saya keluar dari ruangan saya dia menyuruh aku cepat cepat mengejar Mbaknya. Padahal saya tidak tau kapan Mbak keluar, dia bilang Mbaknya lagi ke tempat Loundry."


' Hahh, kok dia sampai tahu kalau aku mau Loundry ' Ucapku dalam hati. Oh mungkin tadi dia melihat aku bawa keresek.


" Ya ampuun. " Aku menepuk keningku. Aku sampai lupa kalau ponseku sedang di charger.


" Maaf Dokter, kok jadi merepotkan. "


" Iya, tolong di balas pesannya Mbak, takutnya dia jadi tidak fokus bekerja. "..


" Haahhh, segituny?? "..


" Lupa Dokter, kalau ponsel saya itu lagi di charger , lagi malam ada yang berkunjung, jadi saya lupa untuk menchargernya."..


" Ya sudah lah, beruntung sekarang saya waktunya pulang, saya heran sama Dokter Cintamu itu Mbak .".


Pipi ku memerah ketika mendengar Dr. Elvira bilang Dokter Cinta, aku benar benar malu.


" Setiap malam, dia selalu nitip Mbak ke saya. Saya kan tugas, masa harus jagain Mbak juga sih, dia itu benar benar takut kehilangan kamu Mbak, pokoknya jangan pernah mengabaikan dia. " Lanjutnya. Aku bingung harus menjawab apa.


Tringg.. Tring... Trinngg.. Tiba tiba suara ponsel Dr. Elvira berbunyi. Dia melihat ponselnya yang dari tadi ada di genggamannya.


" Tuh kan Mbak, dia menelphon. " Ucapnya. " Bagaimana? " Tanyanya.


" Mmm, anu, apa ya? Mmm, oh iya, bilangin saja kalau saya sudah pulang." Akhirnya aku punya ide. Tidak mungkin juga aku harus berbicara di depan Dr. Elvira.


" Ya sudah, oke.! Tapi tunggu Mbak jangan kemana mana, agar Mbak tahu bagaimana rempongnya dia. " Ucapnya. Aku menepi begitu juga Dr. Elvira. Panggilan tidak terjawab karena kita terlalu lama berbincang.


Panggilan kembali masuk, Dr. Elvira langsung mengangkatnya, dan dia juga memperbesar suara panggilannya.


" Hallo El, bagaimana? Ketemu tidak? Bagaimana? Apa dia marah sama gua, atau bagaimana?. " Dr. Afandi langsung membrondong pertanyaan.


"Elllll..." Dia sedikit teriak


" Gua harus jawab yang mana dulu Fan? Lo terlalu banyak pertanyaan. "..


" El please deh, gua jadi tidak fokus kerja nih. "


" Fan, dengerin gua ya. Lo kenapa sih, terlalu bucin. Jangan seperti itu, takutnya Mbak Hana jadi tidak nyaman. "


" Tidak tau gua, gua takut banget kehilangannya. "


" Lo harus ke Psikolog kalau sudah seperti itu. " Dr. Elvira menutup mulutnya, dia cekikikan.


" Ngapain gua harus ke Psikolog El??. "


" Ya pikir aja sendiri."


" Sudah lah, gua ngantuk Fan, takut gua di jalan oleng nih, jangan ganggu gua terus, gua nyetir sendiri. " Hooaamm. Dokter Elvira menutup mulutnya, ketika tiba tiba menguap.


" Tapi bagaimana? Apa sudah ketemu?. "


" Sudah, dia sudah balik tuh. "


" Beneran ya..! "


" Ya benar lah, masa tidak " Klikk.. Dr. Elvira mematikan panggilannya.


Setelah itu Dr. Elvira berpamitan untuk pulang, dia sudah merasa kelelahan.


" Hati hati Dokter, kalau Dr. Afandi menelfhon, tidak usah di angkat, atau langsung di matiin saja ponselnya. Dokter langsung istirahat ya. " Ucapku.


" Siap. " Dia melambaikan tangannya, dan berjalan menuju parkiran. Aku geleng geleng kepala ketika teringan percakapan tadi. Apa sampai seperti itu? Aku sangat heran.


****************


Aku menghampiri gerobak bubur, kemudian aku memesan satu porsi. " Terima kasih Bu. " Ucapku. Setelah bubur itu selesai di racik.


