
**
"Ehemmm!!" Renata berdehem keras seraya mengalihkan atensinya kearah lain. Sungguh jantungnya serasa akan meledak bersitatap dengan pria dihdapannya.
"Siapa juga yang kahawatirin lu, ge-er!" cetus Renata.
Rizky tersenyum menanggapi, "Padahal gue pengen banget lu khawitirin," celetuknya.
"Cih!" Renata berdecih namun dengan wajah yang memerah. Ia melengos mengalihkan atensinya. Melihat itu Rizky merasa gemas sendiri.
Pria tampan itu mendekatkan wajahnya hendak menggoda sang gadis. Namun tanpa diduga, tiba-tiba Renata membalikan wajah hingga bibir mereka bertemu.
Deg!
Kedua manusia itu terpaku dengan mata saling mengunci. Sentuhan pertama yang mereka rasa dari lawan jenis itu membuat sesuatu dari dalam diri mereka terasa aneh. Hingga tiba-tiba dengan berani Rizky menarik tengkuk gadis itu untuk menyecap lebih dalam benda kenyal tersebut seraya memejamkan mata.
Merasakan pergerakan bibir Rizky, gadis itu ikut terlena. Ia ikut memejamkan mata dan mulai membalas perlakuan pria tampan itu. Keduanya begitu menikmati pagutan pertama mereka, hingga suara pintu terbuka pun tak didengar mereka.
Jingga memasuki ruangan itu, baru saja ia membuka pintu tersebut. Ia dibuat shok dengan pemandangan didalam sana. Hingga seringai nampak dari wajah cantiknya. Ia segera mengambil layar pipih dari saku celana dan mengarahkan pada mereka , merekam kegiatan mereka dengan tawa dalam hati.
Suara cempreng Riska yang keluar dari ruangan Sena membuat Jingga terlonjak. Segera ia menyimpan kembali benda itu disakunya, lalu berdehem keras untuk mengakhiri aktifitas mereka.
"Eheemmm!!"
Seketika sepasang manusia itu melepaskan pagutan mereka dengan gelagapan. Renata berdehem keras seraya segera bangkit dari duduknya.
"Aku ke toilet dulu," pamitnya dan buru-buru berlenggang memasuki ruangan dipojok tersebut.
Jingga terkekeh seraya melipat tangan didada. Kemudian menghampiri pria yang masih terlihat kikuk itu, terlihat Rizky mengusap tengkuknya dengan wajah merah menahan malu. Hal itu tentu membuat gadis itu gencar untuk menggodanya.
"Ehem .. Gimana rasanya?" goda Jingga mendekatkan wajah dengan menaik turunkan alisnya.
"Ck! Sialan lu," umpat Rizky hendak melempar Jingga dengan bantal, namun gadis itu dengan cepat menghindar dan tergelak. Keduanya pun terus saling meledek. Hingga mamih Feby memasuki ruangan tersebut.
Hanya mamih saja yang masuk, karena papih dan anak gadis itu sudah berangkat ke kantor dan sekolah. Tak berselang lama Renata juga keluar dari dalam toilet.
"Maaf aku pamit duluan, ada kelas pagi," pamitnya menundukan kepala. Bahkan gadis itu terlihat enggan menatap wajah Rizky.
Ia segera menyalimi takzim tangan mamih Feby dan segera berlenggang meninggalkan tempat tersebut. Bahkan ia melupakan Jingga yang masih disana.
__ADS_1
"Bukannya kalian datang berdua?" tanya mamih Feby keheranan.
"Iya ti. Palingan dia misuh-misuh diparkiran," kekeh Jingga dan dibalas tawa mamih Feby yang disertai gelengan.
Rizky terdiam. Apa yang terjadi dengan gadis itu? Kenapa ia tak menatapnya? Pikir Rizky menerka-nerka. Hingga ketika Jingga keluar pun tak dihiraukan oleh Rizky yang masih sibuk dengan pikirannya.
**
Sementara itu di ruangan sebelah, kedua orang tua dari sepasang insan tersebut sudah pulang terlebih dahulu. Hingga menyisakan pasangan itu didalam sana.
Abi sudah membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya dengan yang baru mama Ay bawakan tadi. Kini sepasang manusia itu tengah makan, dengan saling menyuapi. Lebih tepatnya, Abi yang tengah menyuapi sang istri.
"Aaa!!"
