
Daahhhh, jangan nangis Sayang " Dia mencubit pipiku. Senang banget dah dia. Dia melambaikan tangannya dan berjalan keluar Lobi.
Sekarang, tinggal aku sendiri mematung di depan kaca. Sampai akhirnya Bu Fatma tiba. Beliau celingukan mencari ku.
" Buuu..!! " Aku melambaikan tangan. Memberi tahu kalau aku ada di dekatnya.
---------‐----------------
Kemudian aku menghampiri Bu Fatma dan bersalaman. Dia kesini bersama temannya yang waktu itu menyerahkan uang donasi.
" Bagaimana kondisi Mbak Ranti sekarang? Tanya Bu Fatma, memulai perbincangan.
" Kalau dilihat dari luar memang seperti tidak sakit, hanya matanya saja yang sering turun. Kalau ke Kamar Mandi juga dia bisa jalan, bahkan mandi sendiri juga bisa. Saya hanya membantu memegang infusnya." Terangku.
Kami berjalan menuju Lift , kemudian aku memencet tombol naik dan menunggu sampai pintunya terbuka.
Tidak lama kemudian pintu Lift terbuka dan kami memasukinya. Perbincanga kami selesai ketika mau masuk Lift tadi.
************
" Assalamu'alaikum Mbak Ranti " Bu Fatma dan temannya mengucap salam ketika memasuki Bed Kak Ranti.
" Wa'alaikum salam, Ibu.! Apa kabarnya? " Kak Ranti meraih tangan Bu Fatma juga temannya untuk bersalaman. Rasa haru dan gembira, terpancar di wajahnya.
" Alhamdulillah, kami baik saja Mbak. Mbak sendiri bagaimana kabarnya? " Tanya Bu Fatma.
" Alhamdulillah baik Bu, bagaimana kabar anak anak di Rumah Bu? " Kak Ranti masih tetap memikirkan keadaan anak anak Bu Fatma.
" Mereka baik semua Mbak Alhamdulillah. "..
" Oh ya, ini ada sedikit bingkisan untuk Mbak Hana, di makan ya. " Ucap Bu Fatma. Bu Fatma dan temannya memberikan godibag yang mereka bawa.
" Terima kasih banyak Ibu. " Ucapku.
" Jangan lupa di makan ya Mbak. "
" Baik Bu. "..
" Mmmm, uang masih ada? " Tanya Bu Halimah, temannya Bu Fatma.
" Masih ada Bu, ini memakai uang saya dulu, yang dari donasi belum di pakai. " Ucap Kak Ranti.
" Mohon maaf Ibu, saya tinggal mau shalat dulu. "
" Oh, iya silahkan.! Emang belum shalat Mbak? "
" Hehehee." Aku cengengesan. Takut akan ada pertanyaan lain lagi, aku segera bergegas ke Mushola dan berwudhu di sana. Masih banyak orang yang keluar masuk untuk menunaikan shalat juga ada yang beristirahat , mungkin di ruangan mereka tidak bisa tidur. Setelah berwudhu, aku segera masuk dan melaksanakan shalat.
Aku bersyukur, sekarang ini di kelilingi orang orang baik. Ketika sedang kesusahan, orang baik selalu menghampiri. Bersyukur dan terus bersyukur yang harus aku lakukan saat ini.
Setelah selesai shalat, aku segera pulang ke ruangan. Bu Fatma masih asyik mengobrol, bercerita juga bercanda. Mungkin itu caranya untuk menghibur Kak Ranti. Luar biasa sekali Ibu Fatma ini. Hatinya sangat tulus dan ikhlas terhadap ART nya.
Ada banyak orang, yang memperkerjakan orang lain di rumahnya dengan tidak manusiawi dan menganggap mereka hanya sebagai orang yang jauh derajatnya dengannya. Seperti halnya, ketika aku pertama kali bekerja dengan Kak Ranti. Majikannya ini benar benar hanya menganggap kita seorang ART yang harus duduk di bawahnya.
Tapi tidak dengan Bu Fatma, sejauh ini beliau sangat baik bagi kita. Mungkin di luaran sana memang banyak yang seperti Bu Fatma juga dan banyak juga yang seperti orang tidak manusiawi.
__ADS_1
Semua itu, merupakan kehendakNYA yang sudah tertulis untuk kita.
