
Kenapa Na? " Tanya Bang Bagas ketika aku celingukan.
" Kenapa itu? " Tanyaku.
" Mungkin ada yang meninggal di dalam sana. " Jawabnya.
Pagi hari tiba, Sang mentari menampakan sinarnya. Orang orang di sekitarku sangat ramai, ada yang mengobrol ada juga yang di panggil oleh Suster ICUnya. Aku pamit untuk ke Gedung A untuk mandi. Barang barang Kak Ranti masih aku simpan di sana. Dan aku hanya menumpang mandi di sana.
Sesampainya di Ruangan, semua masih terlihat seperti hari biasa yang aku lalui selama Kak Ranti di rawat. Pasiennya juga masih sama belum ada yang pulang.
" Mbak, sudah selesai di Operasinya. " Tanya pendamping pasien sebelah Bed Kak Ranti.
" Alhamdulillah sudah Bu, kemarin sekitar jam dua belas, tapi sekarang masuk ICU. " Jawabku. Setelah berbincang sebentar akhirnya aku mandi. Aku yang belum paham, setelah mandi aku kembali lagi ke ICU tanpa membawa barang barangku juga Kak Ranti. Semuanya masih aku simpan di sana.
Sesampainya di Ruang Tunggu ICU, aku langsung duduk, bersender di bangku. Pagi seperti ini ruangannya terlihat lengang, tidak seperti malam hari.
" Dek, makan dulu. " Ucap Bang Ilham. Dia memberikan plastik yang berisi satu bungkus nasi bungkus, lengkap dengan teh tawar panasnya.
" Terimakasih Bang, Abang sudah sarapan? " Tanyaku.
" Sudah Dek.."..
" Bang Bagas dimana? "..
" Dia juga lagi sarapan "..
Beberapa jam kemudian, " Keluarga Nona Ranti Septiani. "
" Iya.. " Aku segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara dari Ruang ICU.
" Mbak, keluarganya Ibu Ranti Septiani? " Tanya seorang Sster yang berdiri di depan pintu masuk ICU.
" Iya Sus. " Jawabku.
" Mbak, mencari kamar ke Gedung A ya. " Ucapnya. Dia memberikan selembar kertas untuk pengantarnya.
" Oh baik Sus. " Kemudian aku mengambil kertas itu. Hatiku merasa senang sekali, berarti Kak Ranti sudah bisa ke Ruang Rawat Inap Lagi. Sampai sampai Bang Ilham bertanya ketika aku melewatinya di ruang tunggu, aku cuma bilang mau ke Gedung A, dan langsung menuruni tangga.
Sesampainya di Gedung A, aku bertanya pada Securitinya.
" Maaf Pak, kalau mau mencari Kamar di mana ya? "..
" Oh silahkan Mbak ke sebelah kiri. " Ucapnya.
Kemudian aku menghampiri resepsionis yang berada di sebelah kiri.
" Permisi Mbak, saya mau mencari Kamar." Ucapku. Kemudian, aku memberikan surat pengantarnya.
__ADS_1
" Pasiennya di ICU ya? " Tanyanya.
" Iya Mbak.. "..
Setelah mengetik ngetik di tools komputernya.
" Maaf Mbak, Kamarnya di Lantai lima lagi penuh. " Ucapnya.
" Yaaahhh, " Aku menahan kecewa. " Ya sudah, terima kasih Mbak. " Ucapku.
" Iya sama sama."..
Aku berlalu dan kembali lagi ke ICU. Jalanku lemas dan tidak bersemangat. Setelah memberikan surat pengantar tadi aku kembali duduk di Ruang tunggu.
" Habis dari mana Dek? " Tanya Bang Ilham.
" Habis dari Gedung A, tadinya di suruh mencari kamar, tapi kamarnya lagi penuh. " Ucapku.
" Terus kapan keluarnya dari ICU? "..
" Tidak tahu Bang, " Jawabku.
******************
Jam demi jam aku menunggu tanpa kepastian. Disini, aku belum begitu paham, dan aku juga tidak tahu kalau orang yang berada di dalam ICU itu, orang yang dalam keadaan gawat darurat. Begitupun dengan kedua Abangku yang masih setia menunggu Kak Ranti untuk keluar dari ruangan itu.
Aku ikut berhambur bersama mereka, yang menantikan perkembangan keluarganya. Sedangkan Abang Abangku pergi keluar untuk shalat dzuhur.
Aku melihat Kak Ranti, yang masih terbaring lemas dengan alat alat medis yang menempel di seluruh tubuhnya. Bahkan, kedua tangannya terlihat terikat. " Hahh, kenapa itu, " Gumamku. Tapi lagi lagi aku tidak bisa bertanya sama siapapun. Karena aku masih merasa asing di tempat ini.
Aku juga tertegun, ketika melihat seorang ibu, yang sedang membaca Kitab Suci nya menghadap kaca, yang di dalamnya ada seorang anak sedang terbaring lemas dengan alat medis di tubuhnya. setelah itu dia menengadahkan tangannya, berdo'a dengan khusyu sampai berderai air mata. Sungguh memilukan, aku menjadi terbawa suasana.
Aku mengusap air mataku kemudian memalingkan wajahku dan kembali lagi melihat Kak Ranti yang masih tidak ada perubahan.
Terlihat, Bang Ilham dan Bang Bagas juga memasuki ruangan ini. Diapun tertegun menatap lurus ke arah Kak Ranti.
Sampai tidak terasa, waktu satu jam sudah berlalu. Petugas ICU nya kembali menutup ruangan itu, yang berarti jam besuk sudah berakhir.
