TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Draft


__ADS_3

"Plis kak, tolong bilangin ya, aku akan nunggu di atas," Sepertinya Kak Arkan mengabaikan perkataan Kak Ranti. Setelah pamit, dia terlihat menjauh dari pintu dan celingukan ke pintu kamar mandi kemudian dia pergi ke atas.


Aku segera keluar dari persembunyianku, kemudian terburu buru masuk ke kamar.


...****************...


POV ARKAN


Hari hariku tidak semangat setelah Hana tetap keukeuh dengan pendiriannya. Dia tidak ingin menjalin hubungan terlebih dahulu denganku. Dia selalu memberi alasan ketika aku minta kepastian darinya.


Aku juga tidak tahu salahku apa, sampai sampai Hana terus menghindar setelah dia lulus sekolah dan pergi merantau untuk bekerja.


Aku selalu bertanya kepada Mama, kenapa Hana jadi seperti itu? Mama selalu jawab tidak tahu, bertemu setahun sekalipun jarang, sama denganku. Karena dia pulang merantaunya selalu setiap tahun.


Setelah sekian lama aku mencari tahu keberadaannya, ternyata dia sedang di Rumah Sakit menemani Kakaknya yang sedang sakit parah. Aku memohon kepada Kak Fitri, Kakaknya untuk meminta maaf dan meminta nomor telefonnya.


Sampai akhirnya aku, bisa menemuinya dan aku meminta maaf. Aku juga melamarnya langsung, karena aku takut kehilangannya lagi. Tapi apa? dia menolaknya dengan alasan dia sudah mempunyai pacar.


Aku tidak percaya, aku memaksanya memakai cincin yang sudah di persiapkan. Tapi dia tetap menolak dengan keras. Sampai pada akhirnya aku melihat dia sedang duduk di taman Rumah Sakit bersama seorang Dokter. Hatiku benar benar panas melihatnya, tapi aku bisa apa? Hari itu dia benar benar marah kepadaku karena aku terus mamaksanya.


Setelah kejadian itu, aku membiarkannya. Tidak pernah menghububginya lagi karena aku juga tidak tahu harus dengan cara apa lagi. Sampai akhirnya, aku dapat telfon dari Kampung, kalau Mamaku sakit. Aku memutuskan pulang hari itu juga, karena aku tidak bisa mendengar Mama sakit sedikitpun, aku terlalu dekat kepadanya.


Bengkelku, aku titipkan kepada pegawaiku. Dan aku cepat cepat pulang karena perjalanan yang lumayan jauh jadi aku tidak bisa menunda waktu lagi.


Sesampainya di rumah, aku langsung mencari Mama di Kamarnya. Mama di rumah hanya sendiri, hanya Kak Maryam yang akan menengoknya sesekali. Karena, ketiga Kakakku merantau ke Kota dan hanya Kak Maryam yang ada di Kampung. Rumahnya tidak jauh, hanya terhalang dua rumah saja, jadi kalau ada apa apa selalu Kak Maryam yang pertama tahu.


"Assalamu'alaikum," Ucapku. Aku langsung masuk ke kamar setelah mengetuknya. Kulihat, Mama membuka matanya, dan langsung mau bangun.


"Mama tiduran aja, sakit apa Ma!?" Tanyaku. Aku duduk di kursi rias mama.


"Kan, tolong sampaikan Maaf Mama sama Hana," Ucapnya sedikit terbata. Kulihat wajahnya seperti kaku untuk berbicara.


"Maksudnya apa Ma?" Aku merasa heran. Kenapa tiba tiba Mama ingin meminta maaf kepada Hana.


"Arkan..!" Tiba tiba saja Kak Maryam memanggilku.


"Eh Kak, apa kabarnya?"..


"Alhamdulillah baik," Jawabny.


"Kapan sampai?"..


"Barusan Kak, Kakak tahu dari mana aku datang,"..


"Tadi Cindy ngasih tahu Kakak, kalau pintu rumah Mama kebuka, jadi Kakak cepat cepat kesini," Jawabnya. Cindy adalah anak tetanggaku, dan masih kerabat Mama.


"Ngobrolnya di luar aja yuk," Ajak Mama tiba tiba.


"Ya sudah, Kan tolong Mamanya di pegangi jalannya," Sahut Kak Maryam. "Kakak mau bikin minum dulu," Lanjutnya. Kemudian Kak Maryam keluar dari kamar, Mama juga berusaha untuk duduk.


"Hati hati Ma, biar Arkan bantu,"


"Tenang saja Kak, Mama tidak separah yang kamu kira, kalau cuma bangun di tempat tidur Mama masih bisa, cuma kalau untuk jalan gak bisa lama lama,"..


