
Oke, mungkin tidak ada cara lain selain aku langsung mengucapkan Ijab Qobul kepada Bapak kamu, " Seketika otakku blank tidak bisa mencerna apa yang dia ucapkan.
Dia pergi membawa cincin itu dengan kemarahannya. Aku tertegun dan terus memikirkan apa maksud yang di ucapkannya.
...****************...
" Kakkk..! " Panggilan itu membuyarkan lamunanku.
" Ohh, iya Bu, " Jawabku. Aku benar benar gugup.
" Kenapa? " Tanyanya.
" Tidak apa apa? "
Setelah sedikit berbincang, aku lengsung ke Kamar Mandi untuk mengambil wudhu. Dan setelah shalat aku langsung bersiap untuk tidur. Padahal, orang di sekelilingku masih banyak yang berlalu lalang karena ini baru jam tujuh lewat.
Aku membenamkan wajahku ke bantal dengan posisi miring membelakangi Mamanya Elsa. Sampai akhirnya aku tertidur lelap.
...****************...
Jam empat dini hari aku terbangun, ku lihat orang di sekelilingku masih terlelap tidur. Suara dengkuran terdengar bersahutan. Aku beranjak ke Kamar Mandi karena kebelet dan terlihat Pak Nana sedang memainkan ponselnya di tempatnya duduk.
Aku sedikit berlari untuk mempercepat langkahku dan segera mengunci pintu. Setelah selesai, aku mengambil wudhu untuk shalat sunah.
Jam berlalu, mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Membuat semua orang yang tertidur merasa terganggu dengan silaunya cahaya yang menembus kaca ruangan ini. Adapun sebagian orang yang sudah terbangun lebih dulu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Aktifitas pagi hari sangat ramai oleh perbincangan sesama keluarga pasien. Aku segera membeli sarapan dan aku juga membeli beberapa lauk dan nasi untuk makan siang dan sore. Tidak apa lah nasinya dingin juga, mood ku sedang tidak baik. Sarapan aja rasanya pait di mulut, tapi aku memaksanya masuk agar sakit lambungku tidak kambuh.
" Assalamu'alaikum, " Suara lembutnya mengucapkan salam di hadapanku.
" Wa'alaikumsalam, " Aku mendongak melihat siapa yang mengucapkan salam. Seorang ibu parubaya sedang berdiri di depanku. Penampilannya sangat syar'i, hanya saja tidak memakai niqob atau cadar.
" Permisi, apa kenal dengan yang namanya Hana? " Aku sedikit terbengong ketika nama ku di carinya. Atau bukan aku..
" Ummi, sudah ketemu? " Suara yang tak asing tiba tiba muncul dari arah tangga.
" Abaang, yang mana? " Ibu itu malah balik bertanya karena kebetulan aku belum menjawab pertanyaannya tadi.
" Lah, ini Hana Ummi, " Dokter Arvi menunjuk ke arahku.
" Loohh, ini toh. Cantik sekali kamu sayang, " Tiba tiba saja Ibu itu menjadi heboh. Tapi tidak denganku yang merasa kebingungan.
" Dek, perkenalkan ini Ummi, " Ucap Dokter Arvi.
" Oh, I ii ya, " Jawabku gugup.
" Ini Ummi, yang aku ceritakan, mirip kan dengan Adek? "
Tiba tiba saja Ibu itu memelukku, aku yang langsung di peluk tambah kebingungan. Ibu itu seperti terisak dan aku mencoba mengusap ngusap punggungnya.
" Mohon maaf sayang, Ummi sedikit sedih. Perkenalkan nama Ummi, Aminah Umminya Arvi, "..
" Aku Hana, " Jawabku, akupun bersalaman.
__ADS_1
" Sudah sarapan belum Dek? " Tanya Dr. Arvi.
" Sudah Bang, "..
" Syukurlah, "..
" Oh ya, Ummi dari kemarin penasaran terus tau Dek, "
" Penasaran kenapa? " Tanyaku.
" Iya, dari kemarin, Arvi bercerita terus tentang kamu sayang. Arvi selalu bilang, kalau kamu mirip sekali dengan Adiknya yang sudah tiada. Jadi Arvi mengajak ke sini untuk berkenalan. " Jelasnya panjang lebar.
" Maaf Tante, " Aku merasa tidak enak sudah membuat mereka sedih. Padahal bukan keinginanku wajahku mirip anaknya.
" Iya santai aja, Ummi hanya rindu sama Safeea. Sama halny juga dengan Arvi, "
" Oh ya, Hanna di sini dengan siapa? Kata Arvi, kasian Ummi, Hana sendirian. Emang keluarga yang lain tidak ada yang nemenin? "
" Aku sendirian Tante, waktu Operasi sampai tiga hari di sini, ada Abang ku. Cuma mereka lagi pulang dulu, dan mereka juga harus kerja karena punya kebutuhan masing masing, "..
" Ya Allah, yang sabar ya sayang, kalau ada apa apa hubungi Ummi aja, atau Arvi, "..
" Terimakasih Tante, " ..
Tidak terasa perbincanganku dengan Ibunya Dr. Arvi berlanjut sampai tibanya Adzan dzuhur. Sampai sampai akupun sudah tidak merasa sungkan dan gugup lagi. Karena kelembutan Ibunya Dr. Arvi membuat aku merasa nyaman berada di dekatnya. Beliau sangat baik, lembut hatinya dan bijaksana. Aku pun tidak sungkan untuk meminta solusi dengannya tentangku dengan Kak Arkan.
Beliau menyarankan untuk menyerahkan semuanya kepada orang tuaku dan aku juga harus terus terang, kalau aku sudah mempunyai kekasih. Tapi, beliau juga menyarankan untuk tidak menunggu orang yang tidak memberikan kepastian.
