
Hening!
Chika hanya tertunduk dengan perasaan berkecamuk. Kejadian beberapa menit yang lalu sungguh membuat ia tak bisa mengungkapkan perasaannya. Rasa terharu, bahagia dan tak menyangka berpadu jadi satu menyelimuti hatinya. Kala ia ingin menapik hati yang selalu berdebar didekat pria tampan itu, justru sang pria pun merasakan apa yang ia rasa.
Senyum terus terukir dari bibir sexy Deril. Ia tak menyangka akan bisa move on dari masalalunya hanya dengan mengenal gadis dihadapannya beberapa hari ini. Gadis yang mampu membuat ia tersenyum dengan hati menghangat. Dikala hatinya membeku, sang gadis mampu melelehkan balokan es yang menyelimutinya.
"Ehemm ... Kamu mau pesen apa?" tanya Deril mengagetkan Chika dari lamunannya.
Gadis itu mendongak sekilas, kemudian kembali menundukan menyembunyikan semburat merah dikedua pipi yang tiba-tiba saja muncul, kala melihat bibir sexy yang masih terasa jejaknya itu dibibirnya sendiri.
"Emm terserah kakak aja. Aku samain aja," ucapnya.
Deril terkekeh melihat itu. Ia bisa menebak, mungkin ini pertama kali untuk sang gadis melakukan itu. Ia bisa merasakan kekakuan dari gerakan gadis tersebut.
"Maaf ya!" sesal Deril, setelah memesan makanan mereka pada waiters disana. Kini keduanya tengah duduk disebuah kursi berhadapan yang hanya terkikis meja.
Seketika Chika mendongak menatap pria dihadapannya. Tentu ia bingung, untuk alasan apa kata itu terungkap dari sang pria.
"Maaf? Maaf untuk apa kak?" tanyanya heran dengan alis bertautan.
Deril tersenyum tipis, "Soal tadi, maaf sudah lancang," sesalnya.
Blush!
Lagi-lagi pembahasan itu membuat pipi Chika kembali memerah. Bahkan gadis itu tak bisa menyembunyikan lengkungan dari bibir manisnya, hingga ia harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan hatinya.
"Entahlah aku bingung. Aku bukan cowok puitis, yang mudah mengungkap perasaan. Mungkin itu caraku mengungkapkannya," jelas Deril. Chika masih dengan posisinya, sulit sekali bagi gadis itu untuk menimpali ucapan Deril.
Pria tampan itu meraih kedua tangan Chika yang bertengger diatas meja. Kemudian menggenggamnya erat, hingga gadis itu menatap padanya.
"Chika, maukah kau berkomitmen denganku?" tanya Deril dengan raut wajah serius.
Deg!
Chika terpaku dengan wajah tak percaya. Kata 'komitmen' tentu membuat hatinya ketar ketir tak karuan. Bukan pacar atau kekasih yang dipinta pria pujaannya itu melainkan sebuah komitmen yang mungkin akan membawa mereka menuju jenjang yang lebih serius.
Belum juga Chika menjawab, pekikan seseorang membuat Chika buru-buru menarik tangannya dari genggaman Deril dengan gelagapan.
__ADS_1
"Chika! Kak Deril!" sapa seorang perempuan yang menghampiri sejoli tersebut.
"Wah kalian disini? Kenapa gak keatas aja?" tanya Sena, perempuan yang menghampiri mereka.
"Ah, kak Sena disini?" tanya Chika heran.
Sena tersenyum. "Iya. Ini kafe kita. Lebih tepatnya kafe Abi sih. Berhubung aku istrinya, ya udah aku ngaku-ngaku aja," kekehnya seraya mendaratkan diri di kursi disamping keduanya.
Tentu saja penjelasan Sena membuat gadis bergigi ginsul itu tertawa kecil. Sungguh perempuan itu begitu absurd menurutnya. Kalimat yang diucapkannya berbanding terbalik dengan wajah dan penampilannya. Sena yang selalu berpenampilan girly, tentu tak ada yang menyangka jika ia memiliki sifat absurd dan nyeleneh. Belum tau saja Chika, selain itu, Sena juga cewek bar-bar yang terlihat mustahil dengan gayanya.
"Kak Sena ini lucu sekali," ucap Chika disela tawanya.
"Kenapa harus ganggu sih, de?" tanya Deril yang sedikit kesal kala pernyataan cintanya harus terpotong oleh kehadiran mantan calon istri berasa adeknya itu.
"Kenapa? Aku ganggu? Emang kalian lagi ngapain?" cecar Sena dengan berbagai pertanyaan. Deril hanya menghembuskan napasnya panjang, sungguhlah Sena tak ada peka-pekanya akan situasi dan kondisi sekitar.
