
" [ Dek, harus sabar ya, jauh jauh hari Kakak sudah bilang sama Emak juga Bapak, kalau Adek belum ingin menikah dulu, tapi.. Tadi mereka datang dengan membawa banyak hantaran...] " Pesan dari Kak Fitri terputus. Maklum ponsel jaman dulu kalau menulis pesan tidak bisa panjang.
...****************...
" [ Maksudnya hantaran apa? ] "..
" [ Pesannya tidak masuk semua Kak, ] "..
" [ Hantaran untuk meminang kamu Dek, Arkan juga sudah memberikan satu set perhiasan untuk kamu dan sekarang di titipkan sama Emak, ] "..
Aku benar benar tidak habis pikir dengan kelakuan Kak Arkan, kenapa harus memaksa seperti ini? Entahlah bagaimana rasanya perasaanku, rasanya aku benar benar ingin berteriak sekuat tenagaku.
" Kak, aku keluar dulu, di depan, kalau Kakak perlu apa apa kirim pesan aja, aku gak jauh kok, di depan sini " Ucapku. Kak Ranti mengangguk, dan terus memperhatikan gelagatku.
Tiba di depan ruangan aku langsung terduduk, lemas sekali rasanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini di rumah kedua orangtuaku.
" [ Kenapa enggak Kakak cegah? ] "..
" [ Kakak baru sampai di rumah Emak Dek, maafin Kakak. Tadi Kakak habis jemput Azka sekolah, ] "..
Iya benar, Azka putra bungsu Kak Fitri pulang dari sekolah TK pukul setengah sepuluh.
" [ Kakak juga kaget, pas datang ke rumah sudah banyak hantaran dan orangnya sudah pulang, ] " Pesan kembali masuk dari Kak Fitri.
Karena cape ngetik, akhirnya aku menelfon Kak Fitri..
Tuuutt..
Tuuuttt.....
" Hallo, Assalamu'alaikum Dek, " Ucap Kak Fitri di seberang. Aku mengecilkan volume panggilanku takut mengganggu orang lain.
" Wa'alaikumsalam Kak, aku ingin bicara sama Emak atau Bapak, " Ucapku.
" Ya sudah, ini adanya Bapak, Emak lagi mencari rumput di lebun depan Dek, " Ucap Kak Fitri. Memang, Ibuku memelihara kelinci juga marmut jadi menambah kegiatan Ibuku di rumah. Awalnya hanya marmut saja dan tidak membutuhkan banyak rumput, tapi semenjak ada kelinci rumput sekarung besar hanya cukup satu hari saja, karena kelincinya berkembang biak dengan pesat.
" Hallo, Assalamu'alaikum Neng, " Ucap Bapak di seberang.
" Wa'alaikumsalam, " Jawabku. Lidahku tiba tiba kelu, tidak bisa bertanya. Mataku memanas dan air mataku mulai jatuh.
" Neng, Arkan tadi kesini, melamar Eneng. Dia ingin serius sama Eneng, nanti kalau pengobatan Kakakmu sudah selesai, langsung menikah ya, " Ucap Bapak.
Apa? Menikah? Ya Allah, aku belum siap untuk menikah Pakk.
" Pak, kenapa harus aku, " Ucapku bergetar. " Kan masih ada Kak Ranti sama Bang Bagas, " Aku menangis.
" Kenapa menangis Neng? Bapak tidak bisa menolak orang yang benar benar serius datang kerumah Neng, itu tidak baik, " Ucapnya tegas.
" Tapi, aku belum siap untuk menikah pak, "..
" Sudah bagaimana nanti, tapi bapak tidak akan mengembalikan lagi hantaran itu, Bapak tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan kalau harus mengembalikannya lagi, "..
" Tapi aku tidak ingin menikah dengannya Pak, " Aku terus ngotot..
" Bapak sudah tua Neng, Bapak tidak tau kapan bapak akan di panggil sama yang Kuasa, setidaknya Bapak masih bisa mengantarkan dari kalian itu untuk menikah, kalau menunggu Kak Ranti, kan Eneng tahu sendiri. Kak Ranti sakit dan pengobatannya masih lama, Abangmu juga kan belum ada calonnya, " Ucap Bapak.
" Ya sudah ya, sama Kak Fitri lagi, Bapak mau beresin dulu kayu bakar, " Ucapnya.
" Hallo Dek, "
" Heemmn, "
" Bagaimana? Apa kata Bapak? "..
__ADS_1
" Aku gak mau menikah Kakkk., " Air mataku kembali luruh.
" Kenapa? Bukannya dari dulu kalian itu lengket banget. Karena, Dania? Mereka kan sudah lama tidak bersama, "
" Aku cape Kak, kalau harus terus berjuang tapi orangtuanya tidak menyetujui, apalagi selalu menghinaku, karena Kakak juga tau kan kalau kita itu orang tidak punya, di tambah kemarin dia sama Dania, sudahlah lengkap kecewaku, aku ingin buka lembaran baru, tidak jatuh ke lubang yang sama lagi, " Akhirnya yang selama ini aku simpan, aku keluarkan. Keluargaku hanya tahu aku kecewa karena Kak Arkan bertunangan dengan Dania yang sebenarnya sahabat baikku. Tapi masalah utamanya yaitu keluarganya yang membuatku terluka.
