
Sluruphh ....
Kedua pria berstatuskan kakak dan adik ipar itu tengah duduk di kantin rumah sakit, menikmati secangkir kopi yang mereka pesan.
"Sorry, gue harus libatin uncle dalam masalah ini," sesal Shaka dan hanya dibalas senyum tipis oleh Abi.
"Lu tau sendiri, kalo gue yang bergerak, bukan cuma mereka yang mendekam dibalik jeruji. Tapi gue juga," lanjut Shaka.
Abi mengangguk mengerti. "Gak apa-apa. Ini juga sudah waktunya," balasnya dan diangguki Shaka.
"Seperti yang lu prediksi. Si tua bangka itu yang jadi dalangnya. Cuma yang gue heran, kenapa karyawan lu terlibat? Apa mereka punya hubungan?" tanya Shaka keheranan.
Abi menarik satu sudut bibirnya. "Bukan itu saja," balasnya, seraya kembali menyeruput kopi dihadapannya.
Shaka yang mengerti maksud Abi, berdecak kesal. "Ck! Astaga! Semempesona itukah adik ipar gue ini?" ledek Shaka seraya menggelengkan kepala dan hanya dibalas kekehan oleh Abi.
Jangankan Shaka, ia pun ingin tau alasan sebenarnya si pelaku melakukan itu. Apa iya karena pesonanya yang sulit dilupakan, hingga menimbulkan kecemburuan? Atau ada alasan lain?
**
Tap! Tap! Tap!
Langkah tegap Abi terdengar menggema memasuki sebuah ruangan yang terdapat dua orang didalam sana. Seorang perempuan berbalutkan kaos berwarna orange dengan bertuliskan 'Tahanan' tengah duduk diatas kursi menundukan kepala. Sedangkan satu wanita yang diketahui petugas, keluar dari ruangan itu.
Abi mendudukan diri dikursi sebrang perempuan itu yang hanya tersekat meja. Tatapannya tajam menatap perempuan yang masih tertunduk itu. Sungguh Abi tak pernah mengira orang yang ia percaya bisa mengkhianatinya.
Sebelumnya, ia ingin memaafkan dan memberi kesempatan pada perempuan tersebut. Namun mengingat sang istri yang hampir saja meregang nyawa, membuat pria itu ikut menyeretnya.
"Maafin aku!" sesalnya dengan posisi yang sama.
"Kenapa?" tanya Abi datar.
"Maaf!" hanya kata itu yang keluar.
Abi tersenyum sinis, ia ingin mendengar penjelasan perempuan itu. Namun karena hanya itu yang ia dengar, ia pun bangkit dan hendak pergi. Baru saja satu langkah, ia menghentikannnya kala suara perempuan itu keluar.
"Dia pamanku, Bi. Hanya dia satu-satunya keluargaku," jelasnya seraya berdiri dari duduknya.
"Awalnya aku menolak rencana itu. Karena apa? Karena kamu orang penting buat aku," lanjutnya.
__ADS_1
"Benarkah? Jika memang aku penting, mustahil kamu lakuin itu," tanya Abi.
"Itu karena kamu gak pernah menganggap aku," teriak perempuan itu seraya berjalan mendekat
Sontak saja hal itu membuat Abi membalikan tubuhnya dan menatap tajam wajah perempuan yang sudah berantakan dengan air mata itu.
"Apa kamu pernah nganggep aku wanita? Apa kamu pernah peka dengan apa yang selama ini aku lakuin untukmu?" tanyanya dengan emosi menggebu. "Nggak!" lanjutnya menggelengkan kepala.
"Dan dengan tiba-tiba kamu membawa dia. Orang baru yang merebut perhatianmu dariku. Hingga setiap hari aku harus melihatmu bersamanya, bercanda, bermesraan. Kamu tau gimana hatiku? Hatiku sakit, Bi," jelasnya.
"Kenapa?"
"Karena aku cinta sama kamu!" teriaknya. Terlihat perempuan itu meledakan emosi dengan napas tersenggal-senggal.
Brukk!!!
Perempuan itu ambruk dilantai, dengan isak lirih yang menyayat hati. Rasa lega kala rasa yang selama ini dipendamnya terungkap juga, meski dalam keadaan yang tak seharusnya.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Bi." ungkapnya.
"Maaf! Jika sikapku selama ini membuatmu salah paham. Perlu kamu ketahui, aku hanya memiliki hati saat bersamanya. Diluar itu aku gak memilikinya," balas Abi.
Abi hendak berlenggang pergi, meninggalkan perempuan itu didalam sana, namun ia kembali berhenti diambang pintu. "Aku akan mengurangi hukuman untukmu, karena kau temanku, Adel."
