
Deril mendekat kearah pojok ruangan. Betapa terkejutnya ia melihat gadis yang ia cari tengah terduduk dilantai dengan kedua lengan ditumpu diatas kedua lututnya, seraya menyembunyikan wajah di balik lengan tersebut. Deril berjongkok dan merengkuh tubuh mungil itu.
Greeppp!!!
"Maaf!" sesal Deril.
Isak pelan gadis itu pun pecah. Deril hanya memebelai lembut rambut serta punggung sang gadis untuk mencoba menenangkannya. Mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada kepalanya.
Gadis itu mulai bisa menenangkan dirinya, kemudian ia mendongak hingga memperlihatkan wajah berantakannya dengan sedikit isak dari bibirnya.
"Bo-bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Chika dan diangguki Deril.
"Hubunganmu dengannya, apa ...."Chika tak meneruskan pertanyannya. Ia ingin tau hubungan seperti apa yang dijalani pria didepannya itu dulu. Namun, ia ragu untuk tau kemungkinan yanga akan menyakiti hatinya.
Deril menangkup wajah sang gadis, lalu menghapus jejak kebasahan diwajah cantik itu. Kemudian mendaratkan kecupan didahi gadis itu.
"Aku tak seberani itu menyentuh lebih dari yang seperti kulakukan padamu," ucapnya.
"Bolehkah aku menjawab pertanyaan kakak tadi?" tanya Chika dan diangguki Deril.
"Tentu, aku bahkan sangat menunggunya," balas Deril.
"Aku .... "
Deril tampak terdiam dengan wajah cemas. Tentu ini bukan pertama kali ia menembak sorang gadis, ini adalah kali kedua pria tampan itu menyatakan cinta. Namun tetap saja keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
"Aku ... Aku tidak mau,"
Deg!
Sungguh pernyataan itu membuat jantung Deril seolah berhenti seketika. Ia hendak bertanya, namun Chika terlebih dahulu menyelaknya.
"Aku tidak mau hanya sekedar berkomitmen, namun tidak sampai dipelaminan," ungkap Chika tersenyum. Deril masih terdiam mencerna ucapan gadis tersebut.
"Aku hanya bersedia menjadi istri, bukan calon saja," lanjutnya.
Deril tersenyum lebar, kemudian segera menrik tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Rasa khawatirnya berganti seketika dengan rasa lega. Kecupan pun tak henti dilayangkan Deril pada rambut Chika.
"Sesuai keinginanmu. Malam ini aku akan memboyong kedua orangtuaku, untuk melamarmu," ucapnya. "Untuk membuktikan bahwa aku tak hanya sekedar ingin berkomitmen, tapi untuk menjadikanmu kekasih halalku," lanjutnya.
Senyum terukir dari bibir sepasang manusia itu. Chika membalas memeluk tubuh tegap itu dengan erat. Menyalurkan rasa bahagia yang membuncak dihatinya.
__ADS_1
**
Sementara itu disatu atap yang sama, tepatnya disebuah ruangan. Abi tengah sibuk dengan layar laptop dihadapannya. Selain menghitung persentase keuangan bulan ini, ia juga sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Jari-jarinya bergerak lincah diatas papan keyboard dengan mata menatap tajam layar tersebut. Nampak wajah tampan itu begitu serius, hingga tak menyadari kedatangan seseorang yang memasuki ruangan itu.
Jarinya berhenti bergerak, kala tiba-tiba saja sebuah bokong mendarat dipahanya. Pandangannya terhalang tubuh yang kini duduk membelakanginya.
"Dah! Break dulu," Sena menutup benda tersebut setelah menyimpan data yang kemungkinan bisa menghilang dalam benda tersebut.
Abi tersenyum seraya memeluk tubuh ramping itu. Menenggelamkan wajah dipungggung sang istri seraya memejamkan mata. Sena mengerti, pastilah suaminya itu kelelahan dengan aktifitasnya seharian ini. Ia mengelus lembut tangan yang bertengger diperutnya.
"Capek ya?" tanya Sena khawatir.
"He'em," balas Abi.
"Mau aku pijitin?" tanya Sena lagi.
"Gak usah! Lima menit, biarkan seperti ini!" titahnya.
Sena menghembuskan napas panjang. Bukan hanya lelah bekerja saja, namun masalah yang belum terselesaikan menjadi ganjalan juga yang harus mereka selesaikan. Abi yang terlalu peka, segera menegakkan tubuhnya kala mendengar helaan napas panjang dari sang istri.
