TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Gara Gara Meyra


__ADS_3

Iya, aku mau menikah sama siapa? Aku maunya sama kamu, tidak ada orang lain lagi. " Ucapnya. Dia tersenyum lebar ketika mengucapkan ingin menikah sama aku.


" Bukannya sama Dr. Carisa. " Ucapku. Dia terbelalak. " Apa? Siapa yang bilang? "...!!!


 


" Siapa Deekk..! " Tanyanya lagi.


" Tidak tahu, ada saja yang bilang ke aku, bahwa, Dr. Afandi akan menikah, dan aku tidak boleh mendekati lagi Dr. Afandi.."


" Jangan bercanda Dekk..! "


" Siapa yang bercanda? Aku serius." Aku menatap matanya dalam.


" Katanya tidak suka dengan kebohongan, aku juga sama..! " Aku masih menatap matanya, mencari tahu apakah ada kebohongan. Tapi tidak ada, yang ada kesedihan yang mendalam.


" Dek, kamu tidak percaya sama aku? "..


" Ya jujur saja, tinggal bilang kan, benar atau bohong.."


" Benar Dek, aku tidak bohong. Tidak ada yang mau menikah, lagian aku juga belum siap untuk menikah ? " Ucapnya.


" Sama aku juga belum siap? " Tanyaku, aku memancingnya agar dia jujur.


" Kalau sama kamu bukan belum siap, aku siap aja tapi kita perlu mempersiapkan lagi dengan matang." Jawabnya. Tidak ada kegugupan dalam berbicaranya. Aku terus menetapnya.


" Berarti belum siap dong? " Tanyaku lagi.


" Ya sudah, ayok kita ke KUA, mau menikah dimana Dek.! " Ucapnya. Dia mengedipkan matanya dan tersenyum. Aku menepuk keningku, kenapa jadi aku yang terjebak? Huufft..


" Ayookk, aku mau keluar." Akhirnya itu yang aku ucapkan.


" Tidak..! "


" Sudahlah Dokter aku cape..! "


" Dek, sebenarnya aku juga tidak ingin ada pertengkaran seperti ini terus. Ku mohon Dek, aku mencintaimu, tidak mungkin aku berpaling. Aku minta maaf sekali lagi tentang Meyra, dia memang teman dekat aku, aku juga tahu kamu pasti cemburu Dek, hanya saja aku bingung Dek..! " Ucapnya.


" Aku juga bingung, siapa sih Meyra itu, sampai kamu terlalu fokus dengannya? "


" Dek, sudahlah jangan di besar besarin terus..! "


" Anda saja tidak mau jujur bukan, siapa Meyra itu " Entahlah, kenapa emosi yang sudah reda malah kembali memuncak.


Dr. Afandi tertegun mendengar penuturanku, matanya mengembun. Kenapa orang ini sangat sensitif.


" Aku bingung Dek, mau nyeritainnya dari mana?. "


" Ya sudah Dokter cukup ya, cukup sampai disini. Tolong bukain pintunya. Please..! " Aku mengatupkan kedua tanganku. Aku memohon untuk di bukakan pintunya.


Dr. Afandi terlihat panik kemudian dia kembali membenturkan kepalanya ke setir mobil dan tangannya terus memukul setir mobil.


" Mat* saja aku, sudah cukup Tuhan..!! " Tidak ada yang mau ngertiin aku. Mat* saja aku.! Duukkk...! " Suara kepala yang dibenturkan sangat keras. Aku panik melihat semua itu.


" Dokter cukup....! " Aku berteriak, aku tidak tahu tepatnya dia kenapa? Apa dia memang cari perhatian atau memang dia punya masalah besar, ia masalah besar, Dr. Elvira..! Aku jadi teringat dengan cerita Dr. Elvira tentang kisah hidupnya.


" Astagfirullah...! " Ucapku. " Cukup Dokter, cukuup..! " Aku menarik tubuhnya, tapi dia terus berontak mencoba meraih setir lagi. Tenagaku kalah kuat.


" Biarkan saja aku mat*, biarkan aku mat* "


" Dokter cukup, nanti luka..!! "


" Biarkan saja, biarkan saja, silahkan kalau kamu mau meninggalkan aku, silahkan..! " Teriaknya sambil menunjuk aku untuk keluar. Kemudian dia membuka kunci pintunya.


Aku terbelalak ketika melihat wajahnya, cairan berwarna merah keluar dari keningnya. " Astagfirullah..! "


" Cukup ya, cukup ya.!! aku meraih tubuhnya kepelukanku. Tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih berbahaya lagi. Awalnya berontak, tapi aku mengeratkan pelukanku dan membiarkannya menangis. Dia menangis tersedu, aku juga ikut menangis. Aku yang salah..!


