TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Pulang


__ADS_3

Aku juga tidak lupa memberi kabar kepada Kak Fitri. Dan Kak fitri juga merasa senang. Dalam pikiran kami, karena sudah bisa pulang berarti sudah sembuh. Padahal perjalanannya masih panjang.


...****************...


Ketika malam tiba, aku mengepak baju bajuku, juga baju Kak Ranti. Juga semua barang barang yang bisa aku bawa pulang. Semuanya telah siap di tas besar dan juga beberapa paver bag, setelah mengeluarkan semuanya dari lemari. Aku baru teringat ada satu paver bag yang tersisa di pojokan.


"Ini kan..??" Mulutku menganga ketika melihat coklat pemberian Dr. Afandi yang masih utuh. Aku kembali murung di ingatkan dengan Dr. Afandi lagi. Kemana dia? Kenapa bisa menghilang seperti itu?..


"Sudah semua belum Dek?" Tiba tiba suara Kak Ranti mengagetkanku.


"Oh, sudah Kak," Jawabku dengan tergagap. Aku cepat cepat memasukan paver bag itu ke dalam tas selempangku.


"Ya sudah, sekarang kita tidur saja," Ucap Kak Ranti.


"Iya Kak, duluan saja, aku sebentar lagi," Jawabku. Kemudian aku mencari ponselku. Setelah ketemu, aku membukanya dan mencpari nomor Dr. Afandi. Aku berfikir, siapa tahu kalau sudah lama tidak aku hubungi dia mengaktifkan kembali nomornya.


Tapi semuanya nihil, beberapa kali aku memanggilnya, tidak ada satupun yang terjawab hanya suara operator yang menjawabnya bahwa nomornya sedang tidak aktif..


Hufftt...


Aku menarik nafas dalam dalam, tidak ada lagi harapan yang bisa aku tunggu tunggu lagi."Maafkan aku Dokter, jika suatu hari nanti aku terpaksa menduakan hatiku" Ucapku dalam hati.


Setelah itu, aku mencoba untuk memejamkan mataku. Tapi sangat susah karena terpikirkan terus dengan Dr. Afandi, apalagi kalung pemberiannya masih melingkar di leherku.


Karena tidak bisa tidur, akhirnya aku memakai headset dan entah jam berapa aku tertidur.


"Mbak, air hangatnya," Suara petugas ruangan mengagetkanku.


"Astagfirullah," Aku langsung terduduk dan terlihat air hangat di baskom sudah ada di bawah. Dan petugas ruangannya sudah tidak ada di situ.


Ku lihat Kak Ranti juga baru terbangun. Kemudian aku menepuk keningku..


"Kita kesiangan Kak," Ucapku.


"Iya ih, mana belum shalat,"


"Baru setengah enam, masih ada waktu," Jawabku.


Kemudian aku membawa air hangat itu ke kamar mandi, setelah menaruhnya di ember, aku menjemput Kak Ranti untuk membantunya.


Aku langsung berwudlu, begitupun Kak Ranti. Setelah itu, aku melaksanakan shalat subuh.


Sekitar setengah jam setelah sarapan, Dr. Ali datang keruangan.


"Selamat pagi.! Apa kabarnya hari ini,"Dr. Ali dengan senyum semangatnya.


"Alhamdulillah baik Dok," Jawab Kak Ranti.


"Baik dong, orang mau pulang," Jawab Dr. Ali lagi.


"Hehe, iya Dok,"..


"Pulangnya kemana?"..


"Mungkin cari kontrakan dulu di sekitar sini Dok,"..


"Memangnya asli dari mana Mbak Ranti?"


"Asli Ciamis Dok,"


"Oh, jauh juga ya. Coba cari kamar di Rumah Singgah, siapa tahu ada yang kosong,"..


"Rumah Singgah, di mana Dok?" Tanyaku.