Aku bergabung dan mengobrol. Sampai tidak terasa, ketika Bu Fatma melihat ponselnya sudah jam setengah sembilan.
" Ya ampun, sudah setengah sembilan. Mbak Ranti, kita pamit pulang dulu ya . " Bu Fatma izin untuk pulang. Beliau terlihat gelisah.
" Iya, keasyikan ngobrol kita. Tapi tidak apa apa, yang penting Mbak Ranti senang. " Bu Halimah menimpali.
" Iya Mbak, jangan banyak pikiran ya. Kita pamit dulu takut macet di Jalannya. " Kata Bu Fatma lagi.
Aku dan Kak Ranti bergantian bersalaman, dan aku kembali mengantarnya sampai Lobi. Setelah Bu Fatma dan temannya sudah berbelok, aku kembali menuju Lift dan menunggu Lift itu terbuka.
Antara takut, aku terpaksa naik lewat Lift, takutnya di tangga juga tidak ada orang yang lewat. Masih banyak orang yang belum tidur, ada yang membawa termos air panas, ada juga yang membawa kantong keresek. Mungkin mereka habis belanja.
Lift terbuka di Lantai lima, aku keluar bersama beberapa orang perawat juga pendamping pasien. Aku segera ke ruangan, dan tempat yang di tuju pertama kali adalah Kamar Mandi. Aku menggosok gigi juga mencuci muka, tidak lupa aku mengambil wudhu karena belum shalat isya.
Ketika sampai di Bed, terlihat Kak Ranti sedang shalat. Aku pun segera menggelar sajadah dan melaksanakan shalat isya.
" Hooaaamm." Aku menutup mulut ku ketika tiba tiba menguap, air mata keluar dari mataku, aku segera mengelapnya. Mata ini sudah ingin terpejam dan memang sangat lelah. Aku sampai lupa meminum obat.
**************
Suara kegaduhan di samping ku membangunkanku. Memaksa mata ini untuk terbuka dengan sempurna.Detak jantung ini tak beraturan karena kaget. Aku duduk dalam keadaan masih belum sadar sempurna.
Aku mengucek ngucek mataku dan mencari di mana ponselku. ' Yahh, lowbat ' Gumamku. Aku lupa mencargernya semalam. Aku segera mengisi daya nya dan aku sengaja mematikannya agar cepat ter isi penuh.
Kemudian aku mengambil ponsel Kak Ranti dan membukanya. ' Jam 4.30 ' Gumamku. Aku beranjak ke Kamar Mandi untuk mandi. Sekalian aja agar nanti tidak perlu repot repot ke Kamar Mandi.
Adzan subuh terdengar berkumandang ketika masih di Kamar Mandi, aku cepat cepat memakai pakaianku.
" Sudah Mbak? " Seorang pasien bertanya dengan ramah.
" Sudah Bu, silahkan " Aku menjawab dengan senyum di bibir ku.
" Terima kasih " Ucapnya lagi. Aku berlalu dari Kamar Mandi. Setelah menaruh perlengkapan mandi, aku menyisir rambut ku. Dan segera membangunkan Kak Ranti.
" Kak, bangun.!! " Aku mengguncang tubuhnya. Kak Ranti membuka matanya.
" Sudah jam berapa Dek? " Tanyanya
" Sudah jam lima Kak." Jawabku.
" Kamu sudah mandi Dek? Tumben sekali."
" Hehee, tadi berisik di samping Kak, jadi aku terbangun, dan langsung mandi. " Jawab ku.
Aku membantu Kak Ranti untuk ke Kamar Mandi. Selesai itu, aku merapikan Bed Kak Ranti juga bekas tidur aku. Aku tidur di alasi Bed Cover dengan bantal tas baju Kak Ranti.
Niatnya hari ini aku akan meloundry baju dan mengambil yang kemarin aku titip di tempat Loundry dekat Rumah Sakit ini.
Ketika sedang menaruh baju baju kotor. Dr. Afandi mengagetkan aku.
" Permisi, selamat pagi." Dia membuka tirai dan menyapa dengan senyum di bibirnya.
" Pagi Dokter " Jawab Kak Ranti. Aku yang tadi kaget, pura pura cuek.
__ADS_1
" Apa kabarnya hari ini? " Tanyanya.
" Baik Dokter. " Lagi lagi Kak Ranti yang menjawab.