Dalam tangisnya dia berkata. " Meyra bukan siapa siapa aku Dek, Meyra itu istrinya Daffa, rekan kerjaku juga. Dulu aku selalu curhat kepadanya, aku selalu meminta pendapatnya, dan dia juga yang terus menyemangati aku untuk tetap hidup. " Dia menjelaskan tentang Meyra dengan lemah.


" Dia menganggap aku sebagi adiknya Dek, tidak pernah lebih. Tadi juga kita hanya bertanya kabar, dan menanyakan tentang kamu Dek, tapi kamu keburu pindah. Tadinya aku mau ajak kamu ke atas lagi tapi keburu hujan." Jelasnya panjang lebar. Dia seperti meregangkan pelukanku. Kemudian dia menatap aku, air matanya masih mengalir, wajahnya terlihat biru biru akibat benturan tadi. Cairan merah itu juga terus menetes, dan wajahnya pucat.


Aku mengambil tisu untuk mengelap d**ah yang terus keluar dari keningnya. Dia terlihat sangat lemas.


" Aku beli minum dulu ya..! "

__ADS_1


" Jangan kemana man Dek, please..! " Ucapnya. Tanganku sudah dia pegang dengan erat.


" Dokter harus minum, dan harus di obati. " Jelasku.


" Oh, minum ada di sini." Ucapnya, dia menunjukkan botol minum yang berada di tengah tengah jok. " Obatnya ada di kotak obat, tolong ambilkan di dasbord mobil, buka saja..".


Aku membuka dasbord mobil dan terlihat ada kotak obat disana. Aku mengambilnya, kemudian membukanya. Dengan arahan dia, aku mengobati wajahnya, kemudian aku perban bagian yang mengeluarkan darahnya.


" Terimakasih." Ucapnya. Aku mengembalikan kotak tersebut ke tempat semula.


Aku terus memandang wajahnya dengan iba, ku coba mengelusnya dan aku ingin menangis. ' Ya Allah, aku hampir saja menghilangkan nyawa orang ' Ucapku dalam hati.


Dia mengubah jok mobilnya menjadi setengah tiduran. " Minum dulu." Sebelum dia merebahkan tubuhnya, aku memberinya dia minum.


" Tolong, jangan kemana mana Dek, aku mau tidur dulu sebentar. " Ucapnya.


Hening, itu yang aku rasakan. Aku tatap wajahnya, wajahnya membiru, itu semua gara gara aku. Aku meneteskan air mata mengingat kejadian tadi.


Aku memalingkan wajahku dan menatap ke jendela. Di luar hujan sudah reda dari sebelum kita keluar dari Baseman. Cahaya kuning memancar, menandakan matahari ini sebentar lagi akan tenggelam.


" Dek, tolong ambilin paracetamol. " Ucapnya. Aku melihatnya, dia sedang memijit mijit keningnya. Aku langsung membuka dasbord mobil dan mengambil paracetamol.


" Dek, jangan pergi..! " Ucapnya.


" Dokter, ini obatnya. " Ucapku. Tapi matanya tertutup. aku memegang keningnya, panas Haaahhh...!!


" Dokter, bangun dulu minum obatnya. " Ucapku. Dia malah menarik tanganku. " Jangan pergi Dek, jangan pergi.. Hhuhu..!! " Dr. Afandi mengigau.


Aku panik, dan bingung harus berbuat apa. Dr. Elvira, ia Dr. Elvira. Mungkin Dr. Elvira bisa membantu. Tapi dia kan waktunya jaga.


Setelah menimang nimang, akhirnya aku memutuskan untuk menelfon Dr. Elvira, sedangkan Dr. Afandi terus saja mengigau.


Panggilan tersambung, dan tidak lama kemudian di angkat.


" Hallo, Mbak Hana? "


" Iya, Dokter, Dr. Afandi. " Ucapku terbata.


" Dr. Afandi kenapa? " Tanyanya.


" Di mana? "..


" Di Parkiran."


" Parkiran sebelah mana Mbak? ".


" Ini, yang dekat IGD Dokter.."..


" Ya sudah, tunggu.."


" Baik Dokter.." Aku menutup panggilannya. Sedangkan Dr. Afandi masih mengigau.


Sepuluh menit kemudian, kaca mobil di ketuk. Terlihat Dr. Elvira di luar. Aku bingung mau membukakan pintunya. Oh iya, tadi kan kuncinya sudah di buka. Aku menarik hendel pintunya kemudian mendorongnya.


" Ya ampun, Fandi lo kenapa? " Suara Dr. Elvira memekikan telinga. Aku menunduk, aku merasa takut. Dr. Afandi terjengkit kaget, dia membuka matanya.


" Fandi, lo habis ngapain? " Pekiknya lagi.


" El, lo ngapain ke sini? " Tanya Dr Afandi.