"Ada di dekat mesjid yang sebelum ke Pasar itu loh, itu Rumah singgah khusus Pasien luar daerah,"..


" Oke, terimakasih informasinya Dokter,"..


"Sama sama,"..


Setelah berbincang sebentar, Dr. Ali pamit tidak lupa kita juga mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.


Tidak lama kemudian, Dr. Bedah Thoraxnya datang, menginfokan bahwa sebelum pulang harus CT Simulator ke Gedung Radioterapi terlebih dahulu untuk memastikan Tumornya itu masih tersisa atau tidak.


Pagi itu juga kita langsung berangkat ke Gedung Radioterapi. Setelah menunggu antrian, akhirnya Kak Ranti maauk di antar Suster, aku hanya menunggunya di luar.


Setelah selesai, kita kembali ke Ruangan dan tidak lama kemudian Bang Ilham atau Kakak iparku datang. Kami pun mengobrol dan berencana akan mencari kontrakan di sekitar sini.


"Mbak, akan pulang kemana?" Tanya Susternya.


"Akan cari kontrakan dulu di sekitar sini Sus," Jawabku.


"Oh ya sudah, sekarang tinggal menunggu Administrasi, Resume Medis sama obatnya saja ya," Ucap Susternya. Akupun mengiyakan dan Suster Irma juga berlalu keluar ruangan.


Tidak lama kemudian, Bang Bagas datang bertepatan dengan Suster Irma juga datang lagi.


"Mbak Hana, Fhotocopy dulu Resume Medisnya ya, nanti setelah di fhoto copy kasih ke tempat Suster.


"Baik sus,"..


Akupun memfhotocopy sebanyak tiga lembar. Setelah itu aku memberikan hasil fhotocopyannya ke Nurse station.


Setelah itu, aku kembali ke ruangan,

__ADS_1


"Dari mana Dek,"


"Habis fhotocopy,


"Oh ya sudah, kita mau mencari kontrakan dulu," Ucap Bang Ilham.. Aku mengangguk.


"Kak, kata Susternya tinggal nungguin obatnya," Ucapku.


"Terus administrasinya sudah?," Tanya Kak Ranti.


"Gak tahu, tadi suster cuma bilang seperti itu. Mungkin sudah hanya itu saja,"..


" Alhamdulillah, administrasinya di permudah, nanti beliin donat dek untuk susternya,"..


"Iya Kak,"..


...****************...


Satu jam, dua jam, kedua abangku belum juga sampai ruangan.


"Bang Bagas sama bang Ilham nyari kontrakan kemana sih Kak, perasaan lama banget?" Tanyaku.


"Mungkin kontrakannya tidak ada yang kosong, terus kita harus kemana?"..


"Coba saja tunggu dulu sampai mereka sampai kesini,"..


Sekitar jam satu siang,kedua Abangku datang denga tentengan plastik di tangannya.


"Hosh..


Hosh..


Hoshh..


Keduanya seperti habis lomba lari, keringat terlihat basah di dahinya maupun di bajunya. Rambutnya juga basah apalagi wajahnya sudah memerah terkena sinar matahari.


Mereka langsung duduk di lantai, dan meneguk air mineral yang di bawanya.


"Bagaimana? Dapet gak Bang?" Tanyaku setelah mereka terlihat tenang.


"Gak ada, semuanya pada penuh. Kita sudah muter di sekitar Rumah sakit ini. Tapi semuanya juga penuh,"Jawab Bang Ilham.


"Coba nanti lihat di Rumah singgah,"Ucap Kak Ranti.


"Ya sudah, nanti nyari lagi, istirahat dulu sebentar," Jawab Bang Bagas. Dia menyerahkan plastiknya kepadaku.


"Kamu belum makan kan Dek? Nih makan dulu, nanti gantian nyarinya," Ucap Bang Bagas..