" Maksudnya orang tuanya bagaimana Dek? "..
" Ibunya melarang Kak Arkan bersamaku karena kita orang gak punya, "..
" Tapi sekarang kan sudah merestui kalian, dan beliau juga ingin segera kalian menikah, karena Bu Ainun juga lagi sakit, "..
" Aku tidak peduli Kak, "..
" Dek, jangan jadi pendendam, "..
" Aku tidak ingin dendam Kak, tapi semuanya masih tersimpan di dalam hatiku, "..
" Ya sudah ya Kak, aku mau lihat dulu Kak Ranti, Assalamu'alaikum, " Tanpa mendengarkan jawaban salam dari Kak Fitri, aku langsung mematikan sambungan telefonnya.
Aku menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk mataku kemudian aku masuk, tujuan utamaku adalah kamar mandi. Tidak mungkin aku langsung menghampiri Kak Ranti dengan keadaan wajahku yang seperti ini. Aku mencuci muka sambil terus melihat wajahku di cermin, tapi mataku masih terlihat memerah. ' semoga saja Kak Ranti tidak bertanya kenapa, ' Ucapku di dalam hati.
Baru saja duduk, suara adzan berkumandang, " Itu adzan dzuhur? " Ucapku kaget.
" Iya Dek, " Jawab Kak Ranti. " Kenapa kaget seperti itu? " Tanyanya.
" Tidak Kak, kirain aku masih pagi hehe.., " Jawabku.
Tidak berasa juga, aku ngobrol hampir dua jam an. " Aku shalat ke mushala ya Kak, " ..
" Iya Dek, "..
Aku menaruh ponselku ke dalam lemari, kemudian mengambil mukena dan aku menuju Mushola.
Sebelum masuk, aku mengantri untuk wudhu terlebih dahulu. Dan akhirnya aku shalat berjamaah. Sejenak, hatiku merasa tenang dan tentram, rasanya aku ingin berlama lama disini. Tapi, sekarang waktunya makan siang Kak Ranti, aku harus menyuapinya.
Ketika masuk, terlihat petugas makanan sedang membagikan makanannya kepada semua pasien yang berada di ruangan ini. Benar saja kan, kalau aku berlama lama di Mushola, pasti Kak Ranti kesusahan.
" Dek, kata Kak Fitri kamu di lamar Arkan ya, " Belum juga duduk, aku sudah di berikan pertanyaan itu. Kenapa juga Kak Fitri harus bilang sama Kak Ranti, kan Kak Ranti tahu kalau di sini aku punya hubungan sama Dokter Afandi."
" Bagaimana dengan Dokter cintamu itu Dek? " Tanya Kak Ranti, dia tersenyum dengan raut wajah meledek.
" Apa sih Kak? " Jawabku. kemudian aku duduk di kursi.
" Oh iya, Kakak lupa. Kemana Dokter Cintamu itu Dek, perasaan semenjak Kakak di sini tidak pernah datang, apa ada sesuatu hal terjadi ketika Kakak di ruang ICU kemarin? " Tanya Kak Ranti menyelidik.
Aku yang di tanya seperti itu menjadi salah tingkah.
" Emm, anu Kak, Dr. Afandi lagi tugas di luar Kota, " Ucapku. Akhirnya aku bisa memberikan alasan yang tepat, tapi Kak Ranti masih memperhatikanku sepertinya dia tidak percaya.
" Benarkah? "..
" Aduuh Kak, Kakak tidak percaya? Lagian Kak Arkan itu memaksa aku, aku bilang tidak mau malah datang kerumah, ya sama Bapak maen di terima aja, "..
" Kenapa seperti sedih seperti itu? "..
" Tau ah Kak, cape aku, " Jawabku.
" Dek, kalau menurut Kakak, tidak apa apa terima saja Arkan, apalagi sudah Bapak terima seperti itu. Kan Kakak juga sudah pernah bilang, jangan terlalu berharap sama Dr. Afandi. Kita kan tidak tahu dia seperti apa, pasti banyak resikonya Dek, dia seorang Dokter, kita ini apa Dek, Perbedaan kita sangat jauh, " Ucap Kak Ranti.
Lagi lagi perbedaan yang membuat aku bingung, padahal sejatinya di hadapan Allah SWT kita ini sama, tapi kenapa manusia ini selalu membedakan? Aku sadar diri dengan keadaan ekonomi orang tuaku, sangat jauh berbeda dengan Dr. Afandi yang seorang Dokter.
" Intinya aku belum siap untuk kejenjang lebih serius Kak, " Jawabku.
__ADS_1
" Tapi benar itu, kalau Dr. Afandi lagi ke luar kota? " Tanya Kak Ranti serius.
" Heemm, " Aku mengangguk.
