
Aku tergugu mendengar penuturan Dr. Elvira. Begitu sulitnya kamu Dokter. Tapi kamu bisa melewatinya. Sekarang, berbahagiah..! Aku akan selalu di sampingmu.
Dr. Elvira mengakhiri panggilannya. Aku kembali menerawang jauh, mengingat lagi apa yang dibicarakan Dr. Elvira. Akir mataku tak terasa menetes dan membasahi ponsel ini.
Aku cepat cepat mengetik pesan, tapi iya aku lupa kalau Bang Bagas belum ada mengirim pulsa. Huffttt.. Aku harus bagaimana sekarang? Bingung yang aku rasakan, rasa khawatir menelusuf dalam hati ini. Aku benar benar kalut. ' Dokter, maafin aku." Ucapku dalam hati.
" Kenapa kamu Dek, habis ngetawain orang jadi mewek begitu. Kualat loh Dek.." Celetuk Kak Ranti.
Pukkk. Aku menepuk lengannya.
" Siapa yang nelfhon tadi? "
" Dr. Elvira. Sudahlah Kak, aku kebelet dulu." Aku cepat cepat lari ke Kamar Mandi.
' Hufft, legaa. ' Ucapku. Terdengar suara adzan dzuhur. Sudah siang juga, akhirnya aku memutuskan untuk berwudhu..
" Tok.. Tokk.. Tokk.....! " Suara pintu di ketuk, aku mempercepatnya. Segar rasanya setelah berwudhu.
" Tokk.. Tokk.. Tokk..., Mbak, cepat saya sudah kebelet..! " Teriakan dari luar membuat aku menyudahinya.
" Sebentar..! " Ucapku. Aku segera bejalan menuju pintu kemudian membukanya. Yang berada di balik pintu langsung menerobos masuk.
*********
" Dek, barusan Dr. Afandi kesini, nanyain kamu." Ucap Kak Ranti.
" Hahh, ngapain kesini? " Tanyaku.
" Bilangnya mau ngajak makan siang. "..
" Oh ya sudah, aku mau shalat dulu. ".
Aku keluar ruangan menuju Mushola. Tidak ada siapapun ketika aku menengok kanan dan kiri. Akupun melanjutkan langkahku, sampai ke Mushola.
Dalam sujudku aku berdo'a, untuk kesehatanku juga Kak Ranti. Juga namanya aku selipkan di dalam do'aku. Agar dia baik baik saja.
Aku melipat mukenaku kemudian melangkah dan keluar dari Mushola ini. Selesai memakai sandal, tatapanku lurus ke depan. Ada orang yang sedang memperhatikanku dari sebrang ruangan Kak Ranti. Dia terus menatapku tanpa kedip, dua tangannya dimasukan ke saku celananya. Tatapan yang kosong, juga raut muka yang kusut.
Aku terus melangkah sampai akhirnya tatapan itu bertemu. Aku mengedipkan mataku. Baru saja aku mau membuka suara, dia sudah mendahuluinya dengan memberi isyarat, kalau dia mengajak aku makan.
Akhirnya aku berbelok masuk ke ruangan untuk menaruh mukenaku.
" Kak, di depan ada Dr. Afandi, dia ngajak aku makan. " Ucapku. Aku menaruh mukena ketempatnya.
" Ya sudah, temanin aja dulu. " Jawabnya.
" Kakak, sudah shalat?.
" Baru juga selesai. " Jawabnya.
__ADS_1
Setelah pamit, aku keluar dan menghampirinya. Dia masih tetap berdiri di tempat yang sama, aku bingung mau nanya apa, dia hanya diam membisu, tidak ada senyum lebar seperti biasanya. Wajahnya sangat tegas dan tidak bisa di baca.
Dia menggenggam tanganku dengan erat, dan kita melangkah meninggalkan ruangan ini. Dia memilih jalan ke tangga, wajahnya terlihat memerah, seperti menahan amarah. Laju jalannya sangat kencang, aku kewalahan mengikutinya.
" Dokter pelan pelan. " Ucapku. Dia berhenti sejenak, Terlihat dadanya naik turun, nafasnya tak beraturan dan rahangnya mengeras juga menatap aku tajam.Aku menunduk, Aku takut melihatnya.
Dia kembali melangkahkan kakinya dengan terus menggenggamku. Aku hanya mengikutinya, dengan perasaan khawatir.
Kantin yang dituju Dr. Afandi, dia kemudian menghampiri Stand Soto dan memesannya.
" Dokter, kenapa diam saja. Maa..." Baru saja mau berbicara, dia sudah mengisyaratkan aku untuk diam. Akhirnya, sampai makanan habis aku terdiam begitu juga dia.
Selesai makan, dia membawaku ke sebuah Taman di Rumah Sakit ini. Sesampainya di Taman, dia memilh duduk di bawah pohon yang rindang.
Aku bingung harus mulai dari mana, sementara dia terus menatapku dengan tatapan yang aneh.
" Sayang, kenapa? Marah ya, kok dari tadi Dokter hanya diam. " Tapi dia tetap diam membisu dengan tatapan masih menatapku.
" Berbicaralah, aku bingung kalau seperti ini. " Ucapku lagi.
" Ada yang mau kamu jelaskan? ! " Akhirnya dia mengeluarkan suaranya. Tapi suaranya sangat tegas ,menandakan kalau dia serius.
