
"Jadi serius? Kalian mau nikah?" tanya Rizky pada Abi yang hanyaa diangguki kepala olehnya.
"Astaga, gue kira si mamih ngeprank gue." pekik lelaki itu membelakakan mata, merasa tak percaya.
"Dan lu, berhutang banyak sama gue," celetuk seorang lelaki yang duduk disamping Abi, disertai tepukan dibahunya.
Abi menarik satu sudut bibirnya, kemudian meraih minuman berkaleng dihadapannya. Lalu menegaknya.
"Apa yang lu mau?" tanya Abi dengan santainya.
Sontak saja pertanyaan itu membuat lelaki tampan itu berbinar. Ia menyeringai seraya menepuk bahu Abi berulang kali. "Helm keluaran terbaru boleh juga," celetuknya
"Ebuset, yang bener aja lu Sha," protes Rizky melempar sedotan kearah lelaki yang akan menjadi kakak iparnya Abi itu.
"Harusnya sekalian juga itu buat gue," celetuknya.
Shaka balik melempar sedotan itu pada Rizky yang tergelak. "Asyem lu!" umpatnya.
"Emang lu bantu ngapain? Pake minta segala lagi. Minta sana sama bokap lu yang pelit itu!" ledek Shaka tanpa filter.
"Anjir ... Jangan bawa-bawa bokap lah! Pamali woy!" protes Rizky yang disambut gelak tawa lelaki itu. "Bokap gue bukan pelit, cuma ngirit." sambungnya.
"Halah sama aja!" balas Shaka hingga keduanya kembali tergelak.
Kedua lelaki itu memang sudah biasa dalam hal bercanda, ledekan dan umpatan sudah menjadi hal yang tak asing lagi untuk mereka. Namun hal itu tentu tidak dengan Abi. Leleki itu hanya mengangkat sedikit ujung bibirnya menanggapi tingkah mereka.
"Oh iya, Sensennya mana? Dia gak masuk?" tanya Rizky.
"Nggak, dia udah ambil cuti dari kemarin. Ceritanya 'kan mau dipingit." balas Shaka yang kemudian menegak minumnya.
"Aisshh, mampus lu Bi. Dipingit," ledek Rizky yang kembali tergelak.
"Iya, dipingit waktu siang. Pas malam mah dipepet." balas Shaka.
Abi sedikit terkekeh, apa yang dikatakan Shaka memang benar. Kemarin setelah mengantarkan calon istrinya itu pulang, mama Ay dengan tegas memperingatkan agar Abi tak menemui Sena sampai hari-H tiba. Namun, hal itu tentu saja tak digubris lelaki tampan itu. Hingga dihari yang sudah gelap, Abi memaksa menerobos masuk menemui Sena lewat balkon kamar gadis itu.
Abi hampir tertangkap oleh papa Ar, jika saja tak diselamatkan sepupu yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. Itu lah sederetan beberapa hutang Abi pada Shaka yang ditanyakan pria tampan itu tadi.
Rizky beralih duduk disamping Abi, hingga ketiga lelaki itu berjejer disebuah bangku panjang. Kemudian Ia menepuk pundak sahabatnya itu.
"Mulai sekarang jangan nakal lagi, Bi. Kalo nggak, isi dompet lu bisa terkuras oleh kakak ipar lu yang lucknut ini." peringat Rizky dengan nada serius, namun isi kalimat itu ternyata sebuah ledekan buat Shaka.
__ADS_1
"Cih! Sirik aja lu," ledek balik Shaka, seraya menoyor kepala Rizky. Hingga umpatan dan saling lempar timpukan pun dilayangkan kedua manusia itu.
Abi hanya menggelengkan kepala menanggapi keduanya, hingga atensinya tertuju pada seseorang yang baru ia lihat. Lelaki itu berdiri, lalu berlenggang pergi begitu saja. Bahkan ia tak menanggapi pertanyaan Shaka dan Rizky.
Abi berjalan menuju parkiran, menyusul seseorang yang memasuki sebuah kijang besi. Ia pun ikut membuka pintu penumpang, tepat sebelah kemudi. Lalu memasukinya.
Brukk!!
"Astaga!" Seorang lelaki yang baru saja mendaratkan bokong dikursinya itu terperanjat kaget. Ia tak menyadari Abi yang mengikutinya, bahkan ikut memasuki mobilnya.
"Lu bisa gak sih, gak usah ngagetin?" omelnya seraya mengusap dada.
Abi tak menanggapi, tatapannya datar kedepan. Dengan tangan yang masih memegang tas dibahunya.
"Maaf!" sebuah kata penyesalan namun tidak terdengar seperti itu. Nada bicara Abi yang datar membuat lelak itu berdecak kesal.