" Lagian juga masih ada Kakak sama Bang Bagas, aku tidak ingin melangkahi, " Aku terus mengalihkan pembicaraan tentang Dr. Afandi.
" Siapa saja yang terlebih dahulu ada calonnya itu tidak masalah Dek, "..
" Emang Kakak tidak apa apa kalau di langkahi? "..
" Ya Tidak apa apa lah Dek, lagian Kakak kan masih sakit, kalaupun mau menikah, harus orang yang benar benar mau menerima Kakak apa adanya, " Ucapnya sendu. Benar juga, keadaan Kak Ranti memang sakit, sakit yang entah kapan sembuhnya. Karena Autoimun itu termasuk penyakit seumur hidup tergantung imun tubuhnya kuat atau tidak. Mungkin kedepannya, Kak Ranti juga tidak bisa bekerja berat lagi, apalagi berumah tangga banyak resiko yang memang harus pasangan yang benar benar tulus merawatnya.
" Ya, Kakak jangan berkecil hati, pasti suatu saat juga ada orang yang tulus untuk Kakak, " Hiburku. Aku tahu pasti dia sangat sedih, tapi lagi lagi kesedihan itu tidak terlihat di wajahnya.
" Ya makanya, jangan merasa terhalang oleh Kakak, siapa saja yang duluan Kakak tidak masalah, "...
Obrolan berakhir setelah menyuapi makan Kak Ranti, aku pamit untuk beli makan. Karena tadi pagi aku hanya beli bubur saja.
Baru keluar dari Lobi, aku di sambut dengan gemuruh angin, langit juga terlihat mendung, awan hitam seperti siap untuk memuntahkan yang berada di dalamnya. Perasaan waktu di atas tadi cuaca terlihat panas, kenapa sekarang berubah jadi mendung seperti ini.
Aku segera mengayunkan kakiku, mempercepat langkahku, takut akan segera turun hujan. Aku menghampiri Stand makanan Padang dan membeli beberapa macam lauk, untuk makan sore juga. Setelah selesai membayar, aku langsung pulang, karena gerimis mulai turun. Syukurlah, aku berjalan dengan cepat, hujan turun dengan lebat ketika aku sudah sampai Loby.
Aku menunggu Lift terbuka, sambil melihat hujan yang turun begitu lebat, udara menjadi dingin menyergap tubuhku. Aku menyilangkan kedua tanganku ke dada untuk menghalau dingin, walaupun tetap rasa dingin itu ada. Tidak lama Lift terbuka, dan aku membiarkan orang yang berada di dalamnya keluar terlebih dahulu, setelah itu, baru aku masuk bersama yang lainnya.
Sesampainya di ruangan, terlihat Kak Ranti seperti sedang gelisah.
" Kakk, kenap? " Tanyaku.
" Astagfirullah Dek, ngagetin aja, " ucapnya. " Kamu gak kehujanan? " Tanyanya, terlihat raut wajah yang khawatir.
" Tidak Kak, Alhamdulillah, " Sahutku. Aku menyimpan kantong plastik di atas lemari.
" Kakak kenapa? " Aku bertanya lagi, terlihat sekarang seperti sudah tenang.
" Kakak takut kamu kehujanan Dek, apalagi hujannya besar sekali, "..
" Beneran? " Tanyaku menyelidik, aku menatap matanya lekat. Aku hanya takut ada yang dia sembunyikan.
" Beneran lah Dek, kalau kamu kehujanan bagaimana? "..
" Ya kalau kehujanan ya basah lah Kak, " Aku tergelak.
" Kamu ini dikhawatirin malah bercanda, "..
" Ya bukan begitu Kak, maksud aku, takutnya Kakak kenapa napa, terlihat gelisah banget. Takut ada yang sakit atau apa gitu?! "..
" Tidak Dek, Kakak benar benar khawatir sma kamu, "..
" Terimakasih Kakakku, " Ucapku. Aku menjadi terharu.
" Ya sudah makan dulu Dek, "..
" Iya sebentar, aku mau minum dulu Kak, haus banget di kejar kejar hujan, " Ucapku. Aku langsung menuang air mineralnya ke gelas plastik, kemudian meneguknya hingga tandas.
Aku makan dalam diam dan Kak Ranti memainkan ponselnya, entah sedang berbalas pesan dengan siapa, dia terlihat tersenyum sambil tangannya terus mengetik di keyboard ponselnya.
Selesai makan, aku langsung mengambil ponselku. Kemudian aku memeriksanya dan terlihat banyak pesan masuk, dan ada satu pesan masuk yang mencuri perhatianku. ' Dari siapa itu? ' Ucapku dalam hati. Aku langsung membukanya..
" [ Assalamu'alaikum, Hana apa kabarnya? ] " Siapa ini? Ketika sedang menimang nimang, mau di balas atau tidak, tiba tiba suara petir mengagetkanku.
Duuaarrr....
Kilatan cahayanya membuatku takut. Aku langsung mematikan ponselku begitupun Kak Ranti.
__ADS_1
" Astagfirullah, ya Allah, " Ucapku.
Bersambung..