
Terpampang di depan mata, kwtika kami turun dari Bajaj. Tulisan besarnya "RSUP DR ***** ************"
...****************...
Aku masuk melewati halaman IGD kemudian menuju pintu masuk URJT ( Unit Rawat Jalan Terpadu ). Disana terlihat sudah banyak orang yang sedang mengantri dengan antrian yang mengular.
Aku bertanya kepada Security yang berdiri di depan pintu masuk.
" Pak, kalau mau Rawat Jalan ke Poli Syaraf ke mana dulu ya,"..
"Silahkan Mbak Daftar dulu di sebelah kanan, setelah itu ambil antrian untuk ke Poli Syarafnya," Ucapnya.
"Baik Pak, Terimakasih," Ucapku.
Aku pun menghampiri meja pendaftaran yang di tunjukan oleh Security tadi. Sedangkan Kak Ranti dan Bang Ilham aku suruh menunggu untuk duduk di tengah ruangan yang tersedia kursinya.
Selesai mengisi Formulir pendaftaran, petugasnya menyuruh ngantri untuk mengambil nomor antrian. Antrian yang mengular di hari senin membuat siapapun akan malas. Tapi demi kesembuhan Kak Ranti aku ikhlas untuk berdiri sekian lamanya.
Setelah mendapatkan nomor antrian, petugasnya menyuruh naik ke Lantai tiga. Aku kembali mengantri untuk menaiki Lift, tidak mungkin harus membawa Kak Ranti untuk lewat tangga.
Sesampainya di Lantai tiga, aku tetap harus konfirmasi lagi ke loket, dan untuk pembayarannya aku menggunakan pembayaran umum, karena tidak ke UPPJ dulu. Daripada harus mengantri lagi, akhirnya aku bayar saja uang pendaftarannya sebersar lima puluh ribu rupiah.
Menunggu antrian di panggilnya sangat lama, sore hari baru di panggil sekitar jam tiga sore, di karenakan pasien sangat membludak. Setelah berkonsultasi tentang keluhan keluhan Kak Ranti, dan Kak Ranti juga masih harus tetap minum mestinonnya empat kali sehari.
Konsultasi selesai, Dokter juga memberikan resep obat yang harus di ambil di Apotik. Dan puncaknya di sini, ketika mau mengambil obat dengan jalur Jaminan Kesehatan. Ternyata ada syarat syarat tertentu, aku di suruh mengurus dulu ke UPPJ.
Sesampainya di UPPJ, ternyata tidak bisa karena sudah sore. Harusnya dari pagi sekalian ke Poli.
"Bagaimana ini Bang, bikin jaminanya tidak bisa, karena sudah sore, harusnya dari pagi," Ucapku. Aku yang sudah merasa lelah harus bolak balik naik turun pasrah aja. Tapi kalau untuk obat, tidak boleh putus.
"Ya sudah bagaimana baiknya aja, mungkin harus di tebus dulu daripada tidak minum obat," Jawab Bang Ilham.
Akhirnya aku membeli dulu obatnya sebanyak dua puluh biji. Dengan harga satuannya sembilan ribu lebih.
Ketika sedang menunggu obat, tiba tiba ponselku berbunyi dan ternyata Dokter dari THT. Aku pun mengangkatnya.
"Hallo, selamat sore Mbak,"..
"Sore Dokter,"..
"Iya, saya Dokter THT, Bagaimana Mbak Ranti nya sudah ke URM ( Unit Rehabilitasi Medik ) belum?" Tanyanya.
"Belum Dok, hari ini baru ke Poli Syaraf,"..
"Oh, harus cepat ya Mbak, kasihan Kakaknya agar bisa cepat makan lewat mulut,"
"Baik Dokter, mungkin besok langsung kesana,"..
Setelah panggilan berakhir, aku kembali menaruh ponselku ke tas selempangku. Sampai akhirnya nama Kak Ranti di panggil oleh Apotekernya.
Setelah mengambil obat, kami pun pulang ke kontrakan dengan jalan kaki lewat belakang. Terlihat kelopak mata Kak Ranti turun, mungkin karena lelah, karena harusnya Kak Ranti di dorong pakai kursi roda. Tapi aku tidak tahu harus kemana pinjamnya, dengan terpaksa menahan lelah Kak Ranti harus jalan kaki.
Sesampainya di kontrakan, Bang Ilham pamit untuk pulang, karena sudah sore banget.
"Abang pulang dulu ya, nanti sesekali di jengukin," Ucapnya.