" Sama sama. " Jawab Ibu tukang bubur.


Aku berlalu dan berjalan menuju Gedung A, ketika melewati Parkiran. Aku mendengar, seperti ada orang memanggil aku. Tapi, aku tidak menengok ke arah suara, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke Lobi.


Tapi orang itu sepertiny mengikuti aku, aku semakin mempercepat langkahku, aku merasa takut dan tidak berani melihat ke belakang. Dari kejauhan, pintu Lift terlihat terbuka, orang yang berada di dalamnya keluar dengan tertib, aku terus mempercepat langkahku dan hampir saja terlambat, karena ketika aku sampai pintu Lift itu hampir saja tertutup, tapi ada orang yang memencet tombol terbuka. Aku langsung masuk dengan nafas yang tersenggal senggal.


Sesampainya di Lantai lima, aku langsung masuk ke ruangan Kak Ranti. Aku langsung duduk kemudian meminum air mineral. Aku sangat haus sampai keringat terus bercucuran.


" Kamu habis ngapain Dek? Kok seperti habis di kejar singa. " Celetuk Kak Ranti. Dia tidak tau aja adiknya ini kecapean.


" Iya Kak, tadi ada yang mengikuti aku dari Parkiran, tapi aku lari dan langsung masuk Lift. " Jawabku.

__ADS_1


" Siang seperti ini mana ada hantu Dek?! " Celetuknya lagi.


" Ya siapa kali yang bilang kalau aku di kejar hantu. Itu tidak tahu siapa loh, aku takut Kak! " Ucapku. Aku benar benar merasa takut, kalau saja iya di siang hari ada hantu, tapi bagaimana kalau itu orang jahat? . Tubuhku terasa dingin, dengan keringat terus bercucuran.


" Sudah, jangan dipikirkan. Apa mungkin itu Dr. Afandi, soalnya tadi dia nanyain kamu kesini Dek?! ".


" Hah, dia ada kesini? " Aku sedikit terkejut.


" Iya, dia tadi kesini dan bertanya kalau kamu kemana? Terus Kakak bilang, kalau kamu lagi ke tempat Loundry. " Jelas Kak Ranti.


" Oh, pantas saja dia tahu kalau aku sedang di tempat Loundry. "


" Lah, emang dia ada nyamperin kamu? ".


" Tidak sih, tadi Dr. Elvira yang nyamperin aku. "


" Hah.. ! " Kak Ranti melongo.


*******************


Usai perbincangan dengan Kak Ranti, aku memakan bubur yang tadi dib bawah, aku takut keburu dingin dan malah tidak selera untuk memakannya.


Oh iya aku sampai lupa deng ponsel ku, aku membuang steropom bekas bubur tadi, kemudian mencuci tangan ku. Aku mengambil ponsel dan menekan tombol On Offnya.


Benar saja, pesan masuk datang berbondong bondong, entah berapa banyak aku tidak menghitungnya. Kebanyakan pesan masuk itu dari Doktet Ganteng dan hanya dua dari operator. Aku tidak peduli yang dari operator itu, yang terpenting dari Dokter Gantengku. Dia pasti sudah kelabakan, pesannya tidak di jawab terus.


"[ Dek, lagi apa? ]" Pesan pertama yang aku buka. Pesan ini di kirim sekitar pukul 20.02.


"[ Dek? ]"..


"[ Dekkk?]", kenapa tidak di balas pesanku? "..


"[ Dek, aku tidak bisa tidur..! ]" Dengan emot sedih. Dikirim jam 23.20.


"[ Dekk, kamu kemana, kok tidak balas pesan ku. ]" Dikirim jam 04. 18.


"[ Dek, apa kamu belum bangun? ]"


"[ Dek, aku berangkat ya, nanti kita sarapan bareng. ]" Jam 05.15.


"[ Dek, kok kamu diam saja? Apa kamu marah sama aku? ]"


"[ Dek, di balas dong. ]"


"[ Dek, aku tunggu di Lobi. Kita sarapan, aku lupa bilang Dokter Elvira untuk pesan makanan. ]" Aku terjengkit. ' Kok Dr. Elvira yang pesan makanan? Kasihan juga Dr. Elvira, dia ternyata merepotkan sekali. '


"[ Dek, ayolah. Sebentar lagi jam kerja aku. ]"


"[ DEK, AKU MARAH YA SAMA KAMU. ]" Itu pesan terakhir, dia menulisnya dengan huruf besar dan di akhiri dengan stiker gambar anak kecil yang sedang menangis.


