
**
"Kalian gak makan?" tanya Rizky, ketika Ia tak melihat sejoli itu makan.
"Kami sudah makan tadi." balas Abi seraya menyeruput secangkir kopi dari hadapannya.
"Oh iya, jadi Sena ini beneran pacarnya si boss yaa?" tanya Susan, salah satu karyawan disana. Sena hanya menampilkan senyuman manisnya sebagai jawaban.
"Iya, tapi mereka sepupu." celetuk Adel. Semua orang disana tampak terkejut mendengar itu.
Berbeda dengan Rizky yang tiba-tiba terbatuk. Air yang hendak masuk kedalam saluran pencernaan, justru berbelok menuju saluran pernapasannya.
'Mampus gue, auto diamuk kulkas ini!' batin Rizky menatap pada Abi yang sudah menatap datar dirinya.
"Hah?! Maksudnya?" tanya Gilang bingung, mewakili empat orang disana.
"Maksudnya, mereka sepupu yang memiliki hubungan spesial. Bukan begitu Sen?" jelas Adel yang menarik satu sudut bibirnya menatap Sena yang tampak diam tak bersuara.
Rizky melayangkan tatapan memberi kode pada Adel untuk diam. Namun sepertinya tak dihiraukan perempuan itu. Adel seperti sengaja ingin menekan Sena untuk memperkeruh suasana. Namun, bukan Sena namanya jika Ia diam begitu saja.
Gadis itu menampilkan senyuman manisnya menatap Adel. Senyuman yang mampu membuat lelaki mana saja terpesona melihatnya. Namun senyuman itu juga yang mampu membuat para wanita iri padanya.
"Iya, kita memang sepupu. Nenek kita adik kakak." balas Sena dengan enteng. Adel mentap tak percaya akan jawaban gadis itu yang sama sekali tak dapat Ia prediksi sebelumnya.
"Emang itu dibolehin?" tanya Sinta penasaran.
"Tentu saja tidak. Nenek kami menentang keras hubungan ini." balas Sena.
"Lalu bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Susan yang sama pensarannya. Bahkan mereka sudah tak sungkan untuk melayangkan pertanyaan.
"Karena cinta." Bukan Sena, namun Abi yang menjawab.
Sena menoleh kearah Abi yang berada disampingnya, begitupun sebaliknya. Hingga tatapan keduanya saling menyelami. Abi menggengam tangan Sena erat, tanpa melepas tatapannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dari sebuah ikatan untuk memiliki rasa cinta. Karena pada dasarnya, nenek moyang kita adalah sepasang insan yang sama." jelas Abi dan diangguki mengerti oleh mereka. Namun, hal itu tentu tidak dengan Adel. Wajahnya memerah dengan raut wajah tak baik-baik saja.
Tangan Abi terulur mengusek pucuk kepala Sena dengan bibir yang sedikit terangkat. Sebahagia apapun dirinya, ia tak akan memperlihatkan senyumnya pada siapapun kecuali Sena. Berbeda dengan Sena yang terus menyunggingkan senyuman manisnya.
Interaksi keduanya tentu membuat baper orang-orang yang melihat adegan itu. Hingga salah satu dari mereka kembali berkomentar.
"Ya ampun! Kalian so sweet bingit, aku kan jadi ngiri." celetuk Sinta dengan tangan menopang dagu diatas meja. Sontak saja atensi mereka berpindah pada gadis yang paling muda diantara orang-orang itu.
"Mau juga de, yuk sama abang?!" goda Andi yang berada disampingnya seraya mendekatkan wajah.
"Isshh apaan sih bang? Gembel aja, so cakep deh." ledek Sinta seraya mengusap kasar wajah yang mendekat itu. Sontak saja kedua manusia itu menjadi bahan tertawaan mereka.
"Ya ampun, abang 'kan emang cakep de." balas Andi dengan percaya dirinya. Kali ini bukan usapan kasar yang dilayangkan gadis belia itu, tapi timpukan dibahu yang sukses membuat Andi meringis mengusap bahunya tersebut.
"Tenang An, gue beliin kaca." celetuk Gilang yang ikut meledek.
"Gue siapin obat, takut asma lu kambuh." tambah Rizky. Hingga kedua pria itu bertos ria, setelah berhasil meledek pria dengan wajah masam itu.