" Mmm itu, mmm anu. Minta maaf, aku bukan bermaksud untuk mendiamkan Dokter, aku semalam lupa mencharger ponsel aku. "
" Tapi, kenapa diam saja, ada aku keruangan juga kamu cuekin. " Aiih mulai dah merengek. Kalau lagi seperti ini jadi gemas deh, rasa ketakutanku jadi hilang.
" Kamu tau tidak, aku kerja jadi tidak fokus, kamu jangan seperti ini lah Dek.! "
" Tadi juga aku sengaja ke ruangan, kamu malah asyik menelfhon, tidak ada menyapanya sama sekali. "
" Itu ta..." Lagi lagi dia memotong pembicaraanku.
" Aku tidak bisa makan, gara gara kamu tidak membalas pesanku. Aku nungguin kamu sampai waktunya aku masuk kerja, tapi kamu tidak ada turun menghampiri aku.
" Apa kamu tidak membaca lagi pesanku. Kalau memang ponselnya kamu Charger, kenapa tadi aku keruangan kamu sedang telfonan, sedangkan pesanku tidak di balas. Atau, kamu hubungi aku, kamu sudah tidak pedili lagi ya sama aku?."
Dr. Afandi terus saja mengeluarkan unek uneknya yang dari tadi dia pendam. Sampai sampai aku tidak bisa menyela nya. Ini terbalik, kok laki laki yang seperti itu. Berarti aku harus menyiapkan banyak stok kesabaran hmm.
Ku tatap wajahnya, sangat menggemaskan, merah karena amarah yang membuncah. Membuat aku ingin mencubitnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Aku tak bisa melihat itu, aku langsung memeluknya. Memberikan ketenangan.
Benar saja, dia tergugu di pelukanku. Entah kenapa, kok dia terlihat cengeng sekali. Biasanya, laki laki akan menyembunyikan kesedihannya, tapi justru dia sebaliknya. Aku sering melihatnya mengeluarkan air mata. Apa karena hatinya terlalu sakit dengan kisah hidupnya.
Setelah beberapa menit membiarkan dia melepaskan kekesalannya. Aku meregangkan pelukanku. Menatapnya kemudian menghapus sisa air matanya. Kemudian aku mencubit pipinya. Aku tersenyum manis kepadanya, wajahnya memerah pasti karena malu. Dia kembali memeluk aku.
" Sudah keluar semua belum? "..
" apa sih Dek.?! "
" Kenapa, hmm? "
__ADS_1
" Jangan seperti ini lagi Dek, pleasse..! " Dia ngangkat badanya tegak. Menatapku dengan tatapan memelas.
" Itu hanya ketidak sengajaan loh Dokter,
" Kamu harus dihukum.! "
" Di hukum bagaimana?
" Sayang, please duniaku terasa runtuh kembali."
" Ada apa sih? Hmm " Aku menatapnya dalam.
" Awww." Tiba tiba pipiku di cubitnya.
" Kamu gemesin, sayang..! "
Dia kembali merangkulku dan menggenggam tangannya. Lama, dia bersender di pundakku. Sampai suara dering ponselnya berbunyi.
Dia melihatnya. " Dafa. " Ucapnya pelan.
" Hallo, apa sih lo ganggu gua saja. "
" Inget bro, jam istirahat sudah habis. Ada Pasien baru yang datang. "
" Iya, oke..! "
Klik, dia mematikan sambungan panggilannya. Kemudian dia merangkulku. " Aku kerja dulu Yang, nanti sore kita main ya..! " Bisiknya.
" Main kemana? "
" Bagaimana nanti saja ya, aku harus segera keruangan. "
" Aku anterin kamu sampai Lobi saja ya. "
" Heemmmm.."
" Dek..!! "
" Ya sudah, hati hati kerjanya, semangat. " aku tersenyum.
" Siap Sayang, kamu jangan seperti tadi lagi ya. " Aku mengangguk. Setelah itu, kita meninggalkan Taman dan menuju Lobi.
Sesampainya di Lobi, kita berpisah. Dia kembali bekerja dan aku kembali ke ruangan. Sungguh, dia selalu membuat jantungku seperti mau copot. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Sehingga, aku mengabaikannya dengan tidak sengaja pun dia seperti itu, apa tidak berlebihan?
Aku sebenarnya belim paham apa yang seharusnya aku lakukan, aku pernah menjalin hubungan dengan Mas Ali, tapi kebanyakan dia yang ngertiin aku. Kalau ini , benar benar di luar dugaanku. Kenapa dia sangat cengeng? Ah entahlah, aku tasanya.mempunyai bayi saja.
Oh iya, Mas Ali bagaimana kabarnya ya? Apa aku salah memperingatinya? Aku hanya tidak ingin dia berharapblebih kepadaku. Karena, keluargaku memintaku untuk menjalaninya dulu, jangan terburu buru memutuskan ke jenjang yang lebih serius, dari situ rasa yang pernah ada mulai terkikis habis. Tapi dia menganggap hubungan ini serius, karena mengingat umurnya yang sudah matang, dia ingin hubungan yang serius.
Apakah aku ini tega? Tapi bagaimana lagi, aku juga kadang merasa ilfeel ketika di dekatnya, ketika adik kandungnya yang seperti tidak setuju, banyak sekali orang yang sepertinya tidak menyetujui hubungan kami.
__ADS_1
Sudahlah aku tidak ingin memikirkan yang sudah terjadi, bagaimana kedepannya, itu urusan nanti.
Aku memilih tidur, rasanya sangat pening kepalaku. Biarlah pikiran ini untuk istirahat sebrntar saja.