Kemudian ia memutarkan tubuh ramping itu hingga menyamping diatas pahanya. "Rasanya akan aneh jika seorang suami gak rasain capek," ucapnya.
Seketika Sena menarik kedua sudut bibirnya hingga terbentuk sempurna. Dan hal itu membuat Abi melakukan hal yang sama. Abi menggerakan telunjuknya itu, hingga wajah Sena mendekat dan terkikis dengan wajahnya. Dengan cepat Abi menyambar bibir ranum itu menyecap rasa yang membuat semangatnya kembali up.
Sena membalas perlakuan Abi, tangannya memeluk posesif pada leher suaminya itu. Decapan terdengar merdu diruangan tersebut. Hingga ketukan di pintu tak didengar kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu. Bahkan pintu terbuka pun tak disadari mereka.
Ceklek!
"Eheemm!!" deheman keras akhirnya mampu mengalihkan atensi mereka. Keduanya menoleh setelah melepaskan pagutan.
Segera Sena turun dari pangkuan Abi seraya membenahi kancing kemejanya yang sudah terbuka. Tentu saja aktifitas itu tak lengkap jika tangan Abi tak jalan-jalan mengitari bukit.
Sepasang kekasih baru masuk lebih dalam keruangan itu. Deril hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Berbeda dengan Chika yang tampak malu, hingga terlihat rona merah dipipinya.
"Maaf mengganggu," kekeh Deril dan hanya ditimpali decihan oleh Abi.
"Apa?" tanya Abi dengan wajah datarnya. Sungguh ia kesal karena hasrat yang sudah diujung kepala harus ambyar begitu saja dengan kedatangan temannya itu.
"Butuh bantuan gak?" tawar Deril.
"Gak perlu. Hanya butuh satu langkah lagi," balas Abi.
__ADS_1
"Baiklah, terserah lu!" final Deril. "Kita pamit," lanjutnya.
"Mau pulang sekarang?" tanya Sena dan diangguki Deril.
"Iya, ini udah sore. Gak baik 'kan bawa anak gadis malam-malam tanpa permisi," kekeh Deril.
Sena tergelak mendengar itu. "Benar juga. Makanya cepatan halalin! Biar lebih bebas dibawa kemanapun," titah Sena dan hanya ditanggapi senyum pasangan itu.
"Eh, aku belum dapat pj ya? Aku mau tagih hari minggu ini, sepatu keluaran kemarin titik gak pake koma," cerosos Sena.
"Astaga! Dasar adek gak ada akhlak," kekeh Deril menggelengkan kepala dan disambut tawa kedua perempuan itu.
"Awas ingetin ya, Chi! Hari minggu, kita kuras atm om Devan," lanjutnya semakin tergelak dan diiyakan Chika dengan tawa yang sama.
**
Malam pun tiba, Abi yang sudah mencurigai sesorang sudah memindahkan cctv diarea dapur kepojok lain, hingga menampilkan jendela yang menjadi keluar masuk si penyusup terlihat.
Bahkan ia menyimpan satu cctv dibagian gudang yang juga terdapat jendela. Entah kenapa setelah kejadian tadi pagi, ia punya firasat jika satu dari mereka adalah pelaku sesungguhnya. Dan firasatnya mengatakan mereka akan masuk melalui jalan yang tak terdapat cctv, seperti gudang.
Namun setelah Abi melihat Andi yang sudah mengunci seluruh pintu dan jendela, tak ada gelagat mencurigakan dari pegawainya. Bahkan tak ada yang memasuki gudang, hingga mereka pulang kerumah masing-masing.
Begitupun pasangan itu, mereka bisa bernapas lega dan memilih untuk pulang kerumah mama Ay. Setelah pak Rahmat bersikeras menyuruh mereka pulang, mereka pun akhirnya pulang. Pria paruh baya itu akan menggantikan posisi mereka, karena merasa tak tega melihat sepasang pengantin baru itu, harus setiap malam menjaga kafe.
Brugghh!!!
"Uhh nyamannya ...." Sena membantingkan tubuhnya hingga telentang diatas kasur kingsize yang ia rindukan itu. Ia bahkan berguling hingga tengkurap menghirup aroma yang menjadi candunya.
Grepp!!
Tiba-tiba saja Abi ikut merebahkan diri menindih tubuh sang istri seraya memeluknya erat. Ia mengecup pipi sang istri dari samping.
"Mau coba?" tanyanya.
"Apa?"
"Gaya cicak di dinding."
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya jangan lupa yaa😘😘
__ADS_1