Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Acara Sakral


__ADS_3

Ruangan tengah sudah disulap sedemikian rupa dengan berbagai dekorasi dan bunga yang memenuhi ruangan luas itu. Bahkan pelaminan juga sudah terpasang disana.


Bukan itu saja, para tamu undangan yang hanya berjumlah puluhan sudah tampak hadir dan siap menyaksikn acara sakral dari salah satu keluarga mereka. Pak penghulu juga sudah siap duduk diatas kursi bersama papa Ar disampingnya. Dihadapannya terdapat dua kursi yang diduduki Abi dan Deril yang terpisah oleh meja persegi. Satu dikursi samping kanan ada bang Age sebagai saksi. Tersisa kursi kosong disamping kiri yang diperuntukan saksi juga.


Sang mempelai wanita sudah turun dari tangga, diapit oleh sepupu dan sahabatnya. Sena tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya pengantin itu. Bagai seorang dewi, semua nampak terpana menatap kecantikan sang mempelai wanita itu. Begitupun, sang calon mempelai pria. Satu tarikan diujung bibirnya menandakan ia pun begitu terpesona karenanya.


Ehemm!


Deheman dari sang wali nikah sukses membuat Abi terkesiap. Ia baru menyadari jika Sena sudah berada disampingnya. Entah kemana pikirannya saat ini, yang jelas ia yang selalu bersikap santai mendadak gugup hingga tangannya terasa dingin.


Grasak grusuk mulai terdengar dari belakang, kala calon mempelai pria ternyata tidak sesuai dengan yang tertera didalam undangan itu. Deril yang harusnya berada diposisi Abi saat ini, justru menduduki kursi saksi yang kosong tersebut.


"Tuggu sebentar, ini maksudnya apa ya?" tanya seorang wanita, dari salah satu keluarga Deril. Devan yang berada disampingnya menahan wanita itu agar tak banyak bertanya.


"Tapi Van, tante bingung. Bukankah Deril calon mempelai prianya? Kenapa jadi-?" Wanita itu tak meneruskan ucapannya. Hanya tatapan bingung yang dilayangkan wanita itu mewakili orang-orang disana.


Devan menghembuskan napas panjang. Pria yang masih tampan diusianya itu pun bangkit. Hingga semua atensi mengarah padanya. Suasana yang sempat meriuh dengan bisik-bisik mereka, seketika hening.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini! Saya tahu, kalian pasti bertanya-tanya. Kenapa calon mempelai prianya berganti?" ucap Devan.


"Kami sebagai orang tua, hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putra putri kami. Ya, ini kesalahan kami yang terlalu memaksakan kehendak agar keduanya bersatu. Tanpa kami ketahui, mereka memiliki pilihan mereka sendiri. Dan mereka sama-sama memperjuangkan cinta dan pilihan mereka masing-masing," jelasnya.


"Tapi kenapa Sena memilih Abi, bukannya mereka-" selak salah satu dari mereka.


"Ya, mereka sepupu." Bukan Devan, namun mimih Asti. Semua orang beralih pada wanita baya yang sudah sering sakit-sakitan diusia emasnya itu.


"Sena cucuku, begitupun Abi. Dia cucu adikku." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Semenjak kejadian pagi itu, mimih Asti belum berkunjung lagi kerumah tersebut. Ia memilih menyendiri dirumahnya. Berulang kali mama Ay membujuknya, namun wanita baya itu masih enggan menerima kenyataan yang ada. Mama Ay hanya pasrah, ia tidak bisa memaksa kehendak sang mamih. Ia hanya membiarkan ibu kandungnya itu dengan keras kepalanya.


Wanita tua itu tersenyum, "aku tidak bisa bertanya pada cinta yang membawa mereka sampai disini," lanjutanya menatap kedua mempelai itu.


Seketika Abi menoleh, mengingat kata-kata yang pernah ia lontarkan pada wanita tua itu. Sena sudah berbalik dari sejak wanita itu berucap dengan mata berkaca.

__ADS_1


"Karena sudah dipastikan hanya satu jawabannya. Dan itu karena cinta."


"Mimih.." cicit Sena.


Sena bangkit dan berlari menuju neneknya itu, lalu menjatuhkan diri dibawah kakinya. Ia pikir sang nenek tidak akan pernah hadir dalam acara yang akan ia lakukan sekali diseumur hidupnya. Namun, ia salah. Sang nenek tetaplah orang tua yang pastinya akan mendukung dan merestui mereka.


"Maafin Sensen Mih! Sensen gak bisa lupain Abi. Sensen mencintai Abi, Mih. Sensen ingin hidup sama Abi. Tolong Mih, restui pernikahan kami!" ucap gadis itu dengan isak tangis yang membuat semua orang disana terenyuh.