"Mama sebenarnya sakit apa sih," Tanyaku. Aku memapahnya keluar dari kamar menuju ruang keluarga.


"Gejala struk Kan, makanya sekarang Mama tidak bisa ke mana mana," Sahut Kak Maryam. Kemudian Kak maryam menaruh kopi di meja.


"Kok bisa sih Kak, perasaan tiga bulan yang lalu masih normal normal saja,"..


"Namanya juga penyakit Kan, tidak ada yang tahu datangnya kapan,"Jawab Mama.


"Memangnya awalnya kenapa?" ..


"Ya kan Mama, punya riwayat hypertensi, jadi bisa saja itu datang kapan saja,"..


"Oh ya, bagaimana? Mama ingin ketemu Hana, ingin minta maaf, apa kamu sudah bertemu?" Mama malah mengalihkan pembicaraan.


"Tuh Kan, dari awal sakit, Mama selalu nanyain Hana terus, di tanya punya salah apa? Selalu mengelak," Jawab Kak Maryam.


"Memangnya mama punya salah apa?" Tanyaku penasaran.


"Intinya Mama ingin ketemu, ingin minta maaf,"..

__ADS_1


"Selalu seperti itu," Ucap Kak Maryam menahan kesal. Aku juga bingung, kenapa Mama selalu ingin meminta maaf kepada Hana. Apa ada kaitannya dengan menjauhnya Hana dari aku?.


"Sebenarnya, aku sudah bertemu dengan Hana Ma, tapi sekarang dia lagi di Rumah Sakit," Jawabku.


"Haahh, kenapa Hana? Kenapa dia di Rumah Sakit? Sakit apa dia?" Tiba tiba saja Mama terlihat panik.


"Bukan Hana yang sakit Ma, tapi Kak Ranti,"..


"Ya Allah, syukurlah. Ranti sakit apa?"..


"Kurang tahu, dia ada di ICU," Jawabku lagi. Kemudian, aku menceritakan dari awal bertemunya Hana, sampai aku memaksanya untuk menerima lamaran dariku.


"Ya sudah, kalau seperti itu, kita lamar aja langsung kepada orang tuanya," Ucap Mama.


"Tapi Ma, aku kan belum mempersiapkan semuanya,"..


"Ya Kan bisa, ada Maryam nanti yang beli semua keperluannya, minta tolong juga sama Paman Rusdi untuk berbicaranya nanti," Paman Rusdi adalah adik nya Papa.


Akhirnya, akupun menyetujui ide Mama. Kami berangkat ke rumahnya dua hari setelah kami mempersiapkan segalanya.


Awalnya ke dua orang tua Hana merasa kaget dan diapun tidak bisa menerima jika belum memberitahu Hana. Tapi tiba tiba Mama bilang kalau Hana sudah menyetujuinya. Akhirnya pertunangan pun berjalan dengan lancar. Dan mama memberikan satu set perhiasan sebagai pengikatnya kepada orang tua Hana.


...****************...


Keadaan Mama kian membaik, aku berangkat lagi ke Kota setelah satu minggu di Kampung. Aku memulai hari dengan semangat baru, karena Hana sudah berhasil aku ikat. Aku tahu, Hana mungkin hanya perlu waktu untuk menerimaku kembali. Aku benar benar sudah tidak sabar menanti hari di mana aku bisa mengucapkan janji suci dengan Hana.


Hari berlalu, tidak terasa sudah satu bulan lebih aku tidak berkomunikasi dengan Hana. Aku di sibukan dengan pekerjaanku di Bengkel yang Alhamdulillah banyak pelanggan yang datang.


Tiba tiba, aku merasa kangen sekali sama Hana. Dan bertepatan itu Mama datang ke tempat aku berkerja bersama Bang Ahmad, kakak tertuaku.


"Bagaimana kabarnya Kan?" Tanya Mama.


"Arkan baik Ma, Mama bagaimana kabarnya? Apa sudah sembuh? Kapan Mama sampai kesini?" Aku membrondong pertanyaan kepada Mama. Karena yang ku tahu Mama masih belum pulih.


"Ya Mama seperti ini Arkan, sudah meningan. Sekarang sudah bisa di bawa jalan jauh lagi," Jawab Mama. Aku bersyukur, Mama bisa sembuh lagi.


"Alhamdulillah," Jawabku.


Mama menginap di tempatku satu malam dan besok siangnya aku mengantarkan ke tempat Bang Ahmad. Sore harinya Mama kembali ke Kampung di antar Bang Ahmad.