Aku kembali ke ruang tunggu. " Dek, kamu mau makan apa? " Tanya Bang Ilham.
" Tidak tahu Bang, apa saja deh, " Ucapku.
" Ya sudah Abang beli dulu, " Ucapnya.
Aku mengangguk, kemudian aku kebelakang dari ruang tunggu, ternyata di sini juga ada ruangan yang di pakai untuk menunggu pasien. Kulihat mereka sedang tidur tiduran. Aku melihat ke samping kanan, ternyata di situ juga ada Toilet.
Kemudian aku memasuki Toilet itu untuk berwudhu. Dan aku juga shalat di ruangan itu.
Selesai makan, ponselku berdering, aku segera mengecek siapa yang memanggil. Setelah tahu siapa yang memanggil, aku menghela nafas pelan. Aku kira Dr. Afandi yang memanggil, ternyata Kak Fitri. ' Dokterr, kemana kamu? Aku merindukanmu.
__ADS_1
Tapi aku juga tidak mengabaikan keluargaku, ini tanggung jawabku, aku tidak boleh egois. Karena, di kampung keluargaku pasti sedang mengkhawatirkan keadaan Kak Ranti. Aku segera menerima panggilan itu sebelum deringnya berhenti.
" Hallo, Assalamu'alaikum Kak, " Ucapku.
" Iya, Wa'alaikum salam, apa kabarnya Dek, Kak Ranti bagaimana keadaannya? " Benar saja, keluargaku lebih mengkhawatirkanku juga Kak Ranti. Mereka sedang merasakan kekhawatiran yang mendalam. Mungkin Kakak Kakakku paham, apa itu Oprasi, apa itu masuk ICU. Tidak sepertiku yang tidak pernah berpengalaman, aku menganggap Kak Ranti baik baik saja, hanya sedang dalam masa pemulihan.
^^" Maafkan aku Kak, memang aku belum terlalu paham, kalau sebenarnya Kakak sedang berjuang untuk kembali bangun seperti yang di harapkan semua orang. Bukan aku tidak menyayangimu, tapi pengetahuanku begitu sedikit, tentang hal dunia luar. Aku sampai tidak kepikiran, ketika Kakak seperti kejang kejang itu, Kakak sedang kesusahan untuk bernafas. Maafkan aku, aku menyayangimu.... "^^
Aku terlalu menjadi seorang pendiam dan selalu mengurung diri, tidak pernah mengetahui dunia luar, membuat aku minim pengetahuan.
" Alhamdulillah baik Kak, tapi Kak Ranti masih di dalam Ruang ICU, " Jawabku.
" Bang Ilham juga belum pada pulang Kak, " Lanjutku.
Obrolan berlanjut ke Bang Ilham, tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Sore ini begitu ramai, banyak orang orang yang menjenguk datang ketika waktu besuk tiba. Atau mereka hanya sekedar bertemu dengan keluarganya yang menjadi pendamping pasien.
Suasana sangat ramai, sampai aku bingung mau duduk di mana? Dan akhirnya aku duduk di Lantai seperti yang lainnya. Si Bapak yang kemarin berbincang denga Bang Ilham juga kembali datang.
" Kok ramai sekali, kapan ya Ranti keluar? " Ucap Bang Ilham. Dia juga sudah bingung, kesini tidak membawa baju ganti juga dia harus berjualan karena punya tanggung jawab untuk anak dan istrinya.
" Iya, lama sekali, bagaimana ya? " Bang Bagas menimpali. Bang Bagas juga merasa risau, karena dia kerja dengan orang lain.
" Apa kita pulang saja dulu Dek, nanti Abang sesekali jengukin kesini, " Ucap Bang Ilham.
" Iiiiiih, tapi bagaimana aku sendirian, " Ucapku memelas. Air mata ku sepertinya mau keluar.
" Kita punya kerjaan Dek, oke, kita tunggu sampai besok saja, mungkin sore Abang pulang, " Ucap Bang Ilham.
" Abang tidak ganti pakaian sudah dua hari Dek, kalau di tambah besok jadi tiga hari dong, "..
" Iya, kamu kan dari kemarin sudah terbiasa di sini Dek, " Ucap Bang Bagas.
" Tapi ini beda tempatnya Bang, " Jawabku.
" Ya mau bagaimana lagi Dek, biaya pengobatan Kak Ranti kedepannya masih panjang, masih membutuhkan biaya banyak. Abang juga harus mengirim Kak Fitri untuk keperluan Kak Fitri sama anak anak Abang. " Bang Ilham memberiku pengertian. Tapi aku malah sedih, di sini sangat ramai aku merasa takut.
Waktu besuk sudah di buka. Aku beranjak ke ruangan kaca untuk melihat keadaan Kak Ranti. Tapi ketika sampai di sana, Kak Ranti masih terlihat sama seperti tadi siang, masih terbaring lemah dengan berbagai macam alat medis terpasang di tubuhnya. Tapi, ikatan di tangannya sudah tidak ada.
Terlihat, suster sedang menulis di atas kertas sangat besar, dia menulis di depan ranjangnya Kak Ranti.
Bersambung...
Assalamu'alaikum teman teman semuanya, mohon maaf kemarin tidak bisa Up, semoga hari ini bisa Up 2 Bab ya, mudah"an saja..
Jangan lupa juga, tetap dukung saya ya, agar saya tetap semangat untuk menulisnya. Terimakasih🙏🙏
❤❤❤❤❤
__ADS_1