Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Pesona Abi


__ADS_3

Ceklek!


Sena keluar dari kamar mandi dengang mengenakan handuk sebatas paha dan handuk kecil yang menggulung rambut basahnya. Ia mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan, mencari sang suami yang tak nampak batang hidungnya.


"Kemana dia, katanya mau mandi?" tanya Sena bermonolog sendiri. Ia mengedikan bahu dan berlalu menuju walk in closet, untuk mengambil pakaian ganti.


Baru saja Sena membuka pintu ruangan berukuran 2x3m itu, ia dibuat terkejut kala mendapati seseorang yang ia cari ternyata berada diruangan itu. Sena terpaku menatap Abi yang baru saja melepas kemeja putih dari tubuh sispeknya. Dada bidang dan perut berbentuk kotak itu, sungguh terlihat menggiurkan dimata Sena. Meski ini bukan pertama ia melihat Abi bertelan jang dada, bahkan ia pernah melihat semua bagian tubuh tegap itu. Namun, entah kenapa kali ini tiba-tiba terasa berbeda.


Abi menarik satu sudut bibirnya, ia mendekat tanpa Sena sadari. "Kenapa?"


Sontak saja pertanyaan itu membuat Sena terkesiap dan reflek berdehem keras. "Ehemm!!"


Tiba-tiba lengkungan manis nampak dari bibir Abi, "Sudah selesai?" tanyanya dengan nada menggoda.


"Ishh, tadi aja disuruh senyum gak mau. Eh sekarang malah senyum mulu," ledek Sena dengan kedua pipi yang sudah memerah.


"Udah sana, katanya mau mandi. Aku mau ganti baju!" usirnya mendorong dada polos Abi untuk sedikit menjauh.


Jujur terlalu dekat seperti itu, membuat jantung Sena serasa akan meledak. Ia pun segera beralih memilih pakian yang hendak dikenakannya. Hobinya bersama Kia, sungguh membuat isi ruangan itu penuh dengan berbagai koleksi dari sepanjang musim.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, untuk kedua kali Sena menyuruh sumainya itu keluar. Namun Abi justru memilih duduk diatas kursi yang ada didalam ruangan itu. Dengan kaki menyilang dan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menopang dagunya.


"Ihh, Abi aku mau ganti baju. Cepetan keluar dulu!" rengek Sena, namun tak dipedulikan pria tampan itu.


Sena berdecak, lalu meraih tangan yang tengah menyanggah dagu itu dan menariknya untuk berdiri. Namun bukan Abi yang berdiri, justru dirinya lah yang terduduk dipangkuan suaminya itu.


Deg!


Jantung Sena berdegup semakin kencang, kala tangannya reflek memeluk bahu Abi. Tatapan teduh yang diberikan Abi, sungguh membuat Sena tak berkutik. Ia selalu saja jatuh dalam pesona seorang Abi.


Aura ketamapanan yang begitu melekat dari sang daddy, berpadu padan dengan sikap yang sama persis dengan sang mommy. Sungguh membuat pesona Abi sangat sayang untuk dilewatkan.


Sena tersadar dari lamunan kala tiba-tiba saja bibirnya disesap lembut oleh bibir sexy suaminya. Ia sempat terkesiap, namun didetik berikutnya, ia kembali hanyut pada permainan yang diberikan Abi.


Tangan Abi bergerak meraih tengkuk sang istri, sedikit menekannya agar ciuman itu kian dalam. Begitupun tangan Sena yang sudah bertengger dipungung Abi. Menyusuri setiap lekukan yang terbentuk sempurna itu.


Abi melepas pagutan itu, bibirnya mulai berjalan berpindah menuju ceruk sang istri. Sungguh perlakuan itu membuat Sena melayang. Tangannya reflek mencengkarm rambut Abi, mata cantik itu tepejam merasakan sensasi yang sempat ia rasa waktu itu. Antara geli dan ingin mendapatkan perlakuan lebih, membuat suara aneh tiba-tiba keluar dari bibirnya.


"Emmhhh!"


Mendengar suara yang mendayu merdu, seketika jiwa kelelakian Abi semakin memberontak. Bibirnya semakin liar, menuruni setiap jengkal kulit putih sang istri.

__ADS_1


Tangannya bergerak membuka kain putih yang melilit ditubuh molek istrinya itu. Hingga kedua buah buah padat nan sintal menyembul dari balik kain itu. Abi tak menyia-nyiakannya dan segera menyambar buah yang pernah ia sapa, namun tak sempat ia rasa itu.


"Emmhh Biii!"


Lagi-lagi suara itu keluar begitu saja. Sena merasa tubuhnya tersengat listrik dan semakin meminta untuk diperlakukan lebih.


Abi kembali menyambar bibir ranum itu, membuka kain yang melilit dirambut basah sang istri, lalu membuang kain itu dan kain dari tubuh itu kesembarang arah. Hingga Sena benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.


Kemudian, Abi mengangkat tubuh ramping itu, menggendonggnya keluar dari dalam sana menuju kasur yang tergelar dengan ribuan kelopak bunga memenuhi kasur berbalut kain putih tersebut. Tanpa melepas pagutan mereka, Abi merebahkan tubuh tanpa benang itu hati-hati. Kemudian mengukungnya dan kembali menjelajahi pahatan indah ditubuh itu.


