
"Jadi, tempat ini punyamu? Serius?" tanya Sena dengan mata membulat merasa tak percaya dengan penjelasan Abi. Pria itu hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Wah, daebak!" celetuk Sena merasa takjub akan pikiran Abi yang sudah jauh ke masa depan.
Kini sejoli itu tengah berada dilantai atas, tepatnya disebuah balkon dimana para karyawan sering menghabiskan waktu mereka disana. Beberapa karyawan adalah temannya Abi, termasuk Adel. Begitupun sang sahabat Rizky, yang ikut kerja paruh waktu disela kuliahnya.
"Aku hanya sedang belajar untuk menjadi seorang imam yang bertanggung jawab," ungkap Abi.
Sena yang tengah menatap pemandangan indah dihadapannya, seketika menoleh kearah Abi yang juga tengah menatapnya.
"Aku hanya ingin kau nyaman hidup bersamaku. Meski aku tak semapan mereka." lanjutnya.
Sena tersenyum dengan semburat merah dipipinya. Gadis cantik itu menunduk malu mendengar ungkapan itu. Sungguh hatinya kian menghangat mendapati itu.
Sena kembali mendongak dan berbalik, kala tangan Abi menggenggam kedua tangannya.
"Sensen, bersediakah kau hidup denganku? Menghabiskan sisa usiamu bersamaku?" tanya Abi dengan menatap dalam manik indah sang kekasih.
Hening!
Sena terpaku dan ikut menatap dalam mata Abi. Semua ini memang sudah Ia prediksi, namun tetap saja mendapat perlakuan itu membuat Sena meleleh. Lengkung bibir dari gadis itu terbentuk sempurna, bahkan semakin lebar.
"Jadi, ceritanya aku dilamar nih?" celetuk Sena.
Suasana yang sempat romantis, tiba-tiba menjadi ambyar dengan celetukan gadis cantik itu. Abi terkekeh mendengar itu, hal inilah yang membuat pria tampan itu begitu memuja sang gadis. Sena yang selalu apa adanya, membuat Abi begitu nyaman berada didekatnya.
Satu tangan Abi terulur mengusek pucuk kepala gadis itu, "Bagaimanapun menurutmu, yang jelas aku memaksamu untuk hidup bersamaku," jelasnya.
"Aisshh pemaksa!" ledek Sena, lalu gadis itu tergelak.
Abi menarik gadis itu kedalam dekapannya, "bukannya, kau suka dipaksa?" tanyanya.
"Nggak, aku gak suka dipaksa!" sangkal Sena disela tawanya.
"Tapi aku suka." selak Abi, hingga gadis itu semakin tergelak.
"Oh iya," Sena melonggarkan dekapannya seraya mendongak menatap Abi.
"Kamu kenapa bilang 'iya' sama mama? Pasti mama kepikiran terus tentang itu. Padahal 'kan kita gak lakuin apa-apa." gerutu Sena, yang baru memikirkan kemungkinan yang kini terjadi pada sang mama.
Abi tersenyum seraya membelai wajah cantik itu, "apa sekarang kita perlu melakukannya?" godanya.
__ADS_1
"Ishh apaan sih?" elak Sena seraya memukul bahu Abi manja. Wajahnya melengos menahan malu.
Abi begitu menyukai reaksi gadis itu, hingga Ia semakin gencar menggodanya. Ia mendekatkan wajah seraya berbisik.
"Tapi aku ingin." Suara lembut Abi yang disertai hembusan napas hangat, tepat mengenai telinga dan ceruk Sena, hingga berhasil membuat bulu halus gadis itu meremang seketika.
Glek!
Sena menelan salivanya kuat-kuat kala hidung Abi bersentuhan dengan daun telinganya. Sena memejamkan mata merasakan sensasi yang berbeda dari semalam. Kali ini Ia tak menampik jika Ia pun menginginkan sentuhan itu. Hidung mancung Abi mulai menjelajah diarea ceruk Sena. Satu hal yang baru pertama Sena rasakan. Sebelumnya Abi hanya mendaratakan sentuhan dibibir dan wajahnya saja. Namun sekarang Abi berhasil menyentuh area sensitifnya itu, hingga membuat jiwa sang gadis terbang melayang.
Cup!
Satu kecupan dilayangkan Abi pada kulit putih itu, "aku akan menahannya, sampai kamu benar-benar menjadi milikku." bisiknya lagi.
Seketika Sena membuka mata, lalu dengan cepat Ia tersadar dari pikiran kotornya. Gadis itu berdehem keras untuk menutupi kegugupannya. Abi kembali mendekap tubuh ramping itu seraya mendaratkan kecupan bertubi-tubi dipucuk kepala Sena.
Dibalik kebahagiaan dua manusia itu, seorang perempuan menatap nanar keduanya dari balik pintu kaca besar penghubung tempat itu. Adel yang hendak mengajak sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta itu makan, harus menyaksikan adegan mesra mereka langsung oleh kedua matanya.