Tapi, solusi itu membuat aku tambah bingung...
Jlleeppp...
Benar juga, apapun yang menurut aku baik belum tentu menurut Allah itu baik. Kepalaku merasa tambah pusing, kenapa merasa berat sekali ya Allah...
" Shalat aja dulu yuk, " Ucap Dr. Arvi membuyarkan perasaan yang berkecamuk di dalam hati.
Akhirnya aku dengan Ummi Aminah berjalan menuju Mushola yang berada di Lantai bawah, sedikit jauh dari tempatku.
" Setelah ini mau kemana Dek? " Tanya Ummi Aminah.
" Aku mau lihat dulu Kak Ranti Ummi, jam besuknya sebentar lagi habis, " Jawabku.
" Ohh sekarang waktunya jam besuk? "..
" Iya Ummi, setengah jam lagi, " Aku melihat jam dinding jarum panjangnya sudah menunjuk ke angka enam, berati sudah setengah satu. Ummi Aminah tadi membawaku untuk berdzikir dan beristigfar bersama agar hatiku merasakan kelegaan.
" Ya sudah, ayo. Sudah tidak usah di pikirkan lagi masalah yang ada. Sekarang fokus aja untuk kesembuhan Kakaknya dulu, perbanyakin dzikir dan istigfar, atau juga shalawatan agar hati kita tidak terlalu merasa runyam, banyak banyak shalat di sepertiga malam agar merssa Allah itu dekat dengan kita. Apapun semua, sudah Allah takdirkan. Kita tidak akan bisa menolaknya, "
Banyak sekali nasehat nasehat yang di berikan oleh Ummi Aminah. Sampai yidak terasa sudah di sampai di ruang tunggu.
Ruang tunggu begitu lengang, karena pastinya kebanyakan orang berada di ruang kaca.
" Ummi minum dulu, " Ucap ku. Aku memberikan sebotol tanggung air mineral. Ummi Aminah menerimanya.
__ADS_1
" Terimakasih sayang, " Ummi Aminah meneguk airnya sampai setengahnya. Begitupun denganku.
" Sebentar, Ummi mau hubungi Arvi dulu, " Ucapnya. Aku menganngguk.
Setelah selesai menelfon, Ummi Aminah langsung mengajakku ke Ruang Kaca.
" Yang mana Kakaknya Dek? "..
" Itu yang Bed ke tiga dari sini Ummi, " Jawabku. Aku ikut memanggilnya Ummi karena permintaannya. " Panggil saja Ummi sayang, jangan Tante. Anggap saja Ummi ini keluargamu, jangan sungkan ya, " Ucapnya ketika di perbincangan tadi. Akhirnya akupun mengiyakan.
" MasyaAllah, MasyaAllah, Astagfirullah, " Ucapnya pelan.
Terlihat Kak Ranti masih tertidur dengan tenang, kabel kabel juga belum ada yang berkurang, selang Oksigen di hidungnya masih menempel. ' Kapan bangunnya Kak, ' Ucapku dalam hati.
" Kita do'akan Kakaknya ya Dek, "
" Baik Ummi, " Aku menadahkan tanganku sejajar dengan dadaku, dan aku juga mengAamiinkan do'a yang di rafalkan Ummi Aminah. Hatiku seperti menghangat dengan kedatangannya Ummi Aminah.
"Kalau boleh tahu, sakit apa Kakaknya Dek? " Setelah duduk di bangku, beliau kembali bertanya.
" Sakitnya Mysthania Gravis, sama ada tumornya, " Jawabku sekena nya. Karena memang aku tidak terlalu paham bahasa kedokterannya. Yang ku tahu Kak Ranti harus di Operasi saja.
Langsung saja Ummi Aminah mengambil telepon genggamnya dan mengetikan sesuatu. " MasyaAllah, " Ucapan itu keluar lagi.
Ceklek, handel pintu di buka dari dalam ruang ICU.
" Mohon maaf semuanya, waktu besuk sudah habis, " Petugas ICU nya memberitahu.
Akhirnya, aku dan Ummi Aminah juga yang lainnya keluar dari ruangan kaca itu.
Sesampainya di Ruang tunggu, terlihat Dr. Arvi baru saja duduk di bangku dan di sampingnya terlihat ada beberapa pelastik juga goodibag.
" Ummi, " Panggilnya. Kemudian dia meraih tangannya dan menciumnya.
" Makan dulu yu Dek, " Ajaknya. Aku sedikit segan, karena kali ini harus makan di depan orang yang baru aku kenal lagi.
Setelah aku memgambil koran untuk alas duduk. Akhirnya aku makan siang bersama.
Setelah makan siang, Ummi Aminah pamit pulang dan Dr. Arvi juga pamit. Dia akan istirahat karena malam nanti bagian dia jaga.
" Terimakasih banyak Ummi, mohon maaf sudah merepotkan, " Ucapku. Aku menyalaminya dan mencium tangannya sopan.
" Sama sama Sayang, Ummi tidak merasa di repotkan. Ini ada buah juga roti dimakan ya, " ..
" Siap Ummi, " Aku tersenyum lebar.
Kemudian Ummi Aminah dan Dr. Arvi berlalu dari hadapanku. Aku menatap mereka sampai tidak terlihat lagi.
Alhamdulillah, aku bertemu dengan orang orang baik di sini, Dan aku harus banyak bersyukur...
**Bersambung...
Mohon maaf teman teman, baru bisa Up lagi. Kasih semangatnya dong🥺🥺!!..
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca cerita saya, semoga bisa Up tiap hari lagi..
Jangan Lupa Like dan Follownya ya🙏🙏**