Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Restu dari Surga


__ADS_3

Sepasang kekasih itu berlenggang memasuki rumah. Tautan tangan tak terlepas dari keduanya. Hingga kedua manusia itu sampai diruangan tengah, dimana mama Ay dan mommy Sa sudah menunggu mereka. Sejoli itu masih berdiri tanpa ingin duduk, sebelum kedua ibu itu menyuruhnya.


"Kenapa kalian gak duduk?" tanya mama Ay heran.


"Mama izinin kita duduk?" bukan menjawab Sena justru balik bertanya.


Wanita paruh baya itu terkekh, "ya iya lah, masa kalian mau berdiri terus?"


Kedua manusia itu akhirnya mendudukan diri di sofa panjang yang bersebrangan dengan kedua wanita itu, tanpa melepaskan tautan tangan mereka.


"Apa tangan kalian dikasih lem, sampai gak bisa terlepas?" tanya mommy Sa, dengan wajah datarnya.


Sontak hal itu membuat Sena dengan cepat ingin melepas tangannya, namun Abi bersikukuh tak ingin melepaskan itu.


"Bi ...!" peringat Sena pelan, namun pria itu sama sekali tak menghiraukannya.


"Maaf, Ti!" sesal Sena menunduk, mendapati tatapan mommy Aysa sungguh membuat nyali gadis itu menciut.


"Kalian ini. Sebenarnya kalian dari mana? Kenapa pergi begitu saja? Obrolan kita belum selesai. Kalian belum jelasin apa yang sebenarnya terjadi," cerocos mama Ay tanpa jeda. Tentu hal itu membuat Sena mendongak. Bibirnya terasa gatal, jika tak menimpali cerocosan sang mama.


"Ya ampun Ma. Ngomong itu pake jeda, pake koma, pake filter. Jangan nyerocos mulu!" protes Sena, yang sama nyerocosnya dengan sang mama.


"Isshh kamu tuh, gak nyadar apa? Kamu juga sama." balas mama Ay, tak mau kalah.


"Aku 'kan anak Mama, ya pasti sama lah," selak Sena.


Tentu saja perdebatan itu membuat pasangan ibu dan anak berwajah datar itu hanya terdiam, dengan hembuskan napas panjang yang tedengar dari mereka secara bersamaan. Bukan Sena saja yang begitu persis dengan mama Ay, namun Abi juga begitu persis dengan mamanya, mommy Sa. Wajah dingin dengan irit kata itu begitu sama terlihat dari keduanya.


"Sudahlah, berhenti!" Suara dingin momy Sa, membuat ibu dan anak itu berhenti beradu argumen.


"Jadi, apa yang ingin dibicarakan?" tanya Abi yang baru bersuara dengan nada sama dengan sang mommy.


"Kita hanya ingin memastikan, apa keputusan kalian itu sudah bulat? Pernikahan harus tetap dilangsungkan beberapa hari lagi." tanya mama Ay.


"Kenapa harus bertanya lagi? Bahkan kami sudah siap, meski harus menikah hari ini juga." balas Abi. Terdengar hembusan napas berat dari wanita yang masih cantik diusianya itu.

__ADS_1


Sena berdiri untuk berpindah posisi. Kemudian bersimpuh, mendudukan diri dibawah kaki, diantara mama Ay dan mommy Sa. Lalu meraih tangan kedua ibu itu.


"Ma, Onty, aku mohon restuilah kami!" pinta Sena dengan wajah memelas dan mata yang sudah berkaca. "Kami saling mencintai dan hanya ingin hidup bersama," lirih Sena dengan menundukan kepala. Menyembunyikan bulir air yang berjatuhan begitu saja dari kedua sudut matanya.


Sontak saja hal itu membuat kedua wanita itu terenyuh, ketulusan dari putra putri mereka membuat jiwa lembut kedua ibu itu tak bisa menampik lagi keadaan yang semakin sulit untuk dikendalikan. Setetes bulir ikut keluar dari kedua wanita itu. Melihat tubuh Sena bergetar hebat, tentu membuat mama Ay segera merengkuh tubuh ringkih itu.


"Sudah sayang, jangan menangis!" titah mama Ay yang ikut menangis, "kami ... Sudah merestui kalian. Jadi, berbahagialah!" lanjutnya, hingga Sena mendongakan kepala.


"Sungguh?" tanyanya tak percaya.


Anggukan dari kedua wanita yang berwajah hampir sama itu, membuat tangis Sena semakin keras. Gadis itu menubrukan diri pada tubuh sang mama, memeluk erat tubuh yang masih segar diusianya itu.