'Apa tidak akan ada kesempatan untukku, mendapatkanmu?' batinnya.
Sungguh hatinya begitu tersayat melihat sikap Abi yang begitu berbeda. Mungkin benar apa yang dikatakan Rizky, bahwa hanya didepan gadis itulah Abi terlihats seperti manusia normal.
Ia membuka pintu kaca itu, kemudian berdehem untuk menyapa keduanya.
Seketika deheman itu membuat sejoli itu menoleh, Sena pun segera melepaskan pelukannya. Terlalu malu untuknya tercyduk orang asing yang baru dikenalnya.
"Emm maaf, aku mengganggu kalian. Kita akan makan bersama, apa kalian mau bergabung?" tanya Adel dengan sedikit ragu.
Abi hendak menjawab, namun Sena segera menyelaknya, "tentu, kita akan ikut bergabung. Iya kan, Bi?" tanya Sena meminta pendapat.
Terdengar hembusan napas berat dari bibir pria tampan itu. Ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang gadis, namun Ia juga harus menghargai teman-temannya yang kemungkinan ingin mengenal kekasihnya itu. Akhirnya Ia mengangguk pasrah sebagai jawaban.
"Oke, kita tunggu! Aku turun duluan." ucap Adel seraya berlenggang meninggalkan tempat itu dengan perasaan tak karuan.
"Sepertinya, dia menyukaimu." Sena mulai berkomentar, kala gadis itu sudah menghilang dari hadapan mereka.
Abi menautkan alisnya, lalu menarik satu sudut bibirnya. "Apa kau cemburu?" tanyanya.
"Ck! Tentu saja. Melihat dia menatapmu seperti itu, rasanya ingin sekali aku menyolok matanya." balas Sena apa adanya, seraya memperagakan tangan yang mencolok mata.
Abi terkekeh mendengar kalimat sarkas sang kekasih. Alih-alih kemungkinan perempuan lain akan menyangkal dan bersikap jaim. Hal itu tak berlaku bagi Sena. Gadis itu akan mengungkapkan isi hatinya pada orang-orang tertentu, seperti Abi.
__ADS_1
"Jujur sekali anda." ledek Abi. Tangannya terulur mengusek pucuk kepala sang gadis.
"Aisshh!!" Sena memukul bahu pria itu, hingga Abi tergelak.
"Ya udah, aku akan bohong aja kalo gitu!" gerutu Sena kesal.
Abi merangkul pundak Sena, seraya mengajak gadis itu melangkahkan kakinya. "Tidak perlu. Aku suka apapun yang ada padamu." papar Abi.
"Cih! Apa padanya nggak?" tanya Sena.
"Tidak juga." balas Abi menggodanya.
"Isshhh Abi ...!" rengek Sena dengan wajah kesal, seraya menghentikan laju jalannya. Lalu menghentakan kakinya dilantai, menahan kekesalannya.
Abi kembali tergelak, sungguh menyenangkan sekali menggoda kekasihnya itu. "Iya, iya, nggak!" bujuknya seraya kembali menyeret tubuh ramping itu untuk kembali berjalan. Namun gadis itu masih menekukan wajahnya kesal.
"Mungkin banyak perempuan yang kusuka, dalam artian suka akan kebaikannya. Tapi hanya satu yang kusuka dalam artian cinta, dan itu hanya kamu." terang Abi.
"Jika memang aku bisa mencintai orang lain, tidak mungkin aku memperjuangkanmu." lanjut Abi menarik hidung mancung gadis itu.
Lengkung senyum terpatri dari bibir ranum itu, hingga keduanya terus bercanda dengan menuruni anak tangga. Tanpa kedua manusia itu sadari, keduanya tengah menjadi pusat perhatian orang-orang yang kini sudah berkumpul disebuah meja panjang diatas lesehan.
"Oh my god! Mereka serasi sekali." celetuk salah satu karyawan perempuan bernama Sinta, yang menatap kagum sejoli itu.
"Memang. Bahkan mereka pernah dapat julukan, Pop King and Queen di sekolah dulu. Mereka raja dan ratunya kecantikan." balas Rizky.
"Hah, gue bingung. Kenapa pria tampan jodohnya dengan wanita cantik. Jadinya tak ada kesempatan untuk kita memperbaiki keturunan." celetuk karyawan pria bernama Andi.
Toyoran pun dilayangkan Rizky pada temannya itu. "Heleh, cowok burik berharap dapat bidadari. Ngimpi!" ledeknya dan hanya dibalas decakan pria itu.
Hal itu tentu mengundang gelak tawa kerumunan keenam orang disana terkecuali, Adel. Ia hanya menatap nanar sejoli itu dengan perasaan berkecamuk.
'Bisakah aku diposisi itu?'
******
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss🤗
Kulkas udah banyak ngomong😂
__ADS_1
Si cerewet yang apa adanya😂