" Haahh, kok tidak bisa terkirim. " Ucap ku pelan. Kemudian aku mengecek pesan yang baru saja masuk, ternyata dari operator.


"[ Pulsa anda, sudah habis, segeralah isi ulang0 kembali.]" Jam 23.45.


"[ Kartu anda dalam masa tenggang. Segera isi ulang kembali pulsa anda, agar anda bisa menikmati kembali.layanan kami. ]" Jam 00.15. " Hah, kok bisa masa tenggang. " Gumamku.


"[ Pesan anda tidak terkirim. Segera isi pulsa anda, agar anda bisa menikmati kembali layanan kami. ]" Itu pesan terakhir Sang Operator.


Huuufft.. Aku menarik napas dalam dalam, kemudian mengeluarkanya dengan perlahan. Bisa berabe nih, kalau Dr. Afandi marah. Aku harus bagaimana? Kalau harus beli pulsa ke bawah, kok aku jadi takut ya.


Ketika sedang berperang dengan pikiran ku, giba tiba ponselku berbunyi tanda panggilan masuk. Aku cepat cepan mengambol ponselku dan melihat siapa yang memanggil. " Bang Bagas " Gumamku. Aku kira Dr. Afandi yang menelfon. Aku segera mengangkatnya.


" Hallo, Assalamu'alaikum. " Ucap ku.


" Wa'alaikumsalam. Lagi apa Dek? "


" Aku lagi bengong Bang. "


" Ngapain bengong? Awas ada yang lewat. "


" Hehee, Bang, kirimin Adek pulsa dong!. " Kesempatan ku untuk mengisi pulsa. Aku tersenyum.


****


" Permisi Mbak Ranti..! " Ucapnya. Tiba tiba saja Dr. Afandi menyembul dari balik tirai. Aku terlonjak.


******


" Ya elah Dek, belilah sendiri. " Dari balik telfhon Bang Bagas berbicara.


" Ya sekali sekali lah Bang, aku cape nih. " Ucapku pelan. Kulirik sang pujaan hati dari ekor mataku, entahlah raut mukanya sangat kusut.


********


" Ini Dokter. " Kak Ranti menyerahkan hasil Rontgennya.


" Kalau, hasil CT Scannya ada tidak? " Tanyanya.


" Sudah di dalam semua Dokter. "


*********


" Iya Dek, nanti Abang isiin yang goceng. "

__ADS_1


" Tanggunglah Bang cuma goceng, tidak sampai sebulan dong. " Suara ku sedikit keras. Aku menutup mulut ku. Ternyata Dr. Afandi masih memperhatikanku. ' Kok lucu sekali ya raut wajahny. ' Gumamku. Aku tersenyum sendiri.


" Untuk apaan sih Dek, kalau cuma untuk mengirim pesan, itu cukup Dek. Yang penting jangan di pakai menelfhon. "


" Ya tetap tidak sampailah Bang, untuk dapet gratisan harus mengeluarkan dulu lima ratus perak. "


" Ya sudah, bawel, Kak Ranti lagi ngapain. ? "


" Lagi duduk Bang. " Jawabku asal. Tapi memang iya kalsu Kak Ranti lagi duduk.


" Memang sudah tidak ada pemeriksaan lagi? "


" Tidak, jadwal Operasinya dua puluh harian lagi. "


" Lama banget sih. "


" Hmmm. " Ku lihat Dr. Afandi terus berdiri sambil memeriksa hasil Rontgen dan kulihat lagi Kak Ranti yang lagi mesem mesem sendiri sambil memainkan ponselnya.


' Merekai ini kenapa? '.


********


" Dek..!! " Panggil Bang Bagas.


" Iya, apalagi Bang? " Tanyaku.


" Kak Ranti lagi apa? "..


" Lagi mesem mesem sambil main ponsel. " Ucapku. Kak Ranti melirik ku sekilas, kemudian kembali lagi ke layar handfhon nya.


