
"Kita mau kemana?" tanya Sena dengan sedikit berteriak disamping telinga Abi.
Suara bising sang kuda besi yang disertai hembusan angin kencang, membuat gadis itu harus mengencangkan sedikit volume suaranya.
Ini pertama kalinya Sena dibawa ketempat yang sedikit jauh dari area rumahnya. Entah kemana sang kekasih akan membawanya pergi, yang jelas Ia hanya bisa pasrah seraya memeluk tubuh tegap itu dengan erat.
Setelah membutuhkan waktu yang cukup lama, kini mereka sampai ditempat tujuan. Sebuah kafe dipinggiran kota yang mereka kunjungi. Hawa sejuk menusuk pori-pori kulit Sena yang hanya berbalutkan blouse tipis.
Sungguh, tempat yang begitu terlihat aesthetic. Bahkan kafe sang papa yang berada di desa, kalah saing dengan tempat yang kini mereka pijaki.
Sena menatap sekitar tempat itu yang begitu asri dengan banyaknya pepohonan tua yang masih terawat apik. Gadis itu begitu terpesona dengan pemandanagan yang kini Ia amati. Hingga sesuatu yang menimpa pundaknya, berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Pakailah, disini terlalu sejuk!" titah Abi.
Pria itu memasangkan jaket yang dikenakannya pada pundak Sena. Hal yang sering sekali Abi lakukan ketika mereka masih berbalutkan putih abu. Abi memanglah sosok dingin, namun ia begitu memperhatikan sedetail mungkin apa yang ada pada Sena.
"Makasih!" ucap Sena dengan senyum manisnya.
Abi ikut melakuakn hal yang sama, kemudian Ia meraih tangan lembut itu dan menggengamnya erat.
"Mau masuk?" tanyanya.
Sena mengangguk sebagai jawaban, kemudian mengikut langkah Abi yang sudah berjalan didepannya.
"Aku tahu kenapa kamu memilih berjalan didepan, dan bukan disampingku." celetuk Sena.
"Kenapa?" tanya Abi meliriknya sekilas disertai senyum kecilnya.
"Karena posisi Imam emang didepan. Bukan disamping." balas Sena terkekeh.
Abi tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Kata 'Imam' yang dilontarkan Sena, tentu membuat hatinya menghangat.
"Hai, Bi, Sen!" sapa seorang pria yang tentu mereka kenal dari balik meja bar.
"Iky?" tanya Sena dengan wajah bingung. Bagaimana bisa Rizky ada ditempat itu? Gadis itu kian bingung kala apron melekat ditubuh tegapnya.
Rizky mendekat dan menyapa sejoli yang ternyata sahabatnya itu. "Wah, kek nya gue ketinggalan kabar nih?" sindirnya.
"Ck! Makanya, sekali-kali tuh nonton berita. Bukan film biru terus." ledek Sena.
__ADS_1
"Asyem lu!" Jari tangan Rizky yang hendak mendarat dijidat Sena, seketika terhenti oleh telapak tangan Abi.
"Setdah, protektif amat ya maseh!" ledek Rizky yang membuat Sena terkekeh.
"Kamu baru datang, Bi?" Suara seorang perempuan membuat mereka menoleh.
Seorang perempuan cantik menghampiri ketiga manusia itu. Abi hanya menarik satu sudut bibirnya, namun Sena menaikan sebelah alis kala seorang perempuan yang Sena dapat lihat lebih tua darinya itu, nampak akrab dengan sang kekasih.
Perempuan yang mengenakan apron sama seperti Rizky itu terus menyunggingkan senyum pada mereka, tepatnya pada Abi.
"Del, kenalin ini Sena. Dia sahabat gue." ucap Rizky memperkenalkan Sena, "Sepupu Abi." sambungnya.
Sontak saja pengenalan itu membuat sejoli itu menatap tajam kearah Rizky. Pria itu tersadar akan apa yang ia ucapkan kala menatap sejoli itu. "Kenapa?" tanyanya polos, namun hanya dibalas wajah datar kedua sahabatnya itu.
"Eh, maksud gue, Sena kekasih Abi," sambung Rizky cengengesan.
Tersadar akan tingkah sejoli itu, Ia mengerti jika keduanya sudah kembali bersama. Meski Ia tak tahu bagaimana itu terjadi, namun Ia yakin mereka sudah terikat kembali dalam suatu hubungan spesial.
Perempuan cantik itu melirik sejoli itu bergantian. Hingga atensinya teralihkan pada genggaman tangan yang nampak erat itu. Terlihat senyum tak biasa dari perempuan itu.
"Hai, aku Adel." Perempuan itu mengulurkan tangan, mengajak Sena untuk berkenalan.