Air mata Mimih Asti sudah luruh begitu deras. Ia belum sanggup berkata dan hanya mengusap pundak cucunya itu. Tiba-tiba saja, seseorang ikut jatuh dikakinya, dan menaruh kepala dipangkuannya tepat disamping Sena.


"Aku mohon, Mih. Restuilah kami!" lirih Abi yang menyembunyikan wajah dipangkuan wanita baya itu.


Mimih Asti hanya mampu mengangguk seraya mengelus kepala Abi. "Iya, Mimih merestui,"


"Makasih, Mih. Makasih!" ucap Sena mendongakan wajah hingga terlihat lelehan yang membasahi wajah cantik itu. Wanita tua itu pun menghapus jejak kebasahan diwajah sang cucu.


Rasa lega dirasakan kedua orang tua pengantin ini. Begitupun orang-orang yang tahu mengenai hal itu. Oma Asmi mendekat, lalu menpuk pundak Abi yang membuat ia mendongak.


Oma Asmi tersenyum dan menganggukan kepala. "Iya, Oma juga restuin kalian," ucapnya dan disambut senyum pasangan itu.


"Isshh kalian gak mau nanya sama nenek?" celetuk wanita yang berada disamping kiri Mimih Asti.


Sepasang calon pengantin itu tersenyum. "Nenek terbaik!" balas Sena pada ibu dari papanya itu.


"Ck! Mimih juga baik," protes Mimih Asti.


"Tapi Nenek lebih baik. Dia udah kasih restu, berulang kali malah," ledek Sena hingga membuat wanita tua itu berdecak.


Nenek Anita terkekeh melihat perdebatan dua wanita berbeda generasi itu. "Udah-udah kalian ini." lerainya.


"Sekarang kalian cepat kembali, kasihan itu pak penghulunya!" titah Nenek Anita dan diangguki kedua calon mempelai itu.


Semua orang kembali riuh menanggapi drama itu. Tak ayal mereka begitu memuji keteguhan sepasang calon pengantin, yang ternyata sepupu itu. Hingga bisa berakhir dipelaminan.

__ADS_1


Setelah keduanya kembali duduk didepan pak penghulu dan papa Ar. Acara pun siap dilaksanakan.


"Udah ya, dramanya?" ledek papa Ar yang membuat suasana semakin riuh.


"Meski kalian masih memiliki ikatan darah, tapi jika kalian tidak satu susu, itu tidak masalah. Yang penting niat hati kalian, menikah untuk ibadah." terang pak penghulu dan diangguki mereka.


"Bagiamana apa sudah siap?" tanya pak penghulu dan diiyakan Abi.


Serangkaian doa dan lantunan acara suci al-Quran digelar terlebih dahulu, berlanjut dengan nasihat dan wejangan dari pria paruh baya bertubuh tambun itu. Dan diakhiri kalimat syahadat dari kedua mempelai itu untuk memulai acara intinya.


Papa Ar mulai menjabatkan tangannya yang kemudian disambut Abi. Helaan napas terdengar dari pria paruh baya itu sebelum ia melapalkan kalimat ijab itu.


"Bismillahirahmanirrahim. Ananda Abizar Radeeya Permana bin Rendi Permana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Arsena Quennara Pratama binti Ardiansyah Pratama. Dengan maskawin uang sebesar dua ribu dua puluh dua dollar, berlian dua puluh empat karat, dan seperangkat alat shalat, dibayar tunai!"


Ucap papa Ar dengan lantang dan tegas. Tangannya sedikit begerak diakhir kalimat untuk memberi kode pada calon menantunya itu. Dengan cepat Abi pun menjawab tak kalah lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Arsena Quennara Pratama binti Ardiansyah Pratama, dengan mas kawinnya tersebut tunai."


"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu.


"Sah!" balas bang Age, lalu pak penghulu beralih pada Deril.


Lelaki itu terdiam tak menimpali, hingga atensi Abi dan Sena beralih padanya dengan tatapan waswas. "Bagaimana, Nak Deril?" tanya pak penghulu memastikan.


Deril menarik satu sudut bibirnya, melihat ekspresi Abi yang tidak seperti biasa. Terlihat rasa takut hinggap pada lelaki berwajah datar itu. Ada rasa bangga bisa membuat takut pria yang sudah bekeringt dingin itu.


"SAH!!"


"Alhamdulillah...."


******


Ngumpulin tenaga dulu lah, buat malam pertama. Kasih kopi dong biar mak othor melek, buat bikin part ngamer nyaa🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2