Aku berniat mau pulang lagi, tapi Mama melarangku, mama memintaku secepatnya untuk menemui Hana.


Aku jadi terus kepikiran untuk berkomunikasi lagi dengan Hana. Aku mengirimkan pesan, tapi tidak pernah di balasnya, bahkan ketika aku melakukan panggilan pun nomornya tidak aktif.


Sempat aku menelfon Kak Ranti, tapi Hana memang tidak mau menjawab telfonnya, padahal Kak Ranti juga sudah membujuknya.


Akhirnya aku mencari tahu alamat kontrakannya, aku meminta kepada Bang Bagas dan aku langsung pergi ke tempat kontrakannya.


Sesampainya di sana, aku di sambut dengan hangat oleh Kak Ranti. Tapi tidak dengan Hana, dia malah membelakangiku dengan berpura pura sibuk melipat baju. Hemm, entah harus dengan cara apa lagi aku harus melunakan hatinya.


Aku meminta Hana untuk berbicara hanya berdua. Kebetulan di atas itu ada kursi yang untuk bersantai. Entah bekas apa tadinya bangunan ini.


Dengan sedikit paksaan dari Kak Ranti, akhirnya Hana mau ikut ke atas. Aku sedikit grogi sebenarnya berdekatan denga Hana, jantungku berdebar dengan kencang.


Aku mempersilahkannya duduk, dan aku mengambil titipan dari Mama di motor.


Ketika aku memintanya untuk memakainya sesuai permintaan Mama, Hana menolaknya dengan alasan kalau disini tidak aman, dia takutnya di jambret. Setelah bberapa kali memohon, tapi tidak berhasil. Akhirnya aku mengalah, aku memintanya untuk menyimpannya saja.


Aku merasa janggal dengan alasan Hana sebenarnya, karena diapun memakai kalung di lehernya. tapi kalau aku tetap memaksanaya takutnya Hana tambah menjauh.


Beberapa minggu kemudian, Hana menelfonku. "Tumben", Ucapku. Senyumku terangkat dari kedua bibirku, karena sebelumnya komunikasi kita sangat jarang sekali walaupun sudah bertemu kemarin, Hana tetap menghindar dariku.


"Hallo, Assalamu'alaikum," Ucapku. Dengan perasaan membuncah, aku menerima telfon itu. Tapi rasa itu kembali hilang setelah yang berbicara di sebrang sana adalah Bang Ilham, Abang Iparnya Hana.


Dan tak kalah terkejut lagi ketika Bang Ilham berbicara dengan nada kesal. "Ada apa lagi?" Gumamku. Bahkan Bang Ilham bilang dia akan membatalkan pertunangan itu, karena di Kampung ada berita yang tidak mengenakan tentang keluarganya.


Aku bingung harus bagaimana lagi, akhirnya malam itu aku menelfon Mama, untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Kenapa semuanya seperti ini Ma? Siapa yang udah bilang ke orang lain? kan yang tahu cuma aku sama Mama?" Aku membrondong pertanyaan itu tanpa mengetahui keadaan Mama.


"Waktu itu, Dania ke sini menjenguk Mama," ..


"Benar hanya menjenguk Mama?" Selidikku.

__ADS_1


"Ya biasa, ada ngobrol juga, memangnya ada apa sih Kan?" Mama balik bertanya.


"Mama gak tahu berita di luar?"..


"Berita apa? Semenjak Mama pulang dari Kota juga Mama belum ada keluar lagi, Maryam yang mengurus semua keperluan Mama, Kamu ni ada apa sih?"..


"Ma, Mama bicara apa saja sama Dania?"..


"Ya bicara biasa, ngobrol"..


"Iya tentang apa?"..


"Ya apa saja, lumayan lama juga sih Dania di sini, karena dia merasa kasihan sama Mama karena sendirian, kebetulan Maryam lagi mengantar Arsya ke sekolah,"..


"Apa Mama ada ngomongon tentang Hana?" Tanyaku, mama tidak langsung menjawab. Sampai aku memanggilnya kembali.


"Ma, Mama jujur deh, apa Mama ngomongin tentang Hana bersama Dania?"..


"Oh iya, ada sih. Orang dia juga bertanya terus tentang hubungan kamu dengan Hana,"..


"Terus Mama kasih tahu apa saja?"..


"Ya semua yang Mama tahu, Mama jawab jujur aja," Jawaban Mama terdengar sangat polos. Ya Allah, inilah penyebabbya, bisa jadi Dania yang menyebarkan nya. Tapi aku juga tidak bisa menuduhnya langsung.