"Ck! Bukan gitu caranya minta maaf!" protesnya. "Heran gue, kenapa bisa Sensen suka sama bentukan robot kek lu." lanjutnya.
Abi menoleh dengan tatapan yang sama. "Maafin gue dan makasih!" ucapnya dengan sedikit mengganti nada bicaranya.
"Cih! Untuk apa?" tanya lelaki itu, seraya menatap kedepan. Begitupun Abi yang kembali menatap kedepan.
"Untuk segalanya." balas Abi.
Tak ada suara apapun dari kedua makhluk itu. Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dalam hati kecilnya, Abi merasa bersalah pada lelaki yang sudah ia rebut calon istrinya itu. Lelaki yang mungkin saja terluka tanpa ia ketahui.
"Sudahlah lupakan!"
Suara Deril ternyata mampu membuyarkan lamunan Abi, lelaki itu menghembuskan napas pelan sebelum bersuara.
"Apa lu mencintai Sensen?" tanya Abi.
Deril terkekeh pelan, "kenapa lu tanyain itu?" bukan menjawab lelaki tampan itu kembali bertanya.
"Hanya ingin tahu." balas Abi dengan nada kembali datar.
"Entah .... Gue juga gak tahu. Mungkin rasa sayang lebih tepat." balas Deril.
Deril menoleh dan mengerti dengan arah pembicaraan Abi. Ia tahu Abi tak sekejam itu untuk merebut calon istrinya. Abi hanya memperjuangkan cintanya yang tak dapat ia lepaskan begitu saja. Jika dirinya diposisi itu, mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan Abi.
"Lu gak perlu khawatir!" ucap Deril hingga Abi ikut menoleh. "Gue baik-baik aja! Hanya mungkin sedikit rasa malu yang harus gue terima." kekehnya.
__ADS_1
Rasa malu, ketika undangan sudah tersebar dengan atas nama dirinya dan Sena. Meski itu tidak banyak, karena memang acara akad yang tak ingin dihadiri banyak orang. Hingga memungkinkan hanya keluarga dan orang-orang dekat saja yang mengahadiri acara itu. Namun tetap saja, itu pasti akan membuat mereka merasa aneh, bahkan mungkin akan menjadi topik gosip untuk mereka.
Hanya hembusan napas berat yang terdengar dari bibir Abi. Sungguh perkataan Deril begitu menampar dirinya. "Maaf!" Lagi-lagi hanya kata itu yang diucapkan pria dingin itu.
"Ck sudahlah, berhenti saling menyalahkan!" titah Deril seraya menepuk pundak Abi.
"Jika gue diposisi lu, gue juga bakal lakuin hal yang sama. Karena kita emang lakik."
"Tolong lu ingat ini. Lu harus jagain Sensen, buat dia bahagia, dan jangan kecewakan pernah dia!" peringat Deril.
"Cih, apa itu bukan cinta?" ledek Abi.
"Emm ...." Deril tampak berpikir sejenak, "gue rasa bukan," kekehnya yang diringi tawa kecil.
"Mungkin itu cara menitipkan adek pada calon suaminya." lanjut Deril.
Abi sedikit menyunggingkan senyum, mendengar keteguhan lelaki itu. Meski ia tahu mungkin ada sedikit rasa yang dimiliki Deril untuk Sena, namun ia harus menerima itu.
**
Ceklek!
"Jinjin!"
Baru saja pintu kamar terbuka, namun dengan cepat Sena memekik dan menyambut sahabatnya itu diambang pintu. Gadis itu kegirangan, lalu memeluk Jingga dengan begitu erat.
"Ya ampun! Kau bisa membunuhku!" pekik Jingga seraya mencoba melepaskan pelukan sahabatny itu.
Sena pun melepaskan pelukan itu dengan cengengesan. Lalu ia membawa Jingga masuk lebih dalam menuju ranjang king size didalam sana, setelah menutup pintu itu terlebih dahulu.
"Akhirnya, Jin! Ahh aku seneng banget," pekik Sena mencubit gemas kedua pipi Jingga.
Gadis itu terkekeh dengan sikap sahabatnya itu. Kemudian membalas dengan mencubit gemas hidung mancung Sena. Hingga terdengar ringisan dari Sena.
"Iya, aku tahu. Berbahgialah! Apapun itu, aku mendukungmu," papar Jingga.
"Ahh so sweet! Peyuk sini peyuk!" Sena bergeser dan kembali memeluk tubuh sahabatnya itu. Hingga tiba-tiba suara pintu terbuka keras mengalihkan perhatian mereka.
Braakkk!!!
"Hello, epribadeh!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Ayo tebak-tebakan gak berhadiah🙈 Siapa yang datang menemui Sensen dan Jinjin?? Yuk komen dan like jangan lupa yaa! Kasih kembang sekebon lah buat mak othor🤭