"Iya, terimakasih,"Jawabku. Aku mengambil bungkusan itu kemudian makan siang. Sedangkan Bang Bagas dan Bang Ilham kembali keluar entah kemana.


"Kita coba dulu ke Rumah Singgah Bang," Ucapku.


Aku berjalan mencari tahu ke arah mana tempat Rumah singgah, setelah bertanya ke beberapa security yg berada di Rumah Sakit akhirnya ketemu.


"Permisi," Ucapku. Aku memasuki gedung bertingkat itu.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah ada kamar kosong disini, kebetulan Kakak saya masih harus kontrol di sini dari mulai hari senin," Ucapku.


"Pulangnya Kapan kak?..


"Pulang hari ini, hanya saja kalau harus kontrol setiap hari kita membutuhkan tempat singgah. Mencari kontrakan tidak dapat semuanya penuh,"


"Memang kakak asal dari mana?


"Kita dari ciamis,"


"Oh iya, sebenarnya bisa saja karena kakak dari luar daerah, tapi karena keadaan kamar di sini penuh semua kak, maaf saja,"


Aku merenggut kecewa, karena kita bingung harus mencari lagi kemana.


"Saya beri nomor di sini ya, siapa tahu nanti ada kamar kosong," Ucapnya. Lalu dia menulis nomor telepon dan memberikannya kepada Bang Bagas..


Dengan langkah gontai, kita meninggalkan Gedung itu. "Terus sekarang kemana lagi Bang,"Tanyaku.


"Coba kita cari ke belakang Pasar,"Jawab Bang Bagas.


"Emangnya belum,"..


"Tadi Udah sih, cuma di atas, coba lihat dulu sama kamu siapa tahu cocok,"..


Aku dan bang Bagas bergegas menuju Pasar, karena hari juga sudah menuju sore.


Sesampainya di sana, Bang Bagas izin dulu ke pemilik kontrakannya, bahwa kita mau melihat ke dalam.


Aku pun naik ke atas bareng Bang Bagas, sebenarnya cukup kalau hanya untuk berdua, tapi yang aku pikirkan adalah Kak Ranti. Keadaan Kak Ranti belum pulih benar, apalagi posisi kamar mandi yang dibawah. Otomatis kita harus naik turun untuk keperluan ke kamar mandi saja. Belum lagi kalau harus ke Rumah Sakit bulak balik.


"Bagaimana Dek?"..


"Kasihan Kak Ranti Bang, harus naik turun,"Jawabku.


"Iya juga sih, makanya tadi Abang nunjukin dulu ke kamu, kalau gak jadi ya tidak apa apa,"..

__ADS_1


Setelah meminta maaf dan berpamitan kepada pemilik kontrakannya. Kita putuskan untuk ikut ke tempat saudaranya Bang Ilham dekat dengan teman kerjanya. Untuk sementara sebelum jadwal kontrol hari senin nanti.


Karena tidak mendapatkan hasil, akhirnya kita kembali ke Ruangan.


"Ada tidak?" Tanya Bang Ilham


"Ada juga di atas kamarnya Bang, kasian Kak Ranti harus naik turun, soalnya kamar mandinya juga ada di bawah,"Jawabku.


"Oh yang tadi itu?"..


"Iya," Jawab Bang Bagas.


"Ya sudah, ikut Abang saja dulu, nanti kita pikirkan lagi," Ucap Bang Ilham. Aku mengangguk mengiyakan.


"Dek beliin dulu donat buat tanda terimakasih untuk Suster," Ucap Kak Ranti.


"Aku gak paham Kak,"Jawabku. Aku memang gak ngerti harus beli donat kalangan atas, dulu pernah masuk kesitu juga orang lain yang belikan.


"Ya sudah di antar sama Bagas,"..


Walaupun masih capek, akhirnya aku turun menuju Cafe dan Donat itu. Aku merasa sungkan karena biasanya di situ kebanyakan yang kumpul para Dokter ataupun kalangan atas.