"Sena." balas Sena singkat, seraya menjabat tangan Adel.
Abi kembali meraih tangan kekasihnya itu setelah terlepas, "ayo!" Pria tampan itu menggandeng tangan Sena, untuk mengajak gadis itu berjalan mengikutinya.
Sena hanya menganggukan kepala pada perempuan tadi, disertai senyumnya. Kemudian ikut bergerak maju mengikuti sang kekasih.
"Mereka beneran kekasih?" tanya Adel yang merasa penasaran akan sejoli yang terlihat aneh itu.
"He'em." balas Rizky mengangguk, "kenapa? Apa lu cemburu?" goda Rizky.
"Ck! Apaan sih? Gue cuma merasa aneh aja, saat lu bilang mereka sepupu." sangkal Adel.
Rizky terkekeh melihat ekspresi teman kerjanya itu. Tahu perempuan itu diam-diam menyukai pria kulkas itu, Ia pun semakin gencar ingin menggodanya.
"Kalo suka, harusnya lu ungkapin! Mendem rasa itu, ibarat mendem buah dalam plastik. Masak nggak, busuk iya." ledek Rizky, yang sukses mendapat tampolan dikepala dari perempuan yang lebih tua darinya itu.
"Sembarangan. Siapa juga yang suka? Gue gak suka Abi kok." selak Adel dengan sedikit gelagapan.
__ADS_1
"Emang orang yang lu suka Abi?" tanya Rizky dengan nada menggoda.
Skak! Adel terdiam dengan perasaan kesal. Sepertinya Ia telah terjebak dalam pertanyaan membingungkan yang dilontarkan Rizky. Pria itu tergelak melihat ekspresi Adel yang menekuk dengan wajah memerah.
"Udahlah lupain, percuma juga. Kulkas itu gak akan bisa move on dari satu cewek. Dan cewek itu cuma Sensen." jelas Rizky.
"Lu tahu, alasan dia bangun kafe ini? Itu cuma buat Sensen. Untuk mendapat restu kedua orang tua mereka, Abi rela bekerja keras membangun ini untuk bisa menikahi Sensen. Bahkan dia siap keluar dari kartu keluarga, jika gak juga dapatin restu keluarganya. Jadi intinya, kafe yang dibangun ini Ia persiapakan untuk kehidupan mereka kelak." lanjut Rizky panjang kali lebar.
Adel terdiam mencerna ucapan Rizky. Meski sudut hatinya terasa sakit, namun ada satu hal yang mengganjal dari penjelasan pria itu.
"Lalu apa yang membuat mereka sulit mendapatkan restu?" tanya Adel penasaran.
"Karena mereka keluarga." balas Rizky tanpa beban.
"Hah?! Maksudnya?" tanya Adel dengan wajah kian bingung.
"Mereka masih sepupu, ya meski sepupu jauh. Itulah kenapa mereka gak bisa mendapatkan restu." jelas Rizky.
Mata perempuan itu membelakak tak percaya, dengan mulut terbuka lebar. Tangannya dengan sigap menutup mulut itu. "Terus? Kenapa bisa?"
"Ya bisa lah, itu buktinya mereka." balas Rizky. "Mereka itu hidup dan tumbuh bersama sejak kecil. Sensen begitu bergantung pada Abi. Hanya bersama Sensen Abi terlihat seperti manusia normal. Pokoknya ceritanya panjang lah. Yang jelas, cinta mereka semakin dalam. Semakin mencoba melupakan, namun itu semakin sulit untuk mereka." jelas Rizky lagi.
Adel mengangguk mengerti akan penjelasan itu. "Terus sekarang mereka dapat restu?" tanya Adel lagi yang masih penasaran.
"Entahlah aku juga bingung. Padahal minggu depan Sensen akan menikah dengan Deril." celetuk Rizky.
Sontak saja hal itu membuat Adel membelakak lagi. "Apa? Terus kenapa bisa?" tanyanya semakin bingung.
"Ck! Itu dia juga, gue belum ngerti. Ini gue masih bingung. Kemarin tuh anak kulkas sampai terkapar di bar, gegara kabar Sensen yang akan nikah sama Deril. Eh tiba-tiba sekarang dia bawa Sensen kemari." cerocos Rizky dengan wajah bingung.
"Eh, apa jangan-jangan," Rizky menjeda kalimatnya dengan mata membulat.
Adel mengerutkan dahinya heran. "Jangan-jangan apa?"
"Abi bawa kabur Sensen."
******
Maaf ya, malam gak jadi up. Mak othornya malah ngorok🤣 Jangan lupa jejaknya ya, kasih like dan komen yaa! Terus yang punya vote sama hadiah boleh bagilah😅
__ADS_1