Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Luka


__ADS_3

Bughh!!!


Cekalan lelaki itu terlepas dari lengan Jingga, seraya dirinya tersungkur keatas tanah. Lelaki itu meringis, memegang ujung bibirnya yang kemungkinan berdarah. Kemudian ia bangkit dan menatap nyalang pada pria yang berani melayangkan bogeman mentah padanya.


"Berengs*k!!!" umpatnya.


Ia membalas melayangkan bogeman itu tak kalah keras. Hingga aksi saling tonjok pun tak dapat dihindari. Keduanya bergulat dengan sengit, bahkan tak mendengarkan teriakan Jingga untuk melerai mereka. Hingga atensi orang-orang mengarah pada mereka, bahkan banyak yang mendekat untuk memisahkan.


"STOP!!!"


Teriak Jingga, hingga kedua manusia itu dapat dipisahkan oleh orang-orang disana. Gadis itu menatap nyalang pada kedua manusia yang sama-sama berkabut amarah itu. Napas kedua lelaki itu memburu dengan mata saling mengunci.


Tanpa kata lagi, Jingga berlenggang meninggalkan tempat itu. Ia benar-benar tak habis pikir pada kedua mantannya itu. Sudah cukup, ia tak ingin lagi terlibat dalam masalah dengan mereka. Ia hanya ingin hidup tenang tanpa ada keributan.


"Lu? Urusan kita belum selesai," lelaki itu berlalu meninggalkan tempat itu setelah memberi peringatan pada lelaki yang kini dipegang oleh Abi. Semua orang juga ikut bubar seraya berlalunya lelaki itu.


"Ya ampun! Aka gak apa-apa?" tanya Sena pada sang kakak, seraya melihat kondisi wajahnya yang sudah babak belur.


"Isshh si Radit ngeselin banget sih. Seneng banget bikin rusuh," gerutu Sena kesal, seraya memegang bibir sang kakak yang berdarah.


"Ssttt awaw! Gak usah dipegang sakit," ringis Shaka dengan gerutuannya.


"Ya ampun, gitu doang. Dasar manja!" kesal Sena. Niat hati ingin membantu, sang kakak justru membuatnya kesal.


"Udah ah, yuk kita tinggalin aja!" ajak Sena menggandeng tangan suaminya. "Mau dibantuin juga," gerutunya seraya berlalu menyeret tangan Abi.


Shaka berdecak kesal seraya meraih tasnya yang sudah terjatuh, kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut.


Disepanjang koridor, Sena tak henti menggerutu akan tingkah sang kakak yang begitu mengesalkan. Abi hanya sedikit menarik ujung bibirnya mendengar ocehan menggemaskan dari istrinya itu. Hingga tangannya dengan reflek mengusek pucuk kepalanya.


Sontak saja tingkah sejoli itu jadi sorotan penghuni kampus. Semua mata menatap aneh pada keduanya. Bagaimana tidak? Mereka hanya tau, jika Sena menikah dengan Deril. Dan sekarang? Meski mereka tau, jika Abi dan Sena keluarga. Namun tingkah mereka tak menunjukan seperti itu. Bahkan sebagian dari mereka tau, jika mereka pernah menjadi pasangan kekasih.


"Keren ya, nikah sama siapa? Uwunya sama siapa?" celetuk salah satu dari mereka.


"Eh. Mereka itu mantan bukan sih?" tanya temannya.


"Iya katanya, kasihan ya Deril. Padahal mah buat aku aja Derilnya dari pada disia-siain kek gitu," balas temannya lagi.


"Emang dah, cewek cantik itu bebas. Mau dapatin dua sekaligus juga, oke!" Gelak tawa terdengar dari keempat perempuan yang tengah berghibah ria didepan sebuah ruangan.

__ADS_1


Tentu saja obrolan mereka tak terdengar oleh Sena maupun Abi. Karena sejoli itu sudah berlalu sebelum mereka memulai acara ghibah tersebut. Namun obrolan mereka terdengar jelas oleh seorang perempuan yang hendak masuk kedalam ruangan itu.


Perempuan itu mengepalkan tangan diiringi gigi menggertak. Kemudian ia mengurungkan niatnya untuk memasuki kelas dan berlalu dari tempat itu. Ia berjalan seraya mata memindai setiap sudut koridor.


Hingga netranya menangkap seorang perempuan yang tengah berdiri didekat toilet. Ia menghampiri perempuan tersebut dan tanpa aba-aba mendorong bahunya.


"Heh lu!" ucapanya membuat perempuan itu sedikit terkesiap.


"Apaan sih, Sil? Main dorong-dorong aja," kesalnya.


"Lu yang apaan? Jangan so kecantikan deh lu," sungut Sisil.


"Apaan sih, gak jelas."


"Lu yang gak Jelas!" tegas Sisil. "Gue relain Deril nikah sama lu, bukan buat lu sia-siain. Tapi apa? Lu justru mempermainkan dia. Punya hati gak sih lu, Sen?"