"Ah, nggak kak! Gak ganggu kok, kita lagi nunggu pesanan, iya," sangkal Chika seraya tersenyum menampilkan deretan giginya.
Sena hanya ber 'oh ria' seraya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanggapan.
Tak berselang lama, datang waiters membawa makanan untuk mereka. Segera Susan menyiapakan makanan untuk sepasang manusia itu.
Deril mengangguk sebagai jawaban, tentu ia tau siapa waiters tersebut. Memorinya terlalu luas untuk mengingat seseorang bahkan dari masalalunya sekalipun.
"Eh bener ya? Wah apa kabar?" tanya Susan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Deril dengan anggukan.
"Baik," balasnya kembali menarik tangannya.
"Kamu masih inget aku 'kan?" tanya Susan dan hanya dibalas senyum tipis oleh Deril.
"Eh gimana keadaannya Sisil? Sudah lama dia gak ada kabar. Sejak kita double date dipuncak waktu itu, dia gak ada ngontek sama sekali," lanjutnya.
Sontak saja pernyataan itu membuat kedua perempuan itu mengerenyit heran. Terutama Chika. Entah kenapa pembahasan itu tiba-tiba mengusik ketenangannya. Ia sangat tau masalalu Deril bersama sang mantan. Hingga ia membayangkan hubungan seperti apa yang dijalani mereka dulu. Mungkinkah, pacaran mereka tak sesehat yang ia kira? Mengingat apa yang baru saja dilakukan Deril padanya, menguatkan spekulasinya akan hubungan kedua insan itu dulu.
"Entah," balas Deril. Hingga Susan mengerenyit heran.
"Kenapa? Kalian udah gak bersama lagi?" tanyanya dan hanya diangguki Deril.
__ADS_1
"Ya ampun, padahal kalian-"
"Ehem!! Maaf aku ke toilet dulu," selak Chika berdehem keras, hingga menghentikan ucapan Susan.
Gadis itu melirik sekilas kearah Deril dan berlalu begitu saja meninggalkan posisinya. Sena menatap heran pada punggung gadis itu, hingga ia bisa menyimpulkan sesuatu. Mungkinkah gadis itu menyukai Deril? Atau mereka memang sudah memiliki hubungan? Pikir Sena.
"Sepertinya gadis itu kekasih barumu ya?" tanya Susan dan hanya diangguki Deril dengan senyum tipis dibibirnya.
"Hah? Serius kak?" tanya Sena tak percaya dengan mata membola mengarah pada mantan calon suaminya itu.
"He'em, jika kamu gak menggagalkannya," balas Deril seraya meneyeruput minuman dihadapannya.
"Ya ampun!" pekik Sena menepuk jidatnya. "Jadi tadi tuh lagi ada acara tembak menembak?" tanya Sena dan diangguki lagi oleh Deril.
"Aisshh sorry. Aku gak tau," sesal Sena cengengesan seraya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya berbentuk V.
"Bukan gak tau, tapi kamu gak peka," ledek Deril dan hanya dibalas cengiran kuda oleh perempuan itu.
"Duh, maaf ya! Aku juga gak peka. Aku kira gadis itu adikmu," sesal Susan yang merasa tak enak hati. Melihat Chika berbalutkan putih abu membuat perempuan itu berspekulasi jika gadis itu adiknya Deril.
"Hem gak apa-apa, nanti akan aku jelaskan," balas Deril dan diangguki kedua perempuan itu.
"Eh tapi aku ikut seneng loh, kamu putus sama Sisil," ucap Susan.
"Kenapa?" Bukan Deril, tapi Sena yang bertanya heran.
"Kalian tau gak, alasannya dia menjauh dan gak ngontek aku lagi?" tanya Susan dan reflek dibalas gelengan oleh Sena.
"Setelah pulang dari puncak, aku mencyduk dia ngechat pacar aku, mesra-mesraan pula. Hari itu juga aku putus sama pacarku itu. Aku mau kasih tau kamu, tapi tiba-tiba saja semua akunku di blok sama kamu. Aku menduga, pasti itu ulahnya dia. Akhirnya aku pasrah aja dan memilih menghindar dari dia," jelas Susan panjang kali lebar dan diangguki mengerti kedua orang disana.
"Eh itu Chika lama banget, susul gih! Aku takut dia kenapa-napa," titah Sena dan diangguki pria itu.
Akhirnya Deril pun berlalu untuk menyusul Chika yang entah tengah apa didalam toilet. Dan ketika sampai didepan toilet Deril hendak mengetuk pintu tersebut, namun gerakannya terhenti kala mendengar suara isak tangis.
Deg!
"Chika?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss.. Itu yang tadi malam baru lolos yaa🤧 Vote nya dong! Biar mak othor gak sedihh gitu🙈