"Iya Bang," Jawabku.
...****************...
__ADS_1
Setelah membersihkan badan, aku keluar dan bertemu dengan orang yang mengontrak di sebelahku. Sebut saja namanya Bu Yati..
"Kalau mau masak, masak saja Mbak, nanti untuk isi tabung elpigi nya gantian,"..
"Oh, boleh masak di sini Bu?" Tanyaku.
"Iya, kita barengan aja, nanti kalau habis kita gantian," Ucapnya lagi. Alhamdulillah, aku mengucap syukur di dalam hati. Tidak mungkin aku terus membeli nasi bungkus, karena itu bisa menguras uang tabungan.
"Oh ya, si Mbaknya siapa yang sakit,"..
"Itu Kakak saya Bu,"..
"Kalau ibu?" Tanyaku.
"Saya mengantar suami saya, ada tumor di wajahnya. Si Mbaknya sakit apa?"..
"Kakak saya baru habis Operasi Bu, sekarang tinggal kontrol sama terapi,"..
"Oh sudah di Operasi?! memangnya sakit apa?" Bu Yati sedikit kaget.
"Tumor juga kayaknya, tapi di dalam dekat paru paru sama jantung,"..
"Ya Allah, kirain suami saya aja, tapi emang sih yang ngontrak di sini semuanya sedang berobat di Rumah Sakit ini. Ada juga tuh yang di kamar atas, dia istrinya mau melahirkan tapi harus di rujuk ke sini, padahal dia berasal dari Lamp***,"
"Oh iya, Mbaknya berasal dari mana?"..
"Saya dari Ci****, kalau ibu dari mana?"..
"Kalau asli saya dari Ja** T****, Tapi saya ikut orang orang merantau ke L******," Jawabnya.
"Bu e... Mana maemnya," Tiba tiba saja dia menghampiri bu Yati. Anak perempuan yang menggemaskan, rambutnya di ikat dua cuma pakai kaos dalam sama celana shots saja, di ikuti anak perempuan remaja di belakangnya.
"Bu e, aku mau maem," Ucapnya lagi. Mungkin Bu Yati tadinya mau mengambil kan makan anaknya, tapi malah bertemu denganku.
"Namanya siapa?" Tanyaku.
"Nama aku Vanes," Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Itu anak saya yang bungsu, dan yang ini anak yang nomor dua, namanya Risa. Ada lagi yang pertama dia gak ikut karena mau ada kegiatan di sekolahnya. Yang ini juga nanti pulang bareng Pakde nya, soalnya harus sekolah, kemarin maksa ikut karena dia khawatir sama Bapaknya," Bu Yati terus bercerita. Beliau juga bercerita tentang sakit suaminya. Beliau bisa sampai ke sini juga atas bantuan pengurus Desa setempatnya. Yang mana, suaminya itu tidak mempunyai Jaminan Kesehatan. Tapi pengurus setempatnya membatunya dengan memakai Jaminan Kesehatan tetangganya.
Aku sedikit kaget, walaupun tidak terlalu paham, tapi bukankah itu menyalahi aturan?. Tapi, sudahlah, biarkan saja karena itu bukan ranahku untuk berprotes.
Setelah berbincang, Bu Yati pamit mau makan malam dulu, aku juga kembali masuk ke Kamar.
"Dari mana Dek?" Tanya Kak Ranti. Mungkin karena aku terlalu lama di luar. Dan Kak Ranti juga sudah sedang memblender makanannya.
"Itu Ibu yang ngontrak di sebelah ngajak ngobrol," Jawabku. "Kakak sudah minum mestinonnya?" Tanyaku.
"Belum, ini baru memblender untuk makan aja,"
"Ya sudah, aku tumbuk dulu Mestinonnya," Karena memang, Mestinon sangat susah ancur, kalau hanya di rendam air itu memerlukan waktu lama. Di tumbuk juga susah karena memang keras. Aku memberikan obatnya dulu, dan Kak Ranti menyuruh aku makan terlebih dahulu.
Selesai makan, aku membantu Kak Ranti untuk makan.
"Oh iya Kak, kita bisa masak di Dapur," Ucapku.
"Emangnya ada gas nya?"..
"Ada, kata Bu Yati nanti kalau gasnya habis belinya gantian, masak nasi juga bisa kita bisa masak gantian dengan yang lain. Ada kulkas juga loh Kak,"..
