
Tidak terasa, waktu dua jam sudah kita habiskan hanya untuk berbincang bincang, Bang Bagas pamit pulang, aku kembali merasa kehilangan.
Sepi, itu yang aku rasakan. Nomor Dr. Afandi masih tidak aktif. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Berharap besok ada kabar baik.
---------------------------------------------
Setelah beberapa hari tidak jadi Operasi, akhirnya hari Senin tanggal lima belas oktober dua ribu dua belas, Kak Ranti harus melakukan Plasmafheresis yang ke dua.
" Permisi Mbak..! " Apa kabarnya hari ini? " Ucap Dr. Husen.
" Alhamdulillah baik. " Jawab Kak Ranti. Aku yang baru saja selesai sarapan, merasa malu ketika ada Dokter masuk. Padahal nasi tinggal satu suap lagi akhirnya aku menyudahinya.
" Oh ya Mbak, Mbak Ranti harus melakukan Plasmafheresis yang ke dua. Nanti si Mbaknya minta Acc ya. " Ucap Dr. Husen.
" Baik Dokter. " Jawabku.
Setelah memberitahu untuk plasmafhresis, Dr. Husen kembali ke luar ruangan.
" Kapan Operasinya? Kok malah Plasmafheresis lagi? " Ucap Kak Ranti.
" Iya ya, katanya kemarin, Rabu atau jum'at, sekarang sudah hari senin malah harus Plasmafheresis lagi. " Sahutku.
Aku dan Kak Ranti sudah tidak sabar ingin Operasi itu segera di lakukan, tapi karena prosedurnya belum lengkap jadi masih di tarik ulur.
" Permisi, Mbak Hana, silahkan untuk Acc dulu ke UPPJ. " Ucap Bu Tini petugas ruangan yang selalu setia menemani Kak Ranti, ketika aku sedang keluar bersama Dr. Afandi.
" Baik bu, " Ucapku. Aku mengambilnya, kemudian aku berpamitan kepada Kak Ranti untuk ke UPPJ.
Aku mengejar Bu Tini yang sudah beberapa jauh melangkah di depanku. " Bu..! " Panggilku. Bu Tini menengok ke belakang.
" Iya Mbak, apa ada yang kurang? " Tanyanya.
" Tidak Bu, mohon maaf sebelumnya. Apa Ibu tahu, kalau Dr. Afandi sekarang kok tidak ada keruangan ya? " Ucapku.
" Memangnya kenapa? " Bu Tini malah balik bertanya.
" Iya dari kemarin sudah tidak ada lagi ke ruangan dan nomornya juga sudah tidak aktif. " Jelasku.
" Kurang tahu Mbak kalau soal itu, kalau dari Bedah Thoraxnya kan sudah di ganti ya? "..
" Iya Bu, sudah di ganti sama Dr. Dafa. "
" Oh mungkin, karena Mbak Ranti sudah mau di Operasi. Jadi Dokternya beda lagi, seperti ada bagiannya gitu Mbak. "..
" Tapi kenapa nomornya juga tidak aktif. " Ucapku Lesu.
" Semoga saja tidak kenapa napa ya Mbak. " Ucapnya. Bu Tini mengelus rambutku.
" Iya Bu, ya sudah saya ke UPPJ dulu ya, terima kasih Bu. "
" Iya Mbak, sama sama. " Jawab Bu Tini. Aku berlalu menuju Lift dan Bu Tini kembali ke ruangannya.
Pikiranku terus melayang, memikirkan kemana Dr. Afandi. Apa Meyra sengaja melarang dia untuk tidak berkomunikasi dengan ku atau memang kenapa?
Masih terngiang di telingaku, " Jangan pergi Dek "..
__ADS_1
" Jangan tinggalin aku Dek " ..
Dan masih terlihat juga bayangan dia ketika dia marah, dia tidak memarahiku justru dia menyakiti dirinya sendiri. Berkali kali wajahnya dia benturkan ke setir mobil, sampai keningnya berdarah.
' Dokter..!! Kamu dimana? Kenapa sekarang aku yang kamu buat risau? ' Ucapku dalam hati.
Karena aku berjalan sambil melamun. Tiba tiba aku menebrak seseorang.
" Astagfirullah. " Ucapku. Tubuhku melayang, tapi tiba tiba seperti ada yang menahan tubuhku. Aku membuka mataku. Kemudian aku langsung berdiri tegak.
" Mohon maaf.." Ucapku. sangat malu sekali, pipiku sudah merah seperti tomat rebus sepertinya.
" Hati hati Dek..! " Ucapnya. Seorang berperawakan tinggi, kulit putih hidung mancung dengan tubuh yang kekar, apa lagi? Dia juga memakai jas putih seperti Dr. Afandi.
" Ii..iya, mohon maaf Dokter..! " Ucapku terbata. Dia hanya mengacungkan jempolnya, kemudian berlalu dari hadapanku. Aku mematung sejenak, kemudian aku ingat, kalau tujuanku keluar adalah untuk Acc ke UPPJ.
Akhirnya aku melanjutkan perjalananku dan tidak lama aku sampai di UPPJ. Setelah mengantri beberapa menit, akhirnya sekarang bagian aku.
Aku kembali keruangan, dengan pikiran yang masih tertuju kepada Dr. Afandi. Hampa hatiku tidak mengetahui kabarnya. Apakah dia baik baik saja? Ya Allah..!! Air mataku tidak terasa sudah bercucuran. Aku mengusapnya dengan kasar.
************
Kemana... Kamu kemana..?
Kesini.. Bukan...!
Dimana.. Kamu di mana..?
Disini.. Bukann..!!
Ternyata.. Lama..
