
**
"Iya, Ma!"
Sena menempalkan benda pipih pada telinganya, seraya menimpali ucapan suara seseorang dari sebrang sana. Dengan cepat perempuan itu menjauh dari kelasnya yang baru saja selesai.
"Kalian kapan pulang? Betah banget dihotel? Gak kangen apa sama Mama?" omel mama Ay dari sebrang telepon.
Seketika Sena menjauhkan benda tersebut, kala deretan pertanyaan memekikan indera pendengarannya. Suara sang mama, memanglah tak pernah berubah. Masih saja mengalun merdu memecahkan gendang telinga yang mendengarnya.
"Ya ampun Ma, gak usah teriak-teriak! Klinik THT belum mau menerimaku," celeuk Sena.
"Isshh kamu nih, Mama tuh dirumah kesepian tau, tega bener sih kamu," gerutu sang mama. Hingga membuat Sena tertawa.
"Makanya Mama sabar dulu, biarin aku sama Abi bikin dulu temen buat Mama. Biar Mama gak kesepian," sahut Sena tergelak.
"Heleh, emang udah bisa bikinnya?" ledek sang Mama.
"Bisa lah,"
"Udah bisa gaya apa aja?" tanya mama Ay yang mulai melontarkan pertanyaan nyeleneh.
"Banyak pokoknya, kemarin kita bikin gaya cicak di dinding," balas Sena.
"Hah? Gaya apaan itu?" tanya mama Ay keheranan.
"Aishhh Mama belum tau ya? Itu tuh gaya baru. Aku dapat bisikan dari emak-emak readers buat coba gaya itu," balas Sena.
"Emang ada?" tanya mama Ay tak percaya.
"Ada lah. Mama harus coba juga!" titah Sena.
"Emang gimana rasanya?" tanya mama Ay yang mulai penasaran akan gaya baru tersebut.
"Beuuhh!!! Rasanya itu seuuhhh haaahh. Wajib dicoba pokoknya," balas Sena menggebu.
"Isshh kau ini, jangan bikin Mama baper dong. Ini si Papa belum pulang, gimana coba?" gerutu mama Ay yang sukses membuat Sena tergelak disebrang telepon.
"Ya udah deh Ma, tahan aja dulu. Aku mau bikin gaya baru nih," ucap Sena cekikikan, setelah menghentikan tawanya tadi.
"Aiisshh jangan dipake mulu, awas dirawat juga! Biar valakor gak mau mepet," peringat mama Ay.
"Ya ampun, Mama kek gak tau aku aja. Gak bakalan, valakor aku hempas ampe terkapar," balasnya hingga mama Ay tergelak. Mustahil memang, Abi bukan typical pria yang bisa berinteraksi dengan sembarang orang.
"Ya udah, Ma. Ntar sambung lagi, aku lapar mau makan dulu!" pamitnya dan diiyakan sang mama.
Sambungan pun terputus, Sena hendak berbalik setelah menyimpan benda pipih itu kedalam saku celananya. Namun kepalanya terbetur dada didepannya.
"Ya ampun!" pekik Sena kaget mengusap jidatnya. Entahlah jantungnya yang kaget, yang diusap justru jidatnya.
__ADS_1
"Ihh, kamu ngagetin aja," gerutu Sena memukul dada yang membentur jidatnya tersebut.
"Siapa?" tanya Abi.
"Mama. Dia nanya, kapan katanya kita pulang? Terus aku jawab, sampe kita bawaain dia teman buat bermain," jelas Sena terkekeh. Ia juga mengerti tatapan bertanya dari sumainya itu.
"Aku dengar ada gaya baru ya?" goda Abi seraya mencondongkn diri hingga mengikis jarak dengan wajah istrinya itu.
"Ah, itu," Sena terlihat berpikir sejenak.
Tentu saja apa yang dikatakannya pada sang mama tadi hanya bualan semata untuk mengerjai sang mama. Ia tak tau gaya apa saja yang dimaksud dalam ritual mencari pahala itu. Ia hanya menerima perlakuan yang diberikan sumainya, tanpa tau gaya apa yang digunakannya. Begitupun mengenai gaya cicak tersebut, ia hanya mendengar dari teman-teman dikelasnya tadi.
"Apa perlu kita coba?" goda Abi lagi.
"Isshh, Abi" rengek Sena dengan pipi memerah menahan malu. Usekan pun kembali didapat dari suaminya itu.
"Heleh, manten mah bebas ya mau gimana pun juga," celetuk seorang pria menghampiri mereka bersama seorang gadis disampingnya.
Sena mencebikan bibir mendengar ledekan sahabatnya itu. Ia beralih pada gadis disamping sang pria yang menjadi sahabatnya juga.
