Terjerat Cinta Pria Dingin

Terjerat Cinta Pria Dingin
Mabuk berat


__ADS_3

Flash back on~


"Apa yang terjadi?" tanya Shaka yang baru memasuki tempat bising yang dipenuhi manusia didalam sana.


Dengan sedikit berteriak, Ia menanyai seseroang yang tengah mendudukan diri disamping seseorang yang tengah terkulai lemas didepan meja bar.


"Kek nya dia mabuk berat. Gue gak berani hubungi uncle Rendy, apalagi onty Sa." balas Rizky, bergidik ngeri kala menyebut nama ibu dari lelaki yang tersungkur dimeja itu.


Shaka menghembuskan napas panjang. Tau pasti sepupunya ini tengah patah hati karena adiknya. Ini pertama kali Ia tau tingkah Abi. Rizky pun menceritakan bahwa Abi sering ketempat itu, setelah putus dengan Sena. Namun baru kali ini Abi minum sampai begitu parah.


"Apa ini karena pernikahan Sensen dan Deril?" tanya Shaka.


"Sepertinya gitu. Seharian ini gue mencari dia. Ada yang bilang Abi menyeret Sensen ke gudang, pas gue cari udah gak ada. Eh tau-tau petugas disini hubungi gue pake ponsel dia." jelas Rizky mencoba menceritakan tragedi yang Ia tau.


"Ck! Huhh!" Shaka berdecak kesal dengan hembusan napas kasar.


Ditengah obrolan dua lelaki tampan itu, Abi terbangun dari posisinya. Menegakan diri diatas kursi itu.


"Bi ...!" panggil keduanya serentak.


"Lu gak apa-apa?" tanya Shaka memegang bahu lelaki itu.


"Sejak kapan lu disini? Kenapa harus kesini lagi sii?" omel Rizky.


Sejak terakhir kali menemani Abi ditempat itu, Abi sudah berjanji tak akan memasuki tempat itu lagi. Ia akan berusaha keras untuk mendapat restu, tanpa harus menyentuh minuman haram itu lagi. Namun kenyataan tak sesuai harapaan. Rasa sakit yang dirasa Abi, membuat Ia tak waras dan lebih memilih kembali ketempat itu untuk menenangkan pikirannya.


Rizky sungguh menyayangkan tindakan sahabatnya itu. Lelaki tampan itu memang hanya ikut menemani tanpa mau menyentuh itu. Sebab Ia masih sayang nyawa, jika saja papihnya tau dia berani menyentuh minuman itu entah apa yang akan dilakukan sang papih padanya.


Berbeda dengan Abi yang memang keras kepala. Jangankan peringatan dari Rizky, peringatan dari orang tuanya saja tak Ia hiraukan. Seperti saat dilarang keras untuk tak menemui Sena, Abi tak menghiraukan itu. Ia masih bersikeras untuk menemui Sena. Namun Sena yang terus menghindar, hingga akhirnya Abi pun berhenti dan hanya menatap dari kejauhan.


Ketika mendengar Sena yang dijodohkan dengan Deril, tentu membuat Abi meradang dan berakhir ditempat ini.

__ADS_1


"Nggak!" balas singkat lelaki berwajah dingin itu.


Kedua lelaki disana menghembuskan napas kasar. Jika saja mereka tak mengingat lelaki menyebalkan itu keluarga sekaligus sahabat mereka, sudah dipastikan kedua lelaki itu sudah meninggalkan Abi disana.


"Ya udah, ayo pulang!" ajak Shaka menepuk pundak Abi.


"Gue pulang sendiri." balas Abi masih dengan nada yang sama.


"Ck! Lu mau pulang, apa mau nyusruk dijalan?" tanya Shaka berdecak kesal.


"Ayo!" Shaka menarik pergelangan tangan Abi, "Gue antar pulang."


Abi mencekal lengan Shaka, hingga lelaki tampan dengan wajah kesal itu melepaskan pegangannya. Tanpa mengucapkan apapun, Abi berlenggang meninggalkan kedua lelaki yang berulang kali hanya menggembuskan napas kasar.


"Ck! Ngeselin tuh anak. Kalo saja gak ingat keluarga, mana mau gue belain kesini." kesal Shaka dengan tangan berkacak pinggang.


"Mening lu cuma sekali-kali. Lah gue malah tiap hari diginiin." balas Rizky.