"Tunggu! Masksud lu apa?"


"Lu masih nanya maksud gue apa? Lu punya otak gak sih? Lu nikah sama Deril dan lu jalan lagi sama mantan lu itu? Hati lu dimana Sena?" tanya Sisil dengan napas terengah-engah.


Sena menganga dengan tatapan tak percaya pada perempuan berkabut amarah itu. "Tunggu dulu, kek nya lu salah paham deh!" selaknya.


"Singkirkan tangan lu dari istri gue!" Suara berat nan dingin Abi, membuat Sisil terlonjak kaget. Bahkan cekalan tangan kekar itu pada pergelangan tangannya begitu erat.


Hingga Sisil sedikit meringis dan hendak melepaskannya, namun tidak diindahkan Abi. "Ma-maksud lu apa?" tanyanya dengan sedikit gugup menatap mata elang lelaki itu.


"Apa lu tuli?" tanya Abi dengan wajah datar.


"Menyingkirlah! Jangan ganggu istri gue!" Abi pun melepaskan cekalan itu sedikit kasar, kemudian beralih menggandeng tangan Sena dan berlalu meninggalkan Sisil yang mematung dengan beribu pertanyaan.


"Istri?" gumamnya.


**


Sementara itu Shaka berjalan menuju ruang UKS untuk mengobati lukanya akibat pukulan Radit. Darah yang tak kunjung berhenti dari pelipis, membuat lelaki itu dengan terpaksa mengunjungi ruang kesehatan tersebut.


Ceklek!


Shaka dibuat sedikit terkesiap, kala melihat seorang gadis berjas putih di dalam sana. Ia hanya memasuki tempat itu tanpa menyapa dan mulai mencari obat yang dibutuhkan.

__ADS_1


Jingga yang tengah membereskan obat-obatan dibuat terkesiap juga kala melihat siapa yang memasuki tempat itu. Jingga adalah anggota PMR, ruangan kesehatan bagai tempat keduanya dari pada kelas.


Gadis itu melirik sekilas kearah wajah tampan yang penuh lebam itu, lalu terfokus pada darah yang terus merembas diarea pelipisnya. Ia pun segera mengambil kotak p3k, kemudian memberikan benda kotak tersebut pada Shaka, tanpa sepatah kata pun.


Shaka meraih benda tersebut. Sama halnya dengan Jingga, tak ada suara apapun dari lelaki tampan itu. Kemudian Jingga berlalu kembali pada posisi awalnya, meninggalkan Shaka yang mulai membuka kotak tersebut. Ia mengambil kapas dan menuangkan cairan merah dari botol. Bukan luka yang terkena cairan itu, hingga ia pun berdecak kesal karena terlalu sulit memprediksi lukanya tanpa cermin.


Jingga menghembuskan napas panjang. Tentu ia melihat semua gerak gerik lelaki itu. Ia pun kembali mendekat seraya merampas kapas dari tangan Shaka, kemudian mendudukan diri disamping lelaki itu.


"Aku bisa sendiri," Shaka hendak merampas kembali kapas itu, namun Jingga segera mengelak.


"Butuh cermin untuk melakukannya. Jika ada tangan lain, bukankah itu lebih baik?"


Shaka pun terdiam dan membiarkan gadis itu membantunya. Ia menatap lekat wajah cantik yang selalu ia rindukan. Hati kecilnya menyesali apa yang sudah ia ucapkan pada gadis itu. Kata-kata kasar yang mungkin membekas dihati sang gadis.


"Maaf!" sesal Shaka. Hingga pergerakan tangan Jingga terhenti sejenak.


"Buat apa?" tanya Jingga yang kembali pada aktifitasnya. Dengan telaten ia membersihkan luka itu.


"Tidak mempercayaimu," balas Shaka.


Jingga menarik saru sudut bibirnya, kemudian menempelkan plester dibagian akhir luka itu. "Terkadang apa yang kita lihat, itu yang harus dipercaya. Namun apa yang kita lihat belum tentu apa yang terjadi," balasnya.


Jingga meraih kotak itu dan membereskan barang-barangnya. Kemudian menatap pada lelaki itu. "Mata saja tidak cukup untuk melihat, butuh hati untuk menyempurnakannya," lanjutnya.


Lalu ia berdiri dan hendak pergi. Namun tiba-tiba saja Shaka memeluk tubuhnya dari belakang, hingga ia mematung kala mendengar isak lirih dari lelaki itu.


"Maaf! Maaf! Maafin aku Jin!"


\*\*\*\*\*\*


Jejaknya gaiss jangan lupa yaa.. Like dan komennya ditunggu! Kasih kembang sama kopi juga lah🤭



Aka tampan babak belur😂



Jinjin si tangguh😂

__ADS_1


__ADS_2