Aku benar benar ingin ketawa, ketika aku meliriknya dengan ekor mata ku. Terlihat dia mencebik kan bibirnya. Lucu banget Hahaha...
" Oh ya, setelah beberapa hari ini diskusi, mungkin tindakan Oprasinya akan di laksanakan sekitar dua puluh hari lagi " Jelasnya. Aku yang mendengarnya langsung mengangkat kepalaku dan menatapnya.
" Benarkah? " Kak Ranti merasa senang. Raut wajahnya menandakan kelegaan. Kak Ranti begitu senangnya ketika tahu kalau jadwal Operasinya sudah di tentukan, padahal masih dua puluh hari lagi. Itu lumayan lama.
" Alhamdulillah. " Ucap ku berbarengan dengan Kak Ranti.
" Ya sudah, saya permisi dulu. " Ucapnya.
" Terimakasih Dokter. " Ucap Kak Ranti. Dr. Afandi mengangguk dan berlalu dari hadapan kami.
Sepuluh menit berlalu. Aku dan Kak Ranti larut dengan obrolan obrolan ringan. Kita bercerita tentang waktu Operasi yang tinggal sebentar lagi. Kita bahagia mendengar kabar itu.
" Permisi sarapan datang. " Petugas makanan memasuki ruangan. Mereka membagikan makanan sesuai kebutuhan pasien. Aku sedikit terlonjak.
" Sudah jam berapa ini, kok tumben makanan sudah sampai?! " Ucapku.
Kak Ranti mengambil ponselnya. " Sudah jam tujuh lebih Dek. " Jawab Kak Ranti.
" Loh, kok cepat sekali. " Terlalu asyik kita berbincang, kita jadi lupa waktu. ' Oh ya, kok tumben dia tidak bawa godibag, ahh jangan berharap di beri saja ' Ucapku dalam hati.
Aku benar benar tidak ingat dengan ponsel ku yang sedan di isi dayanya.
" Dek, kamu beli sarapan aja dulu " Ucap Kak Ranti.
" Nanti bantuin Kakak aja dulu. " Jawabku.
" Tidak apa apa,Kakak bisa sendiri Dek, kamu juga harus sarapan. Nanti minum obat juga vitaminnya. Semalam kamu tidak minum obat ya?!. " Aku menggeleng. " Lupa Kak. "..
" Ya sudah, sekarang lebih baik beli sarapan saja dulu. " Akhirnya aku meninggalkan Kak Ranti. Aku menenteng kantong keresek yang berisikan baju kotor. Aku berjalan lurus menuju Lift. Tepat di ruangan samping Lift, pintunya terbuka dan aku melihat Dr. Afandi sedang memegang hasil Rontgen sepertinya, dia mengangkat kepalanya dan tatapan kami bertemu. Aku segera memalingkan wajah ku. Dan segera berbelok ke arah Lift.
Lift terbuka, aku mendahulukan yang keluar, baru aku masuk ke dalamnya. Di sampingku, ada beberapa Suster juga Dokter, ada juga pendamping pasien yang mau turun ke bawah.
" Hei, bukannya orang ini yang kemarin kita lihat sama Dr. Afandi ya " Ucap seorang Suster yang berada di sampingku. Dia berbisik kepada temannya. Tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
" Iya ya, mimpinya kejauhan dia, padahal dia itu siapa ya, cuma pendamping pasien Hahaa ." Jawabnya. Suaranya tidak berbisik lagi, tapi itu sangat jelas. Ada beberapa orang yang melirik kepadanya tapi dia tetap cuek. Aku menghembuskan napas dengan kasar.
Tidak lama kemudian Lift terbuka. Aku mengantri untuk keluar. Rasanya benar benar sesak, aku ingin menerobos langsung. Tapi itu tidak mungkin, karena Suster tadi membawa pasien memakai kursi roda.
Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya aku keluar juga. Huufftt.. Aku mengambil napas dalam dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.
Aku terus berjalan keluar dari Lobi, tujuanku yang pertama adalah tempat Loundry, baru aku membeli makanan.
*****************
Ketika sedang asyik berjalan menuju gerobak bubur ayam, tiba tiba ada yang mengagetkan aku..!!
Pukkk..
" Astagfirullah " Aku terlonjak kaget. " Dokter...!! " Ucapku.
__ADS_1
Bersambung.........