Ya, paman Adel adalah pemilik kafe sebelumnya, pak Muhidin. Lelaki paruh baya yang terus ditekan oleh para warga itu merasa geram. Ia yang menjanjikan pembagian hasil pada warga-warga tersebut harus kelimpungan kala warga mengancam akan menyeretmya kepengadilan. Dengan bukti hitam diatas kertas membuat ia nekat untuk melakukan kejahatan itu.
Sedangkan ia sendiri tak menuliskan perjanjiann itu pada Abi. Hinga ia berpikir jika ia mendapat surat-surat itu, ia bisa mengubah kembali isi surat tersebut untuk memenuhi keinginan warga. Hal itu pernah didiskusikan oleh pria paruh baya itu dengan Abi untuk memberikan satu persen pada warga. Hanya saja Abi tak mengindahkan keinginannya. Hingga ia pun harus melakukan semua itu dan berakhir dibalik jeruji.
**
Malam pun tiba, Sena masih belum diizinkan untuk pulang. Kini sepasang manusia itu tengah tertidur bersama diatas brankar. Berada diruang VVIP tentu membuat pasangan itu leluasa untuk tidur tanpa gangguan pasien lain. Bahkan mereka sengaja menyuruh kedua orang tua mereka untuk pulang kerumah masing-masing dan membiarkan mereka berdua dikamar pasien tersebut.
"Apa semuanya sudah beres?" tanya Sena yang kini didalam dekapan suaminya itu.
"He'em!" balas Abi seraya memejamkan mata.
"Apa dia mengakuinya?" tanya Sena lagi.
"He'em!" balas Abi lagi yang sepertinya separuh nyawanya sudah hilang. Semalaman tak terlelap sama sekali, membuat pria tampan itu tepar.
__ADS_1
Sena berdecak kala Abi tidur terlebih dulu. Ia yang sudah tidur dari siang tentu tak segera terlelap. Abi yang masih mendengar sayup-satup decakan itu, mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah! Kau butuh istirahat untuk olahraga pagi," celetuk Abi tersenyum dengan mata terpejam.
"Isshh kau ini," protes Sena mencubit gemas perut kotak itu, hingga Abi terkekeh.
"Nice dream my lovely!" ucap Abi.
"Too my Owl!" balas Sena ikut memeluk erat tubuh tegap itu. Hingga tak membutuhkan waktu lama, mereka pun terlelap terbuai mimpi.
Berbeda dengan pasangan dikamar itu, dikamar sebelah Rizky belum juga memejamkan mata. Sang mamih yang tak bisa menemani karena sang adik yang tiba-tiba demam. Begitupun sang papih yang harus dinas keluar kota, hingga ia harus sendiri diruangan luas itu.
Ia masih terduduk diatas brankar itu dengan perasaan kesal. Berulang kali ia melihat ponselnya dan berulang kali pula ia berdecak kesal. Hingga ia menggerutu sendiri dirungan itu.
"Dia kenapa sih, kok gak dibalas-balas?" tanyanya bermonolog sendiri.
"Jangankan dibalas, di read aja kagak. Ck! Ngeselin,"
"Apa dia marah karena kejadian tadi? Tapi, dia sendiri membalasnya. Bahkan menikmatinya," ucapnya menerka-nerka.
"Terus salah gue dimana? hisshhh tau ah, cewek emang makhluk yang aneh," ia pun membantingkan benda itu disisi dirinya.
Ia pun memilih untuk merebahkan diri dengan selimut menutupi sekujur tubuhnya. Namun ia semakin sulit menutup matanya. Apalagi kala tiba-tiba bayangan tadi pagi bersama gadis yang memenuhi otaknya kembali terngiang-ngiang.
Ia pun kembali bangkit dan meraih benda itu. Lalu membuka aplikasi hijau yang masih juga tak dibaca pengguna disebrang sana. Hingga ia memutuskan untuk mengirim voice note untuk gadis tersebut.
"Hei Nona. Balas chat gue?"
"Gak asik banget sih lu. Balas napa?"
"Renata, lu kenapa sih?"
"Soal tadi pagi gue minta maaf! Gue gak bisa ngedaliin perasaan gue."
"Gue ... Suka sama lu!"
Rizky menghembuskan napas panjang. Ada rasa lega kala ia bisa mengungkap perasaan yang akhir-akhir ini selalu ia tampik. Hingga suara nortif balasan terdengar. Sebuah voice note dari gadis tersebut. Dengan cepat ia membuka suara itu. Ia mengerenyit kala mendengar isak tangis gadis itu.
"Lu kenapa sih Ki, jahat banget sama gue? Lu kenapa buat gue jadi kek gini? Lu kenapa? Kenapa? Kenapa lu buat gue suka sama lu..."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupakan jejaknya yaa😘😘