"Ck! Sialan lu pada." umpat Andi kesal, menimpuk kedua manusia yang semakin tergelak itu, dengan sedotan minuman dihadapannya.
"Iya, pasti itu. Jadi gak perlu banyak kenalan lagi, ya? 'kan pasti udah tahu dari kecil." balas Sinta.
"Iya lah. Mereka 'kan tumbuh bersama. Jangankan karakter, bagian tubuh pun pasti udah pada tahu satu sama lain." celetuk Rizky dengan mulut lemesnya.
Uhuk! Uhuk!
Sontak aja, celetukan Rizky membuat Sena yang tengah menikmati jus digelasnya tersedak. Ucapan Rizky mengingatkan Ia akan kejadian semalam, dimana dirinya melihat jelas tubuh tanpa benang Abi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan benda keramat Abi yang berdiri tegak dapat Ia lihat dengan jelas saat itu, dan hampir saja menyapa nona manisnya. Benda yang belasan tahun lalu terlihat imut itu, kini ternyata berubah menjadi sangat menyeramkan.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Abi menepuk-nepuk pundak Sena. Gadis itu hanya menggelengkan kepala sebagai balasan.
Wajahnya tiba-tiba memanas, bahkan mungkin terlihat memerah. Semua orang disana terlihat saling lirik mendapati reaksi yang ditunjukan Sena. Adel yang melihat itu, dapat mengartikan reaksi Sena. Pastilah hubungan mereka sudah terlampau jauh. Perempuan yang lebih tua dari orang-orang disana itu tentu lebih berpengalaman dan lebih tahu makna dari hubungan mereka.
Perempuan itu mende sah pelan, sudah cukup Ia mendengar banyak hal yang membuat hatinya kian ngilu. Ia membereskan piring bekas makannya yang masih tersisa banyak itu, lalu membawanya berdiri.
__ADS_1
"Aku sudah selesai. Aku kebelakang dulu." pamitnya dan hanya diangguki mereka. Semua orang kembali pada aktifitasnya menyelesaikan makanan yang belum tandas dari piring, yang terus diselingi obrolan ringan mereka.
Tring!
Suara notif chat mengalihkan atensi Sena. Gadis itu meraih ponsel yang berada disaku celananya. Terpampang nama sang mama disana. Ia mencoba membuka isi chat tersebut, dengan hati berdebar.
[Segera pulang! Ada yang ingin Mama bicarakan dengan kalian.]
Hembusan napas panjang terdengar dari bibir ranum itu. Abi yang menyadari itu, segera meraih benda pipih tersebut dari tangan sang kekasih. Kemudian ikut membacanya.
"Kita pergi!" ajak Abi meraih tangan Sena, seraya berdiri. Hingga Sena mengikuti pergerakan kekasihnya itu.
Sontak saja hal itu membuat kelima orang itu mendongak. "Kemana?" tanya Rizky heran.
"Pulang." balas Abi singkat, seraya menggandeng tangan Nana untuk mengikutinya.
"Kita pulang dulu, ya. Senang bertemu kalian semua. Bye!" pamit Sena disertai senyumnya dan berlalu dengan tangan yang sudah terseret Abi.
"Iya, kita juga. Hati-hati dijalan ya! Kapan-kapan, main lagi kesini!" teriak Susan dan dibalas lambaian tangan oleh Sena.
"Aku gak ngerti sama kak Sena, si boss udah kek kulkas gitu. Gimana mereka ngobrolnya, coba?" celetuk Sinta keheranan.
"Ck! Lu gak tahu aja, Abi akan berubah seratus delapan derajat kalo sama Sensen." balas Rizky.
"Hah?! Iya kah?" tanya Sinta tak percaya dan diangguki Rizky.
"Wah, berarti Sena memang pawangnya, ya?" celetuk Susan dan kembali diangguki Rizky. Mereka pun kembali pada aktifitas mereka, dengan bibir terus mengoceh disela kunyahannya.
**
Kuda besi yang sejoli itu tumpangi, akhirnya sampai dihalaman luas rumah Sena. Kedua anak manusia itu turun, lalu melepas helm mereka. Terlihat raut gugup dari wajah cantik itu, hingga tangan Abi yang menggenggam tangannya mengalihkan atensi Sena.
"Jangan takut! Apapun yang terjadi, tak akan ada yang bisa memisahkan kita."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Ayo gaiss ramaikan! InsyaAlloh malam up lagi yaa😘😘