"Makasih Ma, makasih!" ungkap Sena disela isak tangisnya. Kemudian Ia melerai pelukan itu dan beralih pada sang onty yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya.


"Onty!" Sena berhambur memeluk tubuh mommy Sa, "makasih onty, makasih!" ungkapnya lagi dengan isak tangis yang sama.


Mendapat sebuah restu adalah satu hal yang menjadi impian mereka. Restu dari kedua wanita itulah yang mereka inginkan. Mereka tak peduli dengan kedua nenek mereka yang mungkin masih menentang. Bagi mereka restu dari Surganya itu saja sudah lebih dari cukup.


"Sudah berhentilah menangis, hem!" titah mommy Sa melerai pelukan mereka, seraya menghapus jejak kebasahan dipipi cantik Sena. Gadis itu pun mengangguk sebagai jawaban.


"Waktu kalian gak banyak. Segera fiting baju pengantin dan cincin kawinnya," lanjut mommy Sa dan kembali diangguki Sena.


**


Sreekk!!!


Pintu geser terbuka lebar, menapakan sesosok gadis berbalutkan kebaya pengantin berwarna putih khas adat Sunda yang begitu pas melekat ditubuh idealnya, keluar dari dalam ruang ganti.


Abi yang tengah menunggu diatas sofa ditemani layar pipih ditangannya, seketika mendongak mendengar suara pintu tersebut. Pria itu terpaku menatap calon istrinya yang nampak cantik. Tanpa riasan wajah pun, Sena sudah tampak anggun dan menawan dimata Abi. Bahkan tanpa Ia sadari, lengkungan senyum terukir begitu saja dari bibir sexynya.


"Gimana, Bi?" tanya Sena membuyarkan lamunan pria tampan itu.


Abi tak melepaskan senyum itu, lalu mengangguk. "Perfect!" pujinya.


Sena tersenyum puas, akhirnya Ia tak susah untuk bolak balik mencoba seperti yang dilakukan setiap calon mempelai pengantin lainnya. Dengan perasaan bahagia ia mengecup sekilas rahang tegas Abi dan kemudian ngibrit begitu saja kembali berlalu keruangan itu.

__ADS_1


Abi terkekeh mendapatkan serangan tiba-tiba itu. Tangannya bergerak meraba kecupan singkat dipipinya. "Cih! Awas saja aku akan membalasmu," gumamnya.


Acara fiting baju pengantin pun selesai, kini sejoli itu sudah berada di toko perhiasan yang sudah disiapkan mama Ay. Kedua manusia itu tengah memilih benda melingkar yang akan mereka gunakan.


Ditengah kesibukan mereka memilih, seseorang menyapa dan mengalihkan atensi mereka.


"Abi, Sena?!" Seorang gadis menghampiri mereka yang tengah duduk didepan etalase.


"Kalian ngapain disini?" tanyanya yang ikut mendudukan diri disebelah Abi. "Oh, aku tahu! Kamu pasti lagi bantuin Sena buat milih cincin 'kan?" tanyanya pada Abi dengan gaya manjanya.


Tentu hal itu membuat Sena memutar bola matanya malas, merasa jengah dengan gadis yang selalu membuat masalah dengannya itu.


"Ngapain sih lu disini? Ganggu aja!" tanya Sena dengan nada tak bersahabat.


"Suka-suka gue lah! Emang ini tempat milik nenek moyang lu?" sewot gadis itu.


"Cih! Gaje lu!" umpat Sena.


"Bi ...!!" rengeknya pada Abi. "Kamu lihat deh, sepupu kamu itu kasar banget sama aku. Padahal 'kan bentar lagi aku jadi istri kamu, yang otomatis akan jadi sepupunya juga," cerocos gadis itu panjang kali lebar. Bahkan tangannya dengan manja merangkul lengan Abi dengan tak tahu malunya.


"Hei ...!!" dengan cepat Sena berdiri dan memisahkan rangkulan tangan gadis itu.


"Apaan sih lu?" sungut gadis itu tak terima.


"Lu yang apaan? Main rangkul aja cowok orang." balas Sena tak terima.


"Kenapa? Abi cowok gue." tegas gadis itu tak kalah sengit.


"Hello! Bangun woy!" ucap Sena menjentikan jari tengah dan jempolnya, hingga gadis itu berdecak kesal.


"Nona Renata Puspita yang cantik jelita, cetar membahana. Dengarin gue baik-baik ya, Abi bukan cowok lu. Karena apa? Karena sekarang," Sena menjeda ucapannya sebentar, kemudian menggandeng lengan Abi.


"Abizar Radeeya Permana adalah calon suami gue. Se-na!"


"What???"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa🤗


__ADS_2