Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Gak ngulang, gak asyik!


__ADS_3

Cup!


Kecupan diarea punggung putih nan mulus itu, sukses membuat Sena memejamkan mata. Bukan hanya satu, namun bibir sexy itu terasa menjelajahi seluruh area punggungnya, hingga Sena harus menggigit bibir bawahnya.


"Biiihhhh!" desis Sena kala bulu-bulu halusnya meremang seketika.


"Hemm!" balas Abi hanya dengan deheman, tanpa menghentikan aktifitasnya. Bahkan satu tangannya mulai nakal berjalan kedepan hingga sampai disatu buah favoritnya.


"Bii ... Kita harus pergi," peringat Sena seraya kembali menggigit bibir bawahnya.


Namun Abi tak menjawab. Satu tangannya lagi justru berjalan menyusup menuju lembah rimbun untuk menyapa si nona manis. Dan hal itu semakin membuat Sena tak menentu.


"Bii ... Kita bisa telat!" Bibirnya terus memberi peringatan, namun tubuhnya menerima dengan senang hati.


Hingga Sena sudah hampir frustasi. Ia pun melepaskan tangan Abi dengan napas tersenggal. Dan hal itu membuat Abi tersenyum menang.


"Kamu keterlaluan Bi," kesal Sena.


Tiba-tiba saja erempuan itu menarik dressnya kebawah, hingga menampakan Sena yang hanya mengenakan kain yang menutupi benda sensitifnya saja. Kemudian ia mendekat dan mendorong Abi hingga jatuh keatas kasur. Tentu hal itu membuat pria itu sedikit shok.


"Oke, jangan salahkan aku! Kamu yang memulai," terang Sena menyeringai.


Ia mendekat dan menarik handuk suaminya itu, lalu melempar kain putih itu kesembarang arah. Hingga menampakan si jack yang sudah berdiri tegak. Kemudian Sena segera menyambar si jack dan memainkannya. Balas dendam memanglah hal yang paling menyenangkan. Apalagi ketika dapat menaklukan lawan, itulah kemenangan yang hakiki.


Sena tersenyum puas kala melihat Abi merasakan apa yang ia rasakan tadi. Tanpa dosa ia hendak berlenggang pergi menuju kamar mandi. Namun baru saja dirinya hendak membuka pintu. Abi mengangkat tubuhnya. Hingga ia terhempas diranjang king size itu dengan Abi yang sudah mengukungnya.


"Rasanya akan aneh, jika dia terus bangun didepan umum," ucap Abi. "Jadi, kamu harus menidurkannya," lanjutnya disertai seringai.


Tanpa aba-aba Abi membungkam bibir ranum yang hendak protes itu. Tangannya bergerak menarik kain yang tersisa ditubuh molek itu tanpa beban, seolah sudah mengerti akan tugasnya.


Sena sudah tak mampu menolak kala sang suami selalu membawanya terbang ke nirwana. Ia justru terdengar paling semangat, seolah menjadi supporter dipermainan panas tersebut.


Hingga tak membutuhkan waktu lama mereka pun selesai dengan aktifitas panas singkat mereka. Mengingat mereka akan menghadiri acara pernikahan Deril dan Chika. Dengan terpaksa mereka harus cepat mengakhirinya.


Sena pun harus kembali membersihkan diri untuk kedua kalinya, begitupun Abi. Hingga waktu sudah tak memungkinkan Sena untuk berkutat kembali dimeja rias.


"Bi, buruan! Kita bisa telat," teriak Sena didalam mobil yang baru saja dipanaskan. Abi bergegas setelah mengunci pintu rumah terlebih dahulu.


Keadaan rumah sudah sepi, menyisakan sepasang suami istri itu saja dirumah. Yang lain tentu saja sudah ditempat acara yang diadakan dihotel.

__ADS_1


Abi mulai menjalankan kijang besinya. Sedangkan Sena mulai berperang dengan alat make up-nya. Tentu saja perempuan itu tak akan bisa pergi tanpa benda-benda kesayangannya itu.


"Ini semua gara-gara kamu, udah dandan cantik-cantik juga," gerutu Sena, dengan tangan tak lepas dari alat-alat itu.


"Terus kamu dandan cantik bukan buat suami?" sindir Abi.


"Ya, ya buat kamu lah. Tapi ya 'kan lihat sikon," selak Sena.


"Terus kenapa kamu nikmatin?" goda Abi.


"Isshh kamu tuh," rengek Sena merasa malu. Pipinya sampai memerah mendengar godaan suaminya.


Saat melakukan itu, ia memanglah selalu paling garang. Ia seolah sulit untuk mengendalikan diri. Abi terkekeh seraya mengusek kepalanya gemas.