Entah sejak kapan, kain ditubuh Abi pun sudah tertanggal begitu saja. Kedua insan itu siap memadu kasih, namun tiba-tiba saja suara Sena berkomentar membuat konsentrasi Abi menjadi ambyar.


"Eehhh tunggu dulu!" cegat Sena kala benda keramat Abi sudah menyentuh pahanya.


"Hem, apa?" tanya Abi seraya merapihkan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah cantiknya.


"Emm, itu, apa itu," Sena terlihat ragu untuk mengucapkan kata-katanya.


"Apa?" goda Abi. Telunjuknya berjalan menyusuri kulit putih itu, hingga membuat Sena kembali memejamkan mata.


"Bii..."


"Hem?"


"Kita coba aja!"


"Tapi, aku takut," ucap Sena khawatir menahan wajah tampan yang hendak menyelami ceruknya itu.


"Kenapa?"


"Kata orang-orang itu sakit," balas Sena dengan wajah khawatir.


Abi menarik satu sudut bibirnya, "jika sesakit itu, mustahil manusia lahir kedunia."


"Bahkan ukuran punyaku tak sebesar itu," lanjutnya.


Sena pun berpikir sejenak. Benar juga, bayi saja bisa lahir apalagi benda keramat yang ukurannya lebih kecil. Pikirnya.


Ditengah lamunannya, tiba-tiba terasa sesuatu yang menggelitik dibawah sana. Sesuatu yang kembali membangkitkan gairahnya, hingga suara sexy itu kembali melenguh.


"Bihh mmhh!!"

__ADS_1


Dengan nakal tangan Abi bermain diarea si nona yang sudah mulai membasah. Bibirnya kembali menyusuri dua buah semangka dengan memberi jejak mahakaryanya.


Dirasa sang istri sudah mulai siap menerima serangannya, Abi pun mulai melancarkan aksinya. Ia membiarkan benda keramatnya itu menyapa si nona yang ternyata tak mudah diajak silaturahmi.


"Aww!!! Bi, Bi, sakit Bi ..." pekik Sena. Tangannya reflek menjabak rambut Abi yang juga membuat pria tampan itu mendesis kesakitan.


"Sstt, aww! Tahan bentar!" ringis Abi. Jambakan Sena begitu kuat, hingga Abi berpikir. Mungkinkah rambutnya itu rontok?


"Tapi, ini sakit Bi," rengek Sena.


Tak ingin terus-terusan sang istri menjerit dan mungkin akan menghebohkan penghuni rumah, Abi kembali menyambar bibir ranum itu. Mencoba mengalihkan perhatian. Lalu tangannya dengan cepat bermain kembali di dua buah semangka itu. Hingga lambat laun, jambakan dirambutnya mengendur.


Abi kembali menggerakan bendanya dan mendorongnya untuk menyelam lebih dalam, hingga benda itu benar-benar tenggelam sempurna.


Satu tetes air mata jatuh dari ujung mata Sena. Kemungkinan ia akan menjerit, jika bibir Abi tak membungkamnya.


"Maaf!" sesal Abi dengan napas terengah dan peluh yang membanjiri keningnya.


Sena tak menimpali, ia hanya mengangguk dengan napas yang sama juga. Peluhnya tak kalah bercucuran dengan Abi. Baru saja sejoli itu saling menyapa, namun itu seolah mereka sudah melakukannya.


"Boleh aku melakukannya?" tanya Abi dan hanya diangguki Sena yang sudah pasrah.


Rasa sakitnya kalah dengan rasa sesak yang membuatnya penasaran dan ingin tau lebih dari itu.


Abi mulai bergerak pelan, sangat pelan dan hati-hati. Takut menyakiti si nona kembali, pikirnya. Hingga ia pun tak berani bergerak cepat.


Perlahan namun pasti keduanya saling menikmati gerakan itu. Rasa sakit yang dirasa Sena berubah menjadi rasa yang membawanya terbang mencapai nirwana. Hingga suara de sa han dan lengu han pun bersahutan memenuhi kamar terang benderang itu.


"Mmmhh Bi!"


"Yeahh Sen, mmhh!!"


Entah dimenit keberapa erangan panjang menggema menghentikan aktifitas panas mereka. Abi ambruk ditubuh sang istri dengan peluh yang membanjiri dan napas yang memburu. Ia tak segera bangkit, untuk membiarkan bibit penerusnya menyelami rahim terdalam istrinya.


"Bi?" cicit Sena mengusap rambut Abi yang basah.


Abi mendongak menatap wajah cantik itu dengan tatapan bertanya.


Sena terseyum seraya menggigit bibirnya bawahnya, "once again, please!"


Abi menyeringai mendapat tawaran itu, tentu saja ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun kembali men cum bu wajah cantik sang istri dan kembali mengulang hal baru yang sudah menjadi candu untuk keduanya itu.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Dahlah ngulangnya praktekin aja sendiri.. Ini mak othor udah ikutan hareudang euy🤣🤣 Jejaknya jangan lupa, itu kembang sama vote pada diisi.. Biar besok bisa ngamer lagi😁


__ADS_2