Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Manten baru


__ADS_3

"Siapa? Dia lagi?" tanya Sena dengan wajah masam.


Abi menyodorkan layar pipih itu untuk memperlihatkan isi didalamnya. Hingga terlihat nama "Gilang" yang tertera dipanggilan masuk itu.


Sena menautkan alis, seraya bangkit dari posisinya. "Ada apa?" tanyanya.


"Ada sedikit masalah dikafe," balas Abi. Tangannya beralih pada pucuk kepala sang istri, lalu membelainya lembut.


"Kita sambung malam, gak apa-apa 'kan?" tanya Abi dengan nada menggoda.


"Isshh apaan sih," protes Sena yang kembali melayangkan pukulan untuk menekan rasa malunya.


"Mau mandi bersama?" tawar Abi. Sena tersenyum seraya menganggukan kepala.


Abi menarik satu sudut bibirnya, kemudian berdiri dan tanpa diduga mengangkat tubuh Sena, hingga gadis itu menjerit kaget. Lalu menggendong tubuh ramping tersebut menuju kamar mandi.


Tak berselang lama, acara mandi berjamaah pun selesai. Dalam tanda kutip mereka hanya bener-bener mandi tanpa melakukan aktifitas panas. Meski ingin mengulang candu itu, namun mereka berusaha untuk menahannya. Mengingat ada hal yang sedang menunggu untuk segera diselesaikan.


Abi merapihkan sisa arena tempur mereka yang begitu berantakan, bagai tersapu tsunami. Ia tersenyum melihat noda merah dikain putih itu. Akhirnya ia bisa menembus selaput keperawanan untuk pertama kalinya. Ia pun segera melipat kain itu bersama selimutnya dan menyimpannya pada keranjang baju kotor.


Kemudian menghampiri sang istri yang tengah berkutat didepan meja rias, dengan kecupan dipucuk kepala istrinya itu dan menguseuknya.


"Kau mau ikut?" tanya Abi.


Sena terdiam sejenak, jika ikut ia tak yakin dapat berjalan normal. Namun, jika tidak pun ia tak yakin suaminya akan aman dari godaan sang pelakor.


"Aku ikut," balasnya antusias.


"Kau yakin?" goda Abi.


"Yakin dong!" balas Sena mantap.


"Bisa jalan?" goda Abi lagi disertai kekehan.


Sena tersenyum manis, seraya merentangkan tangan. "Gendong!"


Abi terkekeh, seraya mengusek pucuk kepala Sena gemas. Benar saja, pria tampan itu segera menggendong tubuh ramping sang istri hingga keduanya tertawa bersama.


Keduanya keluar meninggalkan ruangan itu menuju ruang makan, baru sampai diujung tangga Sena sudah meminta untuk diturunkan. Namun bagai tuli, Abi tak memedulikannya. Pria tampan itu tetap mempertahankan gendongannya hingga melewati ruang tengah yang begitu ramai orang.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat tim WO yang tengah membereskan sisa acara kemarin menjadi riuh. Godaan dan ledekan dilayangkan mereka untuk sepasang pengantin baru itu. Sena hanya menunduk menyembunyikan wajah pada dada bidang suaminya itu.


"Cieee manten baru ...."


"Widih udah sukses nih!"


"Ahhh so sweet!"


"Mantap, bikin baper deh ...."


Dan masih banyak lagi godaan-godaan lainnya, hingga Sena diturunkan dari gendongan itu dan duduk dikursi kosong yang tersedia diruang makan.


"Duhh, manten harusnya jangan bangun dulu! Masih pagi ini," ledek timom yang tengah membereskan sisa sarapan mereka.


Kebetulan mereka semua sudah selesai sarapan, bahkan para pria sudah berangkat ke kantor masing-masing. Ketiga nenek sudah berangkat menuju taman untuk berolahraga. Begitupun Kia dan Shaka yang sudah berangkat ke sekolah dan kampus. Hingga menyisakan sepasang pengantin itu saja yang belum sarapan.


"Nih, sarapan kalian! Maaf ya, kita tinggalin. Soalnya, Mama kira kalian bangun siang," ucap Mama Ay, menyodorkan sarapan untuk keduanya.


Sena tersenyum menanggapi. "Gak apa-apa Ma, makasih ya!"


Keduanya pun memulai sarapan mereka, sesekali mereka saling menyuapi. Bahkan mereka melupakan para orang tua yang memperhatikan mereka dengan gelengan kepala.


"Jika kita terus menentang, dan tak merestui mereka. Kita pasti akan berdosa banget ya?" ucap mama Ay memperhatikan pengantin baru itu dari dapur.


