
Panggilan demi panggilan tidak aku hiraukan, mungkin sampai sepuluh kali. Sampai akhirnya dia mengirim pesan..
" [ Dek, tolong diangkat ] " ...
...****************...
" Sudahlah cukup, aku ingin sendiri " Ucapku pelan.
Dering ponsel kembali berbunyi tapi tetap tidak peduli sampai akhirnya aku matikan ponselku. Jam berlalu, sampai akhirnya tiba waktu sore. Ponselku tetap belum aku nyalain lagi. Saat ini aku benar benar ingin sendiri dulu, aku merasa lelah dengan semua ini.
Selesai mandi sore, aku keluar meninggalkan ruang tunggu. Aku berjalan menuju taman yang ada di dekat Gedung PJT. Angin berhembus menerbangkan anak rambutku, anginnya begitu sejuk. Aku duduk di kursi taman yang berada tidak jauh dari gedung itu. Semburat senja memancarkan sinarnya. Mataku sampai tersa silau.
Aku duduk menatap lurus ke arah gedung PJT , di sana terlihat masih banyak orang berlalu lalang. Padahal ini sudah sore, dan pastinya pelayanan sudah tutup. Oh, mungkin itu orang yang baru saja mau pulang, ucapku dalam hati.
Aku memejamkan mataku sejenak untuk menikmati hembusan angin sore ini. Tapi, tidak lama kemudian ada suara seperti orang yang sedang melangkah menghampiriku. Siapa dia?
Aku tetap dalam posisiku memejamkan mata, biarlah nanti juga kalau dia bertanya kalau memang dia mau ke arahku. Semakin lama, suara itu semakin mendekat..
" Dekk...!! " Aku terlonjak, padahal dari tadi sudah tahu kalau ada orang yang mau mendekat. Tapi dari panggilannya, aku merasa takut kalau itu Kak Arkan.
Ku buka mataku perlahan, tapi tidak ada orang. Kemudian, aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi tetap tidak ada orang. Dan, aku menengok ke belakang..
" Aaaaaa.., " Aku berteriak tapi aku langsung menutup mulutku.
" Dokter Arvii..! " Aku memukul bahunya. Siapa yang tidak kaget ketika aku melihat ke belakang hampir saja wajahku menabrak wajahnya.
" Aku tuh bingung sama kamu Dek, punya masalah apa sih bilang dong, siapa tahu Abangmu ini bisa memberi solusi, "..
" Apa sih Dokterr, aku di sini lagi ngadem, "..
" Tidak usah bohong, " Ucapnya serius.
" Heei, terimakasih banyak Dokter, sudah paham sama aku. Tapi, aku tidak bisa..! "..
" Sudahlah, dari pada kamu pusing sendiri, Abang tau dari raut wajah kamu, kalau kamu itu lagi banyak masalah loh Dek, "..
" Kak Ranti gak bangun bangun, " Ucapku langsung.
" Itu masalah utamanya? Tapi, kalau menurutku bukan itu, " kemudian dia menatap dalam mataku, aku tidak paham apa yang dia lakukan.
" Masalah yang sebenarnya bukan itu kan? Ucapnya pelan. Aku hanya menggeleng.
" Anggap aku ini Abangmu Dek, anggap aku keluargamu. Kalau masih takut sama aku, biar nanti Ummi ku ke sini agar kamu lebih tenang, "..
" Eh, jangan.."..
" Tidak apa apa, biar nanti aku telfhon sopirnya Ummi, "..
" Jangan Bang," Ucapku memelas. Aku tidak ingin melibatkan lagi siapapun sebenarnya, tapi kenapa malah datang dengan sendirinya.
" Bersyukur saja Dek, kamu itu kebanyakan rasa gak enaknya, "..
" Ya sudah yuk pulang, sudah mau magrib, jangan melamun terus di sini nanti kesambet, " Dia menarik lenganku dan menuntunku.