Dengan lahap Sena menerima suapan demi suapan dari suaminya itu. Hingga makanan pun tandas tak tersisa. Semalam mereka lupa untuk makan, hingga berakhir pada tragedi itu.
"Nih minum dulu obatnya!" titah Abi seraya menyodorkan satu tablet obat pada sang istri.
Seperti mama Ay, Sena menatap nanar obat yang terlihat besar itu. Membayangkan obat itu akan nyangkut ditenggorokan, membuat nyalinya itu menciut. Jika saja mama Ay gak bisa menelan jenis obat tablet apapapun, berbeda dengan Sena. Sena masih bisa menelan obat tapi harus berukuran kecil.
"Udah ah. Gak apa-apa aku gak minum obat," tolak Sena.
"Tapi itu besar, Bi. Kalo nyangkut ditenggorokan gimana? Sakit pasti," protes Sena bergidik ngeri.
Abi terkekeh dengan sikap istrinya itu. "Mau aku bantu?" godanya lagi.
"Issshh bantu gimana? Yang ada aku keselek," selak Sena.
"Terus gimana? Mau aku tumbuk obatnya?" tawar Abi.
"Jangan makin pahit entar!" tolak Sena.
Abi menghembuskan napas pelan, bingung juga harus gimana. Akhirnya ia memutuskan untuk meminta dokter menggantikannya dengan obat sirup. Sepertinya itu lebih baik. Pikirnya.
"Eh kamu mau kemana?" cegat Sena kala Abi hendak berdiri.
Ia menjulurkan obat tersebut, "Mau aku ganti, pake sirup aja ya!" tawarnya lagi.
"Ishh gak usah. Malu lah sama apotekernya. Ntar mereka pikir kek anak kecil," cegat Sena hingga Abi terkekeh.
__ADS_1
"Terus gimana?" tanya Abi dengan sabar.
"Emm ..." Sena nampak berpikir sejenak, "ya udah ditumbuk aja," putusnya.
Abi tersenyum seraya mengacak pucuk kepalanya. Hingga tak mrmbutuhkan waktu lama, obatpun sudah tertumbuk dan dicampur air diatas sendok. Air untuk minum pun sudah tersedia satu gelas penuh.
Sena mulai meminum obat dalan sendok itu dengan keruatan dahi yang berkali-kali lipat. Kemudian segera menegak air putih itu hingga tandas. Namun sepertinya, air itu tak cukup untuk menghilangkan rasa pahit obat tersebut.
Sena hendak protes, namun dengan cepat Abi menyambar bibirnya itu. Menyapu rongga mulut Sena yang masih terasa pahit. Mencoba menghilangkan rasa itu dari mulut sang istri. Hingga suara decapan lah yang terdengar diruangan itu.
Ditengah kesibukan mereka, tiba-tiba seseorang masuk dan memekik kaget. "Ya ampun! Mataku," Hal itu tentu mengalihkan atensi sepasang manusia tersebut, hingga melepas tautan bibir mereka.
"Kalian ya? Sungguh menimodai mataku yang suci ini," gerutu seorang gadis mendekat menghampiri mereka.
Sena dan Abi terkekeh melihat ekspresi sepupunya itu. "Kamu sama siapa kesini, Kiy?" tanya Sena.
"Sama aka Sha. Sengaja aku nyuruh dia jemput," balas Kia.
"Lha si aka nya mana?" tanya Sena heran. "Jangan-jangan bukan si aka. Tapi cowok ya?" godanya.
"Isshh enak aja," prots Sena menimpuk bahu sepupuny itu. Tentu hal itu membuat Sena tergelak.
"Cowok ku itu cuma om Rei. Udah titik gak pake koma lagi," lanjut gadis itu dengan percaya dirinya. Sena hanya mencebikan bibir menanggapi itu.
"Aka nya mana?" tanya Abi.
"Dia masih diparkiran. Drama dulu kek nya, soalnya ada kak Jinjin disana," kekeh Kia.
"Drama apa sii?" Tiba-tiba saja orang yang tengah mereka bicarakan nampak batang hidungnya.
Shaka mendekat dan membelai rambut adiknya itu. "Gimana keadaanya?" tanyanya.
"He'em sudah lebih membaik," balas Sena dan ditanggapi senyim dari sang kakak.
Meski kedua kakak beradik itu sudah seprti tom and jery. Namun dalam keadaan seperti itu, bukan adu argumen yang mereka lakukan, kasih sayanglah yang mereka tunjukan.
"Bi, kita harus bicara."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