Kedua wanita yang hampir memiliki wajah sama, yang kini berbesanan itu tersenyum lebar melihat kebahagiaan yang dipancarkan putra putri mereka.


Sementara sepasang pengantin itu sudah menyelesaikan sarapan mereka. Sena membereskan piring sisa mereka makan. Tenaga yang terkuras semalam, membuat makanan pun tandas tak tersisa. Sena membawa piring itu menuju washtaple, dengan langkah yang sedikit aneh.


Tentu saja hal itu membuat ketiga ibu didapur itu terkekeh. Mereka tahu betul, bahwa manten baru itu sudah sukses melaksanakan malam pertama mereka.


"Kek nya kak Ay siap punya cucu nih?" ledek timom Siska. "Eh, kak Sa juga ya," kekeh wanita itu.


Mama Ay dan mommy Sa hanya tersenyum mendengar kakak iparnya itu. Berbeda dengan Sena yang sudah berdecak mendengar ledekan itu.


"Ck! Timom ihh ...." rengek Sena, hingga ketiga wanita itu tergelak.


"Kek nya kalian mau pergi, pada mau kemana?" tanya mama Ay, menghentikan tawanya.


Melihat sepasang pengantin itu rapih, tentu membuat ibu dua anak itu penasaran. Hingga bibirnya gatal untuk segera bertanya.

__ADS_1


"Kita mau ke kafe, Ma!" balas Sena.


"Kafe? Bukannya kalian udah sarapan?" tanya timom Siska mewakili kedua wanita itu yang keheranan.


Tentu saja tak ada yang tau, jika Abi memiliki usaha sendiri. Bahkan kedua orang tuanya pun tak mengetahui hal itu. Abi yang tak banyak bicara, tentu tak pernah membicarakan hal itu. Bahkan untuk modal saja, Abi tak pernah meminta atau meminjam pada sang daddy. Ia hanya mengumpulkan uang jajannya dari dua tahun terakhir dan uang hasil pinjamannya sendiri.


Sena hendak membalas pertanyaan timom, namun Abi segera menyelaknya. "Ayo!" ajak Abi meraih tangan Sena. Hingga gadis itu segera berpamitan pada ketiga wanita disana dan berlalu mengikuti langkah Abi meninggalkan tempat tersebut.


"Dasar manten baru. Dirumah sarapan dulu biar gak kelihatan laparnya, abis itu main-main dikafe biar estetik, cuma minum sama cemilan doang," celetuk timom Siska yang kembali tergelak. Hingga kedua wanita itu melakukan hal yang sama dan melupakan kecurigaannya itu.


**


Didalam mobil, susana tampak hening. Abi fokus dengan kemudinya, sedangkan Sena tiba-tiba teringat akan percakapannya dengan ketiga ibu tadi. Terasa ada yang aneh dengan pertanyaan timom dan raut wajah kedua wanita itu. Mungkinkah mereka tak tau akan bisnis yang digeluti Abi? Bahkan sang mommy sekalipun? Pikirnya.


"Emm Bi!" Sena memulai obrolan untuk memecah keheningan.


"Hem?" hanya deheman kecil yang diberikan Abi dengan melirik sekilas kearah Sena.


"Apa uncle sama onty gak tau tentang kafe itu?" tanya sena penasaran.


Abi menggelengkan kepala, "nggak!" balasnya.


"Hah?! Iya 'kah?" tanya Sena membelakak tak percaya dan kembali diangguki pria tampan itu.


"Kenapa gak bilang sama mereka?" tanya Sena heran.


Abi tersenyum tipis menanggapi. "Buat apa?" tanyanya balik.


"Ya ampun, mereka orang tuamu! Setidaknya mereka harus tau."


"Aku bukan anak SD," kekeh Abi.


"Ck! Kamu tuh, iya deh terserah kamu," final Sena, hingga mendapat kembali usekan dipucuk kepalanya dari sang suami.


Beberapa menit kemudian mobil sudah terparkir diparkiran kafe yang dimaksud. Abi sengaja meminjam mobil papa Ar untuk mereka pergi. Mengingat Sena yang masih berjalan seperti pinguin, hingga tak memungkinkan ia untuk membawa kuda besinya.


Terlihat dari dalam mobil, tiga orang pria paruh baya tengah misuh-misuh didepan pintu kafe bersama Gilang dan Adel. Abi keluar, lalu membukakan pintu terlebih dahulu untuk sang istri sebelum akhirnya menghampiri mereka.


"Ada apa?"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss, hari senin yang punya vote, bagi dong yaa🤗 maaf telat, hari ini mak othor sakit. Hampir gak bisa up. Tapi ingat kalian yang pada nunggu🤧


__ADS_2