__ADS_1
" Gak usah takut Dek, sama aku. Aku tidak bisa di katakan orang baik, tapi aku tidak beniat berbuat jahat sama kamu Dek. Aku hanya merasa melihat kamu itu seperti adikku yang sudah bersama Allah, yang sudah meninggalkan kami semua. Aku sangat terluka Dek, waktu itu umurnya masih lima tahun dia mengalami sakit panas tinggi kemudian kejang dan sesak napas, belum sempat di bawa ke Rumah sakit Allah sudah mengambilnya. Dan kenapa sekarang melihat kamu, seperti ada magnet yang menarik aku untuk terus membantu kamu Dek, aku hanya tidak ingin kamu bersedih intinya, " Di perjalanan, Dokter Arvi terus bercerita tentang Adiknya yang sudah tiada. Sampai tidak terasa sudah sampai di depan Ruang Tunggu.
" Dokter, mau ke ICU lagi? " Tanyaku.
" Jangan panggil aku Dokter Dek, kan dari kemarin sudah jadi Abangmu, "..
" Iya Abang, " Ucapku. Aku tidak menghiraukan orang yang berada di ruang tunggu. Aku mengikuti langkah Dr. Arvi yang menuju ruang ICU.
" Mbak Hana..!! Mbak Hana..! " Ucap Pak Nana. Dia memanggilku seperti berbisik. Tapi aku terus mengikuti Dr. Arvi.
" Dokter, aku ikut masukk, " Ucapku. Mataku mengembun ketika mengungkapkannya.
" Kan sebentar lagi jam besuk di buka Dek, "..
" Tapi aku ingin ketemu langsung, "
" Ya sudah, tunggu dulu ya. Nanti aku kembali lagi, aku bilang dulu sama Susternya di sini. " ucapnya. Kemudian Dr. Arvi masuk bertepatan dengan adzan magrib. Tidak lama kemudian, Ruangan kaca di buka oleh petugas ICU. Tapi aku tetap menunggu di depan pintu yang menghubungkan ke ruang ICU.
Lebih dari setengah jam aku menunggu Dr. Arvi keluar. Tapi tidak ada, sampai kakiku terasa pegal. Akhirnya aku masuk ke ruangan kaca.
Terlihat di dalam sana, bed bagian pojok seperti sedang dalam keadaan darurat. Karena, banyak dokter yang berkumpul mengelilingi satu bed. Mataku beralih ke bed nya Kak Ranti. Terlihat ventilatornya sudah di lepas dan di ganti dengan selang Oksigen yang menempel di hidungnya. ' Alhamdulillah, ' Ucapku dalam hati. Tapi, Kak Ranti masih tetap terbaring lemah dengan matanya terpejam.
Kesibukan bed di bagian pojok masih tetap berlangsung sampai akhirnya jam besuk habis. " Kenapa Dokter Arvi tadi tidak keluar lagi ya? " Ucapku di dalam hati. Aku berjalan pelan. Bahkan sesekali aku bersender di tembok untuk menunggu Dokter Arvi keluar.
" Dekk.! " Panggilnya. Aku menengok ke arah panggilan. Terlihat wajah kusutnya dan berantakan. Padahal sebelum masuk, dia terlihat tampan dan berwibawa.
" Kenapa Bang, " Akhirnya aku bisa memanggilnya Abang kembali di depannya.
" Yang tadi dipojokan itu? "..
" Iya, maaf ya. Tadi menunggu lama ya, "..
" Iya tidak apa apa Bang, " Ucapku pelan
" Beneran? " Tanyanya.
" Ya benar lah Bang, "..
" Iya, lagian kalau lagi ada yang kritis seperti itu, tidak bisa ada yang masuk, selain keluarga pasien yang kritis itu, " Jelasnya.
" Iya Bang, tidak apa apa, mungkin besok besok aku masuk lagi. Tapi Alhamdulillah, Ventilatornya sudah tidak di pasang lagi, "
" Syukurlah, kalau boleh tahu, Kakaknya di bed berapa ya?..