"Ya ampun Maa, kan aku sama Dania sudah gak ada hubungan apa pun, kenapa Mama harus memberitahu Dania semuanya,"..


"Lah, memangnya kenapa?, Mama bicara jujur saja tidak ada yang di tutup tutupi,"Mama masih tidak merasa bersalah.


"Apa benar Mama ini polos atau kenapa?" Aku menggerutu karena kesal.


"Arkan.." Mama memangilku, mungkin karena aku diam.


"Ya Ma, hubunganku dengan Hana di ujung tanduk,"Ucapku menahan kesal. Walau bagaimanapun aku tidak boleh meninggikan suaraku kepadanya.


"Kenapa? Ada masalah apa lagi?" entahlah , pertanyaan mama membuat emosiku semakin meledak. Karena aku tidak mau sampai memaki maki Mama, akhirnya aku memutuskan pangilan setelah mengucapkan salam.


Kemudian, aku melemparkan ponselku ke sembarang arah, aku juga meninju tembok sampai merasa puas. Aku benar benar perjuanganku untuk mendapatkan Hana, sangat sulit.


"Hana, kenapa sih, kamu susah banget untuk kembali lembut seperti dulu? Apa yang membuatmu seperti ini? Apa kamu sudah lupa, dengan kenangan kita waktu sekolah? Walaupun hanya satu tahun membersamaimu, tapi itu sangat mengesankan untukku," Aku terus meracau, sampai akupun tidak ingat lagi dan ingat itu ketika, Yusuf pegawaiku mengetuk pintu kamarku.


Kebetulan pegawaiku juga menginap di tempatku, karena mereka juga sesama perantau. Jadi aku menyediakan dua kamar khusus pegawaiku, walaupun yang terpakai sekarang hanya satu kamar.


Tokk tokk tookk...


"Bang, sudah bangun belum," Suara Yusuf terdengar samar. Kemudian aku mengerjapkan mataku beberapa kali.


"Bang..!!" Terdengar Yusuf kembali memanggil.


"Bang Arkan kenapa ya, kok dari tadi di bangunin gak nyahut nyahut,"


"Apa dia sakit?" Timpal Andi. Aku mengenal suara mereka. Kemudian aku bangun, dan terlihat dari jendela kalau matahari sudah terang, "Astagfirullah," Gumamku. Kemudian aku melangkah menuju pintu, dan pintupun kembali di ketuk. Aku membukanya, dan terlihat wajah ke dua pegawaiku sangat khawatir.


"Bang Arkan sakit?" Tanya Yusuf.


"Eh enggak, maaf gara gara semalam gak bisa tidur jadi kesiangan begini," Ucapku.


"Syukurlah Bang, kita khawatir dari tadi. Di panggil panggil gak ada jawaban terus, kita bangunin Abang dari jam lima lewat loh,"


"Ya ampun, maaf ya. Kalian sudah sarapan belum?"..


"Iya, kita khawatir aja Bang, tidak biasanya Abang bangun siang begini," kemudian aku melihat jam dinding, dan ternyata sudah jam delapan lewat lima belas menit.


"Ya sudah, kalian beli sarapan dulu ya," Aku mengeluarkan uang seratus ribu untuk membeli sarapan kami berempat, kebetulan pegawaiku ada tiga.


"Maaf Bang, kita sudah duluan sarapan,".


"Oh, ya sudah tidak apa apa, bagus malahan. Beliin saja untuk saya, kembaliannya untuk kalian mengganti uang yang tadi.


"Tapi ini kebanyakan," Ucap Andi.


"Sudah tidak apa apa, sekalian untuk makan siang, saya soalnya ada keperluan mendadak,"..


Setelah mereka pergi, aku kembali masuk kedalam dan aku langsung mandi. Mungkin dengan mengguyurkan air ke tubuhku, tubuhku akan kembali rileks.

__ADS_1


Selesai mandi aku langsung bersiap dan tidak lupa aku sarapan dulu. Setelah berpamitan, dan menitip bengkel, aku langsung tancap gas menuju kontrakannya Hana.


Tapi, ketika tiba di sana, aku di sambut dengan ketus oleh Kak Ranti. Aku sampai memohon untuk bertemu dengan Hana, walaupun Hana tidak kelihatan batang hidungnya. Kak Ranti bilang kalau Hana sedang mencuci. Tapi pintu Kamar mandi terlihat terbuka dan tidak terdengar adanya aktifitas si dalamnya. Akhirnya aku menunggunya di atas setelah berpesan kepada Kak Ranti.


__ADS_2