" Nihh, pujaan hati lo yang manggil gua..! "..


" Dekk..! Dr. Afandi menatapku.


" Aku takut, tadi kamu ngigou terus. " Ucapku tercekat.


" Ehh malah pacaran, mau di periksa tidak." De. Elvira kembali membuat kaget.


" Lo tidak usah teriak El, kepala gua tambah sakit nih. " Pekik Dr. Afandi.


" Ya sudah, gua balik nih kerjaan gua terbengkalai, kesini cuma untuk melihat orang pacaran doang, cape deh.! " Dr. Elvira beranjak.


" El...! "


" Apa sih lo Fandi, makanya jadi orang jangan terlalu bucin..! "

__ADS_1


" Sudahlah cepat, kepala gua pusing banget. " Ucap Dr. Fandi meringis. Aku hanya menyimak pembicaraannya.


" Wooww, lo demam Fan, lihat nih sampai 39,02° ." Dr. Elvira melihatkan alat ukur suhu badan.


" Lo ada obat nyeri tidak? "..


" Ada, di dasbord.".


Aku mengambil kotak obat itu, kemudian memberikannya kepada Dr. Elvira.


" Ini Mbak, Mbak kasih obat yang ini." Dr. Elvira memberikan dua macam obat.


" Iya Dok, terima kasih. " Ucapku.


" Ya sudah, gua balik lagi ya, takut pasien gua ada yang urgent. Mbak Hana jaga Dokter cintanya ya, jangan di jedotin lagi. "


Aku tersenyum menanggapinya. Dr. Elvira pergi, aku langsung membantu meminumkan obatnya.


" Dek, diam ya, tungguin aku disini. Nanti kalau obatnya sudah bereaksi pasti aku bangun. Pusing banget kepala aku.." Kemudian dia menutup matanya. Aku membiarkan dia istirahat. Sungguh di luar kendali.


" [Mbak Hana, tolong dijaga Dokter Cintanya ya, agar tidak melakukan hal seperti itu lagi. Kan waktu itu sudah saya jelaskan, kalau kehidupan dia seperti itu. Dia juga pernah depresi berat Mbak, tolong ya.! Saya mohon.!!. ] "


Aku membaca pesan dari Dokter Elvira, iya, aku merasa bersalah banget atas hati ini yang terlalu cemburu. Harusnya aku tidak terus memancing emosinya.


Huuffttt....


Aku membuang nafas kasar...


" AllahhuAkbar, AllahhuAkbar..!! " Suara azdan berkumandang. Terdengar sangat jelas, aku melihat ke sekeliling tempat ini, ternyata ada Mesjid di sebrang jalan raya.


" Dek, kamu mau shalat ya..! "


" Ohh, enggak Dokter, aku lagi tidak shalat. " Aku menjawabnya dengan malu malu. Karena si tamu bulanan ini datang waktu tadi sore sebelum ada Dr. Afandi.


Hening, tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya. Aku melihat dia masih terlelap. Hmmm, bingung juga mau ngapain.


" Dokter, nanti pulang sama siapa? " Aku mencoba bertanya, mudah mudahan tidak salah lagi.


" Kamu mau pulang? " Tanyanya cepat. Kan salah lagi.


" Maksud aku, kan kamu tidak mungkin pulang sendiri, nyetir sendiri. " Ucapku.


Dia hanya diam dan kembali menutup matanya.


Ketika shalat isya tiba, Dr. Afandi terpaksa bangun. " Ini sudah malam ya Dek. ! " Tanyanya.


" Iya, baru adzan isya Dokter. " Aku berusaha tersenyum.


" Kita tidur di sini ya. " Ucapnya tiba tiba.


" Heii, jangan dulu." Jawabku. Enak saja mau tidur di situ.


" Bagaiman? Masih pusing? " Tanyaku. Aku menempelkan tanganku di keningnya. Alhamdulillah demamnya sudah turun.


" Aku baik baik saja Dek. " Jawabnya. Kemudian dia memelukku.


" Dek, aku tidak mau berpisah..! " Rengeknya.


" Iya, kita tidak akan terpisah kalau kita sudah halal." Ucapku. Hening, tidak ada lagi sahutan.


" Ya sudah Dek, aku antar pulang ya.." Dia meregangkan pelukannya.


" Ya sudah, jangan bergerak dulu Dokter, aku bisa sendiri, Dokter harus pemulihan dulu. "..


" Tidak Dek..! " Cupp.. Aku mengecup bi***nya. Entah keberanian dari mana, aku gemas sekali dengan tingkahnya.


" Lagi Dek..! "..


" Enak saja.."..


" Aku telfon dulu Daffa yah..!! "


**Bersambung....


Jangan lupa Like juga Votenya ya teman teman..!!! Terimakasih**.

__ADS_1


__ADS_2