" Bed empat belas kalau gak salah, terhalang dua bed dari kaca, "..
" Oh, oke nanti kalau Abang masuk lagi, Abang mau coba menjenguknya, "..
" Iya Abang, terimakasih banyak, "..
Aku berjalan keluar beriringan dengan Dokter Arvi. Dan alangkah kagetnya ketika msampai di ruang tunggu.
" Dek aku pualng dulu ya, " Sudah malam belum mandi nih, bau gak Dek? "
__ADS_1
" Gak tau lah bang, masih wangi kok, " Ucapku pura pura. Padahal aku ini sedang terkejut melihat siapa yang ada di ruang tunggu.
" Ya sudah, Abang pulang dulu ya, besok aku ajak Ummi ke sini, Dahh.. ! " ..
" Oke, " Aku mencoba tersenyum. Padahal hatiku sudah dag dig dug tidak karuan.
" Deekkk..! "
" Mbak Hana.. " Panggilan dari dua orang berbarengan membuat aku bingung. Siapa dulu yang aku jawab.
" Ada apa Pak? " Tanyaku. Aku memilih menghampiri Pak Nana, takutnya ada berita Urgen dari Kak Ranti.
" Itu keluarganya ya, " Dia menunjuk ke arah ruang tunggu. Aku meliriknya dan Hemm, aku hanya mengangguk.
" Dari sore dia datang Mbak Hana, "..
" Oke baik Pak, terimakasih banyak, " Aku memotong pembicaraannya. Kemudian meninggalkannya dan menghampiri orang tersebut.
Sebenarnya aku tidak ingin menghampirinya bahkan bertemu pun aku tidak mau. Tapi, mau bagaimana lagi,
" Dari mana Dek? " Tanya nya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
" Aku habis dari Ruang kaca, " Jawabku.
" Sebelumnya, " Ucapnya tegas. Dia menatapku marah.
" Itu terserah aku mau kemana Kak, aku di sini sedang menunggu orang sakit loh bukan sedang bermain. Dan aku kemanapun kenapa harus pakai di awasi, " Aku benar tidak suka dengan sikapnya, yang seolah aku ini harus menuruti apa katanya.
" Aku hanya ingin memastikan kamu itu baik baik saja, apa salahnya? "..
" Bukankah dari kemarin, Kakak memberiku waktu untuk berpikir? "..
" Ya, karena kamu tidak memberiku kabar, bahkan aku hubungi juga tidak kamu angkat, "..
" Sudahlah, jangan mengekang aku. Jangan sampai aku setres gara gara banyak masalah di sini, " ..
Aku bangun dari dudukku, baru saja melangkah, Kak Arkan sudah menarik lenganku.
" kemanakan Cincinnya? "..
" Oh ini, " Aku menarik tanganku. " Terlepas, " Ucapku. Kemudian aku meninggalkannya dan masuk ke ruang tunggu yang di belakang. Ternyata dia juga mengikutiku.
Kemudian aku mencari kotak cincin itu, dan memberikannya.
" Ini Kak, maaf untuk saat ini aku tidak ingin mempunyai hubungan dulu, aku mau fokus ke Kak Ranti, " Ucapku tanpa merasa bersalah. Mungkin aku kejam, tapi justru aku merasa tertekan dengan kehadirannya.
Raut wajahnya seketika langsung memerah dan terlihat sekali kemarahannya. Tapi dia menahan amarahnya karena mungkin ini tempat umum.
" Oke, mungkin tidak ada cara lain selain aku langsung mengucapkan Ijab Qobul kepada Bapak kamu, " Seketika otakku blank tidak bisa mencerna apa yang dia ucapkan.
Dia pergi membawa cincin itu dengan kemarahannya. Aku tertegun dan terus memikirkan apa maksud yang di ucapkannya.
Bersambung...
__ADS_1