Taukah.. Aku disini.. Menunggu kamuu...
Jangan pergi pergi lagi..
Aku tak mau sendiri...
Temani aku tuk sebentar saja
Agar aku tidak kesepiaann*...
Lirik lagi ini membuat aku menagis sesegukan. Sekarang, aku berada di taman tempat di mana Dr. Afandi dan aku pertama kali salah paham. Aku merindukan kamu Dokter, kenapa belum aktif terus ponselnya..? Aku kembali menangis.
Aku mencoba memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada Dr. Elvira.
" [Siang Dokter, mohon maaf mengganggu waktunya. Apa Dokter tahu, bagaimana keadaan Dr. Afandi sekarang? Kok nomor ponselnya tidak bisa di hubungi.] Kemudian aku mengirimkan pesan itu.
Lama aku menunggu pesan balasan. Tapi sudah hampir satu jam aku menunggu, tidak ada balasan. Mungkin Dr. Elvira sedang tidur.
Trinngg.. Triinnggg...
Ponselku berbunyi, aku segera melihat siapa yang memanggil. Berharap Dr. Afandi atau Dr. Elvira. Tapi, aku kaget ketika yang menelfon itu Kak Ranti.
" Hallo Kak., ada apa.? " Tanyaku. Padahal tadi aku sudah berpamitan akan ke taman sebentar.
__ADS_1
" Iya Dek, lagi apa disana? Kamu lama banget mainnya..! " Aku tertegun, kok tumben Kak Ranti sekarang protes.
" Aku lagi main aja Kak, ini di taman di bawah gedung A. " Aku menjelaskan, takutnya dia berpikir kalau aku main jauh.
" Sebentar lagi Kakak Mau Plasmafheresis Dek, kamu tumben lama banget..? "
" Emangnya sudah jam berapa Kak? "..
" Ini sudah mau jam empat Dek, kamu ngapain aja sampai lupa jam..? "
" Haahh, sudah mau jam empat.? ! " Ucapku. Aku kaget sekali, dan aku ngapain saja di sini dari tadi. Perasaan aku ke bawah tadi baru jam sebelas? Ya Allah..!!
" Iya Dek, kamu pulang sekarang. Tadi Bu Tini sudah mau keatas ke Lantai delapan untuk Plasmafheresis. Tapi, karena kamu tidak ada Bu Tininya shalat dulu. "..
" Oh ya sudah Kak, aku ke atas sekarang. " Ucapku. Aku mengakhiri panggilannya kemudian aku bersiap untuk ke atas.
Ada apa dengan diriku? Aku seperti orang linglung. ' Astagfirullahh..! ' Aku mengucap istgfar dalam hati.
Aku berjalan dengan cepat, agar segera sampai lantai lima. Beruntung Lift lagi tidak padat, dan aku bisa segera masuk ke dalam Lift setelah Lift terbuka.
" Kamu habis ngapain? " Tanya Kak Ranti. Sesampainya di ruangan, Kak Ranti langsung mengintrogasi.
" Oh, tidak tahu Kak, orang aku dari tadi duduk di kursi taman sendirian loh."
" Masa tidak dengar adzan atau apa Dek..! Kalau kamu sendirian, tidak mungkin sampai selama ini.."..
" Aku tidak tahu. " Ucapku. Aku menggeleng lemah.
" Permisi..! " Bu Tini masuk dengan di temani temannya.
" Ayok kita ke atas untuk Plasmafheresis yang ke dua. " Ucap Bu Tini. Kak Ranti di dorong bersama tempat tidurnya, sedangkan aku hanya mengikuti dari belakang.
Seperti biasa, Plasmafheresis memerlukan waktu lumayan lama, entah satu jam atau lebih tergantung keadaan pasien. Karena, terkadang, kalau HB pasien turun tidak bisa di ambil tindakan Plasmafheresis, karena pasiennya nanti tidak akan kuat dan harus melakukan transfusi darah.
Setelah lama menunggu, akhirnya selesai juga plasmafheresisnya. Aku kembali ke bawah lewat Lift khusus.
Sesampainya di bawah aku langsung mandi. Selesai mandi, aku keluar rungan. Seperti biasa, aku melakukan panggilan ke Dr. Afandi. Walaupun tetap saja, kalau nomornya tidak aktif.
Aku kembali ke ruangan dan aku lupa, ternyata aku tidak beli makanan. Aku baru sarapan tadi pagi dan belum makan siang, juga makan malam.
" Dek, kamu sudah makan atau belum? " Tanya Kak Ranti. Aku yang sedang memakan cemilan yang di kirim Bang Bagas kemarin, terlonjak.
" Sudah Kak Tadi." Jawabku. Aku menunduk, takut Kak Ranti mengetahui kebohonganku. Aku pura pura memainkan ponselku dengan cemilan tetap di tangan.
*****************
Malam ini terasa sunyi, seperti hatiku. Aku mengguling gulingkan badanku gelisah. Kemudian aku duduk, terlihat Kak Ranti begitu tenang dalam tidurnya. Aku baru ingat, kalau Dr. Sfandi pernah memberi aku hadiah, kemuadian aku mengambilnya.
' Dokter..!! Apa kabarnya Dokter? Kenapa kamu menghilang..' Aku memeluk boneka itu, walaupun bentuknya kecil. ' Dokter, tau tidak? Seharian ini seperti orang linglung. Kenapa kamu menghilang menyisakan rindu? .' Aku menangis dalam diam. Tubuhku sampai terguncang dan akupun tidak ingat lagi.
**Bersambung....
Jangan lupa untuk Like Komen dan juga vote aku ya..
Terima kasih untuk yang sudah setia mengikuti kisahnya Hana ya**..!!
__ADS_1