"Kangen ...." pekik Sena memeluk tubuh sahabatnya itu.
Jingga terkekeh dengan kelakuan sahabatnya itu. "Tapi masih bisa lupa 'kan?" godanya.
"Ishh kau ini, ya nggaklah! You are my bestie," protes Sena, hingga mereka tertawa.
"Ciee keponakan. Lu gak bilang sama gue, kalo lu balikan sama Shaka?" celetuk Rizky.
"Hah? Serius? Kalian balikan?" tanya Sena tak percaya.
"Hem entahlah!" balas Jingga mengedikan bahu.
"Aahhh kakak ipar!" pekik Sena memeluk tubuh sahabat yang kemungkinan sudah menjadi kakak iparnya lagi.
"Dasar lebay," ledek Rizky.
"Napa sih lu, sirik mulu deh?" tamya Sena heran.
"Biasa, lagi pms dia," celetuk Jingga dan hanya dibalas cebikan bibir oleh pria itu.
"Oh mungkin dia bingung, kalo kamu balikan sama si Aka. Dia gak ada teman jomblonya," celetuk Sena. Hingga kedua gadis itu kembali tergelak.
Abi menepuk pundak Rizky, kemudian berbisik. "Bergeraklah sebelum dia mundur!"
Rizky hanya bedecak kesal tanpa menimpali. Tak tau saja mereka, jika hatinya tengah kacau. Jika saja mereka tau siapa yang kini membuat hatinya ketar ketir, sudah dipastikan mereka akan tertawa meledeknya.
'Bagaimana mungkin aku menyukai dia? Bahkan dia begitu mengesalkan dimata mereka. Tapi kenapa aku justru menyukainya?' batinnya berperang sendiri.
Ditengah perbincangan tersebut datanglah dua pria menghampiri mereka.
__ADS_1
"Wihh pada kumpul nih?" Suara berat Shaka mengalihkan atensi mereka.
"Aka! Aku mau nagih janji padamu," pinta Sena pada sang kakak.
"Apaan? Datang-datang main nagih aja?"protes Shaka tak terima.
"Heleh, jangan pura-pura lupa! Aka sendiri yang bilang, kalo sampe balikan sama Jinjin mau ngasih satu credit card buatku. Mana sini!" jelas Sena seraya mengadahkan tangan meminta apa yang kakaknya pernah janjikan.
"Eh, enak aja. Siapa juga yang bilang gitu. Gak ada, aka gak ngomong kek gitu," sangkal Shaka tak terima.
"Ihh, aka yang ngomong gitu. Masa lupa?"
"Aka gak lupa. Aka gak pernah ngomong gitu,"
Perdebatan kakak beradik itu pun kembali terjadi. Semua orang disana hanya mampu menghembuskan napas panjang mendengar adu mulut tersebut. Tak pernah ada yang mau mengalah dari keduanya.
"Suuuttt!!! Diem!" tegas Rizky, yang berhasil membuat dua manusia itu berhenti. Bukan kedua orang itu saja, yang lain juga tampak diam dengan wajah heran melihat ketegasan pria pecicilan itu.
"Bikin pusing kalian ini," gerutunya.
"Lu kenapa Ki?" tanya Deril menepuk bahu pria itu.
"Tau ah, gue pusing!" cetusnya.
"Cih! Uang jajan lu ditahan lagi sama si papih pelit?" ledek Shaka.
"Ck! Udah deh Sha, gak usah ngajak ribut. Gue beneran lagi kesel nih. Mau adu tonjok?" gerutu Rizky hingga Shaka tergelak.
"Oh iya, Bi. Gimana keadaan dikafe?" tanya Deril.
"Hem begitulah," balas Abi.
"Eh kak Deril tau?" tanya Sena heran dan diangguki Deril
"Cih! Sebelum kamu tau, kami udah paling dulu tau," balas Shaka.
"Ihh kalian jahat banget sih. Gak ada yang ngasih tau aku, kalo Abi punya bisnis?" protes Sena.
"Lu nya aja gak nanya. Lagian gimana mau ngasih tau, denger nama Abi aja lu langsung ngehindar," balas Rizky.
Sena terdiam, memang benar juga. Semenjak putus, Sena lah yang menghindar. Hingga ia tak ingin tau bagaimana kehidupan Abi.
"Iky bilang ada masalah? Kenapa gak ngasih tau uncle aja?" tanya Deril. Mereka semua tau tapi tidak dengan orang tua mereka.
Abi menarik satu sudut bibirnya. "Mereka hanya serangga kecil, yang gak berarti apa-apa."
\*\*\*\*\*\*
Ada yang mau bisikin gaya baru gak?๐ Jejaknya jangan lupa yaa๐๐
__ADS_1