Tapi karena ada bang Bagas, akhirnya aku berani masuk. Aku membeli satu box donat berisi dua belas biji. Selesai membayar aku langsung masuk lagi, tapi karena Lift terlihat ngantri akhirnya kita naik lewat tangga.


Aku langsung memberikan donat itu kepada Suster yang di Nurse station. Dan aku kembali ke ruangan.


Baru saja mau duduk Kak Ranti langsung bertanya, "Sudah Dek?"..


"Sudah Kak, sudah aku kasihkan ke Susternya,"Jawabku.


"Beli berapa box?"


"Beli satu,"..


"Ihh, kenapa gak beli dua, satu mah kurang," Ucapnya.


"Ya aku gak tau, tadi Kakak gak bilang,"..


"Ya sudah belikan lagi,"


"Tapi udah terlanjur di kasihkan yang satunya,"..


"Ya tidak apa apa,"..


"Udahlah Kak, tidak apa apa, aku juga cape soalnya kita tadi naik tangga,"..


Kak Ranti sepertinya marah karena aku gak mau membelinya lagi. Tapi, bagaimana lagi aku juga merasa cape naik tangga dari Loby sampai Lantai lima sebanyak dua kali, lututku benar benar sakit.


...****************...


Setelah adzan ashar, Suster Irma kembali ke ruangan memberikan obat dan memberi tahu kalau hari senin besok mulai kontrol ke Poli Neuro atau Poli Saraf.


"Alhamdulillah, akhirnya sudah bisa pulang ya Mbak, semoga kedepannya cepat sembuh dan tetap ikuti apa kata dokter. Untuk jadwal kontrolnya nanti akan diberitahukan lagi ketika di Poli rawat jalan.


"Baik Sus, terimakasih banyak," Ucap Kak Ranti


"Oh ya, sudah dapat kontrakannya?"..


"Belum, kita pulang dulu ke tempat saudara Sus,"..


" Ya sudah, dari sini naik apa?"


"Mungkin taksi,"Jawab Bang Ilham


"Sudah ada?"


"Belum Sus,


"Ya sudah pesan dulu Taksinya, nanti kalau sudah ada boleh kasih tau kita lagi,"..


"Baik Sus,"..


Setelah Suster keluar, Bang Bagas juga Bang Ilham ikut keluar untuk mencari Taksi.


Sekitar setengah jam, Bang Ilham memberitahukan kalau Taksinya sudah menunggu di bawah.


"Bener nih sudah dapat Taksinya?" Tanya Suaternya.


"Iya Sudah Sus, sudah menunggu di bawah,"


"Ya sudah siap siap dulu, kita ambil dulu kursi rodanya,"..


Bang Ilham dan Bang Bagas membawa tas dan juga semua barang barang kita. Sedangkan aku mengambil bantal dan bed cover yang di titipkan di baseman. Setelah itu aku kembali ke atas untuk menjemput Kak Ranti.


Semuanya sudah terbawa dan Kak Ranti juga sudah duduk di kursi roda dan siap di dorong sama petugas ruangan.


Ada rasa bahagia, sedih juga haru dengan kepulangan ini. Terharu dengan para Suster yang begitu baik melayani kak Ranti selama ini. Kita berpamitan di Nurse station. Dan akhirnya, kita berjalan menuju Lift. Kita di antar oleh petugas ruangan yang mendorong Kak Ranti juga dua Suster yaitu Suster Irma dan Suster Sinta.


Sesampainya di Lobi, kita keluar menuju parkiran dan di situ Bang Bagas juga Bang Ilham sudah menunggu di depan Sebuah Taksi.


Kita berpamitan dan berterimakasih untuk yang terakhir kalinya.


"Terimakasih semuanya,"

__ADS_1


"Hati hati di jalan Mbak Ranti juga Mbak Hana," Ucap Suster Irma.


Bersambung...


__ADS_2