************


Bugghh.. " Eh Embe... Eh Embeee...! " Latahku keluar dan aku menutup mulutku. Wajahku sudah memerah tidak karuan. Padahal niatku mau mengambil obat dan vitamin yang aku simpan di dekat botol itu, tapi kenapa botolnya malah jatuh. Kulihat Dr. Afandi terlonjak. Dan dia menjadi kikuk.


" Ehh, terima kasih ya Mbak Hana.! " Aku melongo begitupun Kak Ranti. Dia berlalu keluar ruangan dan kita terbahak..


" Hahahahahahha...! " ..


" Apa Tidak salah dengar. " Ucap ku.


" Kamu tega Dek, kasihan tau. " Kak Ranti menoyor kepalaku.


" Aww, sakitlah Kak. " Aku memegang kepalaku.


" Kamu kenapa toh Dek, ada Dr. Afandi kok di cuekin terus? Nanti beneran hilang, kamu nangis kejer loh. " Ucap Kak Ranti.


" Apa sih Kak, aku tidak sengaja loh, lagian ini Bang Bagas kan lagi nelfhon. "..


" Oh iya, Bang Bagas mana? Halo Bang, masih di situ? " Tanyaku.


" Iya, kenapa ramai sekali? "


" Tidak ada apa apa Bang, tidak usah kepo hehe..!! " Ledek ku.


" Ya sudah, Abang juga tidak mau mengisi pulsa kamu.! "


" Ya di isi lah Bang, kan takutnya ada Dokter yang mengirim pesan, terus penting, nanti bagaimana? "..


" Iya, iya bawel..".. Ada kehangatan yang menelusup ke dalam jiwaku. Tidak pernah aku sekonyol ini, tidak pernah juga aku berkomunikasi sesering ini sama saudaraku. Dengan Kak Ranti sakit. Aku bisa merasakan kebahagiaan. Bukan bahgia karena Sakitnya. Tapi, aku bahagia karena bisa berkomunikasi langsung. Jujur saja, kalau di katakan kesepian, aku ini sangat kesepian. Aku seperti jauh dari siapapun dan sangat jarang berkomunikasi walaupun dengan saudaraku sendiri.


Apa ini penyebabnya aku menjadi pemalu seperti sekarang ini. Aku tidak tahu, mungkin hanya ahlinya yang menilai, karena aku juga termasuk anak Broken Home. Yang hampir setiap hari harus mendengar percekcokan orang tua.


Kala itu, di rumah tinggal aku sendiri. Kak Ranti dan Bang Bagas sudah bekerja, dan Kakak yang lainnya sudah menikah. Aku benar benar pusing ketika harus mendengar orang tua aku cekcok. Entah apa yang mereka ributkan. Bahkan Ibuku sering meminta di ceraikan.


Sudahlah, aku tidak ingin mengingat lagi masa masa itu. Sekarang aku harus bahagia.


" Ya sudah, Abang tutup dulu ya, ada yang mau ganti oli. " Ucapnya.


" Oke sip, jangan lupa pulsanya. " Ucapku. Panggilan berakhir. Aku menaruh ponselku di samping Kak Ranti.


**********


Baru saja aku mau berdiri. Ponselku kembali berdering. " Siapa lagi sih. " Ucapku kesal. Padaha aku sudah kebelet. Aku melihat siapa yang memanggil, ternyata nomor itu tidak ada namanya. Malas sekali, tapi aku merasa ragu, takutnya itu penting.


" Hallo. " Ucapku. Akhirnya aku memutuskan unuk mengangkanya.


" Iya, hallo Mbak, ini Elvira..! " Ucapnya.


" Hahh, Dokter? "..


" Iya, kenapa Mbak tidak membalas pesan Dokter cintamu itu, saya baru juga mau tidur, dia sudah menelfon lagi. Dia meluapkan kekesalannya kepada saya, Mbak saya jadi tidak bisa tidur huhuhu. "


" Lah, kan sudah saya bilang, matiin saja ponselnya Dokter. "


" Belum sempat Mbak, saya baru habis mandi keburu di telfhon. "


" Oh ya, sepertinya dia lagi nangis guling guling Hhaaa. ".


" Hahhh...!! "..


**Bersambung...


Tetap pantengin ya semua, jangan lupa Like, dan vote nya ya..!

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir**..


__ADS_2