"Ya harusnya gue gitu, sayangnya dia sahabat gue." balas Rizky dengan malas dan dibalas kekehan Shaka.


"Gue cabut dulu. Mau nyusul si Abi, gue gak yakin dia selamat sampe rumah." pamit Shaka menepuk bahu Rizky, hingga lelaki itu mengangguk mengiyakan.


Setelah berpamitan, Shaka menyusul Abi keluar tempat yang menurutnya pengap itu. Meski Ia terkenal badboy, tapi Ia tak biasa berada ditempat seperti itu. Kenakalannya, hanya sebatas ikut tawuran dan ikut balapan liar. Tentu itu pun tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Keadaan diluar tiba-tiba hujan. Untung saja Shaka membawa kijang besi dan bukan kuda besinya. Ia yang biasa membawa motor, harus membawa mobil yang selalu Ia peram digarasi. Mengingat Ia akan menjemput Abi yang dikatakan Rizky sudah tepar tak berdaya. Namun nyatanya Ia malah melihat lelaki itu sudah siap menancap gas dan melesat kencang meninggalkan parkiran.


Shaka yang sediki khawatir melihat cara mengemudi Abi yang anti mainstream itu, segera ikut melajukan mobil sport nya tak kalah kencang. Melaju seakan terbawa angin.


Lelaki tampan itu mengerenyit heran, bukan kediaman Abi yang di datangi. Namun justru kediamannya sendiri yang didatangi lelaki dengan tubuh basah kuyup itu.


Sebelum Shaka melajukan mobilnya memasuki halaman rumah. Suara notif pesan berulang kali mengalihkan atensinya. Lelaki itu memutuskan untuk melihat terlebih dahulu layar pipih itu. Mata lelaki itu membulat dengan rahang yang mengeras melihat gambar yang dikirim seseorang pada ponselnya itu.

__ADS_1


"Brengs*k!" umpatnya seraya memukul stir mobilnya kasar.


"Awas kau Radit! Lihat aja, gue akan bawa kembali apa yang sudah menjadi milik gue!" ucapnya dengan napas memburu dan tatapan tajam mengarah kedepan.


"Jingga hanya milik gue!"


**


Setelah lama bergulat dengan pemikirannya. Shaka memasuki rumahnya, tentu setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Ia dibuat bingung dengan keadaan rumahnya yang begitu sepi.


"Kok sepi? Pada kemana?" tanyanya bermonolog sendiri.


Shaka melihat jejak basah dilantai yang Ia yakini itu milik Abi. Ia menyusuri jejak itu, hingga sampai di sofa ruang tv, namun tak da siapapun disana. Ia tak memedulikan Abi lagi, melihat saudaranya itu selamat sampai rumah sudah membuat Ia tenang. Lelaki itu memutuskan hendak pergi kekamarnya, lalu atensinya teralihkan pada jejak yang kembali terpapar menyusuri anak tangga.


"Mungkin tuh anak ke kamarnya kali ya." ucap Shaka beropini sendiri.


Ia berajalan santai menaiki satu persatu anak tangga, hingga ketika Ia hendak membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar yang selalu ditempati Abi. Suara tangis didengar lelaki itu dari balik pintu kamar sebelah.


Shaka mendengar suara tangis perempuan dan laki-laki dari dalam sana. Ia membuka sedikit pintu yang tak terkunci itu pelan, matanya membola melihat kedua sejoli tanpa sehelai benang didalam sana. Ia mematung ditempat seraya mendengar penuturan Abi.


"Maafkan aku, Sen!"


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ...."


Suara lirih Abi yang disertai isak tangis memilukan membuat Shaka yang sudah dikuasai amarah, seketika tertegun. Ini pertama kali Shaka melihat Abi menangis. Bahkan itu terdengar tangisan penuh luka. Hingga Ia melihat Abi yang ambruk ditubuh Sena.


Ia hendak memasuki kamar itu, namun ia megurungkan niatnya dan menutup kembali pintu itu, kala getaran ponsel mengalihkan atensinya. Melihat Abi yang ambruk, sudah dipastikan Abi tak akan melakukan apapun pada adiknya itu. Apalagi Ia juga mendengar Sena membalas ucapan itu. Ia yakin belum terjadi apapun pada mereka.


Shaka pun memilih untuk memasuki kamarnya untuk menerima panggilan. Tanpa Ia tau sang mama tengah berjalan kearah kamar mereka disusul sang papa dibelakangnya.


******

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yaa🤗


__ADS_2