"E-eh awas jangan oleng!" peringat Sena, kala tiba-tiba mobil berseok kekanan. Abi hanya tersenyum menanggapi.


"Pokoknya awas ya, Bi. Jangan sampai oleng lagi, jangan sampai ngerem dadakan, bahaya!" peringat Sena dan hanya diangguki Abi.


Bayangkan saja jika ngerem dadakan. Dapat dipastikan mahakarya pada wajahnya akan ambyar begitu saja.


**


Didalam ballroom...


Semua tamu sudah nampak hadir, bahkan Acara sudah dimulai. Tampak tangan Deril sudah menjabat tangan sang ayah mertua sebagai wali nikahnya.


"... Dibayar tunai!"


"Saya terima, nikah dan kawinnya Chika Aliska binti Candra Irawan dengan mas kawinnya tersebut tunai!"


Dengan lantang Deril mengucapkan ijab qabul tersebut tanpa ragu. Hingga suara 'SAH' dari kedua saksi, menandakan pernikahan itu sah dimata hukum dan agama. Kedua mempelai pun resmi menjadi suami istri.


"Alhamduliah!"


Puji syukur dilantunkan semua orang termasuk Sena yang baru mendudukan diri disamping sang mama. Hingga wanita paruh baya itu terlonjak kaget, kala tiba-tiba sang putri sudah duduk disamping dirinya dikursi kosong tersebut.


"Ya ampun!" pekik mama Ay mengusap dadanya. "Kamu kapan datang?" tanyanya heran.


"Barusan," balas Sena sekenanya.

__ADS_1


"Astagfirulloh, ngapain aja dirumah sampai baru datang?" tanya mama Ay yang terdengar seperti omelan.


Sena hanya cengengesan, tanpa menjawab. Tak mungkin juga ia jujur, bisa-bisa sang mama menyeret papanya menuju salah satu kamar. 'Kan berabe? Pikirnya.


"Isshh kak Ay suka gitu, namanya juga manten. Gak ngulang, ya gak asyik," celetuk wanita yang hampir seusia dengan mamanya itu.


"Isshh timom apaan sih. Emang aku timom? Itu sih kelakuan si papih yang kudu ngulang. Kalo Abi ya gak kek gitu," balas Sena.


"Hah! Iya kah?" tanya timom Siska tak percaya dan diangguki mantap oleh Sena.


"Iya lah ...." balas Sena dengan percya diri.


"Kok bisa?" tanya timom lagi, yang merasa, mungkinkah hanya suaminya saja yang seperti itu? Pikirnya.


"Bisa dong. Habis pencapaian pertama jangan dilepas lanjut lagi. Jadi gak ada kata ngulang," celetuk Sena dan langsung dapat tampolan dilengan dari wanita yang masih saja imut diusianya itu.


"Sama aja!" bukan hanya timom, ternyata mama Ay yang ikut menyimak pun ikut berkomentar. Hingga suara kedua wanita itu menggelegar mengalihkan atensi orang-orang disana.


Ketiga wanita beda generasi itu cengengesan menganggukan kepala kepada semua tamu untuk meminta maaf dan kembali fokus pada pengantin yang sudah memasangkan cincin di masing-masing jari manisnya.


"Sekarang mempelai wanitanya menyalimi takzim mempelai prianya, dengan tangan kiri pria memegang kepala wanita. Lalu dilanjut mencium kening, ya!" instruksi sang MC.


Dengan perasaan gugup Chika meraih tangan Deril dan mulai mencium tangan kanan pria yang sudah resmi menjadi imamnya itu, lalu tangan Deril tersimpan diatas kepala sang istri diiringi doa yang terlantun sesuai instruksi pak Ustadz.


Kemudian Deril meraih kepala Chika, mengecup dalam kening gadis yang beberapa menit lalu sudah ia halalkan. Menyalurkan rasa bahagia yang begitu membuncah dihati keduanya.


"Aku mencintaimu, istriku!" ungkap Deril setelah ia melepaskan ciumannya.


"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku!" balas Chika. Hingga keduanya tersenyum dan Deril pun mendekapnya.


Sorak sorai begitu ramai terdengar dari para tamu. Hingga acara terus berlanjut, dari sungkeman meminta restu pada orang tua keduanya dan diakhiri melempar bunga.


Kedua mempelai itu sudah siap membelakangi para tamu yang kebanyakan para gadis yang siap menikah, yang hendak menangkap bunga tersebut.


"Satu, dua, ti-ga ...." Bunga terlempar dan ditangkap seseorang dari belakang.


Greeppp!!!


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘 masih up! Kasih kopi dong atau apalah😋


__ADS_2