__ADS_1
"Ya sudah nanti kalau pulang dari Rumah Sakitnya masih sore, beli aja sayuran ke Pasar,"
"Iya Kak,"..
Setelah Kak Ranti selesai makan, aku mencuci peralatan makannya di washtafel. Ternyata untuk tempat tinggal, begitu di mudahkannya sesuai dengan kebutuhan.
Belum tentu akan bisa masak sendiri kalau kontrakannya tidak seperti itu, yang pasti akan banyak menghabiskan biaya untuk makan belum yang lainnya.
Terdengar celotehan Vanesa dari luar, dia begitu pintar di umurnya yang baru menginjak lima tahun, dia sudah pintar berhitung dan juga menyebutkan huruf huruf alfabet.
Selesai mencuci piring, aku kembali ke kamar dan sekarang waktunya istirahat karena besok masih harus kembali ke Rumah Sakit.
Aku mendengarkan lagu favoritku di ponsel yang satunya. Ya, aku mempunyai dua ponsel, yang satunya beli dari Bang Bagas ketika Kak Ranti masih di ICU. Bang Bagas bilang dia lagi butuh uang, akhirnya aku beli.
Ketika sedang asyik bernyanyi , ponsel satunya bergetar menandakan ada pesan masuk. Kulihat itu dari Kak Arkan. Degg. Jantungku bedetak tak karuan, kenapa orang ini kembali menghubungi aku lagi.
Bimbang yang aku rasakan, antara buka atau tidak. Tapi aku juga merasa penasaran, setelah sekian lama dia baru menghubungi aku lagi.
"[ Assalamu'alaikum, Dek apa kabarnya?]" Bunyi pesannya. Aku bingung antara jawab atau tidak.
"[ Wa'alaikum salam ]" Aku hanya menjawab salamnya. Setelah itu aku mematikan ponselnya, merasa masih malas untuk berkomunikasi dengannya.
Aku mencoba untuk tidur agar besok tidak kesiangan bangun. Tapi mata ini susak sekali untuk terpejam sampai akhirnya Kak Ranti memanggilku.
"Dek..!" Ucapnya sambil menggoyangkan tubuhku. Mungkin Kak Ranti berfikiran kalau aku sudah tidur, padahal hanya memejamkan mata saja.
"Iya Kak, ada apa?" Jawabku.
"Ini Arkan mengirim pesan sama Kakak, katanya tolong aktifin ponselnya dia mau berbicara,"..
"Sudahlah Kak, bilangin saja kalau aku nya sudah tidur, aku masih malas,"..
"Tidak boleh begitulah Dek, dia kan calon suami kamu, siapa tahu ada penting," Bujuk Kak Ranti.
Aku menggelengkan kepalaku, memelas agar Kak Ranti bilang kalau aku sudah tidur. Tapi baru saja aku selesai berbicara dengan Kak Ranti, tiba tiba ponsel Kak Ranti berbunyi tanda panggilan masuk.
"Ini Deek," Kak Ranti mau memberikan ponselnya.
"Bilang aja sudah tidur Kak," Jawabku memelas. Dengan terpaksa Kak Ranti menjawab panggilannya.
"Hallo, Assalamu'alaiku," Ucap Kak Ranti. Dia menlounspeker ponselnya.
"Wa'alaikumsalam Kak, Hana nya ada?"..
"Ada, ypi barusan tidur,"..
"Oh, ya sudah bilang aja kalau besok aku mau berbicara,"..
"Iya, nanti di bilangin," Jawab Kak Ranti. Panggilan berakhir setelah mengucap salam.
"Dek, gak baik seperti itu," Ucap Kak Ranti.
"Sudahlah Kak, aku mau tidur," Ucapku.
Tidak ada lagi obrolan antara aku juga Kak Ranti. Aku kembali mencoba untuk memwjamkan mata, tapi sungguh sangat susah. Sedangkan Kak Ranti terlihat sudah pulang dalam beberapa menit setelah berbicara denganku.
Entah jam berapa aku tertidur, karena ketika bangun suara orang berbincang di luar sudah terdengar ramai. Terdengar juga suara Vanes yang terus berceloteh. Aku melirik ke samping kananku di mana Kak Ranti tidur, dan sudah tidak ada siapa siapa.
Aku mengambil ponselku, dan melihat jam. Ternyata sudah jam lima lewat lima menit. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Kak Ranti masuk.
__ADS_1
Kak Ranti shalat terlebih dahulu dan aku ke Kamar mandi.
Bersambung...